Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Memasuki bulan-bulan pertama perkuliahan, kehadiran Regas Adhitama dalam hidup Azzalia bukan lagi sebuah kebetulan yang bisa ia abaikan. Regas seolah menjadi "penduduk tetap" di Fakultas Sastra. Jika tidak di kantin, pria itu pasti duduk di pojok perpustakaan yang paling dekat dengan rak buku-buku puisi—tempat favorit Lia.
Awalnya, Lia merasa risih. Namun, Regas tidak pernah mengganggu. Ia hanya duduk di sana, kadang dengan laptop yang penuh dengan diagram mesin yang rumit, atau buku tebal kalkulus yang membuat dahi Lia berkerut hanya dengan melihat sampulnya.
Satu sore di bulan November, hujan turun sangat deras. Lia terjebak di teras perpustakaan, menatap langit yang menggelap dengan cemas. Ia lupa membawa payung, dan ia punya janji untuk mengambil buku pinjaman di toko buku bekas sebelum tutup.
"Hujan di Fakultas Sastra kayaknya lebih puitis ya, Lia?"
Suara itu muncul tepat di sampingnya. Regas berdiri di sana, melipat tangannya di dada sambil menatap rintik hujan.
"Hujan di mana-mana sama saja, Kak. Sama-sama basah," jawab Lia datar, meski jantungnya sedikit berdegup kencang karena kedekatan mereka.
Regas tertawa. "Tapi bagi orang sastra, ini 'air mata langit' kan? Atau 'kerinduan yang jatuh'?"
Lia menoleh, ingin membalas candaan itu, namun kalimatnya tertahan saat Regas menyodorkan sebuah payung lipat berwarna biru tua ke arahnya.
"Pakai ini. Kamu ada janji di toko buku bekas kan?"
Lia tertegun. "Kakak tahu dari mana?"
"Aku nggak sengaja dengar kamu bicara sama temanmu di kantin tadi siang," Regas mengangkat bahu santai. "Dan ini, untukmu."
Ia menyodorkan sebuah kotak kecil. Saat Lia membukanya, aroma cokelat yang manis menyeruak. Di dalamnya ada cokelat panas dalam tumbler dan sebatang cokelat kesukaan Lia yang sudah jarang ditemukan di pasaran.
"Aku tahu kamu nggak suka kopi kalau lagi hujan, bikin kamu pusing katanya. Jadi, cokelat panas mungkin lebih baik," ujar Regas lembut.
Lia menatap cokelat itu, lalu menatap Regas. Bagaimana bisa pria ini tahu hal sekecil itu? Hal yang bahkan Lia sendiri jarang bicarakan. Perhatian-perhatian kecil Regas mulai terasa seperti selimut hangat di tengah dinginnya hujan. Regas tidak pernah datang dengan hadiah mewah atau mobil mahal orang tuanya; ia datang dengan hal-hal yang benar-benar Lia butuhkan di saat yang tepat.
"Kenapa Kakak lakukan ini?" tanya Lia pelan.
Regas menatap mata Lia dalam-dalam. Tidak ada lagi binar jenaka, yang ada hanyalah ketulusan yang telanjang. "Karena memperhatikanmu itu menyenangkan, Lia. Melihatmu tersenyum karena hal-hal kecil... itu jauh lebih bermakna buatku daripada nilai A di matakuliah termodinamika."
Wajah Lia memanas. Untuk pertama kalinya, ia tidak menepis perhatian itu. Ia menerima payung dan cokelatnya, membiarkan kehangatan itu mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang selama ini ia tutup rapat.
Semester satu berakhir dengan tawa-tawa kecil di koridor kampus, dan semester dua dimulai dengan perasaan yang mulai memiliki nama. Namun, di tengah kehangatan itu, Lia lupa bahwa Regas bukan hanya seorang mahasiswa teknik—ia adalah seorang pewaris yang dunianya sangat berbeda dengan dunia sastra Lia yang sederhana.
Lia tidak pernah menyangka bahwa semester duanya akan dipenuhi oleh warna-warna yang sebelumnya hanya ia baca dalam novel roman. Regas tidak lagi sekadar "penghuni tetap" di kantin Sastra, tapi sudah menjadi bagian dari rutinitas harian Lia.
Pagi-pagi sekali, saat Lia baru tiba di halte kampus, sering kali Regas sudah berdiri di sana dengan dua kotak susu rasa stroberi—kesukaan Lia yang baru Regas ketahui dari hasil pengamatannya yang teliti.
"Semester dua mata kuliahnya makin berat, ya? Jangan lupa sarapan, Azzalia," ujar Regas sambil menyerahkan kotak susu itu dengan senyum khasnya.
Lia menerima pemberian itu dengan perasaan hangat yang kini tak lagi ia sangkal. "Kak Regas sendiri? Bukannya Kakak harusnya fokus di lab mesin? Kudengar angkatan Kakak sudah mulai sibuk mengurus judul skripsi."
Regas terkekeh, lalu mereka berjalan bersisian menuju gedung kuliah masing-masing. "Lab itu membosankan, Lia. Isinya cuma oli dan logam. Melihatmu sebentar sebelum aku 'terkurung' di sana jauh lebih membantu otakku tetap waras."
Kedekatan mereka semakin dalam saat mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan. Kontras yang menarik terlihat di atas meja kayu panjang itu; Lia dengan tumpukan buku sastra klasik yang penuh dengan coretan puitis, dan Regas dengan kertas kalkir berukuran besar yang dipenuhi garis-garis teknik yang presisi.
Ada satu momen yang tak pernah Lia lupakan. Saat itu, Lia tertidur di atas tumpukan buku puisinya karena kelelahan mengerjakan tugas analisis gaya bahasa. Ketika ia terbangun, ia mendapati jaket himpunan Teknik milik Regas sudah tersampir di bahunya, melindunginya dari dinginnya AC perpustakaan. Di sampingnya, Regas masih berkutat dengan penggaris bajanya, bekerja dalam diam agar tidak membangunkannya.
"Sudah bangun?" bisik Regas tanpa mengalihkan pandangan dari gambarnya. "Tidumu nyenyak sekali. Kamu bicara dalam tidur tadi, tapi bahasa sastra semua, aku nggak paham."
Lia merona hebat, segera merapatkan jaket Regas. Aroma parfum Regas yang menenangkan seolah memeluknya. "Maaf, Kak... aku ketiduran."
"Nggak apa-apa," Regas akhirnya menatapnya, ada binar kelelahan namun penuh kasih di matanya. "Lia, semester depan aku mulai sidang. Mungkin aku akan lebih sibuk, tapi aku janji, aku nggak akan hilang. Aku ingin kamu ada di sana, saat aku pakai toga nanti."
Lia mengangguk pelan, tanpa menyadari bahwa janji itu adalah awal dari persimpangan jalan yang berat. Regas yang mulai memasuki semester akhir berarti Regas yang akan segera kembali ke dunia "aslinya"—dunia bisnis keluarga Adhitama yang kaku dan penuh tuntutan.
Satu sore, saat mereka duduk di taman kampus, Regas tiba-tiba bertanya, "Lia, menurutmu, apa orang tuamu akan menyukaiku?"
Lia terdiam sejenak. "Ayah dan Ibu sudah lama tiada, Kak. Aku hidup sendiri dengan beasiswa. Tapi kalau mereka masih ada, mereka pasti akan heran kenapa ada pangeran teknik yang mau berteman dengan mahasiswi sastra sepertiku."
Regas menggenggam tangan Lia, pertama kalinya ia melakukan itu. "Bukan berteman, Lia. Tapi mencintai."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Lia. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada rasa takut yang mulai merayap. Ia mulai sadar bahwa tembok yang memisahkan mereka bukan hanya jarak antar fakultas, melainkan tembok tak kasat mata bernama status sosial yang selama ini mereka abaikan di balik tawa di kantin Sastra.