NovelToon NovelToon
KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

KUBALAS PERBUATAN SUAMI & KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertengkar

"Apa-apaan ini? Jadi Laras belum bayar cicilan bank itu?" Maya memekik tertahan sambil menatap layar ponselnya dengan geram. "Pantas saja pihak bank sudah kirim pesan peringatan lagi. Besok hari terakhir! Kalau begini terus, rumah Ibu bisa disita."

Besok adalah batas akhir pembayaran tunggakan cicilan bank yang sudah mengendap selama tiga bulan. Hingga detik ini, Laras belum juga melunasi utang tersebut. Maya yang mengetahui hal itu mulai tersulut emosi. Ia merasa adik iparnya itu sengaja ingin mempersulit keluarga suaminya. Tanpa membuang waktu, Maya segera bersiap menuju rumah Laras untuk memberi perempuan itu "pelajaran".

"Mau ke mana? Baru juga sampai rumah, ini sudah sore." tanya Rangga saat melihat istrinya kembali bersiap pergi.

Baru sepuluh menit yang lalu Maya pulang dari acara arisan. Rangga sebenarnya sudah mulai jengah dengan hobi istrinya yang bisa arisan seminggu sekali. Sekali jalan, uang arisan dan belanja Maya bisa ludes lebih dari lima juta rupiah. Mereka selalu berkumpul di kafe atau restoran mewah, lalu berlanjut dengan shopping di mal. Rangga sudah berulang kali mengingatkan agar Maya tidak boros, namun ucapan itu seolah masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

"Mau ke rumah Ibu, Mas. Ini Ibu kirim pesan dari tadi baru sempat aku baca. Katanya sakit gigi, minta tolong dibelikan obat." ucap Maya berbohong demi menghindari ceramah suaminya.

"Oh, ya sudah. Kalau ke rumah Ibu, sekalian bawakan beras sama telur." ujar Rangga yang jauh lebih punya nurani ketimbang istrinya.

"Halah, buat apa? Di rumah Ibu masih banyak bahan makanan. Kalau kelamaan numpuk nanti malah rusak berasnya. Sudahlah, aku berangkat dulu biar tidak kemalaman." cetus Maya ketus.

Jarak rumah anak-anak Bu Ajeng memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 sampai 15 menit jika menggunakan kendaraan motor. Namun, bagi Maya, membawa sembako untuk ibunya sendiri selalu dianggap sebagai beban.

"Selalu saja ada alasan kalau disuruh bawa sembako." gumam Rangga sambil menggelengkan kepala melihat motor Maya yang melesat pergi.

**

Maya memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Sepuluh menit kemudian, ia sampai di depan rumah Laras. Kebetulan sekali, Laras juga baru saja sampai di depan gerbang setelah pulang bekerja.

Rumah minimalis yang asri itu sebenarnya adalah milik Laras sendiri, hadiah ulang tahun dari ayahnya yang saat ini surat-suratnya masih atas nama orang tua Laras. Namun di mata Maya, rumah itu adalah aset keluarga yang harus ia kuasai.

Laras menghela napas panjang. Melihat raut wajah kakak iparnya, ia sudah bisa menebak badai apa yang akan datang. Pasti soal utang bank itu lagi.

"Laras. Kebetulan kamu sudah pulang. Ada yang mau aku bicarakan." seru Maya dengan nada tinggi.

"Soal apa, Mbak? Kalau soal utang bank itu, aku sudah tidak mau bahas lagi. Mbak yang pinjam uangnya, Mbak juga yang harus bayar. Jangan malah menumbalkan aku." sahut Laras langsung ke inti masalah.

"Pelit sekali kamu jadi ipar.  Ingat ya, kamu itu sudah jadi istrinya Arga, jadi wajib bantu keluarga suami. Keluarga Arga lagi susah, kamu malah foya-foya liburan ke Lombok. " teriak Maya tanpa malu di depan pagar.

Laras yang lelah setelah seharian bekerja hanya ingin mandi dan istirahat. Namun, ia justru disambut makian yang mulai mengundang perhatian tetangga.

"Aku liburan pakai uang hasil kerjaku sendiri, Mbak. Tidak minta Mas Arga, apalagi minta Mbak Maya. Jadi apa masalahnya? Lagipula utang bank itu bukan urusanku. Mbak yang senang-senang pakai uangnya, kenapa aku yang harus tanggung jawab? Oh, sorry ya..." ucap Laras tegas.

"Sombong kamu. Uang kamu itu uang Arga juga dan uang Arga adalah uang keluarganya. Jangan serakah menguasai harta suami, harus tahu diri. " Maya semakin emosi. Beberapa tetangga mulai berbisik-bisik di pojok jalan.

"Mbak Maya dapat teori dari mana kalau hasil keringatku adalah hak keluarga Mas Arga? Sementara adik Mbak saja tidak menafkahiku dengan layak. Kalau logikanya begitu, berarti uang Mbak Maya juga milik keluarga Mas Rangga, dong?" Laras membalikkan ucapan Maya dengan telak.

Maya terdiam seketika. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak menyangka Laras yang biasanya pendiam akan berani bicara sepedas itu.

"Bagaimana, Mbak? Apa aturannya berlaku sama buat Mbak?" tanya Laras dengan senyum mengejek.

"Ya tidak bisa begitu.  Enak saja! Aku yang usaha, masa keluarga Mas Rangga yang menikmati." sergah Maya cepat.

"Nah, itu tahu. Aku kerja banting tulang, masa keluarga suamiku yang mau ongkang-ongkang kaki menikmati uangnya? Selama empat tahun ini, aku yang tanggung biaya hidup Ibu dan Tiara. Bahkan biaya kuliah dan mobil yang dipakai Tiara itu aku yang bayar, Mbak. Sekarang urusan utang Mbak yang pakai sertifikat rumah Ibu, ya Mbak yang harus tanggung jawab."

Maya mengepalkan tangan. Ia melirik ke arah tiga ibu-ibu di pojok jalan yang sedang menonton mereka seperti menonton drama televisi.

Kurang ajar, dia sengaja mempermalukan aku di depan tetangga,umpat Maya dalam hati.

"Mbak berutang pasti Mas Rangga tidak tahu, kan? Kalau dia tahu, ceritanya pasti beda." tambah Laras penuh keyakinan.

"Diam kamu. Jangan ikut campur.  Awas saja kalau berani bilang ke Mas Rangga. Aku akan suruh Arga menceraikanmu. Dasar ipar tidak berguna, sudah miskin sombong lagi." maki Maya kalap.

Laras beristighfar dalam hati. Maya sudah keterlaluan sampai membawa-bawa masalah perceraian. Karena tidak ingin menjadi tontonan lebih lama, Laras memutuskan mengakhiri perdebatan ini.

"Mbak Maya pulang saja sekarang. Jangan sampai ucapan Mbak makin ngelantur ke mana-mana." usir Laras dingin.

"Takut menjanda kamu? Makanya suruh aku pulang? Arga pasti menyesal menikahimu. Tunggu saja, sebentar lagi kamu pasti dibuang." seru Maya sambil memacu motornya pergi setelah sempat menyoraki ibu-ibu di pojok jalan yang ia sebut "pengangguran miskin".

**

Sementara itu, di sebuah kafe tepi pantai, Arga dan Angel sedang menikmati suasana sore. Tempat itu adalah saksi bisu awal hubungan terlarang mereka.

"Arga sayang, ternyata kamu masih ingat tempat ini." ucap Angel manja sambil bersandar di bahu Arga.

"Tentu saja. Di sini kan tempat aku pertama kali menyatakan perasaan padamu. Kamu adalah cinta pertamaku, Angel." balas Arga lembut sambil mengusap rambut selingkuhannya itu.

"Tapi kalau istrimu tahu bagaimana?" tanya Angel berpura-pura cemas.

"Kalau dia tahu ya tinggal kuceraikan. Aku menikahinya dulu hanya untuk pelengkap saja. Cintaku cuma buat kamu." jawab Arga tanpa beban.

Angel mengerucutkan bibir. "Mama dan Papaku tidak akan suka kalau aku berhubungan dengan pria beristri. Segera ceraikan dia atau aku akan diusir dari rumah."

Arga tertegun sejenak. Waduh, kalau Angel diusir dari rumahnya, aku dapat apa? Aku butuh hartanya. Ia membatin. Tapi aku juga belum bisa lepas dari Laras, karena keluargaku masih bergantung pada uangnya.

"Soal cerai nanti kita cari waktu yang tepat. Untuk sekarang, kita jalani dulu seperti ini. Tapi tenang saja, Ibu sudah tahu tentang kita dan dia sangat mendukung hubungan kita." bujuk Arga yang langsung membuat wajah Angel cerah kembali.

"Benarkah? Ibumu setuju? Kalau begitu, aku ingin bertemu Ibu malam ini."

Arga mengangguk mantap. Baginya, selama Angel bahagia dan tetap dalam genggamannya, mempertemukannya dengan sang ibu adalah perkara mudah. Mereka pun bersiap pulang, menuju rumah Bu Ajeng untuk merencanakan langkah selanjutnya.

1
Ariany Sudjana
heh Bu Ajeng, kan pelacur murahan itu kesayangan kamu, kenapa kamu ga minta sama dia, untuk beli beras dll? kan orang kaya katanya 😂😂🤣🤣 sekalian suruh jalang peliharaan Arga itu untuk beres-beres rumah, jangan hanya tahunya numpang makan enak di rumah orang, tapi ga tanggung jawab untuk beresin rumah
Ariany Sudjana
haha laki-laki mokondo, mana sanggup kamu ganti perlengkapan mandi Laras? kan kamu dan keluarga kamu itu parasit Arga 🤭🤭😂😂
Ariany Sudjana
bagus Laras, kamu harus tegas dan kuat, tunjukkan kamu itu perempuan mandiri dan angel itu hanya batu kerikil, dan juga Arga itu laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Hardini Hardini
Biasa
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu angel, kamu pikir barang punya Laras yang kamu ambil itu uang dari Arga ? owh bodoh sekali kamu, sudah jadi pelacur murahan, dapat laki-laki mokondo 😂😂🤭🤭
Ariany Sudjana
dari sekian orang di keluarga Arga, hanya Rangga yang wise, yang lain serakah semua. dasar Arga, kamu pikir kamu sudah menang, dengan angel hamil sekarang? yang ada kamu akan semakin terpuruk
Martina Loe
sedih dgn keluarga parasit
Ariany Sudjana
benar klop, laki-laki mokondo yang ga tahu diri dan pelacur murahan 🤣🤣 heh angel kamu mimpi mau jadi nyonya besar? mimpi kamu ketinggian, Laras itu perempuan baik-baik dan juga konglomerat, sedangkan kamu hanya batu kerikil dan juga jalang peliharaan 😂😂🤭🤭
Yati Syahira
elit pingin bergaya wkwkk ekonomi sulit pingin bergaya borju
Yati Syahira
mertua tsk ada aqlaq
Yati Syahira
benalu tapi arogan laras bodoh lama
Ariany Sudjana
Arga kamu bodoh, melepaskan berlian demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha pasangan yang cocok, yabg satu pelacur murahan, yang satu laki-laki mokondo 😄😄🤣🤣
tanpa nama
keluarga kere gaya hedon🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!