💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 —THE MAN WHO CAME AWAY UNHURT
Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima Jakarta, memuntahkan cahaya keemasan yang memantul di atas marmer. Kilauannya serupa ambisi-ambisi yang saling beradu di bawahnya.
Malam itu, Gala Business Summit adalah panggung bagi para pemegang kuasa. Di tengah kepulan aroma cerutu mahal dan denting gelas kristal, Arsenio berdiri tegak.
Setelan hitamnya jatuh sempurna, membungkus tubuh tinggi yang kaku dan aura yang tidak tersentuh. Wajahnya adalah sebuah teka-teki—dingin, terkontrol, dan mutlak.
Ia adalah pusat gravitasi. Orang-orang mengelilinginya, menyesap setiap kata yang diucapkan, lalu tertawa pada waktu yang tepat seolah ritme nafas mereka diatur olehnya.
Sampai pintu ballroom terbuka.
Arah angin berubah seketika. Fokus ruangan yang semula terkunci pada Arsenio, perlahan retak dan berpindah.
Alinea melangkah masuk.
Ia tidak butuh payet yang berteriak atau belahan gaun yang provokatif untuk mencuri perhatian. Gaun hitam polosnya jatuh menyapu lantai dengan keanggunan yang tenang.
Rambutnya terurai bebas, membingkai wajah tegas yang hanya dipoles riasan minimalis—sebuah pernyataan bahwa ia tidak datang untuk memikat, melainkan untuk mendominasi.
Namun, bukan itu yang membuat napas Arsenio tertahan di tenggorokan.
Ada Raka Mahendra di sampingnya.
Mereka tidak bersentuhan. Jarak di antara keduanya sangat sopan, namun cara Raka memposisikan diri di sisi Alinea menegaskan sebuah kepemilikan yang tidak perlu diumumkan. Raka melempar senyum hangat pada kolega di sekitar—kontras yang menyakitkan dengan kekakuan Arsenio.
Lalu, Raka membisikkan sesuatu di telinga Alinea.
Alinea tertawa kecil. Suara itu renyah, tulus, dan sialnya... terdengar sangat akrab di telinga Arsenio. Suara tawa yang dulu hanya miliknya, kini bergema di ruangan itu sebagai pengingat paling tajam bahwa malam ini, sang pusat gravitasi telah kehilangan orbitnya.
Rahang Arsenio mengeras. Gelas di tangannya terasa sedingin es, tapi tidak sebanding dengan amarah sunyi yang mendadak membakar dadanya.
“Apa kamu sengaja datang terlambat?” tanya Raka lembut ketika mereka berhenti di meja registrasi.
Alinea mengangkat alis. “Strategi.”
“Strategi apa?”
“Biar orang sadar saya masuk.”
Raka tersenyum. “Dan berhasil.”
Alinea bisa merasakan sepasang mata di ruangan itu mengikutinya seperti radar. Tatapan para pria yang penuh selidik, kagum, hingga lapar—ia sudah biasa. Namun, ada satu hal yang berbeda malam ini.
Raka.
Pria di sampingnya itu tidak melingkarkan tangan di pinggangnya untuk memamerkan kepemilikan. Raka tidak berdiri di depannya seolah-olah Alinea adalah trofi yang harus dilindungi. Ia hanya berdiri sejajar. Bahu mereka hampir bersentuhan, namun Raka memberi ruang yang cukup bagi Alinea untuk bernapas.
Setara.
Sebuah konsep yang selama ini terasa asing, bahkan mustahil, saat ia masih berada dalam bayang-bayang Arsenio yang mendominasi setiap inci ruang geraknya.
Seorang pelayan melintas dengan nampan perak berisi deretan gelas champagne. Sebelum Alinea sempat bergerak, tangan Raka sudah lebih dulu terulur. Ia mengambil satu gelas, tidak langsung meminumnya, melainkan menyerahkannya pada Alinea dengan gestur yang begitu natural—penuh hormat tanpa terlihat merendahkan.
"Untukmu," bisik Raka pelan, matanya menyiratkan dukungan yang tulus.
Alinea menerimanya, jemari mereka bersentuhan singkat. Ia menghisap cairannya, membiarkan gelembung sodanya meledak di lidah, sementara di sudut lain ruangan, ia tahu ada seseorang yang sedang menyaksikan setiap detail kecil itu dengan rahang yang semakin mengeras.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Raka menatapnya sesaat lebih lama dari yang seharusnya.
“Gaun hitam ternyata tidak pernah salah.”
Alinea terkekeh kecil. “Pujian standar atau khusus untuk saya?”
“Khusus.” Raka tidak ragu. “Saya tidak pernah memuji warna. Saya memuji orang yang membuatnya hidup.”
Alinea menahan napas sejenak.
Bukan karena kalimat Raka yang puitis. Bukan karena rayuan murahan yang biasa ia dengar dari pria-pria di ruangan ini.
Justru karena kalimat itu sangat biasa.
Sederhana.
Tepat sasaran.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alinea merasa... aman.
Dari seberang ruangan, Arsenio tetap pada posisinya.
Tidak mendekat.
Tidak menyela.
Wajahnya tetap sedingin marmer, tanpa emosi yang bocor.
Tapi matanya...
Matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Alinea.
Setiap gerak-gerik wanita itu, setiap senyum tipisnya untuk Raka, hingga jarinya yang melingkar di gelas champagne—semuanya terekam dalam radar Arsenio yang tajam.
Dan itu adalah kesalahan pertamanya malam itu.
Arsenio terlalu sibuk mengawasi, menunggu Alinea menoleh padanya. Menunggu Alinea mencari persetujuannya, atau sekadar merasa terintimidasi oleh kehadirannya.
Seperti yang selalu terjadi selama ini.
Tapi detik demi detik berlalu.
Alinea tetap tertawa kecil.
Alinea tetap fokus pada Raka.
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka...
Alinea sama sekali tidak mencarinya.
“Apa Anda selalu setenang ini di acara seperti ini?” tanya Raka ketika mereka berdiri dekat jendela kaca besar yang menghadap gemerlap kota.
“Saya pernah lebih tegang.”
“Karena?”
“Karena dulu saya berdiri di sini bukan sebagai diri saya sendiri.”
Raka memiringkan kepala sedikit. “Dan sekarang?”
“Sekarang saya tidak lagi membawa luka orang lain.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi maknanya dalam.
Raka mengangguk pelan. “Bagus.”
Alinea menoleh. “Tidak penasaran?”
“Penasaran itu wajar,” jawab Raka.
“Tapi saya tidak tertarik pada masa lalu Anda.”
Hening sebentar.
Angin dari pendingin ruangan terasa dingin di kulit.
Raka melanjutkan, suaranya rendah tapi jelas.
“Saya tertarik pada perempuan yang berdiri di depan saya sekarang.”
Jantung Alinea berdegup kencang.
Itu bukan rayuan.
Bukan gombalan basa-basi yang biasa ia dengar di ruangan ini.
Itu pernyataan.
Tegas.
Jujur.
Dan entah kenapa… tidak terasa mengancam.
Arsenio bergerak.
Langkahnya tenang, membelah kerumunan.
Wajahnya tanpa ekspresi. Dingin.
“Selamat malam,” ucapnya ketika sudah berdiri cukup dekat.
Raka berbalik, tersenyum profesional. “Tuan Arsenio.”
Mereka berjabat tangan.
Kuat.
Singkat.
Tanpa senyum.
Alinea menahan napas.
Ketegangan di udara mendadak setipis senar gitar yang siap putus.
“Acara yang bagus,” ujar Raka.
“Standar,” jawab Arsenio datar.
Matanya beralih ke Alinea.
Satu detik.
Dua detik.
Tidak ada sapaan khusus.
Tidak ada nada kepemilikan.
Hanya tatapan yang terlalu lama untuk disebut kebetulan.
Dingin.
Menuntut.
“Kamu menikmati acaranya?” tanya Arsenio akhirnya.
Kamu.
Bukan Anda.
Alinea menyadarinya.
Dan Raka juga.
“Sangat,” jawab Alinea ringan. “Saya jadi belajar banyak.”
“Dari siapa?” Nada Arsenio tetap rata.
Alinea tersenyum kecil. “Dari orang yang tidak menganggap saya beban masa lalu.”
Sunyi.
Kalimat itu bukan teriakan.
Bukan pula tuduhan.
Tapi cukup untuk menusuk.
Arsenio tidak membalas.
Egonya terlalu tinggi untuk sekadar membela diri.
Ia hanya menatap Raka sebentar.
Singkat.
Lalu, matanya kembali pada Alinea.
“Semoga pembelajarannya berguna.”
Lalu Arsenio pergi.
Tanpa menoleh.
Tanpa memperpanjang adegan.
Egonya tidak mengizinkan siapapun melihat retakan di sana.
Namun, punggungnya bicara lain.
Bahunya sedikit lebih kaku dari biasanya.
Langkah kakunya menyisakan gema yang dingin di atas marmer.
Raka menghembuskan napas pelan setelah Arsenio menjauh.
“Dia bukan tipe yang suka kehilangan kontrol,” gumamnya.
“Dia tidak kehilangan apapun,” jawab Alinea cepat.
Raka menatapnya lembut. “Benarkah?”
Alinea tidak menjawab.
Alinea memandangi lampu-lampu Jakarta dari balik kaca kota itu tampak indah, berisik, dan ambisius, namun entah kenapa malam ini terasa jauh lebih luas dari biasanya—seolah-olah dunianya baru saja meledak keluar dari sangkar sempit yang selama ini mengurungnya.
Acara hampir selesai ketika Raka bergeser sedikit lebih dekat tetapi ia tidak menyentuh apalagi memaksa, hanya berdiri cukup dekat agar suaranya terdengar jernih tanpa perlu ia tinggikan di antara kebisingan ballroom yang mulai surut.
“Kalau saya mengajak Anda makan malam setelah ini,” katanya pelan, “apakah saya akan ditolak… atau diberi kesempatan?”
Pertanyaan itu meluncur tanpa senyum nakal atau nada main-main melainkan Raka sungguh-sungguh, membuat Alinea menelan ludah saat menyadari pilihan kini benar-benar ada di tangannya. Di ujung ruangan, Arsenio berdiri di antara investor, namun pandangannya terus tertarik kembali ke arah mereka—menunggu dengan kecemasan seseorang yang sadar ia bisa kehilangan. Alinea menatap Raka, lelaki yang datang tanpa luka, tanpa sejarah, dan tanpa tuntutan untuk menjadi siapapun selain dirinya sendiri. Malam ini, di bawah lampu kristal Jakarta, dominasi Arsenio runtuh oleh ketenangan seorang pria yang menawarkan kebebasan.
Bibirnya terbuka.
“Kalau makan malamnya bukan soal bisnis,” ucapnya akhirnya pelan, “saya tidak keberatan mencoba.”
Jantung seseorang di seberang ruangan terasa jatuh.
Dan kali ini… bukan karena marah.
Bukan juga karena tersinggung.
Tapi karena untuk pertama kalinya,
Arsenio tidak bisa mengendalikan apa yang ia rasakan.
Dan ia membenci itu.
👍
🙆✨🔥
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹
terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨