NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Malam yang dimulai dengan kepanikan luar biasa itu akhirnya berujung pada sebuah gerbang mansion mewah keluarga Martinez. Bukan sebagai tamu, bukan sebagai desainer rekanan, melainkan sebagai anggota keluarga resmi.

Leonor melangkah di atas karpet beludru merah menuju lantai dua, tempat kamar pribadi Edgar berada, dengan perasaan yang masih melayang-layang. Di belakangnya, Julian dan Isabella Martinez berjalan dengan ekspresi yang sangat kontras, Julian yang protektif dan Isabella yang sangat antusias.

Begitu pintu kamar jati yang besar itu terbuka, Edgar dan Leonor tidak langsung dibiarkan beristirahat. Mereka justru disidang dalam sebuah ceramah keluarga yang paling aneh dalam sejarah hidup Leonor.

Julian Martinez berdiri tegak di tengah ruangan, berdehem dengan suara baritonnya yang menggetarkan kaca jendela.

"Edgar, dengarkan Ayah baik-baik," ucapnya dengan nada sangat serius, seolah sedang membacakan deklarasi perang. "Dokter pribadi kita memang belum datang, tapi Ayah sudah membaca beberapa literatur tadi di mobil. Usia kehamilan dua minggu itu sangat rentan, Edgar. Janinnya masih sangat kecil, mungkin hanya seukuran butir pasir."

Leonor menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tidak meledak dalam tangis antara malu dan ingin tertawa. Butir pasir? batinnya menjerit. Itu bukan butir pasir, itu sel telur yang sedang luruh karena aku sedang datang bulan!

"Jadi," lanjut Julian sambil menatap tajam ke arah putranya, "Ayah harap kau bisa menahan diri. Jangan kasar. Lakukanlah dengan sangat pelan jika kau benar-benar menginginkan istrimu malam ini. Jangan sampai kau membahayakan cucu pertama Martinez hanya karena nafsu mudamu yang meluap-luap."

Wajah Edgar memerah padam, ia mengusap tengkuknya sambil mengangguk kaku. "I-iya, Dad. Aku mengerti. Aku akan sangat... sangat pelan."

Belum sempat Edgar bernapas lega, Isabella Martinez sudah menyela dengan langkah dramatis. Ia memegang kedua tangan Leonor, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca penuh kasih sayang.

"Leonor sayang, dengarkan Mommy," ucap Isabella dengan nada manja yang khas. "Mulai detik ini, Mommy adalah ibumu. Jangan pernah merasa sendiri lagi. Jika kau ingin sesuatu apa pun itu katakan saja pada Mommy. Kau ingin makanan Perancis jam tiga pagi? Mommy akan bangunkan koki terbaik. Kau ingin makanan Asia yang sangat pedas? Mommy akan terbangkan rempahnya langsung dari sana."

Isabella mengelus pipi Leonor yang masih pucat. "Mommy mengerti, mungkin dua minggu ini masa mengidammu tidak terpenuhi karena Edgar yang bodoh ini menyembunyikanmu. Tapi ke depannya, tidak akan Mommy biarkan kau kekurangan satu pun keinginan. Bayi di perutmu itu adalah raja atau ratu kecil kita."

Leonor hanya bisa mengangguk-angguk seperti boneka pajangan. Ia merasa sangat berdosa melihat ketulusan Isabella, namun ia juga tidak punya pilihan selain mengikuti arus kegilaan ini.

"Dan untuk besok ke kampus," Isabella melanjutkan dengan semangat yang meluap, "Mommy sudah menyiapkan mobil khusus untukmu. Mobil dengan suspensi paling empuk agar kau tidak terguncang di jalan. Kita akan merahasiakan pernikahan ini dulu demi kebaikan studimu, tapi fasilitas untukmu tidak akan Mommy kurangi sedikit pun. Mengerti, sayang?"

"Mengerti... Mom," jawab Leonor pelan, lidahnya masih terasa aneh memanggil Isabella dengan sebutan 'Mom'.

Setelah rentetan instruksi, nasihat kesehatan janin dari Julian, dan daftar menu makanan dari Isabella selesai, akhirnya kedua orang tua itu keluar dari kamar. Julian sempat memberikan tatapan "awas kau jika tidak hati-hati" pada Edgar sebelum benar-benar menutup pintu jati yang kedap suara itu.

Ceklek.

Keheningan menyelimuti kamar itu selama tiga detik. Edgar dan Leonor saling berpandangan dalam diam. Edgar menatap Leonor yang masih mengenakan gaun pengantin sederhana, sementara Leonor menatap Edgar yang tampak sangat tegang dengan kemeja putihnya yang terbuka dua kancing atasnya.

"Pfft..." Leonor adalah yang pertama meledak.

"Hahahaha!" Tawa Edgar menyusul, lebih keras dan lebih lepas.

Mereka berdua ambruk ke atas ranjang king size yang empuk, tertawa hingga perut mereka sakit. Suara tawa mereka bergema di ruangan yang kedap suara itu, sebuah pelampiasan dari ketegangan gila yang mereka lalui sejak pagi tadi.

"Edgar! Kau benar-benar pria paling gila yang pernah kutemui!" teriak Leonor di sela tawanya, sambil memukul dada Edgar. "Butir pasir? Pelan-pelan? Bagaimana bisa kau membiarkan ayahmu bicara seperti itu!"

Edgar menangkap tangan Leonor, menariknya hingga wajah mereka berdekatan. Tawanya masih tersisa di sudut matanya. "Lalu aku harus bilang apa, Leo? Dad, tenang saja, butir pasir itu tidak ada karena istriku sedang pendarahan bulanan? Dia bisa mengirim ku ke kutub utara malam ini juga!"

"Dan ibumu..." Leonor menyeka air mata tawanya. "Dia sudah menyiapkan menu makanan seluruh dunia untukku. Aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan drama Anak ini nanti, Edgar. Kita sudah terlanjur basah."

Edgar berhenti tertawa. Tatapannya berubah menjadi sangat dalam, membuat tawa Leonor perlahan menghilang. Ia mengelus rahang Leonor dengan ibu jarinya, menatap bibir istrinya yang kini resmi menjadi miliknya secara hukum dan agama, meski lewat sebuah kebohongan kecil.

"Tapi kau dengar kata Ayah tadi, kan?" bisik Edgar, suaranya kembali berat dan penuh godaan. "Aku harus melakukan semuanya dengan... sangat pelan."

Leonor merasakan desiran panas merambat di seluruh tubuhnya. "Edgar, aku sedang menstruasi, kau lupa?"

"Aku tidak lupa, Nyonya Martinez," Edgar menyeringai nakal. "Tapi bukankah kau bilang tadi pagi di apartemen? Iya Daddy, perut Mommy hangat. Jadi, biarkan Daddy membuktikan bahwa Daddy bisa menjaga kehangatan itu tanpa menyakiti butir pasir di perutmu."

Edgar mendekatkan wajahnya, mencium ujung hidung Leonor dengan lembut. "Malam ini kita hanya akan berpelukan. Aku akan menjagamu sampai pagi, memijat pinggangmu yang sakit, dan memastikan Mommy Isabella tidak masuk tiba-tiba untuk membawakan susu hamil."

Leonor tersenyum, ia melingkarkan tangannya di leher Edgar, menarik pria itu untuk mendekat. "Kau benar-benar alay, Edgar. Tapi terima kasih... karena sudah menyelamatkanku dari ayahku sendiri dengan cara yang paling tidak masuk akal ini."

"Sama-sama, Istriku," sahut Edgar sebelum mendaratkan ciuman lembut di bibir Leonor.

Malam pertama mereka mungkin tidak diwarnai dengan gairah panas yang meledak-ledak karena kondisi fisik Leonor, namun diisi dengan kasih sayang yang tulus, tawa yang menyatukan dua jiwa, dan rencana-rencana gila untuk menutupi rahasia besar mereka dari dunia luar.

Di kamar mewah itu, Leonor akhirnya merasa benar-benar memiliki sebuah rumah, sebuah keluarga yang, meski sedikit gila, sangat menginginkannya ada di tengah-tengah mereka.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!