Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Stok Bahan Makanan
Bayu menyandarkan piring terakhir yang baru saja dibilasnya ke rak pengering aluminium yang sudah goyang dan berkarat di beberapa sudut. Sisa air yang menetes dari tangannya terasa dingin menusuk kulit, namun hatinya justru menghangat melihat deretan piring yang kini nampak lebih bersih di bawah cahaya bohlam yang temaram.
Kesunyian dapur panti seolah memberikan ruang bagi Bayu untuk merenungi betapa berartinya tindakan-tindakan kecil yang selama ini ia anggap remeh saat masih bergelimang harta di Jakarta. Ia menyeka tangannya yang basah ke ujung kain serbet kusam, merasakan tekstur kain yang kasar namun jujur, jauh dari kemewahan handuk sutra yang biasa ia gunakan dulu.
Nayla yang sejak tadi duduk memerhatikannya dari meja makan, kini mulai bangkit dari kursi kayu tersebut dengan gerakan yang masih nampak sangat letih dan lesu. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan demi menjaga kewibawaan sebagai pengasuh di depan penghuni panti lainnya yang mungkin sedang mengintip.
"Makasih ya, Bay, piringnya udah bersih semua. Aku mau ke ruang tengah sebentar, masih harus cek suhu badan anak-anak panti yang lain sebelum Isya berakhir," ucap Nayla pelan dengan suara yang masih agak parau.
Bayu mengangguk kecil sembari menatap kepergian Nayla yang langkah kakinya masih terasa berat menyusuri lorong dapur yang lembap dan beraroma kayu tua. Begitu sosok wanita itu menghilang di balik pintu kayu yang kusam, Bayu tidak segera meninggalkan dapur, melainkan ia memutar badannya untuk menatap seisi ruangan yang nampak sangat kekurangan itu.
Pandangannya tertuju pada sebuah lemari penyimpanan bahan makanan yang terbuat dari kayu jati tua di sudut dapur yang gelap dan penuh debu. Bayu melangkah mendekat dengan rasa ingin tahu yang besar, ditariknya pintu lemari yang mengeluarkan suara derit panjang karena engselnya yang sudah berkarat dan nampaknya jarang diberi minyak.
Di dalam sana, pemandangan yang tersaji membuat dada Bayu kembali terasa sesak hingga ia harus menarik napas panjang berkali-kali untuk meredakan rasa perih di hatinya. Ia hanya melihat dua karung beras ukuran lima kilogram yang sudah terbuka, dan isinya nampak sudah berkurang hampir setengahnya hanya untuk makan siang tadi.
"Cuma segini? Buat puluhan anak panti?" bisik Bayu dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan, matanya nanar menatap karung-karung yang nampak mengempis itu.
Di samping karung beras yang kuyu itu, hanya terdapat beberapa bungkus mie instan rasa kaldu ayam yang sudah agak remuk dan satu botol minyak goreng ukuran satu liter yang sisa isinya tinggal sepertiga.
Tidak ada stok makanan mewah atau daging kemasan. Bahkan untuk ukuran standar desa sekalipun, lemari ini nampak sangat memprihatinkan bagi sebuah institusi yang mengasuh banyak nyawa.
Bayu merasa tangannya gemetar saat menyadari betapa kritisnya kondisi logistik panti asuhan ini di tengah bulan Ramadan yang seharusnya penuh keberkahan dan kelimpahan.
Ia melangkah ke arah kulkas tua di sudut lain dapur yang bergetar kencang. Mengeluarkan bunyi bising yang nampak seperti usaha terakhir mesin tua itu untuk tetap bertahan hidup.
Di atas kulkas yang permukaan atasnya sudah berkarat dan penuh coretan kapur itu. Ia menemukan secarik kertas kecil yang nampaknya bekas bungkus belanjaan dan sebuah pulpen yang tintanya mulai macet.
Bayu mengambil keduanya dengan gerakan sigap, ia merasa perlu mencatat segala sesuatu yang ia lihat agar ia bisa memiliki gambaran nyata tentang urgensi kebutuhan di sini.
"Gue harus catat ini semua. Gue nggak bisa cuma diam liat mereka kelaparan pas sahur nanti," gumam Bayu sembari mulai menggoreskan pulpen tersebut di atas kertas.
Ia mulai mencatat jumlah bahan makanan yang tersisa untuk kebutuhan sahur anak-anak panti dengan teliti. Seolah-olah ia sedang melakukan audit besar bagi perusahaan multinasional yang dulu ia pimpin.
Bayu menghitung sisa mie instan yang hanya ada lima bungkus. Sebuah angka yang sangat tidak logis jika dibagikan untuk lebih dari dua puluh anak yang sedang kelaparan.
Saat ia sedang asyik mencatat dengan kening yang berkerut dalam, suara langkah kaki Nayla kembali terdengar mendekat ke arah dapur panti yang remang-remang itu. Nayla mendekat ke arah lemari dan melihat Bayu yang sedang serius memegang catatan di tangannya, membuat wajah wanita itu kembali memerah karena rasa sungkan yang belum juga hilang.
"Lagi apa, Bay? Kok, pakai acara catat-catat segala?" tanya Nayla sembari mencoba melongok ke arah kertas kecil yang dipegang erat oleh Bayu.
Bayu tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia justru menunjuk ke arah rak bagian bawah lemari yang nampak kosong melompong tanpa ada stok cadangan bahan pokok sama sekali.
"Aku cuma pengen tahu stok kalian, Nay. Ini beras tinggal dikit banget, apa beneran cukup buat sahur puluhan anak nanti?"
Nayla terdiam seribu bahasa, ia kemudian membuka sebuah wadah plastik kecil yang terselip di antara botol kecap yang sudah hampir habis isinya di sudut rak. Ia menunjukkan sisa telur yang tinggal tiga butir di dalam wadah plastik tersebut, sebuah pemandangan yang membuat Bayu langsung terdiam dan merasa seolah-olah dunia sedang berhenti berputar.
"Tinggal tiga butir ini, Bay. Tadinya mau aku buat dadar nanti pas sahur, dicampur air sedikit dan banyakin terigu biar jadi banyak porsinya," ucap Nayla dengan nada bicara yang sangat datar.
Bayu segera menulis angka tiga di kertas catatannya dengan tekanan pulpen yang cukup kuat hingga kertasnya hampir robek karena emosi dan kemarahan yang tertahan di dalam dada. Ia menyadari sepenuhnya bahwa stok makanan ini tidak akan mungkin cukup untuk kebutuhan tiga hari ke depan, apalagi jika menghitung nafsu makan anak-anak yang sedang tumbuh.
"Tiga butir telur buat dua puluh anak? Nay, itu nggak masuk akal! Nutrisi mereka gimana?" suara Bayu sedikit meninggi karena rasa iba yang bercampur dengan frustrasi mendalam.
Nayla hanya bisa menundukkan kepala, kedua tangannya kembali meremas ujung jilbabnya yang nampak sudah sangat kusam dan warnanya pun mulai memudar karena sering dicuci.
"Aku tahu, Bay. Tapi uang kas panti benar-benar nol karena semua sudah masuk ke biaya Haikal dan kebutuhan listrik bulan ini yang telat dibayar,” jawabnya.
"Fahmi tahu soal stok makanan yang kritis begini? Dia kan sering ke sini," tanya Bayu sembari menatap tajam ke arah mata Nayla yang mulai kembali berkaca-kaca.
Nayla menggeleng pelan dengan raut wajah yang nampak sangat bersalah namun tetap bersikeras untuk menyembunyikan penderitaan panti dari orang luar, termasuk dari sahabat karib mereka sendiri. "Fahmi cuma tahu kalau panti baik-baik saja. Aku nggak mau dia makin pusing kalau tahu urusan dapur juga macet total begini."
Bayu meremas kertas catatannya dengan kepalan tangan yang kuat, ia merasakan beban di pundaknya kini bertambah dua kali lipat setelah mengetahui rahasia di balik lemari makan. Ia teringat kembali pada uang sepuluh ribu pemberian ibunya di saku celana, sebuah uang yang tadinya terasa sangat berarti kini nampak sangat tidak berdaya.
"Nay, kalian ini terlalu sering mendam masalah sendiri. Fahmi punya hak buat tahu kalau anak-anak cuma makan nasi pakai telur air," desis Bayu pelan namun tajam.
"Masalahnya bukan soal hak, Bay, tapi soal kemampuan. Fahmi sudah ngorbanin banyak hal bulan ini buat kita," bela Nayla dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi.
Bayu kembali menatap kertas di tangannya, daftar yang ia buat nampak seperti daftar kemiskinan yang sangat nyata dan nyata sekali di depan matanya yang dulu buta harta. Ia melihat angka-angka kecil itu, dua kilo beras, lima bungkus mie, tiga butir telur, sebagai sebuah ancaman yang lebih menakutkan daripada surat penyitaan yang ia baca tadi.
"Ini bener-bener titik nadir," batin Bayu sembari melipat kertas catatannya dengan rapi.
Ia memandang Nayla yang masih berdiri lesu di depan lemari kayu itu, wanita yang sedang bertarung melawan kemiskinan dengan sisa-sisa harga dirinya yang masih tersisa banyak.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰