Wira Wisanggeni, seorang yatim piatu yang kehilangan orang tuanya akibat kekejaman prajurit kerajaan, diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh. Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Mimpi yang Tertinggal
Malam di Kerajaan Ayodya Pala selalu memiliki keheningan yang berbeda. Angin yang berembus dari perbukitan membawa aroma melati dan tanah basah, memberikan ketenangan yang hampir semu bagi seorang pemuda yang kini telah genap berusia delapan belas tahun.
Wira berbaring di atas bale-bale kayu di pinggir paviliumnya, menatap taburan bintang yang tampak seperti butiran ubi yang tumpah di atas kain hitam.
Tangannya yang kini lebih besar dan berurat namun tetap lentur, memegang Siwa dengan santai. Tongkat itu berkilau redup, seolah ikut menikmati kesunyian malam.
"Bocah, kau melamun lagi. Apa kau sedang menghitung berapa banyak ubi yang bisa kau curi jika kau menyerang dapur istana malam ini?" suara Siwa bergema di batin Wira, memecah kesunyian.
Wira terkekeh pelan, ia membalikkan tubuhnya miring ke kanan.
"Tongkat jelek, kau ini tidak ada romantis-romantisnya ya. Aku ini sedang merenungi nasib benua yang sedang miring, kau malah menuduhku mau mencuri ubi. Lagipula, di sini ubi diberikan gratis, buat apa mencuri?"
"Hmmm, gayamu bicara soal nasib benua. Biasanya kau baru bicara serius kalau perutmu sudah keroncongan," balas Siwa.
"Yah, itu benar juga," jawab Wira sambil tersenyum tipis.
Namun, di balik candaan itu, mata Wira menyiratkan kelelahan yang mendalam.
Setiap malam sebelum memejamkan mata, pikirannya selalu terseret kembali ke masa lalu.
Dalam beberapa tahun terakhir tinggal di Ayodya Pala, mimpi-mimpi itu datang semakin sering.
Ia selalu melihat wajah ayahnya yang tegas namun penuh kasih, dan ibunya yang selalu mencium keningnya sebelum tidur.
Ia melihat kembali tragedi 12 tahun lalu, darah, api, dan kesalahpahaman yang membuatnya menjadi yatim piatu yang harus bertahan hidup dengan mencuri ubi di pasar sebelum akhirnya diselamatkan oleh guruna, Dewi Shinta Aruna.
Namun kini, mimpi itu berubah. Di setiap akhir pertemuannya dengan orang tuanya dalam alam bawah sadar, langit selalu terbelah, menampakkan cahaya keemasan yang membawa pesan yang berat,
"Wira, kau adalah timbangan semesta. Keseimbangan bukan tentang kemenangan satu pihak, tapi tentang kebaikan yang hilang."
Wira tidak pernah menceritakan beban ini pada siapa pun, bahkan pada Sekar atau Guntur. Ia tidak ingin orang-orang terdekatnya ikut memikul beban langit yang menyesakkan dada.
Baginya, biarlah ia yang menjadi tameng dan penyangga, sementara orang lain tetap melihatnya sebagai Wira yang suka bercanda.
"Siwa," panggil Wira, kali ini dengan nada yang jauh lebih rendah dan serius.
"Ada apa?" suara Siwa pun berubah, tak lagi mengejek, menyadari perubahan suasana hati tuannya.
"Apakah menurutmu... aku bisa melakukan ini? Membawa kedamaian tanpa harus menghancurkan? Aku hanya ingin semua orang bisa tenang tanpa takut besok rumah mereka terbakar," ucap Wira.
"Kau sudah melakukannya selama enam tahun di sini, Wira. Kau telah menyelaraskan energimu dengan bumi. Ingat, kau bukan lagi bocah yang mencuri karena lapar, kau adalah pemuda yang memberi karena kau tahu rasanya kehilangan," jawab Siwa mantap menyemangati tuannya.
"Terima kasih, Siwa. Kau memang tongkat yang... lumayan berguna."
"Sialan kau, Bocah!" teriak kesal Siwa dalam pikirannya.
Tanpa disadari oleh Wira, di balik rimbunnya pohon kemuning yang membatasi paviliumnya dengan taman dalam istana, sepasang mata jernih sedang mengawasi dengan dada yang berdebar.
Sosok itu mengenakan kemben sutra berwarna hijau lumut yang sangat halus, dengan rambut hitam panjang yang terurai hingga ke pinggang.
Ia adalah Dewi Ratnawati, putri tunggal Prabu Yudhistira. Selama bertahun-tahun, sang Prabu sengaja menyembunyikan putrinya dari mata dunia.
Prabu Yudhistira tahu bahwa di tengah kekacauan yang diciptakan Kalingga, seorang putri cantik dari kerajaan yang damai akan menjadi incaran empuk untuk dijadikan sandera politik atau pemuas nafsu para makhluk yang tak punya hati.
Ratnawati telah mengamati Wira sejak hari pertama pemuda itu menginjakkan kaki di Ayodya Pala.
Awalnya, ia hanya penasaran pada sosok pendekar yang dikabarkan pernah naik ke langit.
Namun lama-kelamaan, rasa penasaran itu berubah menjadi kekaguman, lalu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuatnya sering bersembunyi di balik pilar hanya untuk melihat Wira berlatih atau sekadar mendengar tawanya.
"Dia tampak begitu tenang... namun di matanya ada kesedihan yang tak terkatakan," batin Ratnawati sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.
Ia ingin sekali keluar dari persembunyiannya, menyapa Wira, atau sekadar membawakannya teh hangat.
Namun, rasa malu dan perintah ayahnya untuk tetap tak terlihat membuatnya hanya bisa menjadi bayangan.
Ia takut kehadirannya justru akan menambah beban Wira yang ia tahu sudah sangat berat.
Ratnawati melihat Wira bangkit dari bale-bale, melakukan beberapa gerakan peregangan yang aneh, gerakan yang Wira sebut sebagai Jurus Menangkap Belalang namun sebenarnya adalah teknik pengumpulan energi alam yang sangat tingkat tinggi.
"Aduh-duh, pinggangku... sepertinya aku sudah mulai tua," gumam Wira keras-keras, membuat Ratnawati hampir saja tertawa kecil namun segera menutup mulutnya dengan tangan.
Keesokan paginya, suasana di istana Ayodya Pala sedikit berbeda.
Guntur dan Sekar sudah menunggu Wira di ruang strategi yang tersembunyi di bawah perpustakaan kerajaan.
Guntur, dengan peta-peta kulit yang tersebar di meja, tampak sedang menandai beberapa titik penting di wilayah Kerajaan Majapatih.
"Wira, kau terlambat lima menit. Apa kau sibuk berdebat dengan tongkatmu lagi?" tanya Sekar dengan nada menggoda, meski matanya tetap fokus pada laporan intelijen.
"Yah, Siwa ini kalau tidak diajak berdebat, dia bisa karatan, Sekar," jawab Wira sambil menarik kursi. "Jadi, apa kabar dari timur?"
Guntur menunjuk ke sebuah kota pelabuhan di perbatasan Majapatih.
"Kalingga telah menempatkan Tujuh Pendekar Langit yang baru di sini. Mereka bukan lagi manusia yang meminum darah iblis, tapi iblis yang merasuki tubuh manusia yang telah mati. Mereka menyebutnya pasukan Wungkul. Rakyat di sana sudah mulai diwajibkan menyetor energi sukma mereka setiap minggu melalui ritual doa palsu."
Wira mengepalkan tangannya di bawah meja. "Mencuri energi kehidupan rakyat... itu lebih rendah daripada mencuri ubi di pasar saat sedang kelaparan." gumamnya lirih.
"Kita akan berangkat besok malam," ucap Sekar tegas.
"Guntur sudah menyiapkan rute rahasia melalui jalur sungai bawah tanah agar kita tidak terdeteksi oleh radar energi para dewa hitam di langit." lanjut Sekar menjelaskan.
Wira mengangguk. Namun, sebelum pembicaraan berlanjut, pintu perpustakaan terbuka sedikit.
Prabu Yudhistira melangkah masuk dengan langkah kaki yang tak bersuara.
Di belakangnya, samar-samar terlihat bayangan seorang wanita yang segera menghilang saat Wira menoleh.
"Wira, Sekar, Guntur... waktu kedamaian di sini memang telah usai," ucap Sang Prabu.
"Gusti Prabu, terima kasih atas perlindungan Anda selama ini," ucap Wira tulus sambil membungkuk.
Prabu Yudhistira menatap Wira dalam-dalam. "Aku tahu bebanmu, Nak. Aku tahu pesan yang kau bawa dari langit. Ketahuilah, Ayodya Pala akan selalu menjadi rumahmu. Dan jika suatu saat kau merasa lelah, kembalilah ke sini. Bukan sebagai penyeimbang semesta, tapi sebagai Wira yang kami kenal."
Wira tertegun mendengar ucapan sang Raja. Ia merasa seolah Prabu Yudhistira tahu tentang mimpi-mimpinya selama ini.
"Oh, dan satu hal lagi," Sang Prabu sedikit tersenyum misterius.
"Ada seseorang yang ingin memberikan ini padamu. Jangan tanya siapa, dia terlalu pemalu untuk menemuimu langsung." lanjut Prabu Yudhistira dengan senyum tipis diwajahnya.
Prabu Yudhistira menyerahkan sebuah bungkusan kain sutra kecil. Saat Wira membukanya, di dalamnya terdapat sebuah jimat anyaman janur kuning yang sangat rapi, dengan aroma parfum melati yang lembut, aroma parfum yang sama dengan yang tercium oleh Wira tadi malam di dekat taman.
Wira menatap jimat itu, lalu menatap ke arah pintu yang tertutup.
"Terima kasih, Gusti Prabu. Sampaikan salamku padanya... katakan bahwa jimat ini akan kujaga sebaik aku menjaga tongkat jelek ini."
"Hei!" protes Siwa seketika dalam pikirannya
Sekar yang melihat kejadian itu menyipitkan matanya, ada sedikit kilatan cemburu yang lewat, namun ia segera menepisnya. Ia tahu saat ini bukan waktunya untuk urusan hati.
Malam itu, Wira kembali ke paviliumnya untuk menyiapkan barang-barangnya.
Ia menyimpan jimat melati itu di dalam kantong bajunya, tepat di sebelah inti sukmanya yang berdenyut tenang.
"Siwa, apa kau siap untuk perjalanan panjang?" tanya Wira sambil mengelus permukaan tongkat kayunya.
"Bocah, aku lahir untuk ini. Mari kita buat Adipati Kalingga menyesal karena pernah membunuh orang tuamu dan meremehkan seorang pencuri ubi," jawab Siwa dengan nada yang sangat serius.
Wira berdiri di balkon, menatap ke arah timur. Cahaya fajar yang mulai mengintip, menandakan dimulainya babak baru.
Ia tidak lagi hanya membawa dendam pribadi, tapi membawa harapan dari mereka yang tersembunyi di balik bayangan.
"Majapatih... bersiaplah. Sapu Jagat sedang menuju ke sana," gumam Wira.
Dengan langkah mantap, ketiga pendekar itu meninggalkan Ayodya Pala melalui terowongan rahasia.
Di balik jendela tinggi istana, Dewi Ratnawati menatap kepergian mereka dengan air mata yang akhirnya jatuh.
Ia hanya bisa berdoa pada langit, agar pemuda yang dicurinya lewat pandangan itu bisa kembali dengan selamat, membawa kedamaian yang dijanjikannya.
Perjalanan menembus jantung Majapatih bukan hanya tentang kekuatan fisik, tapi tentang memenangkan hati rakyat yang telah teracuni.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁