Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Modal Tampan
“Hei, kamu enggak denger ya? Dia itu pembohong! Enggak ada bagusnya kamu tetap bareng dia!” Wajah Othan terlihat cemas saat Maureen sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapannya. Ia tidak tega melihat wanita secantik itu dirugikan oleh Hans.
“Ya ampun, kamu ini berisik banget. aku mau bareng siapa itu bukan urusan kamu!” bentak Maureen, mulai kehilangan kesabaran.
“Kamu .…”
Othan hampir kehilangan kendali. Ia tidak pernah menyangka Maureen akan sekeras kepala itu. Sudah tahu Hans menipunya, tapi tetap kembali padanya.
Apa pria itu memang semenarik itu?
“Pak Karimi, orang kayak dia memang pantas dibohongi. Udah dikasih peringatan baik-baik malah jawabnya kasar. Enggak tahu terima kasih banget,” sindir Rachel dari samping.
“Hah! Jadi sekarang berbuat baik itu salah?” Othan merasa tidak adil, meski yang lebih kuat sebenarnya adalah rasa cemburunya.
“Kalian berdua pasti udah kenal lama, kan?” tanya Tiffany tiba-tiba.
Melihat sikap Maureen, ia tak bisa menahan kecurigaan bahwa hubungan mereka sudah berlangsung diam-diam cukup lama. Kalau tidak, sulit menjelaskan sikap Othan yang begitu ngotot.
“Itu enggak penting. Yang penting perasaan kami sama,” jawab Maureen sambil tersenyum. Saat berbicara, ia sengaja menempelkan dadanya ke lengan Hans, seolah menegaskan kepemilikannya.
Melihat itu, tatapan Tiffany berubah tajam. Ia tahu Maureen sengaja memancingnya, tetapi tetap saja rasa kesal itu sulit ditekan. Rasanya seperti ada sesuatu yang direbut darinya.
“Hans, ternyata aku salah nilai kamu. Kita aja belum resmi cerai, tapi kamu udah punya perempuan lain.” Tiffany berusaha menenangkan diri. Sejujurnya, selama ini ia masih memikirkan perceraian mereka karena merasa berutang pada Hans.
Namun saat ia sibuk mencari cara untuk menebus kesalahan, pria itu justru sudah bermain-main dengan wanita lain. Pada akhirnya, justru ia yang terlihat konyol.
“Kalau itu cara kamu lihat aku, aku enggak punya apa-apa lagi buat dijelasin.” Hans mengangkat bahu, malas berdebat.
“Bagus. Tadinya aku pikir aku masih punya utang sama kamu, tapi sekarang kita impas!” Wajah Tiffany berubah dingin. Ia menatap Hans seperti orang asing.
“Syukurlah.” Ekspresi Hans tetap datar, meski hatinya sempat terusik sesaat.
“Nyonya Rasheed .…” Maureen tiba-tiba angkat bicara sambil tersenyum. “Keputusan kamu waktu itu kurang bijak, tapi aku tetap harus berterima kasih.”
“Terima kasih untuk apa?” Tiffany menatapnya pelan.
“Makasih udah ninggalin Hans buat aku. Kalau enggak, aku enggak bakal nemuin harta karun kayak dia.” Senyum Maureen penuh sindiran, jelas berniat mempermalukan Tiffany.
“Hei! Kamu kurang ajar .…” Rachel hampir meledak, tetapi Tiffany mengangkat tangan menghentikannya.
Ia menatap Maureen lurus-lurus dan menjawab, “Harta karun yang kamu bilang itu, menurut aku biasa aja.”
“Biasa?” Maureen mengangkat alis. “Kamu nyebut seniman bela diri berpendidikan tinggi itu biasa? Standar kamu tinggi juga ya, Nyonya Rasheed. Tapi cowok yang lagi bareng kamu sekarang kayaknya enggak lebih hebat.”
“Setidaknya dia lebih baik dari Hans,” balas Tiffany tanpa mundur.
“Oh ya? Gimana kalau kita taruhan?” tantang Maureen santai.
“Taruhan apa?”
“Kita lihat dalam sebulan ke depan, siapa yang pencapaiannya lebih tinggi. Berani?”
Mendengar itu, ketiganya sama-sama terkejut. Mereka tidak menyangka Maureen akan mengusulkan hal seperti itu.
Othan menyeringai tidak percaya. “Kamu kepentok apa gimana? Masa aku disuruh saingan sama sampah kayak dia? Emang dia selevel?”
“Betul! Pak Karimi itu pewaris Karimi Pharmaceuticals. Asetnya triliunan. Hans punya apa?” ujar Rachel dengan nada meremehkan.
“Kamu yakin mau taruhan soal ini?” Tiffany tampak ragu. Di matanya, Hans tidak punya apa-apa selain wajah tampan. Sementara Othan unggul dalam segala hal, baik latar belakang keluarga maupun kemampuan pribadi.
Perbedaan mereka terlalu jauh. Bahkan diberi waktu lima tahun pun Hans belum tentu bisa mengalahkan Othan, apalagi cuma sebulan.
“Yakin. Tinggal kamu berani atau enggak,” jawab Maureen sambil mengangkat dagu menantang.
“Taruhannya apa?”
“Yang kalah harus minta maaf dan ngaku kalau seleranya rendah.”
“Baik. Aku terima.” Tiffany mengangguk.
“Bagus. Jangan nyesel nanti.” Maureen terkekeh ringan.
Kecantikan mereka seimbang, tetapi sifatnya bertolak belakang. Saat itu, tanpa disadari, persaingan di antara keduanya mulai terbentuk.
“Kita lihat saja nanti.” Tiffany melempar tatapan terakhir pada Maureen, lalu berbalik dan masuk ke Colloseum tanpa berkata apa-apa lagi.
“Hah, cari mati sendiri.” Othan dan Rachel kembali menyeringai sebelum mengikuti Tiffany masuk ke dalam. Sedikit pun mereka tidak menganggap Hans sebagai ancaman.
“Pak Rinaldi, menurut Anda gimana? Tadi aku keren, kan?” tanya Maureen manja sambil menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Gerakan sederhana itu terlihat biasa, tetapi sarat makna.
“Kamu agak berlebihan,” ujar Hans pasrah. “Kalau kita kalah, reputasi kamu yang dipertaruhkan.”
“Kalah? Anda bercanda? Masa Pak Rinaldi gak bisa ngalahin orang kayak dia?”
Maureen sengaja memancingnya.
“Aku cuma orang biasa. Gimana caranya aku saingan sama pewaris keluarga kaya?” Hans mengangkat bahu.
“Orang biasa? Hemmm, Anda itu rendah hati banget, Pak Rinaldi. Modal tampang aja udah enggak masuk akal.” Maureen mengedip genit, tingkahnya seperti preman yang lagi ganggu cewek.
Hans terdiam, pura-pura tidak melihat. Meski begitu, ia harus mengakui penampilan Maureen tadi nyaris sempurna. Ia menjaga harga dirinya. Lagipula, tidak banyak wanita yang bisa menutupi pesona Tiffany. Dan Maureen jelas salah satunya.