NovelToon NovelToon
Sahabat Jadi Suamiku.

Sahabat Jadi Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi Yang Kosong

Hari-hari setelah keberangkatan Arlan terasa seperti film bisu. Semua tampak berjalan normal, tapi suaranya hilang. Pohon mangga di belakang rumah pun seolah ikut merunduk sepi.

Minggu pertama tanpa Arlan adalah yang terberat. Aku terbangun pukul enam pagi, nyaris menyambar ponsel untuk mengirim pesan singkat: "Lan, ban motorku kurang angin, mampir ya!" sebelum akhirnya sadar, Arlan sedang berada di zona waktu yang berbeda, tujuh jam di belakangku. Dia mungkin baru saja bersiap tidur saat aku memulai hari.

Pohon mangga itu kini menjadi tempat pelarianku. Aku duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, tempat Arlan biasa duduk sambil menyombongkan skor game-nya. Sekarang, kursi itu kosong. Hanya ada daun kering yang jatuh pelan, seolah mengejek kesendirianku.

LDR (Long Distance Relationship) dengan seorang sahabat ternyata lebih rumit dari kekasih. Kami tidak punya status untuk saling menuntut kabar, tapi rasa kehilangan ini nyata.

"Ra, Arlan sudah telepon?" tanya Ibu suatu sore sambil membawakan teh.

Aku menggeleng. "Baru kirim foto apartemennya, Bu. Katanya di sana dingin sekali."

"Sabar, ya. Dia di sana untuk masa depan. Kamu juga harus sibuk, jangan melamun terus di bawah pohon," nasihat Ibu lembut.

Aku pun mulai menyibukkan diri. Aku mengambil lembur di kantor, mulai belajar memasak resep-resep yang dulu sering kami beli di pinggir jalan, dan berusaha tidak terus-menerus menatap layar ponsel. Namun, setiap kali notifikasi berbunyi di pukul satu pagi—saat Arlan baru pulang kerja di Munich—jantungku tetap melonjak.

"Ra, aku baru lihat bulan. Bagus sekali. Di sana jam berapa? Sudah mimpi ya?" tulisnya di WhatsApp, lengkap dengan foto bulan sabit di langit Jerman.

Aku membalasnya dengan jemari gemetar. "Baru mau mimpi. Mimpi kamu pulang bawa cokelat."

Dia membalas dengan emoji tertawa. "Simpan mimpimu, Ra. Aku akan pulang membawa lebih dari sekedar cokelat."

Kalimat itu menggantung di kepalaku selama berhari-hari. Apa maksudnya? Apakah dia merasakan rindu yang sama? Ataukah itu hanya gaya bicaranya yang memang selalu manis tapi membingungkan?

Di tengah sepi itu, seorang rekan kantor bernama Pandu mulai sering menghampiri mejaku. Dia sopan, mapan, dan jelas-jelas menunjukkan ketertarikan. Pandu adalah semua hal yang "benar" secara logika, tapi hatiku selalu membandingkannya dengan Arlan—si tukang celoteh yang tahu semua keburukanku.

Bulan ketiga, aku mulai terbiasa dengan rutinitas "palsu". Aku berangkat kerja tepat waktu, makan siang dengan teman kantor, dan pulang sebelum magrib. Namun, setiap kali aku melewati tukang martabak langganan kami, mataku otomatis mencari sosok jangkung dengan jaket denim belel yang biasanya sudah mengantre di sana.

Kosong. Arlan benar-benar tidak ada.

"Ra, Sabtu besok ada pameran seni di pusat kota. Mau ikut?" tanya Pandu, rekan kerjaku yang belakangan ini makin sering muncul "tanpa sengaja" di kubikelku.

Aku menatap layar ponselku. Belum ada balasan dari Arlan sejak kemarin. Munich sedang badai salju, katanya, dan jaringan di apartemennya sedang bermasalah.

"Boleh, Ndu. Jam berapa?" jawabku pelan. Mungkin Ibu benar, aku harus mulai "hidup" lagi, bukan cuma menunggu notifikasi dari benua lain.

Sabtu itu, Pandu sangat sopan. Dia membukakan pintu mobil, memesankan kopi kesukaanku, dan tahu banyak tentang lukisan. Dia adalah versi pria dewasa yang sempurna. Tapi sepanjang pameran, pikiranku justru melayang pada Arlan.

Arlan yang kalau diajak ke pameran seni pasti akan berbisik, "Ra, ini lukisan atau tumpahan kecap? Kok harganya mahal banget?" lalu kami akan tertawa sampai ditegur penjaga galeri.

Malamnya, saat aku baru sampai rumah, ponselku bergetar hebat. Panggilan video dari Arlan.

Aku segera berlari ke balkon kamar agar tidak ketahuan Ibu. Wajah Arlan muncul di layar. Dia terlihat lebih tirus, rambutnya sedikit berantakan, dan dia memakai sweter tebal berlapis-lapis.

"Ra! Baru pulang?" tanyanya. Matanya menyipit, menatap latar belakangku. "Kok rapi banget? Habis kencan ya?"

"Cuma jalan sama teman kantor, Lan. Ke pameran seni," jawabku, berusaha terdengar biasa saja.

Arlan terdiam sejenak. Senyum jahilnya memudar sedikit. "Oh... baguslah. Biar kamu nggak lumutan di bawah pohon mangga terus."

Keheningan canggung menyelimuti kami selama beberapa detik. Hanya suara desis angin dari speakernya yang terdengar.

"Lan, kamu sehat kan di sana?" tanyaku memecah sepi.

"Sehat. Cuma... dingin, Ra. Dingin banget," suaranya merendah. Dia mendekatkan wajahnya ke kamera. "Ternyata bener kata kamu. Nggak ada yang bisa benerin perasaan aku kalau lagi berantakan di sini, karena 'tukang servisnya' ketinggalan di Jakarta."

Jantungku mencelos. "Maksudnya?"

"Nggak apa-apa. Tidur sana, sudah malam," ucapnya cepat, kembali memasang topeng cerianya. "Jangan mimpiin cowok pameran seni itu ya. Mimpiin aku aja, biayanya lebih murah."

Panggilan terputus. Aku menatap layar hitam itu dengan perasaan campur aduk. Arlan cemburu? Atau dia hanya sedang kesepian? Di bawah sinar lampu kamar yang temaram, aku menyadari bahwa jarak sepuluh ribu kilometer ini mulai mengikis keberanian kami untuk sekadar jujur.

"Ra, aku baru beli jaket tebal. Warnanya biru, persis seperti warna kesukaanmu," suara Arlan di telepon terdengar sedikit serak. Mungkin karena flu, atau mungkin karena kelelahan mengejar tenggat proyek di Munich.

"Bagus, Lan. Biar kamu nggak kedinginan terus," jawabku sambil mengaduk teh yang sudah mendingin.

Percakapan kami mulai berubah. Dulu, kami bisa membahas hal konyol seperti kenapa kucing takut timun selama berjam-jam. Sekarang, obrolan kami lebih banyak berisi "Sudah makan?", "Bagaimana kerjaan?", dan "Cuaca di sana bagaimana?". Ada sekat transparan yang mulai tumbuh di antara kami—sekat bernama jarak.

Suatu sore, aku pulang kerja dan menemukan Ibu sedang membersihkan area bawah pohon mangga. Daun-daun kering menumpuk, dan kursi kayu tempat Arlan biasa duduk terlihat kusam.

"Ra, tadi ibunya Arlan mampir," kata Ibu tanpa menoleh. "Katanya Arlan mungkin nggak pulang saat lebaran nanti. Proyeknya lagi padat-padatnya."

Hatiku mencelos. Lebaran tanpa Arlan? Itu artinya tidak ada yang akan menghabiskan opor ayamku, tidak ada yang akan mengejek bajuku yang terlalu mencolok, dan tidak ada yang akan mengajakku keliling komplek sambil pamer motor baru.

Malamnya, aku mengirim pesan singkat: "Lan, beneran nggak pulang lebaran?"

Lama. Centang biru, tapi tidak ada balasan. Satu jam, dua jam.

Baru pukul dua pagi ponselku bergetar. Bukannya pesan teks, Arlan justru mengirimkan rekaman suara (voice note). Aku mendekatkan ponsel ke telinga, suasana kamarku sunyi senyap.

"Ra... maaf ya. Aku pengen banget pulang. Setiap hari di sini rasanya pengen lari ke bandara. Tapi aku harus selesaikan ini. Aku lagi nabung, Ra. Buat sesuatu yang besar. Buat kita. Tolong... jangan capek nunggu aku, ya?"

Suaranya terdengar sangat tulus, bahkan ada getaran emosi yang tak mampu ia sembunyikan. Itu pertama kalinya Arlan menggunakan kata "kita" dalam konteks yang begitu serius.

Aku meringkuk di bawah selimut, memutar rekaman itu berulang-ulang. Di satu sisi, aku lega dia masih memikirkanku. Di sisi lain, ketidakpastian ini membunuhku perlahan. Aku mulai bertanya-tanya, apakah "kita" yang dia maksud sama dengan "kita" yang ada di imajinasiku?

Keesokan harinya, Pandu datang ke mejaku membawa sekotak cokelat mahal. "Ra, kalau lebaran nanti kamu nggak ada acara, keluargaku undang kamu makan malam. Mau?"

Aku menatap cokelat itu, lalu menatap kalung daun mangga di leherku. Dunia nyata menawarkan kepastian di depan mata, sementara dunia mimpiku sedang berjuang di negeri orang yang membeku.

1
Tamirah Spd
Kenapa Arlan menyalahkan Raia dgn laki laki lain selama diluar negeri gak ada komunikasi dgn alasan sibuk kuliah.Tiba tiba jadi atasan dan tiba tiba dia bantu kesembuhan Ayah Raia dan Pendidikan, dimana alur cerita nya Thor....????
Heni Ratna
Hubungan Raia dan Bagus,apa kabar?semakin penasaran dengan konfliknya
Tamirah Spd
Cerita nya masih datar belummm ada konflik lanjut Thor.
Tamirah Spd
Sahabat tapi mesra lanjut Thor belum tahu alur cerita nya masih mukadimah.
Ganendra Dimitri
kok q jadi tambah bingung ma ceritanya thor
Heni Ratna: anda tidak sendirian,,,sy jg demikian lini masa nya yg agak bias,,,tapi tetap penasaran dengan kelanjutan konfliknya
total 3 replies
Alfina Rosa
Seperti.a cerita.a bagus, aku terusin baca.a ea thour...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!