NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu garis Tipis

Pagi itu aku terbangun lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena alarm.

Bukan juga karena suara Ashar yang biasanya sudah sibuk di dapur.

Melainkan karena perutku terasa… aneh lagi.

Bukan sakit.

Bukan juga benar-benar mual.

Lebih seperti ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman.

Aku duduk perlahan di tepi ranjang.

Cahaya pagi masuk melalui tirai tipis kamar kami.

Dan mataku langsung tertuju pada meja kecil di samping tempat tidur.

Kotak kecil itu masih ada di sana.

Tes kehamilan yang dibeli Ashar beberapa hari lalu.

Aku menatapnya cukup lama.

Sejak Ashar mengucapkan dugaan itu, pikiranku sebenarnya tidak pernah benar-benar tenang.

Bagaimana jika benar?

Bagaimana jika tubuhku memang sedang berubah?

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Aku hanya akan memastikan,” gumamku pelan.

Aku mengambil kotak itu.

Tanganku terasa sedikit dingin.

Bukan karena takut.

Lebih karena… gugup.

Beberapa menit kemudian aku berdiri di depan wastafel kamar mandi.

Aku mengikuti petunjuk yang ada di kotak itu.

Sederhana sebenarnya.

Namun entah kenapa jantungku berdetak cukup cepat.

Setelah selesai, aku menaruh alat tes itu di tepi wastafel.

Dan menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Aku mencoba tidak terlalu memikirkan hasilnya.

Namun mataku tetap tertuju ke benda kecil itu.

Lalu perlahan… sebuah garis muncul.

Aku menelan ludah.

Beberapa detik kemudian…

garis kedua muncul.

Sangat tipis.

Hampir samar.

Aku menatapnya cukup lama.

“Oke… aku mungkin salah melihat.”

Aku mendekat.

Tidak.

Garis itu memang ada.

Dua garis.

Satu jelas.

Satu sangat tipis.

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Apa ini artinya…”

Aku belum sempat menyelesaikan kalimatku sendiri ketika pintu kamar mandi diketuk.

“Mala?”

Itu suara Ashar.

“Apa kamu baik-baik saja?”

Aku langsung panik kecil.

“Iya!”

“Kenapa lama sekali?”

“Aku hanya… mencuci muka.”

Aku menatap alat tes itu lagi.

Dua garis.

Tipis.

Tetapi tetap dua.

Aku mengambilnya.

Masih belum tahu harus bereaksi bagaimana.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, Ashar sedang duduk di tepi ranjang.

Ia langsung berdiri.

“Kamu lama sekali.”

Aku menatapnya.

“Ashar.”

“Iya?”

Aku mengangkat alat tes itu.

“Ini… muncul dua garis.”

Ashar membeku.

Secara harfiah.

Ia tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Seperti mesin yang tiba-tiba kehilangan fungsi.

“Ashar?” kataku.

Ia masih diam.

“Ashar?”

Lalu tiba-tiba ia berkata:

“Apakah dua garis berarti…?”

Aku mengangguk pelan.

“Sepertinya iya.”

Ia menatap alat tes itu dengan ekspresi sangat serius.

“Garis yang satu sangat tipis.”

“Aku tahu.”

“Apakah itu tetap dihitung?”

“Sepertinya.”

Ia terlihat berpikir sangat keras.

“Aku harus membaca petunjuknya.”

Ia langsung mengambil kotak itu dan membaca tulisan kecil di bagian belakang dengan sangat fokus.

Aku hampir tertawa melihat ekspresinya.

Beberapa detik kemudian ia menatapku lagi.

“Di sini tertulis dua garis berarti kemungkinan hamil.”

“Kemungkinan?”

“Iya.”

Ia mengangkat alat tes itu lebih dekat ke matanya.

“Meskipun garisnya tipis.”

Aku akhirnya tertawa kecil.

“Ashar.”

“Iya?”

“Kamu terlihat seperti ilmuwan yang baru menemukan planet baru.”

Ia menatapku dengan mata besar.

“Mala…”

“Iya?”

“Kamu mungkin hamil.”

Cara ia mengatakan itu membuat suasana tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Aku duduk di ranjang.

Tanganku masih memegang alat tes itu.

“Aku tidak tahu harus merasa apa.”

Ashar berjalan mendekat.

Lalu duduk di depanku.

Ia memegang tanganku dengan hati-hati.

“Kita harus memastikan di dokter.”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Lalu tiba-tiba ia berdiri.

“Kita pergi sekarang.”

“Ashar.”

“Iya?”

“Sekarang masih pagi sekali.”

“Itu lebih baik.”

“Aku bahkan belum sarapan.”

“Kita bisa makan di rumah sakit.”

Aku tertawa kecil.

“Kamu panik.”

“Aku tidak panik.”

“Kamu jelas panik.”

Ia menghela napas panjang.

“Baiklah… sedikit.”

Perjalanan ke klinik terasa seperti perjalanan menuju ujian besar.

Ashar menyetir dengan sangat hati-hati.

Sangat… sangat hati-hati.

“Mobil di belakang hampir menabrak kita,” kataku.

“Aku hanya ingin memastikan kamu aman.”

“Aku tidak terbuat dari kaca.”

Ia tidak menjawab.

Tangannya tetap menggenggam setir dengan tegang.

“Ashar.”

“Iya?”

“Kamu bahkan berhenti terlalu lama di lampu hijau.”

“Lebih baik aman.”

Aku menggeleng sambil tertawa.

Di klinik, dokter meminta beberapa pemeriksaan sederhana.

Ashar duduk di kursi tunggu dengan ekspresi lebih tegang daripada pasien yang sedang operasi besar.

Aku keluar dari ruang pemeriksaan sekitar dua puluh menit kemudian.

Ashar langsung berdiri.

“Bagaimana?”

“Dokter sedang melihat hasilnya.”

Kami duduk bersama.

Tangannya menggenggam tanganku erat.

Beberapa menit kemudian dokter memanggil kami kembali.

Aku duduk di kursi.

Ashar duduk di sebelahku dengan punggung sangat tegak.

Dokter tersenyum.

“Selamat.”

Aku menatapnya.

“Selamat?”

“Iya.”

Ia menunjuk hasil pemeriksaan.

“Kehamilan masih sangat awal, tetapi hasilnya positif.”

Aku menoleh ke Ashar.

Ekspresinya… sulit dijelaskan.

Matanya sedikit membesar.

Bibirnya terbuka.

Dan ia terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar berita paling mengejutkan dalam hidupnya.

“Kami… benar-benar…?”

Dokter tersenyum.

“Ya. Kalian akan menjadi orang tua.”

Aku merasakan sesuatu yang hangat di dadaku.

Sementara Ashar…

tidak bergerak.

Dokter tertawa kecil.

“Sepertinya ayahnya masih memproses informasi ini.”

Aku menoleh ke Ashar.

Ia akhirnya berkata pelan:

“Aku akan menjadi ayah.”

Aku tertawa kecil.

“Ya.”

Ia menatapku.

Lalu tiba-tiba memelukku.

Dengan hati-hati.

Sangat hati-hati.

Seperti aku tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat rapuh.

Dalam perjalanan pulang, Ashar benar-benar berubah menjadi mode super protektif.

“Kamu tidak boleh mengangkat barang berat.”

“Aku hanya membawa tas.”

“Biar aku saja.”

Ia bahkan membuka pintu mobil untukku seperti dalam film.

Aku tertawa.

“Ashar.”

“Iya?”

“Aku masih orang yang sama.”

“Kamu sekarang membawa seseorang lagi.”

Aku menatapnya.

“Masih sangat kecil.”

“Meski kecil, tetap penting.”

Aku tidak bisa menahan senyum.

Malam itu kami duduk di sofa rumah.

Sunyi.

Tetapi sunyi yang hangat.

Ashar menatap perutku beberapa detik.

“Aku tidak percaya ada seseorang di sana.”

Aku tertawa kecil.

“Masih sangat kecil.”

Ia mengangguk.

“Tetap luar biasa.”

Ia memegang tanganku.

“Mala.”

“Hm?”

“Aku akan belajar.”

“Belajar apa?”

“Menjadi ayah yang baik.”

Hatiku terasa penuh.

“Kita akan belajar bersama.”

Ia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…

Ashar terlihat benar-benar yakin tentang masa depan.

Bukan hanya tentang kami berdua.

Tetapi tentang keluarga kecil yang baru saja mulai tumbuh.

Dan di malam yang tenang itu…

hidup kami resmi berubah selamanya.

Dengan cara yang paling indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!