NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TARIAN MAUT DI PHUKET

Langit di atas Phuket, Thailand, tampak seperti kanvas yang disiram warna ungu dan emas saat matahari mulai tenggelam di ufuk Andaman. Namun, bagi Vivien Aksara, keindahan tropis ini hanyalah latar belakang dari sebuah panggung sandiwara yang mematikan. Angin laut yang hangat berhembus melalui balkon resor pribadi "The Obsidian Sanctuary"—sebuah properti megah yang tersembunyi di balik tebing-tebing kapur terpencil, jauh dari jangkauan turis biasa.

Vivien berdiri di depan cermin besar di dalam kamar hotelnya yang mewah. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, terbuat dari sutra Italia yang berkilau di bawah lampu kristal. Di lehernya melingkar kalung berlian yang menyembunyikan mikrofon super-tipis, dan di jari manisnya, cincin perak dari Maximilian terasa dingin namun memberikan kekuatan emosional yang tak terukur.

"Kau terlihat cantik, Nyonya. Dan sangat berbahaya," suara Bara terdengar melalui earpiece kecil yang tertanam di balik telinga Vivien.

Bara berada di sebuah kapal nelayan yang dimodifikasi, sekitar dua mil dari pantai, bersama Maximilian yang sedang memantau setiap transmisi data.

"Aku merasa seperti seekor domba yang sedang berjalan masuk ke kandang serigala, Bara," bisik Vivien, tangannya sedikit gemetar saat ia memulas lipstik yang sebenarnya adalah perangkat peretas enkripsi.

"Ingat latihan kita, Vivien," suara Maximilian memotong pembicaraan, rendah dan penuh dukungan. "Tatap matanya. Gunakan sejarahmu bersamanya sebagai perisai. Julian Vane adalah pria yang sombong; dia tidak akan percaya bahwa kau memiliki keberanian untuk mengkhianatinya. Kau adalah kuncinya, tapi kau juga adalah jebakannya."

Vivien menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak untuk memvisualisasikan wajah ayahnya. Untuk Ayah, batinnya. Ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar menuju aula utama di mana jamuan malam eksklusif yang diadakan Julian Vane sedang berlangsung.

Aula utama resor itu adalah definisi dari kemewahan yang dibeli dengan darah. Pilar-pilar marmer hitam menjulang tinggi, sementara para tamu—yang terdiri dari broker senjata, politisi korup, dan taipan bayangan—berbincang dengan gelas sampanye di tangan. Di ujung ruangan, duduk seorang pria dengan rambut putih perak yang disisir rapi ke belakang. Julian Vane. Ia terlihat seperti kakek yang ramah, namun Vivien tahu bahwa di balik senyum itu terdapat otak yang merancang pembunuhan kedua ayah mereka.

Begitu Vivien memasuki ruangan, suasana seolah membeku sesaat. Kehadirannya menarik semua perhatian. Ia melangkah dengan dagu terangkat, membelah kerumunan menuju Julian.

"Paman Julian," ucap Vivien, suaranya terdengar lembut namun stabil.

Julian Vane berdiri, membentangkan tangannya seolah menyambut keponakan yang sudah lama hilang. "Vivien... Putri kecilku. Aku hampir tidak percaya kau benar-benar datang. Kabar yang kudengar dari Jakarta mengatakan kau sedang dalam pelarian dari suamimu yang kejam."

Vivien membiarkan Julian memeluknya secara formal, sebuah tindakan yang membuatnya ingin berteriak karena jijik. "Maximilian telah kehilangan akal sehatnya, Paman. Dia terobsesi dengan dokumen lama yang dia temukan di Melbourne. Dia menuduh Ayah melakukan hal-hal mengerikan. Aku harus pergi sebelum dia menghancurkanku juga."

Julian melepaskan pelukannya, menatap Vivien dengan mata biru yang tajam dan menyelidik. "Dunia ini kejam, Vivien. Ayahmu selalu ingin melindungimu dari kenyataan ini. Tapi di sini, bersamaku, kau aman. Mari, duduklah di sampingku. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."

Saat perjamuan berlangsung, Vivien harus memainkan peran sebagai wanita yang hancur dan mencari perlindungan. Di bawah meja, ia perlahan membuka tas kecilnya. Di dalam sana, perangkat pengacau sinyal jarak pendek mulai bekerja, menciptakan celah kecil dalam protokol keamanan Wi-Fi di ruangan itu.

"Max, aku sudah masuk ke jaringan internal," bisik Vivien dengan gerakan bibir yang nyaris tak terlihat sambil berpura-pura mengelap bibirnya dengan serbet.

"Diterima. Aku melihat aliran datanya," jawab Maximilian dari pusat kendali di kapal. "Tapi enkripsi utamanya ada di ruang kerja pribadinya di lantai dua. Kau harus membawa Julian ke sana, atau mencari alasan untuk menyusup ke atas."

Tantangannya dimulai. Julian bukanlah orang yang mudah dialihkan. Ia terus mengajak Vivien berbicara tentang masa lalu, tentang bagaimana "sedihnya" dia saat mendengar kematian Aksara.

"Paman," Vivien memotong pembicaraan dengan raut wajah yang tampak gelisah. "Maximilian bilang dia menemukan rekaman video di deposit box Singapura. Dia bilang kau terlibat. Tentu saja itu bohong, kan? Aku ingin melihat dokumen asli yang Ayah titipkan padamu dulu... hanya untuk menenangkan hatiku bahwa Maximilian-lah yang berbohong."

Mata Julian sedikit menyipit. Umpan telah dilempar. "Maximilian menemukan deposit box itu? Luar biasa. Anak itu memang memiliki kegigihan ayahnya. Tapi kau benar, Vivien. Kebenaran ada di tanganku. Mari, aku akan menunjukkan sesuatu yang akan menghapus keraguanmu selamanya."

Julian berdiri dan memberi isyarat kepada dua pengawalnya untuk tetap di bawah. Ia menuntun Vivien menuju tangga besar menuju lantai dua.

Ruang kerja Julian Vane adalah pusat saraf dari Obsidian Circle. Ruangan itu dipenuhi dengan rak buku yang berisi rahasia gelap dunia, dan di tengahnya terdapat sebuah meja kerja kayu ek raksasa dengan komputer super yang terhubung ke jaringan finansial global.

"Di sinilah keajaiban terjadi, Vivien," ucap Julian sambil berjalan menuju brankas di dinding. "Ayahmu memberikan kode akses ini padaku sebelum dia meninggal. Dia tahu hanya aku yang bisa menjaga aset kalian dari ambisi Alfarezel."

Saat Julian sibuk membuka brankas manual, Vivien mendekati meja kerja. Dengan gerakan cepat yang telah ia latih ribuan kali di Kepulauan Riau, ia mengeluarkan lipstik peretasnya dan menancapkannya ke port USB yang tersembunyi di bawah meja.

“Connection established. Downloading algorithms... 5%... 12%...” Suara Maximilian terdengar di telinganya.

"Vivien? Apa yang kau lakukan di sana?" suara Julian tiba-tiba terdengar, lebih dingin dari sebelumnya.

Vivien berbalik dengan cepat, jantungnya berdegup kencang hingga terasa seperti akan meledak. Ia melihat Julian berdiri dengan memegang sebuah folder, namun matanya tertuju pada tangan Vivien yang masih berada di bawah meja.

"Aku... aku hanya merasa pusing, Paman. Ruangan ini sangat pengap," Vivien mencoba tersenyum, namun senyumnya terasa kaku.

Julian berjalan mendekat, langkah kakinya di atas lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian. "Kau selalu menjadi aktris yang buruk, Vivien. Sama seperti ayahmu. Dia juga mencoba berpura-pura setia padaku sambil mengirimkan data ke Alaric di belakang punggungku."

Julian mencengkeram rahang Vivien dengan kasar. "Kau pikir aku tidak tahu Maximilian ada di perairan ini? Kau pikir aku tidak tahu tentang perangkat peretas yang kau tancapkan itu?"

Vivien terbelalak. "Paman, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan—"

PLAK!

Julian menampar Vivien hingga ia tersungkur ke lantai. "Cukup! Kau dan suamimu yang cacat itu benar-benar meremehkanku. Aku adalah Arsiteknya! Aku yang membuat kalian, dan aku bisa menghancurkan kalian dalam sekejap!"

Julian menekan sebuah tombol di mejanya. "Keamanan! Bawa pria di kapal nelayan itu ke sini. Dan pastikan dia melihat istrinya mati perlahan."

"Max! Lari! Ini jebakan!" teriak Vivien ke arah mikrofonnya, namun ia menyadari bahwa sinyalnya telah diputus oleh jammer yang diaktifkan Julian.

Dua pengawal bertubuh besar masuk dan menyeret Vivien menuju balkon yang menghadap langsung ke tebing curam dan laut yang mengamuk di bawahnya. Hujan badai tiba-tiba turun, seolah alam sedang ikut berduka.

"Kau tahu, Vivien," Julian berjalan perlahan menuju balkon, memegang sebuah tablet yang menampilkan proses penghancuran pasar saham yang mulai berjalan. "Benang merah yang kau banggakan itu akan menjadi tali gantunganmu. Begitu aku menekan tombol 'Execute', seluruh ekonomi yang dibangun ayahmu akan menguap. Dan kau akan menjadi orang pertama yang merasakannya."

Namun, di tengah keputusasaan itu, sebuah suara ledakan besar terdengar dari arah dermaga resor. Api membubung tinggi ke langit malam.

"Apa itu?!" teriak Julian.

"Itu adalah akhir dari permainanmu, Julian!" suara bariton yang sangat dikenal Vivien terdengar dari kegelapan taman di bawah balkon.

Maximilian muncul dari balik pepohonan, pakaian taktisnya basah kuyup, memegang senapan serbu dengan tangan yang stabil meskipun luka perutnya pasti sedang menyiksa. Di sampingnya, Gideon dan tim taktis Alfarezel mulai menyerbu masuk, melumpuhkan para pengawal Julian dalam baku tembak yang sengit.

"Maximilian! Kau seharusnya sudah mati di Selat Melaka!" Julian berteriak, ia menarik sebuah pistol kecil dari sakunya dan menodongkannya ke kepala Vivien. "Mundur, atau istrimu akan menyusul ayahnya!"

Maximilian berhenti di jarak sepuluh meter. Matanya bertemu dengan mata Vivien. Dalam tatapan itu, tidak ada lagi dendam, hanya ada cinta dan kepercayaan yang mutlak.

"Kau salah satu hal, Julian," ucap Maximilian dengan suara yang sangat tenang, meski badai sedang mengamuk di sekeliling mereka. "Vivien bukan lagi domba yang kau kenal. Dia adalah seorang Aksara."

Vivien, melihat kesempatan dalam sepersekian detik saat Julian teralih oleh ucapan Maximilian, menggunakan teknik bela diri yang diajarkan Bara. Ia menghantam ulu hati Julian dengan sikunya dan memelintir tangan Julian yang memegang pistol.

BANG!

Tembakan meleset ke udara. Maximilian tidak membuang waktu. Ia melepaskan satu tembakan presisi yang mengenai bahu Julian, membuat pria tua itu terjatuh ke belakang, tepat di pinggir pagar balkon yang rendah.

Vivien terengah-engah, berdiri di tengah hujan yang deras. Maximilian berlari ke arahnya, menariknya ke dalam pelukan yang protektif.

Julian Vane tertawa terbahak-bahak meskipun darah mengalir dari bahunya. "Kau menang secara fisik, Alfarezel! Tapi lihat layar itu! Algoritmanya sudah berjalan! Kau tidak bisa menghentikannya dari sini!"

Vivien melepaskan diri dari pelukan Maximilian, ia berlari kembali ke meja kerja Julian. "Kau salah, Paman! Aku tidak hanya meretas datamu. Aku menyuntikkan virus 'The Heart of Crimson' yang dibuat Ayah sepuluh tahun lalu sebagai penawar!"

Vivien menekan tombol 'Enter' pada keyboard. Di layar besar, angka-angka merah yang tadinya menunjukkan kehancuran tiba-tiba berubah menjadi biru, dan sistem mulai melakukan pemulihan otomatis ke seluruh bank yang terhubung.

Julian terdiam, wajahnya berubah menjadi pucat pasi. "Tidak... itu tidak mungkin... Aksara tidak sepintar itu..."

"Ayahku lebih pintar dari yang kau kira karena dia bertarung untuk cinta, bukan untuk keserakahan," ucap Vivien dengan air mata yang bercampur dengan air hujan.

Julian mencoba berdiri, namun lantai balkon yang licin dan luka di bahunya membuatnya kehilangan keseimbangan. Dengan satu teriakan terakhir yang hilang ditelan suara ombak, Sang Arsitek jatuh dari tebing Phuket, lenyap ditelan oleh kegelapan laut Andaman yang sama gelapnya dengan jiwanya.

Pagi berikutnya, resor itu telah dikuasai oleh otoritas internasional yang bekerja sama dengan tim Maximilian. Bukti-bukti yang diunggah Vivien telah cukup untuk memenjarakan setiap anggota Obsidian Circle yang tersisa di seluruh dunia.

Maximilian dan Vivien berdiri di pinggir pantai, menatap matahari terbit yang tenang. Maximilian duduk di atas pasir, ia terlihat sangat lelah namun damai. Vivien duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu pria yang kini menjadi seluruh dunianya.

"Sudah selesai, Max?" tanya Vivien pelan.

"Sudah selesai, Vivien. Benang merahnya tidak lagi berlumuran darah. Ia sekarang menjadi jembatan menuju masa depan kita," jawab Maximilian. Ia mencium puncak kepala Vivien.

Mereka tahu, perjalanan membangun kembali apa yang hancur akan memakan waktu lama. Namun, di bawah sinar matahari Phuket yang hangat, mereka menyadari bahwa mereka tidak lagi berlari dari bayang-bayang. Mereka adalah cahaya itu sendiri.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!