Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Mobil tua itu melaju pelan meninggalkan sekolah.
Di dalam mobil, suasana tidak benar-benar tenang.
Dion fokus menyetir di depan, sementara Tasya duduk di kursi penumpang dengan pikiran yang masih kacau.
Di kursi belakang, Kenzo dan Kenzi sudah mulai berdebat lagi.
“Aku tidak suka kamu terlalu berharap pada pria itu,” kata Kenzo dengan nada kesal.
Kenzi langsung menatap kakaknya.
“Kenapa?”
Kenzo menyilangkan tangan di dada.
“Kita bahkan tidak benar-benar mengenalnya.”
Namun Kenzi tidak mau kalah.
“Aku memang masih kecil…” Ia menatap kakaknya dengan serius.
“Tapi mempercayai orang dewasa tidak selalu salah.”
Kenzo mengerutkan kening.
Kenzi melanjutkan,
“Selama dia tidak menyakitiku.”
Kalimat itu membuat Kenzo mendengus pelan.
“Kamu sendiri tahu seperti apa latar belakang Tuan Alex.” Ia menatap adiknya tajam.
“Dia bukan pria biasa.”
Kenzi memiringkan kepala.
“Maksudmu?”
Kenzo menjawab dengan kesal,
“Dia mafia.”
Kenzi berkedip.
“Mafia?”
Kenzo menatapnya serius.
“Kamu tahu apa itu mafia?”
Saat itu, Tasya langsung menoleh ke belakang.
“Kenzo.” Nada suaranya membuat kedua anak itu langsung diam.
“Dari mana kamu tahu Tuan Alex mafia?”
Kenzo tidak langsung menjawab.
Sementara Tasya sendiri sebenarnya sudah tahu. Dulu ketika ia tinggal di Berlin, ia pernah membaca profil tentang keluarga Vasillo.
Keluarga itu bukan sekadar konglomerat. Mereka memiliki pengaruh besar di dunia gelap. Tasya menghela napas pelan.
Ia kemudian melirik Kenzi yang masih terlihat penasaran.
“Kenzi…” Nada suaranya melembut.
“Kamu boleh saja dekat dengan Tuan Alex.”
Kenzi langsung menatap ibunya dengan mata berbinar.
“Tapi…” Tasya melanjutkan dengan hati-hati,
“Tanya Mommy dulu ya.”
Ia tersenyum tipis pada anaknya.
“Mommy hanya khawatir. Kita baru bertemu dengannya seminggu.”
Kenzi mengangguk pelan.
“Baik, Mommy.”
Namun, Kenzo langsung menyela dengan nada tegas.
“Nah, dengar itu.” Ia menunjuk ke arah depan.
“Itu kata Mommy.”
Kenzo melanjutkan dengan serius,
“Mungkin dia benar Daddy kita. Tapi selama Mommy belum bilang iya … kita tidak boleh percaya.”
Ia menatap adiknya.
“Karena Mommy yang tahu siapa Daddy kita sebenarnya.” Kalimat itu membuat Tasya terdiam.
Dadanya terasa sedikit berat. Karena kenyataannya bahkan ia sendiri dulu tidak tahu siapa ayah mereka.
Malam itu terlalu kacau.
Ia bahkan tidak melihat wajah pria itu dengan jelas. Namun, ketika Alex datang dan mengaku Tasya tahu satu hal. Pria seperti Alex tidak mungkin mengaku sembarangan. Kemungkinan besar dia sudah melakukan tes DNA.
Tasya memejamkan matanya sebentar. Perasaan bersalah perlahan muncul di hatinya. Karena selama tujuh tahun anak-anaknya bahkan tidak tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sejak tadi Dion hanya diam.
Tangannya tetap memegang setir, tetapi pikirannya jelas tidak berada di jalan.
Percakapan Tasya dan kedua anaknya barusan masih terngiang di kepalanya. Beberapa menit kemudian Dion akhirnya membuka suara.
“Tasya…” Nada suaranya terdengar hati-hati.
Tasya menoleh sedikit ke arahnya.
“Iya?”
Dion menarik napas pelan sebelum bertanya.
“Jadi … apa sebenarnya hubunganmu dengan Tuan Alex?”
Mobil tetap melaju.
Namun, pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil sedikit menegang.
Dion melirik Tasya sebentar.
“Apa kalian … dekat?”
Tasya langsung menggeleng.
“Tidak,”
Jawabannya cepat dan tegas.
“Kami cuma bertemu beberapa kali.” Ia menatap ke depan, mencoba terlihat santai.
“Dan setiap kali bertemu…”
Tasya tersenyum kecut.
“Yang terjadi malah perdebatan kecil.”
Kenzo yang duduk di belakang langsung menyahut.
“Itu bukan perdebatan kecil, Mommy.”
Bocah itu mendengus.
“Itu hampir seperti perang.”
Kenzi langsung menahan tawa, Dion ikut tersenyum tipis mendengar itu. Namun, di dalam hatinya ada sesuatu yang masih mengganjal.
Ia kembali bertanya dengan nada pelan.
“Tapi … dia bilang tadi itu masalah keluarga.”
Tasya terdiam sesaat, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ia jelas tidak ingin membahasnya sekarang.
“Tadi dia hanya bicara sembarangan,” jawab Tasya akhirnya.
“Tidak ada hubungan apa pun antara aku dan dia.”
Dion mengangguk pelan.
Sementara di kursi belakang, Kenzo menatap keluar jendela.
Di dalam hatinya, bocah itu masih memikirkan satu hal.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah kecil milik Tasya.
Rumah itu sederhana, dengan halaman kecil dan teras yang teduh. Dari kejauhan tampak pintu masih terbuka, tanda ada orang di dalam.
Dion mematikan mesin mobil, lalu melirik ke arah teras.
“Apakah kakekmu di rumah?” tanyanya.
Tasya mengikuti arah pandang Dion.
“Iya,” jawabnya singkat.
Ia lalu membuka sabuk pengamannya, sebelum berkata dengan sedikit canggung,
“Tapi … aku tidak bisa mengajakmu mampir.”
Dion mengangkat alis.
“Aku harus kembali bekerja,” lanjut Tasya. “Ini masih jam kerja.”
Beberapa detik Dion hanya menatapnya, lalu tiba-tiba ia tertawa kecil.
“Kamu tidak perlu bersikap seperti itu.”
Tasya menoleh bingung, Dion menunjuk dirinya sendiri dengan santai.
“Aku ini atasanmu,”
Belum sempat Tasya menjawab suara Kenzo terdengar dari kursi belakang.
“Tidak boleh bolos, Mommy.” Nada suaranya tegas seperti orang dewasa kecil.
“Waktunya kerja, ya harus kerja.”
Dion melirik ke spion tengah. Tatapan matanya bertemu dengan mata Kenzo. Namun, dari pantulan kaca itu Dion bisa merasakan ketidaksukaan yang jelas dari bocah itu.
Kenzo menatapnya dingin.
Entah kenapa, sejak tadi Kenzo merasa tidak nyaman dengan pria ini. Bukan karena siapa Dion, tetapi karena cara Dion menatap Tasya.
Padahal ia juga tidak menyukai Alex namun setidaknya Kenzo tidak pernah merasa terganggu dengan cara Alex menatap ibunya.
Di sampingnya, Kenzi tiba-tiba bersuara ceria.
“Mommy harus semangat bekerja!”
Ia mengangkat kedua tinjunya kecil seperti memberi semangat.
“Biarkan aku dan Kak Kenzo saja yang mencari Daddy untuk Mommy!” Ucapan polos itu membuat Tasya langsung menoleh.
Ia tertawa kecil, tetapi terdengar agak hambar.
“Kalian ini…”
Tasya menggeleng pelan.
“Sudah, turun sana.”
Kenzo langsung membuka pintu mobil lebih dulu. Kenzi juga turun dengan semangat. Begitu kedua bocah itu berlari kecil menuju teras rumah Dion masih duduk di kursinya.
Ia menatap Tasya sebentar. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Namun, akhirnya Dion hanya berkata pelan,
“Tasya…”
Tasya menoleh.
“Kamu terlihat … menjalani hidup yang berat.”
Tasya terdiam sesaat, lalu ia tersenyum tipis.
“Tidak juga.”
"Baiklah, mungkin aku terlalu banyak berpikir." Kata Dion kembali, dan kembali menyalakan mesin mobil untuk kembali ke perusahaan.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal