"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Mahiya termangu menatap keluar jendela kampusnya, barusan pengumuman kalau mereka akan praktek lagi di rumah sakit milik kampus mereka.
Tak terasa semester 5 mulai berjalan, dan entah mengapa mahiya tidak merasa bersemangat sama sekali.
Pernikahan mereka sudah 3 bulan ternyata dan sudah 3 bulan juga mahiya hidup dalam kebohongan dan kepura-puraan yang mereka ciptakan sendiri.
"hhhhhhh.." mahiya menghela nafasnya kasar, sampai gaby yang duduk di sisinya menoleh heran.
"kamu kenapa?" bisik gaby pelan, takut suaranya kedengaran dosen yang sedang menjelaskan materi.
Mahiya menoleh kaget, tapi dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Sampai dosen keluar mahiya masih terduduk lesu di kursinya, gaby yang sibuk merapikan tasnya, mengajaknya makan siang, tapi mahiya menolak.
"kamu duluan deh gab, aku lagi males"
Gaby mengedikkan bahunya, menepuk pundak mahiya lembut sebelum meninggalkan gadis itu sendirian.
"mahi..."
Mahiya tersentak, mendongakkan kepalanya.
"kamu nggak makan siang?, atau suami kamu nggak jemput?"
Mahiya menggeleng, tapi bibirnya tetap tersenyum manis.
"makan siang bareng aku yuk!"
Kepala mahiya udah hampir menggeleng lagi, tapi akhirnya dia mengangguk setuju. Dihya, cowok yang mengajaknya makan siang tersenyum senang, karena tumben banget nggak pernah-pernahnya mahiya nerima ajakan dia.
"kamu bawa motor?" tanya mahiya basa-basi, sambil ngerapihin tasnya.
"aku bawa mobil"
"ohh.." sahut mahiya santai sambil manggut-manggut.
"ayo..."
Mahiya mengikuti pria itu yang berjalan duluan di depannya, dihya terlihat senang dan itu nggak bisa ditutupi sama sekali.
Mahiya tersenyum miris, ada rasa iba menyelusup ke dalam hatinya. Dia tahu dihya memang benar-benar menyukainya, padahal sudah 3 bulan mahiya berstatus istri orang, tapi sama sekali nggak menyurutkan niat dan rasa suka dihya pada mahiya.
"kita makan dimana?" tanya dihya dengan matanya yang berbinar, senyum tipis di bibir pria tampan itu tak lekang sejak keluar dari kelas tadi.
"terserah kamu, aku mah makan apa aja doyan"
Dihya menoleh sekilas, melirik mahiya yang duduk tenang di sisinya. Tapi mata pria itu kembali fokus menatap jalanan.
"kamu nggak kenapa-kenapa nih jalan bareng aku?"
Mahiya menoleh, mengernyitkan keningnya.
"emangnya kenapa?"
"suami kamu!"
Mahiya menatap dihya yqng menatapnya juga, sementara pria itu cepat-cepat mengalihkan tatapannya. Nggak kuat jantungnya, deg-degan parah di tatap mahiya dengan sorot penuh tanya kek gitu.
"kalau kamu sadar aku punya suami, kok kamu nggak nyerah-nyerah ngajakin aku makan?"
"hehehhehe..." dihya terkekeh pelan, kepalanya sambil manggut-manggut pula tuh. Keknya dia malu, apalagi dia sampai melengos jengah.
"maaf..mahi. Soalnya sampai detik ini aku belum ikhlas kamu nikah dengan pria lain"
"apa yang kamu suka dari aku?"
"ciiiit..."
Dihya mengerem mobilnya mendadak, mahiya sampai hampir kepentok dashboard kepalanya.
"kamu kenapa sih?" sembur mahiya kesal, dia meraba jantungnya yang hampir copot rasanya.
"maaf..maaf.." dihya menatap nggak enak hati , tangannya di depan dada dengan pose minta maaf.
"pertanyaan kamu barusan bikin kaget!"
Mahiya menaikkan alisnya sebelah, dia memicing heran. Masa iya sampai segitunya, masa dihya kaget sampai segitunya. Nggak masuk akal banget.
"kamu tahu nggak sih mahi? Aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu!"
"tahu.." angguk mahiya santai, gadis itu sudah duduk dengan tenang kembali.
"aku tahu kalau kamu suka aku"
Dihya membelalakkan matanya nggak percaya, masa iya mahiya tahu tapi nggak ngomong apapun dan setega itu padanya.
"kalau kamu tahu, kamu kok tega banget nikah dengan pria lain?"
Mahiya menegakkan tubuhnya, menatap mata dihya lekat.
"hhhhhhh..." desah nafas mahiya terdengar gusar
"emang kamu pernah bilang, kalau kamu suka aku?, trus kenapa aku nggak boleh nikah dengan orang lain, kalau diantara kita nggak pernah ada apa-apa?"
"tapikan kamu nggak boleh pacaran?" cecar dihya lagi, dia masih mencoba membela diri.
"hadeuhhhh.." geleng mahiya kesal
"memang aku nggak boleh pacaran, tapi kalau kamu memang suka padaku harusnya ngomong, jadi aku punya pegangan..."
Mahiya terdiam sesaat, mengamari reaksi dihya yang tersentak.
"tapi sudahlah.., nggak usah dibahas lagi, nggak ada artinya juga"
"tunggu mahi..." dihya menatap mahiya dengan sorot penasaran.
"jadi menurutmu kalau aku ngomong, aku punya kesempatan.?"
Mahiya nggak menjawab, dia cuman tersenyum sambil mengedikkan bahunya.
"nggak usah di bahas lagi deh"
Dihya masih menatap mahiya, walau tangannya mulai mengemudikan mobilnya kembali. Dihya masih curi-curi pandang, mahiya sadar tapi dia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.
********
"mahi..."
Terdengar ketukan di pintu kamar, mahiya yang baru saja pulang, belum juga sempat salin pakaian, menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
Dia tahu, kael pasti ingin bicara. Sejak 2 malam yang lalu, sejak mereka pulang dari rumah orangtua mahiya, jujur dia memang menjaga jarak dari pria itu.
Mahiya membuka pintunya perlahan, wajah kael menatapnya dengan sorot yang tak bisa mahiya baca.
"sebenarnya aku salah apa mahi? 2 hari ini, tidak..." kepala kael menggeleng-menggeleng.
" akhir-akhir ini kamu aneh, kamu sepertinya menghindari aku"
Mahiya yang bersandar di ambang pintu, hanya menggeleng lemah.
"itu perasaan kak kael aja, aku nggak kenapa-kenapa kok"
Kael mengamati wajah mahiya tanpa berkedip sama sekali, kernyitan di kening pria itu jelas menunjukkan bahwa dia nggak percaya.
"aku hanya banyak pikiran kak, semester ini aku full praktek di rumah sakit"
"apa kamu marah padaku? Atau aku ada salah padamu?"
"tidak kak kael.." mahiya menggeleng cepat,
"aku hanya lelah akhir-akhir ini"
"mahi.." panggil kael lagi, dan kini suara pria itu terdengar lembut. Dan panggilan lembut itu, jujur membuat dada mahiya berdebar indah.
"aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku, aku tak tahu apa. Tapi feeling aku bilang, kamu marah padaku"
Mahiya menatap mata coklat kehijauan milik kael tanpa bicara, dia membiarkan pria itu meneruskan ucapannya.
"aku minta maaf mahi, atas semua salahku yang sengaja atau tanpa sengaja kulakukan.."
"heheheeh" mahiya tertawa pelan, dan suara tawa itu sepertinya cukup menganggu.
Kael menatap mahiya dengan sorot mata tersinggung.
"kenapa kamu tertawa?"
"tidak kak kael" geleng mahiya masih tersenyum.
"kakak nggak ada salah kok"
'hanya hatiku saja yang baperan' lanjutnya dalam hati, wajah mahiya masih tersenyum dengan senyuman sedikit sendu.
"aku tak mau kamu seperti ini mahi!, aku merasa ada jarak di antara kita. Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, ungkapkan saja!"
Mahiya mengangguk, senyum manisnya kembali terlihat walau tipis.
"aku ijin mandi dulu kak, bentar lagi aku mau masak untuk makan malam" pamit mahiya menutup pintu, meninggalkan kael yang termangu sendirian di depan pintu kamar mahiya yang sudah tertutup rapat.
"hhhhhhhh"
Kael menghembuskan nafasnya gusar, walau mahiya bersikeras tidak ada apa-apa, tapi kael tahu kalau mahiya sedang tidak baik-baik saja.
'apakah gadis itu membenciku?'
"hhhhhhhh"
Kembali terdengar dengkusan dari hidung kael, dia hendak melangkah pergi, tapi sebelum beranjak, sekali lagi dia melirik ke pintu mahiya yang tertutup rapat itu.
Bersambung...