Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Ya Buk Sri, pasien dengan kondisi seperti ini tetap harus dibawa ke ruangan isolasi khusus untuk pengobatan penyakit menular. Ini bukan hanya untuk kesembuhan mereka sendiri, tapi juga untuk mencegah penyebaran ke orang lain," ujar Dokter Rahmat dengan nada sabar menjelaskan, sambil menunjuk ke arah lorong yang mengarah ke bagian belakang rumah sakit.
Tangan Buk Sri tidak terima. Matanya memerah karena menahan amarah.
"Yang kami butuhkan bukan isolasi! Kami butuh obat yang bisa membuat kami sembuh cepat, sekarang juga! Aku sudah tidak bisa tidur karena gatalnya, dan suamiku bahkan sudah mulai demam tinggi!" jeritnya dengan nada sangar, membuat beberapa orang yang lewat berhenti sejenak untuk melihat ke arah mereka.
Dokter Rahmat hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Ia sudah sering menghadapi pasien atau keluarga yang terburu-buru ingin kesembuhan instan, tapi kasus kali ini terasa lebih berat karena kondisi penyakit yang memang membutuhkan proses.
Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling koridor, berusaha mencari cara untuk menenangkan Buk Sri dan kelompoknya. Tak sengaja, matanya tertuju pada Abram.
"Abram! Ke sini sebentar!" panggil Dokter Rahmat dengan nada yang lebih ringan.
Abram langsung berjalan mendekat. Saat ia mendekati kelompok tujuh orang tersebut, matanya sedikit menyipit.
Meskipun kulit mereka sudah tertutup luka dan kudis yang membuat wajah terlihat berbeda dari biasanya, Abram masih bisa mengenali siapa mereka.
Dokter Rahmat melihat ekspresi wajah Abram yang sedikit berubah. "Abram. Apakah kamu punya cara atau tahu obat tambahan yang bisa mempercepat proses penyembuhan mereka?" tanyanya dengan harapan di mata.
Sebelum Abram bisa menjawab, Buk Sri tiba-tiba mengangkat tangannya dan menunjuk langsung ke arahnya.
"Hey kamu! Kamu Abram ya?" kata buk Sri mencoba menyakinkan.
Abram hanya menatapnya dengan tatapan datar. Ia merasa tubuhnya sedikit kaku saat mengenali sosok wanita yang dulu sering ia bantu, tapi balik menghinanya.
"Kamu kenal dengan mereka?" tanya Dokter Rahmat dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Mereka merupakan tetangga saya dulu ," jawab Abram dengan suara yang rendah. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak ingin mengakui hubungan tersebut.
Buk Sri mendengar jawaban itu dan wajahnya langsung berubah menjadi merah membara karena kemarahan.
"Oh jadi sekarang kamu sudah sembuh ya, padahal dulu kamu juga pernah terkena penyakit yang sama! Dan sekarang penyakit ini malah menular ke kami! Dasar kurang ajar! Cepat sembuhin kami sekarang juga! Semua ini gara-gara kamu! Kamu yang membawa wabah berbahaya ini ke kampung kami sehingga kami semua kena!" teriaknya semakin keras, menarik perhatian lebih banyak orang di koridor.
"Iya, kamu harus tanggung jawab penuh! Kamu yang harus membayar semua biaya pengobatan kami sampai kami benar-benar sembuh! Dasar pembawa sial!" ucapnya Buk Luna dengan penuh hasutan, membuat beberapa orang juga mulai mengangguk dan mengeluarkan suara dukungan.
Dokter Rahmat mengangkat alisnya dengan terkejut. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Abram memiliki hubungan dengan mereka, apalagi sampai muncul tuduhan seperti itu. Ia melihat ke arah Abram, ingin tahu bagaimana pria muda itu akan menanggapi semua hinaan tersebut.
Abram mengangkat dagunya perlahan, matanya yang tadinya datar kini menyala dengan tatapan tajam.
"Tadinya saya memang ingin membantu, Tapi karena kalian lebih suka mengina dan menyalahkanku, jadi aku tidak jadi menyembuhkan kalian," kata Abram mengangkat bahunya tidak peduli.
di tunggu kelanjutannya