Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Pagi ini, sunyi di rumah terasa lebih pekat dari biasanya. Aku menatap kursi kosong di hadapanku sambil mengaduk sosis di piring. Seperti biasa Papa sudah berangkat sejak subuh mungkin untuk menghindari perjumpaan dengan Mama, atau mungkin memang pekerjaan yang tak pernah habis.
Sementara Mama? Aku hanya mendengar suara pintu kamarnya terkunci rapat saat aku turun tadi. Rumah ini masih tetap sama sebuah istana megah yang kedinginan.
Aku segera menghabiskan sarapanku, meraih kunci motor, dan memacu kendaraanku menuju kampus. Setidaknya di sana, aku punya alasan untuk tersenyum.
Begitu sampai di parkiran, sosok tinggi yang sudah sangat akrab di mataku selama tiga bulan terakhir ini terlihat sedang menyandarkan punggungnya di bawah pohon mahoni Tomi. Dia menoleh dan melambaikan tangan saat melihatku.
"Pagi, Hana. Tepat waktu seperti biasa," sapanya dengan senyum yang selalu berhasil membuat dadaku terasa lebih ringan.
"Pagi, Tom. Udah lama nunggu?"
tanyaku sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan karena angin jalanan.
"Baru aja. Yuk, bareng ke kelas."
Kami berjalan beriringan menyusuri lorong kampus. Tak terasa, sudah tiga bulan sejak insiden tabrakan di koridor itu. Tiga bulan yang mengubah caraku memandang dunia.
Tomi bukan lagi sekadar mahasiswa pindahan bagiku dia adalah orang yang tahu kapan aku sedang merasa sedih hanya dari cara aku menatap layar laptop.
"Nggak kerasa ya, Han. Minggu depan kita udah yudisium,"
ucap Tomi memecah keheningan.
"Siap pakai toga?"
Aku terkekeh pelan.
"Jujur, aku lebih siap wisudanya daripada revisian terakhir yang baru dikasih Pak Heru semalam. Kamu sendiri gimana?"
"Aku sih siap-siap aja. Yang penting setelah ini, kamu jangan hilang kontak ya," godanya sambil melirikku jenaka.
Belum sempat aku membalas, suara cempreng yang sangat kukenal sudah menggema di depan pintu kelas.
"Aduh, aduh! Pasangan favorit kampus akhirnya mendarat juga!"
seru Diva sambil berkacak pinggang.
Dhea yang sedang asyik memoles lipstik pun langsung menoleh dan tertawa.
"Gila ya, tiga bulan ini gue berasa jadi nyamuk abadi kalau deket kalian. Udah deh, buruan masuk. Pak Heru lagi dalam perjalanan katanya."
"Apaan sih, kita cuma barengan dari parkiran doang kok,"
belaku, meski aku tahu pembelaanku sia-sia di hadapan mereka berdua.
"Halah, alasan klasik!" sahut Diva sambil menarikku masuk ke dalam kelas.
"Bentar lagi wisuda nih, masa statusnya masih 'cuma barengan' terus?"
Tomi hanya tertawa santai di belakangku, menanggapi godaan mereka dengan wajah tenang. Di tengah riuh rendah candaan para sahabatku.
...****************...
Pak Heru mulai menerangkan sampai akhirnya menutup buku besarnya dan keluar kelas. Baru saja aku hendak berdiri untuk menyusul Diva dan Dhea ke kantin, Tomi menahan langkahku.
"Han, tunggu bentar. Ada tugas yang mau gue tanyain, lo ada waktu nggak?"
tanya Tomi sambil menatapku serius.
Diva dan Dhea yang sudah di ambang pintu langsung kompak berbalik. Senyum jahil mulai terbit di wajah mereka.
"Ehem! Tugas apa tugassss nih?"
Diva menyenggol bahu Dhea sambil menaik-turunkan alisnya.
"Iya nih, Tom! Sejak kapan mahasiswa se-rajin lo nanya tugas ke Hana pas jam makan siang?" Dhea ikut menimpali sambil tertawa kecil.
"Bilang aja kali kalau mau modus, kita juga paham kok!"
"Apaan sih kalian, udah sana ke kantin!" balasku cepat, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
"Hahaha, oke bos! Kita duluan ya, Tom. Jagain Hana baik-baik, jangan sampai dia pingsan gara-gara tugas!" teriak Diva sambil menarik tangan Dhea keluar kelas.
Suara tawa mereka masih terdengar samar dari koridor, meninggalkan aku dan Tomi dalam keheningan yang aneh.
Tomi mengajakku ke taman kampus yang letaknya agak ke belakang. Kami duduk di bangku kayu di bawah pohon besar yang rindang. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku, tapi rasa tenang itu segera hilang saat Tomi menoleh sepenuhnya ke arahku.
"eh mau nanyain tugas apaan tom tadi?"tanyaku
"ehehehe. Sebenarnya..."
Tomi memulai pembicaraan, suaranya sedikit lebih berat.
"Nggak ada tugas yang mau aku tanyain, Han."
Aku mengernyitkan dahi. "Terus kenapa—"
"Aku cuma mau jujur sama kamu," potongnya pelan. Dia menatap mataku dalam-dalam. "Han, jujur aku menyukai kamu. Sejak pertama kali kita bertemu di koridor kampus tiga bulan lalu, aku sudah merasa ada yang beda dari kamu. Selama ini aku berusaha dekat karena aku benar-benar sayang sama kamu."
Aku tersentak. Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak sejenak. Aku kaget bukan main. Di dalam hatiku yang paling dalam, ada rasa hangat yang menyeruak karena jujur, aku pun memiliki perasaan yang sama padanya. Namun, detik itu juga, rasa takut itu datang menghantam.
Ini salah,
batinku. Aku belum siap.
Pikiranku mendadak bising oleh bayangan sesuatu yang lama kupendam juga pertengkaran orang tuaku di rumah. Aku takut jika aku memulai hubungan ini, aku hanya akan menciptakan trauma yang baru.
Aku takut cinta hanya akan berakhir dengan rasa sakit yang sama seperti yang kualami dulu dan yang kulihat setiap hari
"Han? Kenapa kamu diam?"
Tomi bertanya pelan, menyadari perubahanku.
Aku terpaku. Aku ingin bicara, tapi tenggorokanku terasa tersumbat.
Aku ingin bilang "aku juga suka", tapi ketakutanku jauh lebih besar.
Aku gugup jemariku mulai mendingin dan bergetar kecil. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya aku linglung, terjebak di antara rasa sayang padanya dan rasa takut akan luka lama yang belum sembuh.
Tomi mencondongkan tubuhnya sedikit, wajahnya terlihat cemas melihatku yang hanya menunduk membisu.
"Hana? Kamu nggak apa-apa?"
"Hana?"
Suara Tomi memanggilku kembali ke kenyataan. Aku tersentak, mencoba mengatur napas yang sempat tertahan.
Aku mendongak sedikit, menatap wajahnya yang masih menunggu jawaban dengan penuh kesabaran.
Ada ketulusan di matanya, dan itu justru membuat hatiku semakin perih.
"Iya, Tom... aku enggak apa-apa," ucapku pelan, nyaris berbisik.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Tapi... maaf. Hmm, aku sepertinya belum siap untuk pacaran."
Aku mengatakannya dengan sangat hati-hati, ada rasa takut yang merayap di dadaku takut kalau dia akan tersinggung, takut kalau dia akan marah atau kecewa lalu pergi meninggalkanku.
Aku meremas ujung bajuku, tidak berani menatap reaksinya.
Namun di luar dugaan, aku mendengar suara tawa kecil yang sangat lembut. Tomi justru tersenyum, tipe senyum yang menenangkan.
"Nggak apa-apa, Han. Kamu nggak perlu minta maaf," ucapnya tulus.
"Aku bilang begini cuma mau jujur soal perasaan aku ke kamu. Soal kamu mau terima atau nggak, atau kapan kamu siap, itu nggak masalah buat aku. Aku nggak mau maksa kamu."
Mendengar jawabannya, gumpalan sesak di dadaku sedikit melonggar. Dia tidak pergi. Dia tidak marah.
Sejenak, suasana di antara kami berubah menjadi sunyi. Hanya ada suara angin yang menggoyangkan dahan pohon di atas kami. Rasanya sedikit aneh, ada kelegaan tapi juga ada kecanggungan yang menggantung di udara. Aku masih merasa linglung, bingung bagaimana harus bersikap setelah pengakuan sebesar itu.
"Ehh... ya sudah," Tomi memecah keheningan sambil menepuk lututnya ringan, berusaha mencairkan suasana.
"Daripada kita bengong di sini, mending kita makan dulu yuk? Aku traktir deh, sebagai perayaan kejujuran aku hari ini."
Aku menoleh ke arahnya, ragu-ragu.
"Eh? Makan?"
"Iya, makan. Kamu kan belum makan siang gara-gara aku 'sandera' di sini," godanya sambil berdiri.
"Ayo, jangan nolak. Anggap aja ini traktiran antar teman. Gimana?"
"Hmm... oke deh," jawabku singkat. Aku ikut berdiri, meski gerak-gerikku masih terasa kaku dan canggung.
Aku berjalan di sampingnya menuju kantin, tapi jarak yang biasanya terasa akrab kini terasa sedikit berbeda. Pikiranku masih melayang-layang pada kalimatnya tadi.
...****************...
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan senyum lembut Tomi terus menari-nari di kepalaku.
Begitu sampai di rumah yang sepi seperti biasanya, aku tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar.
Aku langsung melangkah cepat menuju kamar, menutup pintu rapat-rapat, dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur tanpa melepas tas terlebih dahulu.
Aku menatap langit-langit kamar yang putih polos. Di ruang yang sunyi ini, semua kata-kata Tomi terngiang kembali. Ada rasa bahagia yang menyeruak, tapi juga ketakutan yang masih setia membuntuti. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku yang lelah tenggelam dalam keheningan kamarku sendiri.