NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Siang itu, koridor sayap utara yang menuju ke paviliun pribadi Buyut tampak lebih sunyi dari biasanya. Sinar matahari menerobos melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan pola cahaya yang cantik di atas lantai marmer yang selalu mengilap. Freya melangkah dengan terburu-buru. Ia baru saja mendapatkan ide untuk proyek restorasi lukisan kuno milik istana dan tidak sabar ingin menunjukkannya kepada Buyut.

Di balik pilar besar yang berjarak beberapa meter di depan, Putri Sherena mengintip dengan senyum licik. Tangannya memberikan jempol ke arah bayangan di lorong seberang—tempat Kholid berdiri memantau. Mereka baru saja menuangkan cairan minyak bening yang hampir tak kasat mata di atas lantai marmer yang baru saja dipoles.

"Kita lihat, bidadari palsu itu masih bisa bergaya atau tidak," bisik Sherena penuh kebencian.

Freya, yang pikirannya penuh dengan sketsa warna, tidak memperhatikan permukaan lantai. Ia justru mempercepat langkahnya saat melihat pintu paviliun Buyut sudah terlihat di ujung lorong.

Sretttt!

"EH—!"

Kaki Freya yang mengenakan sepatu hak rendah pemberian Kaisar seketika kehilangan traksi. Tubuhnya terlempar ke depan dengan kecepatan yang mengerikan.

BRUK!

Suara hantaman tubuh Freya dengan lantai marmer yang keras menggema di lorong yang sepi itu. Tubuhnya tersungkur, tas kanvasnya terlempar, dan beberapa kuas lukisnya berserakan di lantai yang licin.

"Aduhhh..." rintih Freya. Ia mencoba untuk bangkit, namun rasa nyeri yang tajam menusuk dari arah pergelangan kaki kanannya. "Ssshhh... sakit banget."

Ia menoleh ke sekeliling, berharap melihat asisten pribadinya yang seharusnya menjaganya. "Kholid! Aspri! Bantuin gu—"

Freya terdiam. Lorong itu kosong. Kholid yang biasanya selalu mengekor di belakangnya entah menghilang ke mana. Ia mencoba berteriak lagi, namun rasa sakit di kakinya membuat suaranya tercekat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya—bukan hanya karena sakit fisik, tapi karena ia merasa dijebak di rumahnya sendiri.

"Kholid? Ethan? Siapa pun... tolong..." gumamnya lirih sambil memegangi pergelangan kakinya yang mulai membiru.

Tepat di saat Freya merasa benar-benar sendirian, suara langkah kaki yang mantap dan teratur terdengar dari arah berlawanan. Itu bukan langkah pelayan, bukan pula langkah santai Ethan. Itu adalah langkah kaki yang sangat ia kenali.

Kaisar muncul di ujung lorong. Ia baru saja keluar dari ruang rapat dewan dengan wajah yang tampak lelah, namun ekspresinya berubah drastis saat melihat sosok gadis dengan dress mustard itu terduduk di tengah lantai.

"Freya!"

Kaisar berlari—sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh seorang calon raja—menghampiri tunangannya. Ia berlutut di samping Freya, wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam.

"Apa yang terjadi? Kenapa kamu ada di lantai?" tanya Kaisar, suaranya bergetar karena panik.

Freya menatap Kaisar, dan saat itulah air matanya jatuh. Ia meraih lengan baju kemeja Kaisar, meremasnya erat. "Kai... sakit banget. Kaki aku keseleo kayaknya. Tadi lantainya... lantainya licin banget."

Kaisar melirik ke arah lantai dan menyadari ada lapisan minyak di sana. Matanya berkilat marah. Ia tahu ini bukan kecelakaan. Ia tahu ada tangan-tangan kotor di balik ini. Namun, saat ini, prioritasnya hanya satu: Freya.

"Jangan bergerak," perintah Kaisar lembut. Ia memeriksa pergelangan kaki Freya dengan sangat hati-hati. Begitu jarinya menyentuh bagian yang bengkak, Freya merintih kesakitan.

"Sakit, Kai! Jangan ditekan!"

"Maaf, aku hanya ingin memastikan tidak ada yang patah," ucap Kaisar. Tanpa peringatan lebih lanjut, ia menyusupkan lengannya di bawah tubuh Freya dan mengangkatnya dengan mudah.

"Kai! Kamu mau bawa aku ke mana?"

"Ke ruang medis. Dan setelah itu, aku akan mencari siapa yang berani melumuri minyak di koridor ini," jawab Kaisar dengan nada dingin yang mematikan.

Di balik pilar, Sherena dan Kholid gemetar ketakutan melihat reaksi Kaisar. Mereka tidak menyangka Kaisar akan keluar dari rapat lebih cepat dan menemukan Freya dalam kondisi seperti itu.

Sepanjang perjalanan menuju ruang medis, Freya menyandarkan kepalanya di bahu Kaisar. Ia merasa sangat kecil di dalam pelukan pria itu, namun di saat yang sama, ia merasa sangat terlindungi. Bau parfum maskulin Kaisar menenangkan detak jantungnya yang tadi sempat karuan.

"Makasih ya, Kai. Kamu selalu dateng pas aku lagi susah," bisik Freya pelan.

Kaisar menghentikan langkahnya sejenak, menunduk menatap Freya. "Ini tugasku, Freya. Aku sudah bilang, kamu adalah tanggung jawabku. Jangan pernah merasa harus menghadapinya sendiri."

Setelah Freya ditangani oleh tim medis istana dan kakinya dibalut dengan perban, Kaisar tidak membiarkannya pergi. Ia tetap duduk di samping tempat tidur medis, memegangi tangan Freya.

"Siapa yang bersamamu tadi?" tanya Kaisar.

"Nggak ada. Kholid menghilang entah ke mana sebelum aku sampe di lorong itu," jawab Freya lemas.

Kaisar berdiri, auranya seketika berubah menjadi sangat gelap. Ia memanggil kepala keamanan istana. "Cari Pangeran Kholid dan Putri Sherena sekarang juga. Bawa mereka ke ruanganku. Dan pastikan rekaman CCTV di koridor sayap utara sudah ada di mejaku dalam sepuluh menit."

"Kai, kamu mau apa?" tanya Freya cemas.

Kaisar menoleh, memberikan senyum tipis yang mengandung janji pembalasan. "Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran tentang 'adab' yang selalu mereka banggakan, tapi tidak pernah mereka praktikkan. Kamu istirahatlah di sini, Sayang."

Freya terpaku mendengar panggilan "Sayang" yang keluar dari mulut kaku Kaisar. Meskipun kakinya masih berdenyut sakit, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Di hari ke-21 ini, ia menyadari satu hal: ia tidak hanya mendapatkan seorang tunangan resmi, tapi ia mendapatkan seorang pelindung yang siap membakar dunia demi memastikan dia tidak terjatuh lagi.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!