"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29. Fajar Keadilan yang Dinanti
Pagi hari di kota Tokyo terasa sangat sejuk dan juga sangat tenang sekali. Hana Tanaka sudah bangun sejak pukul lima pagi untuk mempersiapkan diri secara maksimal. Dia mencuci wajahnya dengan air dingin yang mengalir sangat deras dari keran wastafel.
Hana menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan mata yang sangat tajam. Dia tidak lagi melihat bayangan seorang gadis remaja yang lemah dan juga penakut. Dia melihat seorang pejuang yang sudah siap untuk menerima hasil akhir perjuangannya.
Hana mengenakan setelan jas hitam yang sama dengan yang dia gunakan kemarin pagi. Dia merapikan kerah bajunya dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap terasa mantap.
Kaito Fujiwara sudah menunggu di ruang tamu gedung kejaksaan dengan wajah yang sangat serius. Kaito sedang membaca beberapa berita terbaru di ponsel pintarnya mengenai reaksi masyarakat luas.
Dia melihat bahwa ribuan orang sudah berkumpul di depan gedung pengadilan negeri Tokyo. Mereka semua ingin menyaksikan secara langsung detik-detik pembacaan vonis bagi Haruo Fujiwara. Kaito memberikan sebuah senyuman tipis kepada Hana saat gadis itu masuk ke ruangan.
Dia memberikan segelas teh hijau hangat kepada Hana untuk membantu menenangkan pikiran. Mereka berdua terdiam sejenak sambil meresapi suasana pagi yang sangat sangat hening ini. Hana merasa bahwa hari ini akan menjadi hari paling bersejarah di dalam hidupnya.
Yuki Nakamura dan juga Akane Sato masuk ke ruangan dengan membawa beberapa dokumen tambahan. Yuki mengatakan bahwa tim teknis sudah menyiapkan sistem siaran langsung yang sangat stabil.
Seluruh rakyat Jepang akan bisa melihat jalannya persidangan melalui layar televisi dan juga internet. Akane menambahkan bahwa dukungan publik terus mengalir sangat deras tanpa henti sedikit pun. Ren Ishida muncul terakhir dengan membawa tas berisi perlengkapan keamanan bagi teman-temannya.
Mereka berlima kemudian berjalan menuju mobil pengawal yang sudah terparkir di depan gedung. Sirine polisi mulai berbunyi sangat nyaring saat iring-iringan kendaraan mulai bergerak maju. Hana menggenggam kalung pemberian ibunya dengan sangat erat di dalam saku jasnya.
Perjalanan menuju gedung pengadilan terasa sangat cepat karena jalanan sudah dikosongkan oleh polisi. Hana melihat banyak sekali orang yang membawa poster dukungan di sepanjang trotoar jalan raya.
Mereka berteriak memberikan semangat kepada kelompok lima sekawan saat mobil mereka lewat di depan. Hana merasa sangat terharu karena dia menyadari bahwa dia tidak berjuang sendirian saja. Ada jutaan harapan yang sekarang sedang dititipkan di atas pundak kecil Hana Tanaka.
Kaito terus memegang tangan Hana untuk memberikan kekuatan batin yang sangat luar biasa besar. Mereka turun dari mobil dan segera masuk melalui pintu belakang gedung pengadilan yang dijaga ketat. Suasana di dalam koridor gedung pengadilan terasa sangat dingin dan juga sangat sunyi.
Hana Tanaka masuk ke dalam ruang sidang utama dengan langkah kaki yang sangat teratur. Dia duduk di kursi saksi yang berada tepat di depan meja majelis hakim yang tinggi. Haruo Fujiwara sudah duduk di kursi terdakwa dengan wajah yang terlihat sangat sangat kusam.
Haruo tidak lagi menunjukkan aura kesombongan yang biasanya selalu dia pamerkan kepada semua orang. Rambutnya terlihat sedikit berantakan dan juga ada lingkaran hitam yang sangat jelas di matanya. Kaito duduk di barisan paling depan dengan tatapan mata yang tetap lurus ke depan.
Dia sama sekali tidak melihat ke arah ayahnya yang sedang tertunduk dengan sangat lesu. Ketegangan di dalam ruangan sidang ini terasa jauh lebih hebat dibandingkan dengan kemarin.
Hakim ketua masuk ke dalam ruangan dan semua orang segera berdiri dengan sangat serentak. Suara ketukan palu hakim terdengar sebanyak tiga kali dengan suara yang sangat sangat keras.
Hakim ketua mulai membacakan ringkasan hasil pemeriksaan fakta-fakta hukum yang sudah ditemukan sebelumnya. Dia menyebutkan bahwa seluruh bukti digital yang diajukan oleh Yuki Nakamura terbukti sangat akurat. Tidak ada tanda-tanda manipulasi data pada rekaman suara yang melibatkan Haruo Fujiwara tersebut.
Hakim juga menyatakan bahwa kesaksian Hana Tanaka dianggap sangat konsisten dan juga sangat jujur. Haruo Fujiwara terlihat mulai berkeringat dingin saat mendengar setiap poin yang dibacakan oleh hakim. Dia meremas kedua tangannya dengan sangat kuat di atas pangkuannya yang sangat gemetar.
Suasana di dalam ruang sidang menjadi sangat sangat sunyi saat hakim ketua akan membacakan vonis. Hana Tanaka menahan napasnya dan juga menutup matanya sejenak untuk berdoa dengan sangat tulus. Dia membayangkan wajah ibunya dan juga wajah Kenjiro Sato yang sudah tiada karena sistem ini.
Hakim ketua membacakan bahwa terdakwa Haruo Fujiwara secara sah terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Haruo juga dinyatakan bersalah karena melakukan manipulasi nilai ujian nasional secara terstruktur dan masif. Hakim menjatuhkan hukuman penjara selama lima belas tahun dan juga denda yang sangat besar.
Selain itu seluruh aset kekayaan milik yayasan sekolah elit akan segera disita oleh negara. Haruo Fujiwara langsung lemas dan juga hampir jatuh dari kursinya saat mendengar vonis tersebut.
Hana Tanaka langsung menangis tersedu-sedu karena dia merasa sangat lega dan juga sangat bahagia. Dia merasa bahwa beban yang selama ini menghimpit dadanya sudah hilang terbang ke udara.
Kaito Fujiwara menundukkan kepalanya sangat dalam sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Kaito merasa sedih karena nasib ayahnya namun dia juga merasa bangga karena keadilan tegak. Yuki Nakamura dan juga Akane Sato saling berpelukan dengan sangat erat di barisan penonton. Ren Ishida mengepalkan tangannya ke udara sebagai tanda kemenangan atas perjuangan panjang mereka berlima.
Seluruh orang di galeri penonton mulai bersorak dengan sangat riuh dan juga sangat gembira. Hakim ketua harus mengetukkan palunya berkali-kali untuk menenangkan suasana yang sangat kacau tersebut.
Petugas pengadilan segera mendekati Haruo Fujiwara untuk memasang borgol besi di kedua tangannya. Haruo dibawa keluar dari ruang sidang melalui pintu samping yang dijaga oleh banyak polisi.
Dia sempat menoleh ke arah Kaito dengan tatapan mata yang sangat hampa dan juga penuh rasa malu. Kaito hanya memberikan sebuah anggukan pelan sebagai tanda perpisahan terakhir dengan sosok ayahnya. Kaito sudah memutuskan untuk melepaskan seluruh masa lalunya yang penuh dengan segala macam kepalsuan.
Dia ingin memulai hidup yang baru dengan menggunakan namanya sendiri tanpa bayang-bayang keluarga. Hana mendekati Kaito dan mereka berdua berdiri berdampingan di tengah ruangan sidang yang sangat luas. Mereka telah memenangkan pertempuran yang paling sulit di dalam sejarah hidup mereka masing-masing.
Hana Tanaka dan teman-temannya keluar dari gedung pengadilan melalui pintu utama dengan sangat berani. Ribuan pasang mata langsung tertuju ke arah mereka dengan penuh rasa kagum dan juga hormat. Suara tepuk tangan yang sangat membahana terdengar menyambut kehadiran mereka berlima di atas tangga.
Para wartawan segera merangsek maju untuk memberikan pertanyaan mengenai perasaan mereka setelah vonis dibacakan. Hana Tanaka berdiri di depan mikrofon dengan wajah yang sangat cerah dan juga penuh percaya diri. Dia menyatakan bahwa hari ini adalah hari kemenangan bagi seluruh siswa yang jujur di Jepang.
Dia menekankan bahwa sistem gacha kehidupan sudah berakhir dan tidak boleh ada lagi di masa depan. Pernyataan Hana tersebut langsung disambut dengan sorak-sorai yang sangat keras dari para demonstran.
"Keadilan bukan milik orang kaya saja tetapi milik kita semua yang berani jujur," ujar Hana.
Kaito Fujiwara juga memberikan pernyataan singkat mengenai keputusannya untuk menyumbangkan sisa hartanya. Dia ingin membangun sebuah yayasan pendidikan baru yang sangat transparan dan juga sangat adil. Kaito ingin memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih impian mereka.
Dia tidak ingin ada lagi anak yang merasa putus asa karena terlahir di keluarga yang sangat miskin. Yuki Nakamura berjanji akan membantu sistem teknologi informasi untuk yayasan baru milik Kaito tersebut. Akane Sato akan mendokumentasikan setiap langkah pembangunan yayasan tersebut agar bisa menginspirasi banyak orang.
Ren Ishida akan menjadi pelatih olahraga bagi anak-anak yang akan bergabung di yayasan pendidikan tersebut. Mereka berlima sudah memiliki rencana masa depan yang sangat indah dan juga sangat bermanfaat.
Ibu Hana Tanaka yang melihat melalui televisi rumah sakit menangis dengan sangat bahagia dan juga bangga. Dia merasa bahwa segala macam penderitaan yang dia alami selama ini sudah terbayar dengan lunas. Ibu Hana segera menelepon Hana untuk memberikan ucapan selamat atas keberanian yang sangat luar biasa.
Hana berbicara dengan ibunya sambil terus mengalirkan air mata kebahagiaan yang sangat tulus dari matanya. Dia berjanji akan segera menjemput ibunya untuk pulang ke rumah mereka yang kecil namun sangat hangat. Hana tidak lagi merasa malu dengan kondisi ekonominya yang sangat terbatas dibandingkan dengan orang lain.
Dia merasa sangat kaya karena memiliki integritas dan juga memiliki sahabat yang sangat setia kepadanya. Kebahagiaan Hana saat ini tidak bisa ditukar dengan uang sebanyak apa pun di dunia ini.
Malam harinya suasana di pusat kota Tokyo terlihat sangat sangat meriah dengan lampu yang berwarna-warni. Berita mengenai vonis Haruo Fujiwara menjadi topik utama di seluruh saluran televisi dan juga koran.
Banyak sekolah elit mulai melakukan audit internal secara besar-besaran karena takut akan terkena kasus serupa. Kementerian pendidikan Jepang mengeluarkan kebijakan baru untuk menghapus segala bentuk manipulasi nilai ujian nasional. Masyarakat mulai percaya kembali pada sistem pendidikan yang selama ini dianggap sangat penuh dengan kecurangan.
Hana Tanaka merasa sangat bersyukur karena tindakannya telah membawa perubahan besar bagi bangsanya sendiri. Dia duduk di atap gedung kejaksaan sambil menatap bintang-bintang yang bersinar sangat terang di langit.
Kaito Fujiwara datang menghampiri Hana dan dia duduk di sampingnya dengan perasaan yang sangat tenang. Kaito mengatakan bahwa dia merasa sangat bebas untuk pertama kalinya sejak dia dilahirkan ke dunia. Dia tidak lagi merasa terikat oleh aturan-aturan keluarga Fujiwara yang sangat kaku dan juga munafik.
Kaito merasa bahwa dia sudah menemukan jati dirinya yang sesungguhnya melalui perjuangan bersama Hana. Hana tersenyum dan dia menyandarkan kepalanya di bahu Kaito dengan penuh rasa rasa nyaman sekali. Mereka berdua terdiam sejenak sambil menikmati angin malam yang berhembus sangat sangat sejuk dan lembut.
Mereka tahu bahwa hari esok akan membawa tantangan baru namun mereka sudah sangat siap menghadapinya. Persahabatan mereka telah menjadi fondasi yang sangat kuat untuk membangun masa depan yang jauh lebih cerah.
Yuki, Akane, dan Ren kemudian bergabung dengan mereka di atap gedung dengan membawa beberapa minuman kaleng. Mereka merayakan kemenangan mereka dengan cara yang sangat sederhana namun terasa sangat bermakna sekali.
Mereka membicarakan tentang rencana kuliah mereka yang akan segera dimulai dalam beberapa bulan ke depan. Hana ingin mengambil jurusan hukum internasional agar bisa membela hak-hak anak di seluruh penjuru dunia.
Yuki ingin mendalami ilmu kecerdasan buatan untuk menciptakan sistem pengawasan korupsi yang sangat canggih. Akane ingin menjadi seorang penulis novel yang fokus pada isu-isu sosial yang ada di masyarakat kita.
Ren ingin menjadi seorang pemain sepak bola profesional yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas. Mereka semua memiliki impian yang sangat besar dan juga sangat mulia bagi masa depan mereka.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍