---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Us
---
Hari itu adalah hari yang dinanti-nanti sejak dua bulan lalu.
Jane sudah bangun sejak pukul 05.00, padahal janji dengan dokter baru pukul 09.00. Ia tidak bisa tidur. Perasaannya campur aduk antara senang, deg-degan, dan tidak sabar. Ini adalah USG pertama mereka—momen pertama kali bisa melihat calon buah hati mereka.
Mario masih tidur di sampingnya, dengkur kecilnya terdengar samar. Jane menatap suaminya dengan senyum. Laki-laki ini semalam begadang sampai jam satu hanya untuk memastikan semua berkas kehamilan lengkap dan tas perlengkapan ibu hamil sudah siap.
"Mas," bisik Jane sambil menggelitik hidung Mario. "Mas, bangun."
Mario menggeliat, matanya masih terpejam. "Hm... masih ngantuk..."
"Mas, hari ini USG."
Mata Mario langsung terbuka lebar. Ia duduk tegak dalam sekejap, refleks seorang suami siaga.
"USG? HARI INI? JAM BERAPA SEKARANG?"
Jane tertawa melihat kepanikannya. "Jam 5 lewat, Mas. Santai. Janjiannya jam 9."
Mario menghela napas lega, lalu merebahkan diri lagi. "Ya ampun, Jane... jangan kagetin gitu dong."
"Tapi Mas udah bangun kan? Ayo, siap-siap. Aku udah nggak sabar."
Mario tersenyum, meraih tangan Jane dan menciumnya. "Aku juga, Sayang. Aku juga nggak sabar."
Mereka berpelukan sejenak, merasakan kehangatan pagi. Tangan Mario turun mengelus perut Jane yang mulai membuncit.
"Kamu dengar, Nak? Hari ini kita lihat kamu. Ayah dan Bunda nggak sabar."
Dari dalam perut, seperti menjawab, terasa satu tendangan kecil. Jane tersentak, lalu tertawa.
"Mas, dia nendang!"
"Masa? Beneran?" Mario menempelkan telinganya ke perut Jane. "Halo, Nak. Ayah lagi ngomong, nih. Jangan nendang-nendang terus, nanti Bunda sakit."
Jane mengelus rambut suaminya dengan lembut. "Mas, mandi, yuk. Nanti keburu siang."
Mario mengangguk, tapi masih berlama-lama menempelkan telinganya. Akhirnya ia bangun dengan ogah-ogahan, berjalan ke kamar mandi dengan setengah hati.
---
Pukul 07.30, mereka sudah siap. Jane mengenakan gamis longgar berwarna biru muda—warna favoritnya selama hamil. Mario memakai kemeja batik lengan pendek, hadiah dari Jane saat ulang tahun pernikahan mereka.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Mario sambil membuka pintu.
"Sudah. Tapi tunggu sebentar." Jane mengeluarkan ponselnya, mengambil foto penampilan mereka hari ini. "Buat kenang-kenangan."
"Pose dulu, dong." Mario memeluk Jane dari belakang, tangannya melingkar di perut. Mereka berfoto bersama, dengan latar belakang pintu rumah nomor 7.
"Udah, yuk."
Saat mereka keluar, ternyata di depan pagar sudah ada Irene dengan sebungkus makanan.
"Mba Irene?" Jane kaget. "Jam segini udah di sini?"
"Iya, ini aku bawain sarapan. Nggak enak kalian berangkat puasa." Irene menyodorkan bungkusan itu. "Nasi uduk buatan sendiri. Buat di perjalanan."
Jane terharu. "Mba Irene... makasih, ya."
"Iya, nggak apa-apa. Yang penting kamu makan dulu, jangan sampe laper di perjalanan." Irene tersenyum, lalu menatap Mario. "Mas Mario, tolong jagain Jane, ya. Jangan sampe kecapekan."
"Siap, Mba Irene!" Mario memberi hormat pura-pura.
Mereka tertawa. Mario membukakan pintu mobil—mobil kecil yang sudah mereka siapkan sejak tahu Jane hamil. Jane duduk di kursi penumpang, menghela napas lega.
"Doain lancar, ya, Mba," ucap Jane.
"Pasti. Kabari hasilnya."
Mobil melaju pelan meninggalkan Griya Asri. Dari balik pagar, Irene melambai-lambaikan tangan hingga mobil hilang dari pandangan.
---
Perjalanan ke rumah sakit memakan waktu sekitar 30 menit. Jane menghabiskan nasi uduk pemberian Irene dengan lahap, sesekali menyuapi Mario yang menyetir.
"Enak banget nasi uduknya," puji Jane. "Mba Irene emang jago masak."
"Iya. Untung kita punya tetangga kayak dia." Mario menoleh sekilas. "Kamu udah siap mental?"
"Udah. Tapi deg-degan."
"Aku juga. Rasanya kayak mau interview kerja."
Mereka tertawa bersama. Kegugupan itu justru membuat perjalanan terasa lebih singkat.
---
Pukul 08.45, mereka tiba di rumah sakit. Setelah memarkir mobil, Mario membantu Jane turun dengan hati-hati, tangannya sigap memegang lengan Jane.
"Hati-hati, Sayang. Jalan pelan-pelan."
"Mas, aku hamil, bukan sakit."
"Iya, tapi tetep harus hati-hati." Mario tidak peduli. Ia tetap membimbing Jane dengan penuh perhatian.
Mereka masuk ke ruang tunggu poli kandungan. Beberapa ibu hamil lain sudah duduk dengan pasangan masing-masing. Jane dan Mario mengambil nomor antrean, lalu duduk di kursi kosong.
Tangan Mario memegang tangan Jane. "Gemetar, ya?"
"Iya. Mas juga gemetar."
"Iya. Tapi kita gemeter bareng."
Mereka tersenyum, saling menggenggam erat. Menunggu panggilan masuk.
---
"Bu Jane dan Bapak Mario?" suara perawat memanggil.
Mereka berdiri bersamaan, berjalan mengikuti perawat masuk ke ruang USG. Jantung Jane berdegup kencang. Mario tidak kalah deg-degan.
Dokter yang menangani mereka adalah wanita paruh baya dengan senyum ramah. "Selamat pagi, Bu Jane, Pak Mario. Silakan berbaring, Bu. Kita akan lihat buah hatinya."
Jane berbaring di tempat tidur periksa. Dokter mengoleskan gel dingin di perutnya, lalu mulai menggerakkan alat USG.
Jane menahan napas. Mario berdiri di sampingnya, tangannya memegang erat tangan Jane.
Lalu, mereka mendengarnya.
Deg... deg... deg...
Suara detak jantung kecil. Cepat, teratur, penuh kehidupan.
"Itu..." bisik Jane, air mata mulai menggenang.
"Itu detak jantungnya," kata dokter tersenyum. "Kuat sekali."
Mario tidak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia menatap layar di mana sebuah bentuk kecil muncul—kepala, badan, tangan, kaki mungil.
"Itu dia, Sayang," bisik Mario, suaranya bergetar. "Itu anak kita."
Jane menangis. Tangis haru yang tidak bisa dibendung. Dokter diam-diam menyodorkan tisu, tersenyum maklum.
"Semuanya normal," kata dokter. "Ukuran sesuai usia kehamilan 12 minggu. Jantungnya bagus, gerakannya aktif. Ibu dan janin sehat."
"Syukur alhamdulillah," bisik Jane.
Mario mencium kening Jane. "Makasih, Sayang. Makasih udah kuat."
Mereka berdua menangis bersama di ruang USG itu. Tangis bahagia. Tangis syukur.
Dokter mencetak beberapa foto USG, menyerahkannya pada Mario. "Ini, kenang-kenangan pertama untuk buah hati Bapak dan Ibu."
Mario menerima foto itu dengan tangan gemetar, seolah memegang benda paling berharga di dunia. "Makasih, Dok."
---
Setelah selesai, mereka duduk di ruang tunggu sambil menunggu administrasi. Mario tidak bisa berhenti menatap foto USG itu.
"Lihat, Jane. Ini kepalanya. Ini tangannya. Mungil banget."
"Iya, Mas." Jane menyandarkan kepala di bahu Mario. "Aku nggak nyangka... ngerasa kayak mimpi."
"Ini nyata, Sayang. Nyata." Mario mengecup puncak kepala Jane. "Kita beneran jadi orang tua."
Mereka duduk di sana, berbagi kehangatan, sementara orang-orang di sekitar lalu lalang tidak peduli. Tapi bagi mereka, dunia sedang berhenti berputar. Hanya ada mereka berdua, dan calon buah hati yang foto USG-nya kini tergenggam erat.
---
Perjalanan pulang terasa berbeda. Udara terasa lebih segar, langit terasa lebih biru, dan dunia terasa lebih indah.
"Mas, kita harus kasih tahu yang lain," ucap Jane.
"Iya. Nanti kita mampir beli makanan, traktir mereka."
"Setuju!"
Mereka berhenti di sebuah toko kue langganan, membeli dua loyang brownies dan satu kotak besar kue sus. Mario juga membeli es krim kesukaan Jane—"Ini khusus buat Bunda yang udah hebat," katanya.
Pukul 12.30, mobil mereka memasuki Griya Asri. Begitu sampai di parkiran, Jane melihat para tetangga sudah berkumpul di taman, pura-pura sibuk tapi jelas sedang menunggu.
"Mereka udah pada tahu, kali," goda Mario.
"Iya, pasti Mba Irene yang nyebarin kabar."
Mereka turun dari mobil. Amora yang pertama kali melihat, berlari ke arah mereka.
"Tante Jane! Om Mario! Amora denger tante ke dokter! Adiknya sehat?"
Jane berlutut susah payah, memeluk Amora. "Adiknya sehat, Sayang. Lihat, ini fotonya." Ia menunjukkan foto USG.
Amora mengernyitkan dahi. "Ini adiknya? Kok kayak... gumpalan?"
Semua tertawa. Jane mengelus kepala Amora. "Iya, masih kecil. Nanti kalau udah gede, jadi bayi lucu."
"Asyik! Amora punya adik!"
Rafa ikut berlari mendekat. "Mana? Mana?" Ia ikut menatap foto itu, lalu berkata polos, "Kok item putih?"
"Dasar anak-anak." Irene tertawa, menggendong Rafa. "Itu foto USG, Ra. Buat lihat bayi di perut."
"Oh." Rafa mengangguk-angguk, meski jelas tidak paham.
Semua berkumpul di taman. Mario membagikan kue dan es krim. Jane menunjukkan foto USG ke semua orang, satu per satu, dengan bangga.
"Ini kepala. Ini badan. Ini tangan." Ia menjelaskan seperti pemandu wisata.
Soo Young menerima foto itu dengan hati-hati. "Jane, selamat, ya. Semoga sehat terus sampai lahiran."
"Makasih, Tante."
Endy menepuk punggung Mario. "Gimana perasaannya, Nak?"
Mario tersenyum lebar. "Nggak bisa dijelasin, Om. Rasanya... campur aduk. Bahagia, haru, takut, semuanya jadi satu."
"Itu normal. Nikmatin aja prosesnya."
Chaeyoung dan Leon datang membawa kamera. "Foto bareng, yuk! Buat kenang-kenangan."
Mereka berpose bersama: Jane dan Mario di tengah, foto USG dipegang dengan bangga. Yang lain mengelilingi mereka, tersenyum lebar. Leon mengatur kamera, lalu mengambil beberapa jepretan.
"Ini will be a great memory," ucap Leon. "The first photo of the baby, with the whole family."
Kata-kata Leon menggema di hati mereka. Whole family. Keluarga utuh. Bukan hanya keluarga darah, tapi keluarga pilihan yang sedang merayakan kebahagiaan bersama.
---
Sore harinya, setelah semua pulang ke rumah masing-masing, Jane dan Mario duduk di teras. Jane masih memegang foto USG itu, menatapnya dengan takjub.
"Mas, kita beneran bakal punya anak."
"Iya, Sayang. Beneran."
"Masih nggak percaya."
Mario memeluk Jane. "Aku juga. Tapi ini nyata. Dan kita akan jadi orang tua terbaik buat dia."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin. Karena kita nggak sendiri. Kita punya mereka." Mario menunjuk ke arah rumah-rumah tetangga. "Keluarga kita."
Jane tersenyum, merebahkan kepala di dada Mario. Di luar, matahari mulai condong, menerangi Griya Asri dengan warna jingga yang hangat.
Di perutnya, bayi kecil itu bergerak—tendangan kecil yang mengingatkan bahwa kehidupan sedang tumbuh di sana.
Jane mengelus perutnya. "Nak, kamu beruntung. Kamu akan lahir ke dunia yang penuh cinta. Bukan cuma dari Ayah dan Bunda, tapi dari banyak orang yang sudah siap menyayangimu."
Mario mencium perut Jane. "Ayah janji, Nak. Ayah akan jadi ayah terbaik buat kamu. Nggak sempurna, tapi akan berusaha."
Dari kejauhan, terdengar tawa Amora dan Rafa yang masih bermain di taman. Suara Irene memanggil Rafa pulang. Suara Endy dan Soo Young yang berbincang pelan di teras. Suara Chaeyoung dan Leon yang memutar musik Australia dari rumah nomor 5.
Malam mulai turun. Tapi di Griya Asri, kehangatan tidak pernah padam.
Dan di rumah nomor 7, sepasang calon orang tua bersiap menyambut babak baru dalam hidup mereka. Babak yang akan penuh tantangan, tapi juga penuh cinta.
Karena mereka tahu, mereka tidak sendirian.
---