"jangan om, aku masih perawan, "!! kata seorang gadis yang sudah berada di bawah kungkungan seorang laki laki tampan ,namun terlihat bagitu arogan.
"siapa yang menyuruhmu kesini ,"! sahut laki laki tersebut dengan suara yang terdengar paro, sambil menahan sesuatu yang sudah ingin meledak saat itu juga.
"om, jangan macam-macam atau aku tendang itu ular arab mu ya"!! ancam gadis tersebut yang masih mencoba mempertahan kan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon giyonk17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
"Deg"!!
Lagi lagi Clara di buat salting dengan sikap Devan yang begitu lembut padanya.
Tak menunggu lama Devan langsung saja mengangkat tubuhnya h Clara dan menggendongnya masuk ke dalam mobil.
Clara hanya diam,sepertinya sifat tomboy nya hilang seketika saat dirinya di gendong seperti putri di kerjaan dongeng .
30 menit berlalu mobil tersebut telah sampai disebuah mansion mewah kediaman tuan Erwin.
"Busyeett, ini rumah apa istana,mewahnya tidak ketulungan"! Gumam Clara sambil menatap kagum bangunan di hadapan matanya itu.
"Ayo turun". Kata Devan ketika melihat Clara masih terdiam menatap kagum mansion tersebut.
Devan dan Clara pun beriringan masuk ke dalam mansion dengan tangan Clara yang melingkar pada lengan Devan,ya hanya dengan cara itu supaya Clara tidak terjungkal jungkal saat berjalan .
"Selamat malam tuan"! Sapa salah satu pelayan yang menyambut kedatangan Devan.
Tuan Erwin dan nyonya Nadin sudah duduk di rumah Tengah untuk menyambut kedatangan Devan.
Senyum tuan Devan pun mengembang sempurna saat melihat sang anak datang dengan seorang gadis yang begitu cantik,namun tidak dengan raut wajah nyonya Nadin yang sudah di tekuk masam.
"Paa"!! Sapa Devan kepada sang papa.
Tuan Erwin pun berdiri dari duduknya dan tersenyum ke arah Devan.
"Apa ini calon menantu papa,cantik sekali"! Sahut tuan Erwin sambil menatap lekat lekat wajah cantik clara .
Emmmmm"!! Sahut Devan yang juga menoleh ke arah Clara.
Sedangkan gadis tomboy tersebut hanya tersenyum kecut .
"Ha-hallo ,om perkenalkan saya Clara ".Clara pun mengulurkan tanganya untuk berjabat tangan dengan tuan Erwin.
Tuan Erwin begitu antusias menerima uluran tangan Clara.
"Pantas saja bersikeras tidak mau di jodohkan ,ternyata di begitu pintar memilih calon istri,sunggu cantik". Gumam tuan Erwin di dalam hati.
"Sudah ayo sebaiknya kita mulai makan malamnya". Celetuk nyonya Nadin dengan tatapan sinis tertuju pada Clara.
Clara yang melihatnya pun sedikit terusik dengan tatapan tersebut.
Ke empat orang tersebut akhirnya berjalan beriringan menuju meja makan.
"Oiya orang tua mu berkerja di bidang apa," tanya nyonya Nadin di sela sela makan malam tersebut.
Clara menatap wanita paruh baya tersebut sesaat .
Ehemmmm"!! Suara yang keluar dari mulut Devan membuat nyonya Nadin menciut seketika.
Devan hanya menggelengkan kepalanya pelan saat Clara menatap ke arahnya.
Sedangkan tuan Erwin hanya diam ,ya pastinya di faham jika anak laki lakinya sedang tidak nyaman dengan pertanyaan mama tirinya itu.
30 menit berlalu,setelah makan malam selesai Devan langsung saja berpamitan untuk pulang,ya karena di lihatnya sedari tadi tatapan nyonya Nadin membuat Clara tidak nyaman.
"Kenapa terburu buru sekali ,Van"!
"Devan masih ada urusan ,pa"! Jawab Devan sambil menggandeng tangan Clara.
"Kalau begitu lain waktu mainlah kemari,jangan sungkan". Sahut tuan Erwin kepada Clara .
"Baik om". Jawab Clara singkat .
Akhirnya Devan pun melangkah keluar mansion sambil menggandeng tangan Clara.
"Lepaskan,"! Pekik Clara sambil menghempaskan tangan Devan begitu saja.
Di lepasnya sepatu yang sudah membuatnya tersiksa,dengan entengnya Clara menenteng sepatu tersebut dan mengangkat dres nya tinggi tinggi.
"Sudah aku bilang bukan,aku tidak pantas dengan anda,tapi tetep saja ngeyel,lihatlah sorot mata nenek lampir tadi sungguh ingin sekali aku mencolok matanya biar lepas sekalian dari tempatnya". Oceh Clara sambil berjalan menuju mobil mewah yang terparkir di halaman mansion.
Devan yang mendengar geruntuhan gadis cantiknya itu hanya mampu terkekeh,sunggu sudah sekian lama tawa itu tidak pernah muncul di wajah tampan Devan semenjak kepergian ibu kandungnya,dan semenjak kedatangan Clara tawa itu kembali terukir sempurna pada wajah tampan nya.
******
kenapa tidak mengantarku pulang". Tanya Clara saat Devan membawa nya kembali ke apartemen nya bukan ke kosan Clara.
"Kamu ingin membayar hutang hutang paman mu atau tidak".
"Tunggu,jangan bilang ". Dengan cepat Clara menyilangkan kedua tanganya ke arah dadanya yang begitu berisi.
Glek"!!
Sesaat Devan terpana dengan sesuatu yang sengaja Clara tutupi dengan lengannya itu.
"Jangan macam macam ya atau aku tendang burung coklat mu itu".
Devan hanya memicingkan matanya mendengar ucapan clara.
"Bagaimana kamu tahu jika burungku warna nya coklat,atau jangan jangan kamu pernah mengintip ku mandi".
Glek"!!
Clara hanya bisa menelan ludahnya kasar,
"bagaimana bisa otakku sampai berfikir ke arah burung,kenapa jadi aku yang mesum disini"! Clara pun merutuki dirinya sendiri.
"Lalu bagaimana".
"Emboh lah"!! Sahut Clara sambil meringsut di pojokan kursi penumpang di samping Devan.
"Turun sendiri atau aku gendong".
Tanpa menjawab Clara langsung saja memegang handel pintu mobil dan keluar begitu saja.
" Bagaimana bisa ada laki laki seperti itu di dunia ini,karma apa yang sudah tuhan berikan padaku".
"Ayo cepat, masuk ". Sahut Devan yang melihat Clara hanya diam mematung di sampingnya mobil.
Masih dengan posisi yang sama Clara menenteng sandal nya begitu saja dan berjalan menyusul Devan yang sudah berdiri di depan lif.
Devan melirik sekilas kaki putih Clara yang tidak menggunakan alas sama sekali,senyum menyeringai kembali muncul pada sudut bibir laki laki tampan tersebut.
Tring.
Pintu lif pun di buka tepat di lantai 5.
"Mandilah,, pakai dulu bajuku, malam ini toko baju sedang tutup cepat karena ada libur masal". Kata Devan sambil mendudukan bokongnya di atas sofa empuk di ruang tv.
Clara hanya Menurut tanpa mencerna ucapan Devan tentang tutupnya tok masal. dan langsung masuk ke dalam kamar Devan dan mencari baju milik laki laki tampan tersebut.
Clara membuka lemari yang begitu panjang dan besar di hadapnya.
"Anjir,, ini lemari atau toko pakaian sebenarnya." Gumam Clara sambil membuka lemari tersebut,terdapat jejeran baju kantor yang begitu mewah,semuanya nampak rapi.
Kembali Clara menggeser pintu lemari di sampingnya.
"Lalu aku harus pakai baju yang mana". Kembali Clara di buat puyeng dengan baju yang bertumpuk rapi disitu.
Namun begitu syok nya Clara saat menangkap benda sangat tak asing pada indra penglihatannya.
Celana dalam dan bra yang begitu familiar di matanya.
Clara masih menatap kedua benda yang tergantung sempurna dihadapanya.
"Itu punya mu,pakailah aku sudah mencucinya".
Deg"!!
Suara tersebut membuat Clara mematung seketika,ya devan sudah berdiri dan bersandar di pintu yang sudah dia buka dengan tangan yang sudah ber sendekap dada.
"Lancang, bagaimana bisa dalaman ku berada di sini,kau mencurinya ya'. Umpat Clara dengan mata yang sudah ingin lepas dari tempatnya .
"Apa kamu lupa 2 hari yang lalu kamu meninggalkan pakaianmu di dalam kamar mandi ku."