Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bianglala, gulali, dan gengsi yang tinggi
Pasar malam di akhir pekan adalah definisi dari kekacauan yang estetis. Bau minyak goreng dari gerobak gorengan bercampur dengan aroma harum arum manis, ditambah suara musik dangdut dari wahana "Tong Setan" yang beradu dengan jeritan orang-orang di kora-kora.
Dewi Laras berdiri di depan gerbang masuk sambil sibuk membetulkan letak tas selempangnya. Malam ini dia berdandan sedikit lebih niat—hanya sedikit, menurut pembelaannya pada diri sendiri—meskipun Gia Kirana langsung bisa mendeteksi perubahan itu dalam satu detik.
"Tumben pakai lipstik warna peach? Biasanya juga pakai lipbalm rasa jeruk yang udah mau habis itu," celetuk Gia yang malam itu tampil santai dengan jaket oversize.
"Lagi pengen aja, Gi. Lagian kan mau foto-foto," jawab Laras cepat, berusaha menghindari tatapan menyelidik Gia.
"Foto-foto atau mau tebar pesona sama si kapten basket kita?" Rhea Amara muncul dari arah parkiran sambil membawa dua kantong plastik berisi cilok. Rhea adalah tipe orang yang sebelum masuk ke tempat makan, dia sudah makan duluan.
"Mana yang lain?" tanya Laras, mengalihkan pembicaraan sebelum pipinya makin merah.
"Tuh," Rhea menunjuk ke arah gerbang.
Di sana, Bagas Putra, Eno Surya, dan Juna Pratama berjalan beriringan. Bedanya, Bagas terlihat seperti model iklan pakaian santai, sedangkan Eno memakai kacamata hitam di malam hari yang membuatnya berkali-kali hampir menabrak tiang listrik. Juna? Dia berjalan sambil memegangi perutnya, tampak cemas melihat wahana-wahana yang berputar ekstrem.
"Sori telat! Si Eno tadi pakai acara salah kostum, masa dia mau pakai jas hujan gara-gara lihat ramalan cuaca bakal mendung?" keluh Bagas sambil berhenti tepat di depan Laras. Matanya sempat tertahan satu detik lebih lama di wajah Laras, membuat jantung cewek itu mendadak melakukan gerakan akrobatik.
"Sedia payung sebelum hujan, Bro! Itu prinsip hidup sarjana sukses!" bela Eno sambil melepas kacamata hitamnya karena sadar dia benar-benar nggak bisa melihat jalan.
"Dah yuk masuk! Gue mau naik bianglala!" seru Rhea bersemangat.
Mereka pun masuk ke dalam. Suasana makin ramai. Eno dan Rhea jadi yang paling heboh, mereka mencoba semua permainan ketangkasan. Eno mencoba melempar gelang ke botol demi mendapatkan hadiah boneka beruang raksasa, tapi setelah menghabiskan lima puluh ribu rupiah, dia hanya berhasil membawa pulang satu buah gantungan kunci plastik berbentuk ayam.
"Ini penipuan secara struktural dan masif!" teriak Eno sambil menunjuk-nunjuk abang penjaga stan.
"Bukan penipuan, No. Lo-nya aja yang kurang koordinasi mata dan tangan," sahut Juna yang mulai merasa lebih baik setelah melihat kesialan Eno.
Setelah lelah tertawa melihat Eno, mereka akhirnya mengantre di wahana Bianglala. Masalah muncul saat mereka sampai di depan petugas: satu kabin hanya boleh diisi maksimal dua orang karena alasan keamanan.
"Oke, strategi pembagian tim!" seru Eno seperti jenderal perang. "Gue sama Rhea, karena kita tim sukses kuliner. Gia sama Juna, biar Juna ada yang jagain kalau dia tiba-tiba pingsan di atas. Dan Bagas sama Laras... ya karena sisanya tinggal kalian."
Laras membeku. Dia melirik Bagas yang tampak tenang-tenang saja, bahkan cowok itu sempat-sempatnya membelikan gulali merah muda untuk Laras.
"Ayo, Ras," ajak Bagas sambil melangkah masuk ke kabin kecil itu.
Saat bianglala mulai bergerak naik, suara bising pasar malam di bawah perlahan menjauh. Di dalam kabin yang sempit itu, lutut Laras hampir bersentuhan dengan lutut Bagas. Suasana yang tadinya penuh tawa mendadak jadi canggung dan tenang.
"Gak takut tinggi kan?" tanya Bagas memecah keheningan.
"Dikit sih. Tapi kalau sama lo... eh, maksudnya kalau pemandangannya bagus gini, jadi lupa takutnya," jawab Laras gugup. Duh, hampir aja! batinnya.
Bagas tersenyum, lalu dia menggeser duduknya sedikit mendekat untuk menyeimbangkan kabin yang agak goyang. "Ras, lo tahu nggak? Di antara kita berenam, gue rasa lo yang paling sering dapet sial tapi tetep bisa ketawa paling kencang. Itu yang bikin grup kita nggak pernah mati."
Laras menoleh, menatap mata Bagas yang memantulkan lampu-lampu warna-warni dari bawah. "Gue cuma nggak mau kelihatan sedih di depan kalian. Lagian, ada Eno yang lebih konyol dari gue, jadi sial gue nggak berasa berat."
Bagas terdiam sejenak, lalu tangannya pelan-pelan meraih tangan Laras yang sedang memegang pinggiran kursi. "Nanti kalau udah lulus, kita bakal tetep begini kan? Gue nggak mau kehilangan momen-momen kayak gini."
Jantung Laras serasa mau copot. Di puncak bianglala, saat dunia di bawah mereka tampak kecil dan kerlap-kerlip, Laras merasa waktu seolah berhenti. Namun, tepat saat suasana sedang romantis-romantisnya...
DUARRR!
Sebuah balon meletus tepat di kabin bawah mereka—yang isinya Eno dan Rhea.
"WOY BAGAS! LARAS! JANGAN MACEM-MACEM YA DI ATAS! GUE LIHAT NIH DARI BAWAH!" teriak Eno dengan suara toa-nya, merusak seluruh suasana puitis yang baru saja terbangun.
Bagas tertawa lepas sambil melepaskan tangan Laras, meskipun wajahnya tampak sedikit kecewa. Laras ikut tertawa, meski dalam hati dia ingin sekali menjatuhkan sandal jepitnya tepat ke kepala Eno.
Malam itu berakhir dengan mereka makan mi ayam di pinggir jalan. Di balik tawa dan ejekan Eno tentang "wajah tegang Laras di atas bianglala", ada satu hal yang mulai jelas: perasaan itu ada. Tapi di sela-sela itu, Gia sempat terdiam lama sambil menatap ponselnya, sebuah pesan singkat masuk yang membuatnya terlihat sangat cemas—sebuah awal dari retakan kecil yang belum disadari oleh yang lain.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...