Beberapa tahun lalu, berbagai celah ruang-waktu bermunculan, dan Blue Star pun memasuki era supranatural. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangkitkan “panel permainan”.
Lu Heng secara tak terduga membangkitkan kelas Summoner. Namun, makhluk-makhluk panggilannya tampaknya… agak tidak biasa.
……
【Si Bulat Daging】: Sebagai keturunan Dewa Jahat, setiap kali ia dimakan, ia justru menjadi semakin kuat. Ia juga mampu membuat musuh terjerumus ke dalam kekacauan persepsi.
【Anjing Mesum】: Sebagai kaki tangan yang setia, ia dapat berpindah tempat secara instan dan menampar orang, bahkan memutus semua skill lawan.
【Prajurit Medis】: Memiliki kemampuan menukar kondisi luka, dan juga bisa diam-diam mencuri organ milik orang lain.
【Zirah Keadilan】: Makhluk simbiotik yang dipenuhi energi positif. Bukan hanya memiliki daya tempur yang sangat tinggi, ia juga dapat berdiri di puncak moral untuk mengecam musuh, membuat lawan…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Back Dragon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Cantik Dan Berbakat
“Dik! Aku nggak bisa ngejar, cepat tangkap mereka!!” teriak Lu Heng dengan tergesa.
“Baik!” jawab Lu Xiaoke singkat, lalu segera berlari mengejar.
Berkat atribut kelincahannya yang lebih tinggi, jarak antara dirinya dan para pria bertubuh besar itu semakin menyempit.
Langkahnya ringan namun kuat. Sepatu kulit kecilnya mengeluarkan bunyi ketukan yang renyah di atas lantai. Saat ia berlari, rok lipit biru tua yang dikenakannya berkibar naik turun mengikuti gerak tubuhnya.
Para pria besar itu mulai panik.
“Woi! Bukannya kami sudah kasih kalian uang? Kenapa masih dikejar juga?!”
“Hmph, uang kalian terlalu sedikit. Kecuali kalau ditambah lagi!” jawab Lu Xiaoke terus terang.
Ucapan itu langsung membuat mereka murka.
“Sial! Emangnya kamu, cuma siswi sekolah, kira bisa menghentikan kami?!” salah satu dari mereka berkata dengan wajah garang.
Dua pria lainnya pun berhenti dan berbalik dengan tatapan penuh amarah.
Namun Lu Xiaoke sama sekali tidak panik.
Ia melihat celah, lalu dengan cepat maju dan mencengkeram bahu salah satu pria. Tubuhnya berputar mengikuti momentum, memanfaatkan inersia serta kekuatannya yang besar, dan dengan mudah membanting pria bertubuh 185 cm itu.
Tubuh pria itu melayang membentuk lengkungan di udara sebelum jatuh menghantam tanah dengan bunyi keras, disertai jeritan kesakitan.
Tubuh Lu Xiaoke terlihat ramping dan lembut, tetapi ia mampu menjatuhkan pria kekar setinggi itu dengan mudah—pemandangan yang sangat mencolok secara visual.
“Perempuan ini sudah terbangun!” teriak dua pria lainnya dengan mata membelalak ketakutan.
“Hehe.”
Lu Xiaoke mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi. Kakinya yang terbalut kaus kaki hitam selutut bagaikan bilah pedang terhunus. Dengan suara angin yang membelah, tendangannya menghantam keras pinggang samping pria lain.
“Dug!”
Satu lagi terlempar jatuh.
Pria terakhir bahkan belum sempat bereaksi, sudah keburu ditendang tepat di perut hingga meringkuk sambil berteriak kesakitan.
Adapun wanita muda yang tadi bersama mereka tak berani lagi melarikan diri. Ia berjongkok sambil memegangi kepala.
“Aku nggak lari lagi! Nggak lari lagi! Jangan pukul aku!”
“Kalau begitu bagus.”
Lu Xiaoke merapikan sedikit rok yang agak berantakan, wajahnya dipenuhi senyum ceria.
Saat Lu Heng tiba, matanya berbinar kagum.
“Wah, hebat juga, Dik. Sejak kapan kamu jadi jago berantem begini?”
“Itu cuma pelajaran dasar bela diri waktu SMA. Kamu saja yang dulu nggak serius belajar.” jawab Lu Xiaoke sambil terkekeh.
Tak lama kemudian, pemilik rumah—seorang pria dengan wajah polos dan tampak jujur—kembali.
Begitu melihat wanita muda itu berjongkok di tanah, ia langsung naik pitam dan menamparnya.
“Aku sudah berkorban begitu banyak untukmu! Kenapa kamu malah mengkhianatiku?!”
“Lalu apa aku kurang berkorban untukmu? Aku cuma main-main sedikit, kenapa sih?” balas wanita itu tak mau kalah.
“Kamu… kamu berkorban apa untukku?!” teriak pria itu.
“Aku pakai perut yang penuh minuman keras buat melahirkan anakmu.”
“Aku pakai tangan yang biasa pegang rokok dan kocok dadu buat masak untukmu.”
“Kamu masih kurang puas apa lagi?”
“Dasar nggak tahu diri!”
Wanita itu terus mengomel tanpa sedikit pun menghargai suaminya.
“Kamu… kamu benar-benar nggak masuk akal! Aku dulu pasti buta sampai menikahimu!” pria itu makin marah.
Melihat keduanya hampir berkelahi, Lu Heng menarik pelan lengan baju Lu Xiaoke dan berbisik,
“Ayo pergi. Ini urusan rumah tangga orang, kita nggak perlu ikut campur.”
Lu Xiaoke mengangguk patuh.
“Oke.”
Keduanya pun pergi meninggalkan tempat itu.
Dari balik tangga, suara pertengkaran masih terdengar silih berganti. Namun kakak beradik itu seolah tak mendengar apa-apa. Mereka berjalan berdampingan dengan langkah ringan, meninggalkan hiruk-pikuk di belakang.
“Aku mau makan bebek panggang! Sepuluh ekor!”
“Siap.”
……
Keesokan paginya.
Alarm berbunyi di dalam kamar.
“Drring, drring…”
Lu Xiaoke, mengenakan piyama merah muda, bangun dengan santai.
“Bang, aku berangkat kuliah dulu ya. Sore kalau nggak ada kelas, nanti aku ajak kamu farming dungeon lagi.”
Lu Heng yang tidur di kasur lantai dekat tempat tidur hanya membuka mata setengah sadar.
“Baik…”
Ia mencoba bangun, tapi rasa kantuk terlalu berat.
Melihat itu, Lu Xiaoke malah menghibur,
“Nggak apa-apa, Bang. Kalau kamu nggak bisa bangun juga nggak perlu merasa bersalah.”
“Toh kamu bangun juga nggak bakal menciptakan nilai apa-apa, hehe.”
Setelah mengatakan itu, ia berganti pakaian dan bersiap keluar.
“Kamu benar…” gumam Lu Heng, lalu kembali tidur dengan tenang.
Sementara itu, Lu Xiaoke berjalan santai menuju kampus.
Rumah kontrakan mereka tidak jauh dari sekolah. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki, ia sudah sampai.
Begitu memasuki area kampus, suasana ramai langsung menyambutnya.
Mahasiswa berlalu-lalang dengan tergesa. Ada yang menjepit buku di ketiak sambil berjalan cepat, ada yang membawa ransel sambil menggigit bakpao yang dibeli di pinggir jalan, sembari membicarakan gosip kampus dan sesekali tertawa lepas.
Kedatangan Lu Xiaoke juga menarik perhatian sebagian mahasiswa, yang mulai berbisik-bisik.
“Itu kan Lu Xiaoke, mahasiswa baru jenius itu?”
“Iya, katanya dia punya bakat tingkat dewa yang tersembunyi, tapi dia sendiri nggak pernah mengaku.”
“Cantik banget sih. Dulu waktu pemilihan mahasiswi tercantik angkatan baru, organisasi mahasiswa pertama kali mau pilih dia.”
“Iya, tapi katanya setelah tahu dia sendirian habisin delapan belas mangkuk nasi di kantin, gelarnya diam-diam dipindah ke Su Yao.”
“Lho, itu kan nggak masuk akal. Makan banyak kenapa? Bukannya mahasiswi tercantik dilihat dari wajah?”
“Yah, mungkin menurut mereka aura lebih penting.”
“Ah, iri banget. Pintar, cantik, dan mungkin punya bakat tingkat dewa lagi…”
Lu Xiaoke tak memedulikan bisik-bisik itu. Sejak kecil ia sudah terbiasa.
Saat ini ia justru tersenyum melihat saldo empat ribu yuan di ponselnya.
“Akhirnya bisa makan enak.”
Ia pergi ke minimarket kecil membeli satu kantong besar camilan, lalu menuju salah satu kedai sarapan di dalam kampus.
“Lima kukusan bakpao daging, sepuluh potong char siu, dua jagung manis, dan enam gelas susu kedelai.”
“Wah! Si Cantik Lu datang lagi? Langsung kami siapkan!” sambut pemilik kedai dengan ramah.
Lu Xiaoke langsung membayar lewat kode QR dan mencari tempat duduk.
Tak lama kemudian, makanan tersaji di atas meja.
“Silakan dinikmati.”
Mata Lu Xiaoke langsung berbinar. Ia tak sabar mengambil satu bakpao daging dan menggigitnya. Pipi mungilnya segera menggembung seperti hamster kecil yang sedang menyimpan makanan.
Setelah habis, ia memasukkan char siu ke mulutnya. Matanya menyipit, wajahnya menunjukkan ekspresi puas.
“Ya le ya le~”
Saat itu, seorang pria mengenakan setelan jas putih mencolok dengan rambut klimis belah belakang masuk dengan langkah sok elegan.
Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak bicara menarik kursi dan duduk di seberang Lu Xiaoke.
Sambil menyandarkan siku di meja, ia menyunggingkan senyum berlebihan.
“Cantik, bolehkah aku sarapan bersamamu?”
Bersambung.