NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Meminjam Pedang Es untuk Memotong Sayur

Jika ada suara yang bisa mendeskripsikan keheningan yang absolut, itu adalah bunyi setetes air kaldu terakhir yang membeku menjadi es di ujung wajan besi.

Tuk. Kres.

Bunyi pelan itu bergema di sudut Dapur Luar yang kini terasa seperti gua gletser di Kutub Utara. Ratusan murid pelayan yang masih bersujud menahan napas mereka serempak, paru-paru mereka serasa ditusuk oleh ribuan jarum es tak kasat mata. Tidak ada yang berani menggerakkan satu otot pun. Bahkan Zhao Er, yang berjongkok paling dekat dengan bangku Lin Fan, telah memejamkan mata rapat-rapat, memeluk lututnya sendiri yang gemetar hebat hingga gigi-giginya beradu menghasilkan bunyi tak-tak-tak yang menyedihkan.

Di tengah lautan keputusasaan dan teror itu, Lin Fan masih mempertahankan postur tubuhnya yang merosot, sikunya bertumpu pada paha, dan sebelah tangannya menopang dagu. Matanya yang setengah terpejam menatap polos ke arah Murid Inti di depannya. Embusan napas Lin Fan keluar dalam bentuk kepulan asap putih yang tebal, namun bahunya sama sekali tidak menegang menahan dingin.

Mata biru es Su Qingxue, yang sebelumnya sedatar dan sekosong cermin perak, kini menampakkan retakan emosi. Ujung-ujung bulu matanya yang lentik telah dihiasi kristal es mikroskopis. Tatapannya yang tajam bak pedang pusaka terkunci pada wajah Lin Fan. Di dalam benaknya, badai kebingungan dan kemarahan mulai bergolak, namun wajah pualamnya hanya menunjukkan perubahan yang sangat minim: rahangnya mengeras, dan bibir bawahnya menipis menjadi satu garis lurus yang kejam.

Seorang murid pelayan. Seorang sampah di Alam Pemurnian Tubuh Tingkat 2. Duduk bertopang dagu di hadapannya, memanggilnya 'Nona yang membuat lantai licin', dan mengeluhkan suara bising?

Jari-jari Su Qingxue yang ramping dan seputih salju bergerak inci demi inci mendekati gagang pedang giok di pinggangnya. Setiap milimeter pergerakan tangannya menyebabkan suhu ruangan anjlok satu derajat lebih rendah. Lapisan es di lantai batu mulai merambat naik ke dinding kayu dapur, membekukan lumut dan noda minyak menjadi karya seni es yang mematikan.

"Kau..." Suara Su Qingxue akhirnya keluar, lebih pelan dari sebelumnya, namun getarannya mampu membuat tong-tong kayu di kejauhan retak perlahan. "Apakah kau baru saja menyuruhku memotong daging ini sendiri, Pelayan?"

Kepala Koki Wang, yang dahinya masih menempel di lantai es yang bernoda darahnya sendiri, merintih tertahan. Lemak di punggungnya bergetar liar. Dia mencoba membuka mulut untuk membela diri atau setidaknya memohon agar kemarahan sang Murid Inti tidak meratakan seluruh bangunan dapur, namun pita suaranya telah membeku oleh teror murni.

Lin Fan berkedip lambat. Satu kali. Dua kali. Dia memutar lehernya sedikit hingga terdengar bunyi tulang berderak pelan yang memecah ketegangan.

"Bukan menyuruh, Nona," ralat Lin Fan dengan nada suara yang membosankan, seolah dia sedang menjelaskan bahwa langit itu biru kepada seorang anak kecil yang keras kepala. Tangannya yang bebas bergerak lambat untuk menggaruk pelipisnya. "Itu disebut 'saran yang efisien'. Kau membawa pedang. Pedang itu panjang, tajam, dan memancarkan aura es yang bisa membekukan darah babi hutan dari jarak sepuluh kaki. Sementara di sini..." Lin Fan menunjuk ke arah meja jagal dengan dagunya yang tidak beranjak dari telapak tangannya. "...kami hanya memiliki pisau daging berkarat yang bahkan menangis saat disuruh memotong tulang rawan."

Cengkeraman Su Qingxue pada sarung pedangnya mengerat hingga ruas-ruas jarinya memutih pasi. Embusan napasnya menjadi sedikit lebih cepat, dadanya naik turun dengan ritme yang tertahan. Menarik pedang pusaka sekte hanya untuk memotong urat naga bumi di dapur pelayan? Itu adalah penghinaan terbesar bagi seorang kultivator pedang!

Namun, sebelum niat membunuh Su Qingxue meledak dan mengubah Lin Fan menjadi patung es abadi, suara mekanis yang dingin berdenting di dalam tengkorak Lin Fan.

[Ding! Terdeteksi niat membunuh yang tertahan dari target 'Su Qingxue'.]

[Misi Harian Keempat Diperbarui: Mengapa mengeluarkan keringat jika pelanggan membawa pisaunya sendiri? Pandu Murid Inti Su Qingxue untuk memotong Urat Naga Tanah menggunakan pedangnya sendiri. Syarat mutlak: Host dilarang keras berdiri atau beranjak dari bangku.]

[Hadiah Misi: 'Mata Persepsi Malas' (Mampu melihat titik lemah energi tanpa perlu mengalirkan Qi ke mata), Pengalaman Kultivasi +300]

Mendengar hadiah sistem, sudut bibir Lin Fan yang tersembunyi di balik tangannya sedikit melengkung ke atas. Mata Persepsi Malas? Bagus. Mulai sekarang aku bahkan tidak perlu melotot untuk mencari tahu di mana harus memukul orang.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat lebih lambat dan lebih berat, Lin Fan menggeser pantatnya di atas bangku kayu, mencari posisi yang lebih pas agar tulang ekornya tidak pegal. Dia lalu menatap lurus ke dalam lautan es di mata Su Qingxue.

"Selain itu," lanjut Lin Fan, suaranya kini sedikit lebih serak, "aku perhatikan sejak kau melangkah masuk, bahu kananmu sedikit lebih kaku daripada bahu kirimu. Setiap kali kau bernapas, ujung jarimu yang dekat dengan sarung pedang bergetar dengan ritme yang tidak alami. Meridian es-mu di dekat jantung sedang bergejolak menolak kendalimu, bukan?"

Udara di Dapur Luar mendadak berhenti mengalir.

Mata Su Qingxue membelalak sempurna untuk pertama kalinya. Retakan pada topeng ketidakpeduliannya kini pecah berkeping-keping. Jantungnya berdegup kencang hingga menabrak tulang rusuknya. Bagaimana mungkin? Bahkan Tetua Puncak pun harus menyentuh nadinya untuk mengetahui kondisi penyumbatan meridiannya yang kritis! Bagaimana bisa seorang pelayan dapur rendahan dengan aura Tingkat 2 melihatnya hanya dengan mata telanjang dari atas bangku?!

Faktanya, Lin Fan tidak menggunakan teknik dewa apa pun. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah budak korporat yang sering menghabiskan waktu berjam-jam menganalisis postur tubuh bos dan kliennya untuk mengetahui suasana hati mereka. Ketegangan pada bahu, ritme napas yang ditahan, dan kedipan mata yang tidak sinkron—itu adalah tanda-tanda kelelahan ekstrem dan rasa sakit yang disembunyikan. Ditambah dengan fakta bahwa dia sedang mencari Urat Naga Tanah (bahan obat penstabil energi), tidak butuh seorang jenius kultivasi untuk menebak kondisinya.

Su Qingxue mundur setengah langkah tanpa sadar. Ujung sepatu bot kulit rusanya menggores lantai es, menghasilkan bunyi derit yang tajam. Tangannya yang tadinya menempel di dekat gagang pedang kini jatuh ke sisi tubuhnya. Kewaspadaan tingkat tinggi memancar dari setiap pori-pori kulitnya.

"Siapa kau sebenarnya?" bisik Su Qingxue, nadanya kini bercampur dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. "Mata-mata dari sekte aliran hitam? Atau iblis tua yang menyembunyikan kultivasi?"

Lin Fan menghela napas panjang hingga punggungnya melengkung ke depan. Dia meraih sebatang sumpit kayu yang tergeletak di dekatnya dengan gerakan loyo.

"Aku Lin Fan. Hobiku tidur, cita-citaku rebahan sampai tua, dan musuh terbesarku adalah lembur," jawab Lin Fan datar, memutar-mutar sumpit itu di antara dua jarinya. Dia mengarahkan ujung sumpit kayu yang murah itu ke arah Urat Naga Tanah di dalam kotak cendana. "Sekarang, berhentilah membuang waktu. Jika meridianmu tersumbat, kau tidak punya banyak waktu sebelum energi es itu membekukan jantungmu sendiri. Urat Naga Tanah itu adalah penawarnya, tapi ia mengandung energi bumi yang sangat padat. Jika kau memaksakan diri memakannya tanpa diiris tipis, lambungmu akan meledak."

Su Qingxue menggigit bibir dalamnya. Fakta bahwa pelayan ini mengetahui segalanya membuatnya merasa ditelanjangi, tetapi keputusasaannya lebih besar daripada harga dirinya. Gadis itu menutup matanya sesaat, mengatur napasnya yang mulai memburu, dan ketika dia membukanya, sorot matanya kembali sedingin gletser.

"Bahkan jika aku bersedia menggunakan pedangku..." Su Qingxue menatap daging berdenyut di dalam kotak, nada suaranya dipenuhi frustrasi yang tertahan. "...urat spiritual di dalam daging itu sekeras baja hitam. Jika aku menggunakan tenaga yang cukup kuat untuk membelahnya, aura pedang esku akan menghancurkan khasiat obat di dalamnya. Memotongnya tanpa merusak uratnya membutuhkan kendali Qi yang saat ini tidak kumiliki."

"Itu karena kau terlalu kaku," potong Lin Fan tanpa ampun, menyandarkan kepalanya ke dinding kayu di belakang bangku. Dia menunjuk daging itu dengan sumpitnya. "Kau melihatnya sebagai benda mati yang harus ditaklukkan dengan kekerasan. Energi bumi mengalir seperti sungai yang malas. Jangan membelah sungainya, tebaslah di antara celah airnya."

Su Qingxue tertegun. Tebas di antara celah airnya? Konsep macam apa itu?

Lin Fan tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dengan sisa-sisa energi pasif dari Pil Pengumpul Qi yang masih mengendap di Dantian-nya, Lin Fan menjentikkan jarinya ke udara. Sebuah paku Qi yang sangat kecil, sekecil jarum jahit dan sama sekali tidak memiliki daya hancur, meluncur dari ujung jarinya dan menghantam bagian bawah kotak cendana hitam itu.

Tak!

Hantaman kecil itu tidak merusak kotak, tetapi menciptakan getaran ke atas yang membuat potongan Urat Naga Tanah seberat puluhan pon itu terlempar ke udara, melayang setinggi dada Su Qingxue.

"Tarik pedangmu!" perintah Lin Fan tiba-tiba, suaranya tetap tidak terlalu keras, namun mengandung ritme aneh yang memaksa tubuh Su Qingxue bereaksi lebih cepat dari otaknya.

Mata biru es gadis itu menyipit. Insting bertarungnya yang tertanam selama bertahun-tahun di Puncak Teratai Salju mengambil alih.

Sring!!

Suara logam yang ditarik dari sarung giok terdengar seperti nyanyian naga es yang membangkitkan badai. Kilatan cahaya perak yang menyilaukan meledak di tengah dapur yang remang-remang. Bilah pedang ramping yang memancarkan kabut beku itu membelah udara, siap untuk menghancurkan Urat Naga Tanah yang melayang di udara.

"Tahan niat membunuhmu! Kosongkan pikiranmu! Jadilah semalas mungkin!" seru Lin Fan dari atas bangkunya, masih dalam posisi duduk santai, namun matanya menatap tajam ke arah daging yang melayang. "Jangan memotong menggunakan otot bahumu! Biarkan berat pedangmu yang bekerja!"

Su Qingxue mengertakkan gigi. Menyuruhnya menjadi malas di tengah eksekusi jurus pedang adalah penistaan terhadap seni bela diri. Namun, anehnya, kata-kata Lin Fan bergema dengan ritme energi di sekitarnya. Saat pedangnya hendak menghantam daging yang alot itu, Su Qingxue secara refleks melonggarkan cengkeramannya. Dia mengendurkan bahu kanannya yang tegang, menarik kembali sedikit Qi esnya, dan membiarkan pedang itu meluncur hanya dengan mengandalkan momentum dan ketajamannya sendiri.

"Kiri, tiga inci! Ada celah urat di sana!" pandu Lin Fan, mengetukkan sumpit kayunya ke pahanya sendiri dengan irama yang menenangkan.

Mata Su Qingxue menangkap kilatan cahaya samar pada sisik daging naga itu. Mengikuti arahan Lin Fan, dia memutar pergelangan tangannya. Pedang perak itu meliuk dengan keanggunan yang melankolis, mengiris ruang kosong di udara dan menyentuh permukaan daging tanpa perlawanan berarti.

Srettt...

Tidak ada suara benturan keras. Tidak ada percikan api yang seharusnya terjadi ketika pedang menghantam benda sekeras baja. Yang terdengar hanyalah suara halus sutra yang dirobek dengan pelan.

Daging Urat Naga Tanah itu terbelah dengan mulus, menyisakan irisan tipis transparan yang melayang ringan di udara beku.

Mata Su Qingxue melebar. Napasnya tertahan. Dia baru saja mengiris bahan sekeras baja tanpa mengerahkan setetes pun tenaga inti! Sensasi pedangnya saat menembus celah energi di dalam daging itu terasa begitu alami, begitu ringan, seolah-olah daging itu sendiri yang menyerahkan diri untuk dipotong.

"Jangan berhenti. Daging itu belum jatuh. Sembilan puluh derajat ke atas, biarkan gravitasi membantumu," gumam Lin Fan kembali menguap, tangannya kembali menopang dagu. "Ingat, kau bukan sedang bertarung. Kau sedang menjemur pakaian."

Dipandu oleh suara monoton yang sangat bertentangan dengan intensitas situasi, tubuh Su Qingxue bergerak bagai penari di atas es. Pedang giok peraknya berubah menjadi kilatan cahaya putih yang berputar, mengayun, dan membelah udara di sekitar Urat Naga Tanah yang perlahan jatuh ke bawah.

Sret! Sret! Sret! Sret!

Garis-garis cahaya pedang saling bersilangan di udara, menciptakan sangkar perak yang indah namun mematikan. Su Qingxue tidak lagi menggunakan matanya untuk melihat, melainkan mengikuti ritme santai dari ketukan sumpit Lin Fan di atas paha. Setiap ketukan mewakili satu celah urat energi. Setiap ketukan adalah satu ayunan pedang yang tanpa beban, tanpa paksaan, dan sepenuhnya "malas".

Dalam waktu kurang dari tiga kali tarikan napas, Urat Naga Tanah itu mendarat kembali ke dalam kotak cendana.

Sring.

Dengan satu putaran pergelangan tangan yang elegan, Su Qingxue menyarungkan kembali pedang gioknya. Ruangan kembali diselimuti keheningan, hanya tersisa suara napas gadis itu yang sedikit terengah-engah, bukan karena kelelahan, melainkan karena euforia dari pencerahan seni pedang yang baru saja dialaminya.

Dia menunduk, menatap ke dalam kotak kayu di depannya.

Bibir pualamnya bergetar. Sepotong Urat Naga Tanah utuh itu kini telah terurai menjadi ratusan irisan yang tertata rapi. Setiap irisannya setipis sayap jangkrik, tembus pandang, dan memancarkan cahaya energi bumi kemerahan yang berdenyut lembut tanpa sedikit pun kerusakan pada urat-urat spiritual di dalamnya.

Seratus delapan irisan. Sempurna. Tanpa cela.

Di belakang Su Qingxue, Kepala Koki Wang akhirnya berani mengangkat kepalanya beberapa inci. Ketika matanya yang bengkak karena menangis menangkap pemandangan irisan daging transparan di dalam kotak, bola matanya nyaris copot. Rahangnya jatuh hingga membentur es di lantai. Dia tidak bisa bernapas. Sesuatu yang mustahil dikerjakan oleh sepuluh koki master selama sebulan, diselesaikan dalam waktu tiga tarikan napas oleh pedang seorang gadis, yang dipandu oleh... seorang pelayan yang duduk mengangkang di atas bangku?!

[Ding! Misi Harian Keempat Selesai!]

[Pendelegasian tingkat lanjut terdeteksi. Host berhasil membuat pelanggan memasak makanannya sendiri sambil tetap duduk dengan nyaman.]

[Menerima: 'Mata Persepsi Malas'. Mulai sekarang, titik lemah energi akan terlihat bersinar bagi Host. Mata ini aktif secara pasif dan tidak membutuhkan energi Qi.]

[Menerima Pengalaman Kultivasi +300. Menginisiasi terobosan otomatis...]

Bzzzt!

Gelombang energi hangat kembali meledak dari Dantian Lin Fan, menembus sumsum tulangnya dan membuka meridian yang tersumbat di tubuhnya. Angin puyuh energi spiritual kecil tak kasat mata berputar di sekitar bangku kayunya, menyapu bersih es yang menempel di ujung jubahnya.

Pemurnian Tubuh Tingkat 3!

Lin Fan membuang sumpit kayunya ke lantai, meregangkan punggungnya, dan mengusap matanya yang berair karena menguap. Dia menatap Su Qingxue yang masih berdiri mematung menatap kotak cendana.

"Nah, pesananmu sudah selesai, Nona. Potongannya bagus, kerja kerasmu patut diapresiasi," kata Lin Fan lambat-lambat, bahunya kembali merosot. Dia menunjuk irisan daging itu. "Kau bisa membawanya pergi sekarang. Lantai dapur ini terlalu dingin, dan aku berencana melanjutkan tidur siangku."

Su Qingxue perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang sebiru es kini menatap Lin Fan, bukan lagi dengan arogansi atau niat membunuh, melainkan dengan pusaran emosi yang rumit: keterkejutan, kekaguman yang tertahan, dan rasa ingin tahu yang membara.

Pelayan ini... baru saja menerobos ke Tingkat 3 hanya dengan duduk dan menguap?

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!