(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstorsi Sang Tabib
Kediaman Utama Klan Ye.
Ini bukan sekadar rumah, melainkan sebuah benteng kemewahan di tengah ibu kota. Dindingnya dilapisi batu giok, dan halamannya dipenuhi tanaman herbal langka.
Han Luo digiring masuk ke Aula Utama.
Di sana, duduk di kursi kebesaran berlapis emas, adalah Patriark Ye. Seorang pria bertubuh besar dengan kultivasi Inti Emas Awal. Wajahnya memancarkan dominasi seorang pedagang sekaligus panglima perang.
Di tengah ruangan, Tuan Muda Ye (pemuda yang tadi siang keracunan) terbaring di atas ranjang giok. Dadanya masih dilapisi es tipis buatan Han Luo. Wajahnya tidak lagi hitam, tapi dia belum sadar sepenuhnya.
"Kau Tabib Tangan Hantu?" sapa Patriark Ye dengan suara bariton yang berat. "Aku mendengar prestasimu siang tadi. Luar biasa."
"Saya lebih suka bicara bisnis daripada basa-basi, Patriark," potong Han Luo, berdiri di tengah aula tanpa membungkuk. "Mana Teratai saya?"
Mata Patriark Ye menyipit. Dia memberi isyarat pada pelayannya.
Seorang pelayan membawa sebuah kotak kayu merah dan membukanya di depan Han Luo.
Di dalamnya, bukan bunga teratai. Melainkan tumpukan lempengan emas murni dan beberapa botol Pil Peningkat Qi.
"Ini bernilai 1.000 Batu Roh Murni," kata Patriark Ye. "Jauh melebihi nilai sekuntum bunga. Aku butuh Teratai Penambah Umur itu untuk hal lain. Sembuhkan anakku, dan ambil emas ini. Kita sama-sama untung."
Han Luo menatap emas itu, lalu tertawa. Tawanya menggema di aula yang luas itu, terdengar kering dan penuh ejekan.
"Kau menawar nyawa anakmu dengan emas?" Han Luo menggelengkan kepalanya. "Klan Pedagang Ye... ternyata kalian tidak mengerti konsep 'Kelangkaan'."
Han Luo mengangkat tangan kirinya (Lengan Boneka Sutra). Dia menjentikkan jarinya.
Peting!
Seketika, di tengah ruangan, Tuan Muda Ye menjerit histeris.
"AAAAAARRRGHH!"
Es yang menahan racun di dada pemuda itu mulai mencair dengan kecepatan gila. Urat-urat hitam kembali menjalar dari dada menuju lehernya. Pemuda itu kejang-kejang, memuntahkan bisa hijau ke lantai giok.
"Anakku!" Patriark Ye berdiri panik, aura Inti Emas-nya meledak, menekan Han Luo. "Apa yang kau lakukan padanya?!"
"Aku membatalkan pengobatanku," jawab Han Luo datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan spiritual Patriark Ye. Tekanan Inti Emas Awal? Aku memiliki Inti Emas Sempurna di dalam diriku. Ini hanya hembusan angin bagiku.
"Kau ingin emas? Beli peti mati berlapis emas untuk anakmu. Karena dalam tiga napas, racun itu akan menembus jantungnya."
Han Luo mulai menghitung dengan suara keras.
"Satu."
"Hentikan!" teriak Patriark Ye.
"Dua."
Tuan Muda Ye memutar bola matanya ke atas, napasnya tercekik.
"BAIK! BERIKAN BUNGANYA PADANYA!" teriak Patriark Ye dengan putus asa, wajahnya merah padam menahan amarah dan ketakutan.
Seorang pelayan tua berlari tergesa-gesa membawa sebuah kotak kristal dingin. Di dalamnya, sekuntum teratai bersinar memancarkan energi kehidupan yang luar biasa padat.
[Teratai Penambah Umur - Usia 100 Tahun]
Han Luo mengambil kotak itu. Dia tidak langsung menyembuhkan pemuda itu. Dia membuka kotak, memastikan keasliannya dengan Mata Roh.
"Bagus," bisik Han Luo.
Dia menoleh kembali ke Tuan Muda Ye, menjentikkan jarinya lagi, memancarkan seutas benang es yang tak terlihat.
Es di dada pemuda itu kembali menebal. Kejangnya berhenti, dan dia kembali pingsan dengan damai.
Patriark Ye menghela napas lega, tapi matanya menatap Han Luo dengan kebencian absolut.
"Kau sudah mendapatkan barangmu," desis Patriark Ye. "Sekarang, cabut akar racunnya secara permanen. Dan setelah kau keluar dari pintu ini... pastikan kau tidur dengan mata terbuka."
Itu adalah ancaman pembunuhan yang tidak ditutupi. Begitu anak ini sembuh, Klan Ye akan memburu Han Luo.
Tapi Han Luo tidak segera bekerja.
Dia malah berjalan perlahan mengelilingi ranjang Tuan Muda Ye, matanya mengawasi kerumunan orang di ruangan itu—Patriark Ye, Tetua Ye Ming, para pelayan, dan beberapa kerabat klan yang menonton.
"Mencabut racunnya sangat mudah," kata Han Luo, suaranya tenang. "Tapi sebelum saya melakukannya... tidakkah Anda penasaran, Patriark, bagaimana putra mahkota Anda yang selalu dikawal ketat bisa terkena racun Laba-laba Kematian yang langka ini?"
Ruangan itu hening.
Patriark Ye mengerutkan kening. "Kami sedang menyelidikinya. Kemungkinan itu adalah ulah Klan musuh kami."
"Musuh dari luar tidak bisa melewati cincin pemeriksa racun yang dipakai putra Anda," Han Luo menunjuk ke cincin perak di jari pemuda itu yang tidak berubah warna. "Racun ini tidak dicampurkan ke dalam makanan. Racun ini... dioleskan."
Han Luo berhenti berjalan tepat di belakang Tetua Ye Ming (pria yang tadi menjemputnya paksa).
"Dioleskan pada benda yang paling sering dia sentuh hari ini," Han Luo mendekatkan hidungnya ke kerah belakang Ye Ming, pura-pura mengendus.
"Dan kebetulan... aku mencium sisa aroma Bunga Bangkai Ungu—bahan penawar sementara dari racun Laba-laba Kematian—dari jubah Tetua Ye Ming ini."
Wajah Ye Ming berubah seputih kertas.
"Bohong!" teriak Ye Ming, mundur menjauhi Han Luo. "Patriark! Jangan dengarkan dia! Dia mencoba mengadu domba kita!"
Han Luo tersenyum licik di balik wajah tuanya. Dia sama sekali tidak mengendus apa pun. Dia memanipulasinya.
Saat dia menusuk leher pengawal Ye Ming di penginapan tadi, dia menggunakan benang sutra untuk menyelipkan sisa racun laba-laba (yang dia ambil sedikit dari tubuh Tuan Muda tadi siang) ke dalam jubah Ye Ming.
"Periksa kantong dalam sebelah kanannya, Patriark," kata Han Luo santai.
Patriark Ye, dengan wajah gelap, maju selangkah. "Ming. Buka jubahmu."
"Patriark! Aku bersumpah!"
Patriark Ye tidak menunggu. Dia mengayunkan tangannya, menggunakan Qi untuk merobek jubah luar Ye Ming.
Sebuah botol kaca kecil jatuh dari kantong dalam Ye Ming dan pecah di lantai. Cairan hijau kehitaman tumpah. Bau busuk khas Laba-laba Kematian memenuhi ruangan.
Aula itu meledak dalam kekacauan.
"Ye Ming! Kau meracuni keponakanmu sendiri?!" raung Patriark Ye, urat di dahinya bermunculan.
"Bukan! Dia meletakkannya di sana! Tabib ini menjebakku!" Ye Ming menangis, mundur ketakutan.
Tapi Patriark Ye sudah dibutakan oleh kemarahan. Dia menerjang saudaranya sendiri, memulai pertarungan internal berdarah di tengah aula mewah itu.
Sementara Klan Ye saling membunuh, Han Luo berdiri dengan tenang di samping ranjang.
Dia menempelkan tangan kirinya (lengan boneka) ke dada Tuan Muda Ye, menyerap habis racun itu ke dalam tubuhnya (dan memberikannya pada Anggrek Wajah Hantu sebagai camilan).
"Sembuh," kata Han Luo pada pemuda yang masih pingsan itu.
Han Luo merapikan jubahnya, menyelipkan kotak Teratai Penambah Umur ke dalam cincinnya.
Dia berjalan keluar dari aula utama dengan santai, melewati meja-meja giok yang hancur dan jeritan Tetua Ye Ming yang sedang dipukuli oleh Patriark.
Tidak ada yang menghentikannya. Mereka terlalu sibuk dengan pengkhianat di dalam rumah mereka sendiri.
Di luar gerbang Klan Ye, Han Luo menatap bulan purnama di langit malam Jinling.
"Perampokan terbaik," gumamnya, "Adalah saat korbanmu sibuk berterima kasih padamu, sementara mereka menghancurkan rumah mereka sendiri."
Han Luo memegangi dadanya. Sudah saatnya dia pulang dan merebut kembali 50 tahun nyawanya yang hilang.
Pertunjukan di Benua Tengah baru saja dimulai.
tpi gw demen....