Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Betania
Joel baru bicara lagi saat mereka sudah sampai di garasi dan Kayson duduk di balik kemudi Benz miliknya.
Joel berdeham, jelas dibuat buat. “Jadi … lo tadi nyium dia.”
Kayson memasukkan mobil ke gigi mundur. “Iya.”
“Itu berarti kalian berdua sekarang jadian? Kasus ini jadi personal buat lo?”
Kayson mengangguk singkat. Bukan cuma jadi personal. Sejak awal memang sudah begitu.
Joel terdiam sejenak. Lalu, “Dia tahu enggak apa aja yang bakal lo lakuin buat dia?”
Tidak. Dan semoga dia tidak perlu pernah tahu.
────୨ৎ────
Mata cokelat Vanylla membesar. Wallen menatap Stella dengan dahi berkerut.
Stella menarik bahunya ke belakang. “Videonya di mana?”
“Lewat sini.” Vanylla menunjuk ke koridor, ke arah kiri.
Wallen masih menatap tajam. “Lo sama bos … Jalan bareng?” Suaranya berat dan dalam. Wajahnya sangat mirip Vin Diesel. Di sebelahnya, Vanylla tampak kecil dan lincah, dan penuh energi.
Vanylla memang tidak menanyakan langsung apakah Stella terlibat dengan bos mereka. Tapi dari ekspresinya, jelas dia sudah tahu jawabannya.
Sial.
Ciuman itu terlalu barbar. Dan Kayson tidak terlihat peduli siapa pun yang melihat. Untungnya Riggs tidak ada di sana. Riggs tidak melihat.
Memangnya penting kalau dia lihat?
Pertanyaan itu melintas di benaknya, dan Stella bertanya pada dirinya sendiri … sebenarnya apa yang sedang dia rahasiakan?
Vanylla menyikut rekan kerjanya, mencoba mengendalikan keterkejutannya. “Lo enggak bisa nanya begitu. Udah berapa kali gue bilang lo harus lebih sopan?”
Wallen mengangkat bahu besarnya. Ekspresinya menunjukkan dia tidak peduli soal kesopanan.
Vanylla menghela napas panjang. “Ayo, Stella. Gue tunjukin rekamannya.”
Stella mengikutinya ke salah satu ruangan. Sebenarnya dia tidak ingin mengikuti Vanylla. Dia ingin mengejar Kayson. Ingin ikut bersamanya menghadapi Igor.
Tapi ya, dia mengerti kenapa Kayson menyuruhnya stay. Hanya saja, dia bukan tipe orang yang tinggal diam.
Saat mereka hampir sampai di ruangan kecil itu, Riggs muncul. Ia berjalan cepat ke arah Stella.
“Kayson kirim pesan ke gue. Katanya lo di sini dan dia mau konfrontasi Igor.” Rahangnya mengeras. “Harusnya dia nungguin gue.”
“Gabung kita aja,” gumam Stella.
Begitu masuk ke ruangan, Vanylla menyalakan feed keamanan. Monitor di sisi kiri langsung menampilkan galeri Stella.
“Ini rekaman sembilan hari lalu. Hari terakhir sistem keamanannya masih berfungsi. Coba Lo perhatiin para pelanggannya dan kasih tahu gue kalau ada yang kelihatan mencurigakan di mata lo,” kata Vanylla.
Stella menarik kursi dan memusatkan perhatian ke monitor. Ia melihat asistennya, Betania, dengan kepang panjang dan rambut merahnya.
“Betania sudah dibawa buat diwawancarai?” tanya Riggs sebelum Stella sempat bicara. “Maksud gue, dia kan kerja di galeri. Kalau ada yang ngacak ngacak sistem keamanan, bisa aja orang dalam.”
Stella langsung menggeleng.
“Kita bakal bicara sama dia,” potong Vanylla. Wallen tetap diam di sampingnya. “Kita selalu mulai dari orang orang terdekat target. Sekarang dia lagi di luar kota, katanya di Bandung.”
“Dia lagi liburan,” tambah Stella cepat. “Dia bilang kalau mau nengokin Mamanya di Nimo Highland.”
Vanylla dan Wallen saling bertukar pandang.
Perut Stella langsung terasa tidak enak. “Kenapa?”
Vanylla terlihat ragu. “Berdasarkan data yang udah kita kumpulin, Mamanya Betania meninggal tahun lalu. Jadi, di mana pun dia sekarang, dia jelas enggak lagi sama mamanya.”