Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Ratapan Dan Kebangkitan
Hari itu aku sedang memikirkan masa depanku. Aku ingin menjalani kehidupan yang lebih baik dari hari sebelumnya, namun kali ini aku sadar bahwa dunia tidaklah seindah yang kupikirkan. Sudah enam bulan aku menganggur. Tabungan yang tersisa habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Tiba-tiba, dering telepon membuyarkan lamunanku.
“Halo, ada apa, Neng Yuni?” sapaku.
Di seberang sana, suara yang begitu kukenal terdengar pelan.
“Maaf, Mas… aku sudah ada orang yang melamarku. Aku terpaksa menerima karena bujukan orang tua. Jadi… maafkan aku, Mas.”
Seketika dadaku terasa sesak. Walau sakit, aku bisa memahami kondisinya. Aku tahu betapa beratnya berada di posisi dia.
“Gak apa-apa, Neng. Semoga kamu bahagia sama dia. Mas ikhlas, jalani aja kehidupanmu. Lupakan aku biar gak kepikiran lagi,” ucapku berusaha tenang.
“Ya, Mas… maafkan aku.”
“Sudah, gak apa-apa. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam, Mas.”
Telepon terputus. Aku meringkuk di sudut kamar, membayangkan pernikahanku bersama Yuni—tapi hanya sebatas hayalan. Kenangan manis kami kembali berputar di kepalaku. Tanpa sadar, tawa kecil terlepas bersamaan dengan air mata yang menetes.
Akhirnya aku memutuskan keluar, berjalan kaki menembus malam Jakarta. Aku menyusuri gang demi gang hingga tiba di jalan besar kota. Saat itu, seorang penjual minuman bersepeda memanggilku.
“Bang, mau minuman hangat gak?” tanyanya ramah.
Aku tersenyum pahit. “Makasih, Bang. Lagi gak ada uang.”
“Cuma lima ribu doang kok,” tawarnya.
“Serius, Bang. Bahkan seribu pun aku gak punya,” jawabku jujur.
Ia terdiam sebentar, lalu tertawa kecil.
“Ya sudah, gue gratisin aja. Kayaknya Abang lagi ada masalah. Sini, duduk dulu sambil ngopi. Siapa tahu ada orang beli kalau kita nongkrong di sini.”
Aku sempat menolak, tapi ia langsung memotong.
“Udah, gak usah banyak mikir. Duduk aja. Nikmatin secangkir kopi dulu. Masalah jangan ditahan, nanti malah makin stres.”
Aku menghela napas panjang. “Ya sudah, Bang.”
Dia lalu menyeduhkan segelas kopi susu hangat, lalu menyodorkannya padaku.
“Nih, kopi susu hangat spesial.”
“Terima kasih banyak, Bang.”
Aku menyeruputnya perlahan. Rasa hangat itu seakan sedikit meredakan dingin di dada. Tak lama kemudian, ia menawarkan sebungkus rokok.
“Nih, sekalian rokok, Bang.”
Aku tersenyum. “Ah, gak usah. Aku gak ngerokok.”
“Ohh, maaf… hehe. Jadi, masalahnya apa, Bang?” tanyanya sambil menatapku penuh perhatian.
Aku menarik napas dalam. “Aku baru aja ditinggal nikah sama tunanganku. Selain itu, sudah enam bulan aku nganggur. Melamar ke sana-sini gak ada yang terima. Persyaratannya terlalu tinggi.”
Wajah penjual itu berubah serius. “Hmm… berat banget ya cobaan Abang.”
Aku pun bercerita panjang lebar, meluapkan semua uneg-unegku. Setelah selesai, gantian dia bercerita. Katanya, sejak kecil dia sudah ditinggalkan ibunya karena perselingkuhan. Saat itu umurnya baru tujuh tahun. Ayahnya mengurus dia dan adiknya seorang diri, hingga akhirnya sang ayah sakit stroke. Usaha kopi sepeda ini adalah warisan kecil dari ayahnya, dan sekarang dia yang meneruskannya sambil membiayai sekolah adiknya yang masih SMA.
Mendengar kisahnya, aku merasa malu. Masalahku ternyata tidak sebanding dengan penderitaannya. Namun, dia tersenyum dan berkata,
“Bang, gue gak nyamain masalah kita. Semua orang punya porsinya masing-masing. Tapi inget, jangan pernah nyerah. Kita laki-laki. Nangis itu wajar, Bang. Semua orang pernah nangis. Gak peduli orang bilang cengeng, itu manusiawi.”
Aku tertawa kecil. “Hahaha, Abang bisa aja.”
Dia menepuk pundakku. “Itu juga pesan bokap gue dulu. Laki-laki itu harus kuat, bukan berarti gak pernah sedih atau nangis. Tapi jangan biarkan kesedihan bikin kita jatuh. Jadikan itu penyemangat buat bangkit lagi.”
Aku terdiam, menatap gelas kopiku. Kata-katanya sederhana, tapi entah kenapa begitu menancap dalam hatiku.
Hingga aku merenung, bergumam dalam hati, sepertinya masih ada orang yang menghadapi masalah lebih berat dariku. Akhirnya aku menghabiskan minumanku dan menatap penjual itu.
“Bang, terima kasih untuk kopinya dan kata-katanya. Berkat abang aku jadi tahu—ternyata ada yang lebih berat daripada masalahku,” kataku.
“Ah, gak gitu juga, Bang. Pasti ada yang lebih berat lagi. Tinggal kita saja: mau bisa ngadepin masalah atau nggak. Yang penting, jangan nyerah, dan jangan menyakiti diri sendiri—itu nggak menyelesaikan apa-apa,” jawabnya tegas.
“Siap, Bang…” jawabku pelan.
“Gimana, udah lega belum? Masih mau curhat lagi?” ia menimpali sambil tertawa ringan. “Gini, gue udah sering dengerin keluhan orang, bro—ada yang kayak dokter psikiater aja, anjir.”
“Aduh, bisa aja abang,” aku menanggapi sambil tersenyum.
Dia jadi cerita panjang: “Dari pelacur karena hutang suami, anak SMP yang jual diri demi iPhone, emak-emak yang pusing karena anaknya kecanduan narkoba—sampe ada yang mau bunuh diri. Gue selalu semangatin mereka supaya jangan sampe nyakitin diri. Kadang gue sarankan biar dibawa ke tempat yang bener, masuk lapas misalnya, biar bisa diperbaiki jalannya.”
“Wah, kayak konsultan, Bang,” aku balas.
“Bisa dikatakan ya gitu...” ia tertawa lagi.
Obrolan kami makin panjang. Orang di sekitar mulai ramai, banyak pembeli mampir ke lapak kopinya. Saat itu dia berseloroh, “Anjay, pembawa rejeki nih—ada orang dateng, langsung rame.”
“Yahh, rejeki mah Tuhan yang atur,” jawabku.
“Iya, tapi perantaranya kadang lewat elu juga,” katanya sambil menyajikan kopi ke pelanggan.
Selesai ngobrol, aku hendak pulang. Waktu merogoh kantong, kutemukan dua puluh ribu rupiah. Spontan kuberikan pada penjual itu. Tapi dia menolak. “Maaf, Bang. Kan gue yang nawarin tadi—gratis. Gue ikhlas. Mungkin dua puluh ribu buat lu lebih berharga daripada sepuluh ribu yang gue jual ke elu.”
“Nah lo, padahal kau yang jualan, Bang,” celutukku.
“Yaudah, gue ikhlas. Sesekali sedekah. Udah, jangan bayar, gue juga udah banyak yang beli,” jawabnya ringan.
Mendengar itu aku meraih tangannya. Ia mengerti maksudku dan menjabat balik dengan kuat. “Jangan menyerah, dan selalu kuat, Bang,” katanya menutup percakapan kami.
Setelah bercengkrama cukup panjang, aku memutuskan untuk pulang ke kontrakan. Mataku sudah sangat berat, nyaris tak tertahankan. Begitu sampai di depan pintu, aku langsung rebahan di tempat tidur, membiarkan rasa kantuk menelan kesadaranku.
Sambil menutup mata, bayangan tentang kisah cintaku dengan Neng Yuni muncul begitu saja. Hanya dia yang benar-benar menerima ketulusan cintaku. Namun, apa yang sudah terjadi… takkan pernah terulang untuk kedua kalinya.
Saat mataku setengah terpejam, di antara batas sadar dan mimpi, aku melihat sosok seorang wanita sedang menangis di sudut kamar. Wajahnya samar—kabur seperti bayangan di balik kabut.
Lalu terdengar suara lirih, penuh luka:
“Jangan tinggalkan aku…”
Seketika bulu kudukku berdiri, tapi rasa kantuk begitu kuat, membuat pandanganku menggelap perlahan hingga aku benar-benar terlelap.
Ketika akhirnya aku tersadar, suasananya sudah berbeda. Bukan lagi di kontrakanku.
Aku refleks bangun, mataku terbelalak.
“Anjir… di mana gue sekarang?” gumamku, panik.
Yang kulihat hanyalah ruangan tua dengan dinding dan lantai kayu berdebu. Di dekatku ada tempat tidur reyot dan udara lembap menusuk hidung. Aku berdiri pelan, menatap sekeliling, mencoba memahami apa yang terjadi.
Pandangan mataku tertuju pada sebuah lukisan keluarga besar yang tergantung di dinding.
Wajah-wajah di dalam lukisan itu terlihat gagah, berpakaian seperti bangsawan. Namun, ada sesuatu yang aneh—mata mereka seolah mengikutiku ke mana pun aku bergerak.
“Alamak… ini keluarga bangsawan zaman dulu, kali ya…” bisikku sambil menatap lukisan itu.
Dengan jantung berdebar kencang, aku menyusuri ruangan kayu tua yang berderit di setiap langkah. Debu beterbangan, menari-nari dalam sinar bulan pucat yang menyelinap dari celah jendela. Aroma apek dan lembap menusuk hidungku.
Mataku menatap sekeliling, berusaha memahami situasi gila ini. Di sebuah kamar yang lebih kecil, terpisah oleh tirai yang nyaris lapuk, pandanganku tertumbuk pada sesuatu yang membuat darahku membeku: sebuah tengkorak manusia tergeletak di atas meja rias tua, diapit oleh lilin-lilin yang sudah lama padam. Di sampingnya, dalam bingkai berdebu, terpajang lukisan seorang gadis muda dengan gaum vintage. Wajahnya sungguh cantik, dengan sorot mata teduh dan rambut yang ditata rapi. Aku memperhatikan pakaiannya dalam foto itu.
"Gadisannya," gumamku sendiri. "Cakep betul... Sayang banget udah jadi tulang." Tanpa kusadari, keluar celetukan khas anak Jakarta, "Yah, coba aja gue bisa idupin lagi. Buat jadi pacar, hehe ."
Lalu, hal yang mustahil terjadi.
Tengkorak itu bergerak. Getaran halus, lalu resonansi aneh memancar darinya, seperti gelombang suara yang tak terdengar. Aku terpana, tak percaya dengan apa yang kulihat. Dari dalam tanah kayu, partikel-partikel halus mulai bermunculan—seperti serpihan daging, urat, organ dalam—semuanya merayap dan merekat dengan cepat menuju tengkorak itu. Prosesnya mengerikan sekaligus memukau, seperti tayangan time-lapse pembentukan manusia, tapi dalam kecepatan tinggi dan langsung di depan mataku.
"A-anjir...!" langkahku spontan mundur, menabrak kursi kayu hingga jatuh berdebum.
Dalam hitungan menit, proses itu selesai. Di hadapanku sekarang berdiri seorang wanita cantik persis seperti di lukisan, tapi dalam keadaan bugil total. Kulitnya seperti orang barat, tapi tak lagi berupa tulang belulang. Dia berdiri tegak, matanya—yang sekarang berwarna biru pucat—menerawang kosong.
Dengan gemetar, aku melepas kemeja flanel yang kupakai dan memberikannya padanya untuk menutupi tubuhnya. Dia menerimanya tanpa ekspresi, melilitkannya seadanya.
"Siapa... siapa namamu? Keluarga bangsawan siapa ini?" tanyaku, suara masih bergetar.
Dia membuka mulut, mengeluarkan rangkaian kata dalam bahasa asing yang sama sekali tak kumengerti. Bahasanya terdengar tua dan asing.
"Bisa... bisa pakai bahasaku?" pintaku perlahan, mencoba berkomunikasi.
Wanita itu menatapku lama, lalu mengulurkan tangannya yang cantik. Instingku menyuruhku untuk menerima uluran itu. Begitu tangannya menyentuh kulitku, rasa dingin yang menusuk langsung menjalar. Tapi anehnya, setelah beberapa detik, dia mulai berbicara dalam bahasaku dengan logat yang kental dan kuno.
"Aku... Eveline van der Linden. Putri tunggal keluarga Van der Linden," ujarnya dengan suara yang lembut tapi beresonansi aneh. "Ayahku adalah penguasa wilayah ini... dahulu."
Dia memandiku dengan tatapan yang kini mulai berisi kesadaran. "Engkau... telah memanggilku kembali dari alam keabadian. Ikatan telah terbentuk antara kita."
Aku hanya bisa terdiam, otakku masih mencerna kenyataan yang mustahil ini. Kota Jakarta yang hiruk pikuk tiba-tiba terasa sangat jauh. Aku sekarang terjebak dalam dunia yang tak kumengerti, dengan seorang wanita bangkit dari kematian yang kini terikat padaku akibat celetukan bodohku sendiri.
"Gue... gue harus piye iki?" gumamku dalam hati, menyadari bahwa masalah menganggur dan ditinggal mantan tiba-tiba bukan lagi urusan terbesar dalam hidupku.
Aku menghela napas, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja kuterima. Mataku tak sengaja kembali menatap sosok Eveline. Dalam kondisi sekarang, meski wajahnya pucat dan tatapannya kosong, kecantikannya tetap tak terbantahkan.
"Kau... sangat cantik," ucapku hampir tanpa suara, lebih seperti gumaman untuk diriku sendiri.
Eveline memiringkan kepalanya. "Terima kasih atas pujianmu," balasnya dengan suara datar, tanpa getaran emosi apa pun. Seperti robot yang diprogram untuk merespons pujian.
Aku mengangguk, lalu pertanyaan lain muncul di kepalaku. "Lalu... kenapa rumah besar ini sepi sekali? Hanya kau sendiri di sini? Di mana pelayan-pelayannya? Atau... keluarganya yang lain?"
Eveline terdiam sejenak, matanya yang biru pucat menerawang seolah mengais ingatan yang lama tertimbun. "Penyakit... di paru-paru," ujarnya perlahan. "Dokter menyebutnya Tuberculosis. Sangat menular, dan pada masanya, tidak ada obat." Suaranya tetap rata, meski menceritakan hal yang tragis. "Ayah memutuskan... untuk mengisolasi ku di sini. Semua pergi... pelayan, bahkan keluarga... untuk mencegah penularan. Itu... keputusan yang tepat untuk kebaikan bersama."
Mendengar penjelasannya, hatiku merasa trenyuh. Dibuang oleh keluarganya sendiri saat sedang paling membutuhkan, pasti sangat menyakitkan. "Aku mengerti," kataku, berusaha menenangkan. "Mereka tidak sepenuhnya salah. Tapi, pasti sangat menyedihkan bagimu." Aku memutuskan untuk mengalihkan topik. "Apakah kau... masih memiliki pakaianmu sendiri? Itu..." Aku melirik kemeja flanel-ku yang masih melilit tubuhnya, "...sepertinya tidak cukup."
"Ada," jawabnya singkat. Eveline lalu berbalik dan berjalan menuju sebuah lemari besar yang terletak di sudut ruangan. Aku mengikutinya dari belakang. Gerakannya anggun, tapi kaku, seperti boneka yang digerakkan dengan tali.
Dia membuka lemari berukir yang penuh debu. Isinya berantakan. Beberapa gaun masih tergantung, tetapi banyak yang berserakan di lantai, menunjukkan tanda-tanda telah diobrak-abrik. "Beberapa... hilang. Diambil orang, mungkin," ucapnya tanpa nada menuduh. Dia hanya menyatakan fakta.
Aku duduk di sebuah bangku kayu di dekat lemari, mengamatinya saat ia memilih pakaian. Dia mengeluarkan sebuah gaun berwarna biru tua yang sederhana, dengan kerah tinggi dan lengan panjang. Desainnya tidak mencolok, tapi terlihat sopan dan anggun, mencerminkan statusnya sebagai putri bangsawan. Dengan gerakan lambat dan penuh kesadaran, dia mengenakannya, mengabaikan keberadaanku seolah itu hal yang wajar. Gaun itu masih terlihat bagus, meski usianya mungkin sudah sangat tua.
Setelah dia selesai berdandan, aku memberanikan diri untuk bertanya lagi. "Eveline, apa kau... masih bisa merasakan emosi? Seperti sedih, senang, atau marah?"
Dia menatapku, matanya masih kosong. "Aku... tidak tahu. Aku ingat apa itu emosi. Aku tahu bahwa dulu aku bisa menangis, bisa tersenyum. Sekarang... tidak ada yang kutahu. Tapi, aku bisa... menirunya. Berakting. Seperti yang kulakukan dulu." Jawabannya membuatku merinding. Dia seperti cangkang kosong yang hanya mengingat bentuk luarnya saja.
Aku menarik napas dalam. Situasinya semakin tidak masuk akal. Tapi, aku harus bisa mengendalikan ini. "Dengarkan, Eveline. Karena aku yang... memanggilmu kembali, kau harus menuruti perintahku. Tapi, aku akan tetap memperlakukanmu dengan sopan. Dan yang terpenting," tekanku, "kau harus bisa melindungiku jika ada bahaya. Apakah kau mengerti?"
Eveline mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Aku akan menuruti perintahmu, bersikap sopan, dan melindungimu dari bahaya. Itu... ikatannya."
Aku menghela napas, melihat sekeliling rumah kayu tua yang berdebu ini. Hidupku yang sebelumnya hanya berputar pada menganggur dan patah hati, kini tiba-tiba dipenuhi dengan misteri kematian, bangsawan zaman dulu, dan seorang wanita mayat hidup yang cantik namun hampa. Masalah dengan Yuni tiba-tiba terasa sangat kecil dan jauh.
"Sekarang," ucapku, berdiri dari bangku. "Mari kita jelajahi tempat ini. Aku ingin tahu di mana tepatnya kita berada, dan apakah ada orang lain... atau sesuatu yang lain di sini."
Eveline hanya mengangguk patuh, lalu berjalan di sampingku, siap mengikuti ke mana pun aku melangkah, menjadi pelindung sekaligus pengingat akan dunia baru yang gila yang kini terpaksa kujalani.