NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 4

Mira mengatur napasnya sebelum melangkah masuk ke ruangan luas di lantai paling atas itu. Pintu jati besar itu tertutup otomatis, mengunci kebisingan dunia luar. Romano sudah menunggu di balik meja kerjanya, namun ia tidak sedang duduk. Ia berdiri menghadap jendela kaca besar, membelakangi Mira.

"Duduklah, Mira," ucapnya tanpa menoleh.

Mira berjalan mendekat, namun ia tidak duduk. Ia meletakkan tasnya di kursi dan berdiri dengan tegak. "Dokumen apa yang Anda janjikan? Saya ingin segera mulai."

Romano berbalik. Di tangannya terdapat sebuah map tebal berwarna emas dengan logo Nusantara Group. Ia melemparkannya ke atas meja hingga meluncur tepat ke depan Mira.

"Itu adalah rencana akuisisi lahan dan cetak biru untuk jaringan restoran modern. Aku sudah mengganti namanya menjadi 'Berdikari: Dapur Ma'. Aku ingin kau yang memegang kendali penuh sebagai Direktur Utama di bawah pengawasanku langsung," ujar Romano dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Mira membuka map itu. Matanya membelalak melihat angka investasi yang tertera. "Ini terlalu besar. Anda ingin membangun sepuluh cabang dalam satu tahun? Itu mustahil bagi pemula seperti saya."

"Tidak ada yang mustahil dengan uangku dan otakmu, Mira," Romano melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Mira bisa merasakan aura dominasinya kembali menyelimuti ruangan. "Tapi aku punya syarat tambahan. Karena keterlibatan Arkan tadi... aku tidak ingin kau berkomunikasi dengan pria itu lagi. Secara hukum, urusan hutangmu sudah selesai. Dia tidak punya alasan untuk mencarimu."

Mira mendongak, matanya berkilat marah. "Arkan adalah satu-satunya orang yang tulus membantu saya saat keluarga saya di titik terendah. Anda tidak bisa mengatur siapa yang boleh saya ajak bicara!"

"Aku bisa, dan aku akan melakukannya," bisik Romano, kedua tangannya kini bertumpu di meja, mengurung Mira di antara tubuhnya dan meja kerja. "Aku telah memberikanmu kunci kerajaan ini. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kesetiaan total. Kau tidak bisa membangun masa depan denganku jika hatimu masih tertinggal di masa lalu dengan pengacara kelas teri itu."

Mira tertawa getir. "Kesetiaan atau kepemilikan, Romano? Anda tidak mengejar cinta saya. Anda mengejar kemenangan atas hidup saya."

Romano terdiam sejenak. Tangannya bergerak pelan, menyelipkan anak rambut Mira ke belakang telinganya. Sentuhannya kali ini terasa lebih hangat, hampir seperti sebuah kerentanan yang tersembunyi.

"Mungkin di awal memang begitu," aku Romano dengan suara yang sangat rendah. "Tapi melihatmu berdiri membelaku di lobi tadi... itu membuatku sadar satu hal. Aku tidak hanya ingin memilikimu, Mira. Aku ingin kau menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sampingku saat aku berada di puncak. Dan aku tidak suka berbagi tempat itu dengan siapa pun."

Wajah Romano perlahan mendekat. Mira bisa merasakan jantungnya berdegup kencang—campuran antara benci, takut, dan sesuatu yang asing yang mulai merayap di hatinya.

"Sekarang pilih," bisik Romano, bibirnya hanya beberapa inci dari bibir Mira. "Pelajari dokumen itu dan jadilah ratuku, atau hubungi pengacara itu dan lihat bagaimana aku menghancurkan kariernya dalam satu malam."

Mira terdiam, merasakan hembusan napas Romano yang hangat di wajahnya. Ruangan itu mendadak terasa sempit, seolah oksigen di sana telah dikuasai sepenuhnya oleh pria di hadapannya. Mira tahu, Romano tidak sedang menggertak; ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan hidup seseorang semudah membalikkan telapak tangan.

Mira menarik napas panjang, lalu perlahan ia meletakkan tangannya di dada Romano—bukan untuk memeluk, melainkan untuk memberikan jarak.

"Anda pria yang sangat percaya diri, Romano," ucap Mira dengan nada yang lebih tenang, hampir menyerupai bisikan. "Anda memberikan saya kunci kerajaan, tapi Anda juga ingin memasang rantai di leher saya. Apa Anda tidak sadar? Seorang ratu yang tidak memiliki kebebasan hanyalah pajangan. Dan jika Anda menghancurkan Arkan, Anda hanya akan membuktikan bahwa Anda memang monster yang selama ini saya takuti."

Romano tidak bergerak. Matanya yang tajam mengunci mata Mira, mencoba mencari celah keraguan. "Aku lebih baik menjadi monster yang memilikimu, daripada menjadi pria baik yang kehilanganmu, Mira."

"Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan baru," tantang Mira. Ia memberanikan diri menatap Romano tanpa berkedip. "Saya akan mempelajari dokumen ini. Saya akan membangun 'Berdikari: Dapur Ma' hingga menjadi unit bisnis tersukses di Nusantara Group. Saya tidak akan menghubungi Arkan selama proses ini berjalan."

Romano menyipitkan mata. "Ada 'tapi' di balik ucapanmu."

"Tapi," lanjut Mira tegas, "Anda harus berhenti mengawasi saya seperti tahanan. Tarik pengawal dari depan kamar saya. Biarkan saya pergi ke kantor dan pulang ke rumah orang tua saya tanpa laporan sidik jari Anda setiap saat. Jika saya terbukti membawa hasil dalam tiga bulan pertama, Anda harus membiarkan saya menangani hutang keluarga saya dengan hasil keringat saya sendiri, bukan sebagai sedekah dari Anda."

Romano terdiam cukup lama. Keheningan di ruangan itu terasa mencekam. Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh, memberikan ruang bagi Mira untuk bernapas, lalu ia bersandar di meja kerjanya sambil melipat tangan di dada.

"Tiga bulan?" tanya Romano. "Itu waktu yang sangat singkat untuk membangun pondasi bisnis kuliner berskala nasional."

"Bagi asisten pilihan Anda, tiga bulan sudah lebih dari cukup," balas Mira dengan senyum tipis yang penuh percaya diri.

Romano menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa bangga, namun juga ada keinginan untuk terus mendominasi. Akhirnya, ia mengulurkan tangannya.

"Baik. Tiga bulan. Jika kau gagal, kau harus berhenti melawan dan menerima bahwa kau adalah milikku sepenuhnya, tanpa syarat, tanpa protes. Tapi jika kau berhasil..." Romano menjeda kalimatnya, "...aku akan memberikan kebebasan yang kau minta, meskipun aku ragu kau akan tetap menginginkan kebebasan itu setelah merasakan rasanya berada di puncak bersamaku."

Mira menyambut uluran tangan itu. Jabat tangan mereka terasa seperti sebuah pakta peperangan sekaligus janji yang berbahaya.

"Deal, Romano."

Romano menarik tangan Mira sedikit lebih kuat, membawa wajah gadis itu kembali mendekat. "Dan satu lagi... jangan pernah menepis tanganku di depan pria lain lagi. Aku benci terlihat lemah di depan mangsaku."

Mira tidak menjawab, ia hanya menarik tangannya kembali dan mengambil map emas itu. Pengejaran ini belum berakhir, namun kini Mira tidak lagi berlari—ia mulai belajar bagaimana cara berbalik dan memimpin pengejaran tersebut.

Mira membawa map emas itu keluar dari ruangan Romano dengan langkah mantap, meski jantungnya masih berpacu. Ia tahu bahwa mulai detik ini, ia bukan lagi sekadar gadis yang berhutang; ia adalah pemain di papan catur yang dibangun oleh Romano Kusuma.

Konfrontasi di Rumah Tua

Malam itu, untuk pertama kalinya, Romano menepati janjinya. Tidak ada mobil mewah yang mengantar, hanya taksi daring yang membawa Mira kembali ke gang sempit menuju rumah orang tuanya. Namun, saat ia melangkah masuk, suasana rumah yang biasanya tenang terasa mencekam.

Ayah Mira, Pak Surya, sedang duduk di kursi kayu tua dengan wajah pucat. Di atas meja, terdapat sebuah tas koper kecil berisi uang tunai dan dokumen pelunasan hutang yang dikirim oleh anak buah Romano sore tadi.

"Mira... apa yang kau lakukan?" suara Ayahnya bergetar. "Orang-orang berbaju hitam itu datang. Mereka bilang hutang kita lunas. Mereka bilang kau sekarang bekerja untuk 'Grup Nusantara'. Apa ini benar?"

Mira berlutut di depan ayahnya, menggenggam tangan pria tua yang sudah terlihat sangat lelah itu. "Ini benar, Yah. Mira dapat pekerjaan bagus. Mira akan membangun kembali 'Dapur Ma'. Romano Kusuma... dia yang membantu kita."

"Romano Kusuma?" Ayah Mira tersentak, matanya membelalak ketakutan. "Nama itu... Mira, kau tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Mereka bukan penolong! Mereka adalah orang yang—"

Kalimat Pak Surya terputus oleh suara ketukan pintu yang sangat keras. Mira berdiri dan membukanya, berharap itu bukan lintah darat lagi. Namun, yang berdiri di sana adalah Arkan.

Siasat Sang Pengacara

"Mira, syukurlah kau di sini," Arkan masuk tanpa diundang, wajahnya penuh keringat. "Aku baru saja menyelidiki sesuatu. Romano Kusuma tidak hanya melunasi hutangmu. Dia membeli seluruh area tanah di gang ini. Dia berniat menggusur rumah ini untuk proyek 'Berdikari' yang kau ceritakan di lobi tadi!"

Mira tertegun. Map emas di tangannya terasa sangat berat. "Apa maksudmu, Arkan? Dia bilang ini proyek kuliner, bukan penggusuran."

"Itu strateginya, Mira!" seru Arkan sambil menunjukkan beberapa dokumen dari ponselnya. "Dia ingin kau yang memimpin proyek itu agar warga di sini tidak melawan saat digusur. Dia menjadikanmu wajah dari kehancuran lingkunganmu sendiri!"

Mira merasakan dunianya berputar. Apakah ini alasan Romano memberinya kekuasaan? Agar ia secara tidak sadar menjadi senjata untuk menghancurkan masa lalunya sendiri?

Kembali ke Sang Predator

Tanpa pikir panjang, Mira kembali ke apartemen Romano malam itu juga. Ia masuk dengan napas memburu, membanting map emas itu ke meja ruang tamu tempat Romano sedang duduk santai sambil menikmati segelas wiski.

"Kau pembohong!" teriak Mira.

Romano hanya menoleh perlahan, sedikit pun tidak tampak terkejut. Ia berdiri, berjalan mendekati Mira dengan ketenangan yang mematikan.

"Aku tidak pernah berbohong, Mira," ucap Romano lembut. "Aku bilang aku ingin kau membangun kembali 'Dapur Ma'. Dan tempat terbaik untuk membangun mercusuar adalah di atas puing-puing yang sudah lama rapuh. Apa kau lebih suka melihat rumahmu rubuh karena usia, atau melihatnya bertransformasi menjadi kerajaan bisnis di bawah namamu?"

"Itu rumah saya, Romano! Itu sejarah keluarga saya!"

Romano kini sudah berada tepat di depan Mira, mengunci pergerakannya ke dinding. Ia meletakkan satu tangannya di samping kepala Mira, menatapnya dengan intensitas yang meluap.

"Sejarah adalah untuk dipelajari, bukan untuk diratapi. Kau ingin menjadi ratu, kan? Seorang ratu harus berani mengorbankan bidak kecil untuk memenangkan perang besar." Romano membelai pipi Mira yang memerah karena marah. "Pilihannya tetap sama, Mira. Menjadi bagian dari masa depan bersamaku, atau hancur bersama kenangan di gang sempit itu. Mana yang kau pilih?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!