NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase

Krisis energi dunia mulai menghantam Indonesia. Listrik padam di mana-mana, dan pabrik-pabrik berhenti beroperasi. Bagas harus berpacu dengan waktu untuk mewujudkan desain Bapaknya menjadi purwarupa pembangkit listrik nyata guna menyelamatkan ekonomi Indonesia dari kegelapan! .

Bagas akan menggunakan seluruh sumber daya dan keahlian teknisnya untuk menyelamatkan negara yang sedang di ambang kelumpuhan.

Dunia mendadak limbung. Sabotase energi yang dilakukan oleh Nexus Group sebagai balasan atas tindakan Bagas benar-benar mencekik pasokan energi global. Di Indonesia, dampaknya terasa sangat mengerikan. Pemadaman bergilir terjadi setiap jam, industri manufaktur terhenti, dan ribuan buruh terancam dirumahkan. Di tengah kegelapan yang menyelimuti Jakarta, Bagas berdiri di teras rumahnya, menatap kota yang biasanya gemerlap kini tampak seperti kuburan beton.

"Gas, pabrik-pabrik di kawasan industri sudah mulai teriak. Logistik kita macet total karena solar langka. Kalau ini berlanjut seminggu lagi, ekonomi kita bisa kolaps," ujar Mr. Khan lewat sambungan telepon satelit yang suaranya timbul tenggelam.

Bagas mengepalkan tangan. Ia tahu, mikrofilm yang ia serahkan ke Kedutaan di Paris sudah sampai di tangan pemerintah, namun birokrasi yang lambat membuat desain itu hanya menjadi tumpukan kertas di meja pejabat. Sementara itu, rakyat butuh bukti nyata.

"Bapak, kita nggak bisa nunggu pemerintah lagi," ujar Bagas kepada Bapak yang sedang duduk di ruang tamu dengan penerangan lilin. "Bagas punya uang, Bagas punya jaringan logistik, dan Bagas punya desain Bapak. Kita harus bangun purwarupa Cor les Electromagnetic Generator itu sekarang. Di sini, di bengkel kita sendiri."

Bapak menatap Bagas dengan mata yang berkaca-kaca karena pantulan cahaya lilin. "Gas, itu bukan mesin sembarangan. Presisinya harus sempurna. Kalau meleset satu milimeter saja, magnetnya bisa meledak karena gaya tolak-menolak yang sangat besar.""Itulah sebabnya Bagas butuh Bapak. Bapak adalah satu-satunya orang yang tahu cara 'menjinakkan' mesin itu," balas Bagas mantap.

Malam itu juga, bengkel sederhana milik Bapak di gang sempit disulap menjadi laboratorium rahasia. Bagas menggunakan otoritasnya untuk mendatangkan komponen-komponen langka dari Dubai melalui jalur logistik udara tercepat. Tim teknis dari yayasannya anak-anak SMK terbaik yang pernah ia beri beasiswa dikumpulkan secara diam-diam. Selama lima hari lima malam, mereka tidak tidur. Bagas kembali ke akarnya: ia memakai baju montir yang penuh noda oli, memegang kunci inggris, dan berkeringat di bawah suhu panas bengkel. Ia bukan lagi seorang eksekutif; ia adalah seorang teknisi. Ia bekerja bahu-membahu dengan Bapak, menyatukan kepingan-kepingan magnet permanen dengan perhitungan yang sangat rumit.

"Kanan sedikit, Gas! Tahan tekanannya!" teriak Bapak saat mereka mencoba memasang poros utama generator. Di luar gang, agen-agen Nexus Group yang menyamar mulai terlihat memantau. Mereka tahu Bagas sedang merencanakan sesuatu. Bagas harus menyewa tim pengamanan swasta untuk menjaga area sekitar rumah agar proyek ini tidak digagalkan.

Puncaknya terjadi pada malam keenam. Seluruh komponen telah terpasang. Sebuah mesin berbentuk tabung dengan piringan perak mengkilap berdiri di tengah bengkel. Tidak ada kabel yang terhubung ke stopkontak PLN. Mesin itu dirancang untuk menghasilkan energi dari induksi magnetik tanpa gesekan, yang berarti efisiensinya mendekati 100%.

"Bismillah, Pak," bisik Bagas sambil menekan tombol aktivasi.

Awalnya hanya ada suara desing halus. Piringan itu mulai berputar, semakin cepat, hingga menjadi sebuah bayangan perak yang stabil. Lampu-lampu indikator di panel kendali berubah hijau. Bagas menarik sebuah kabel dari generator tersebut dan menghubungkannya ke sebuah lampu sorot raksasa.

KLIK. Cahaya putih benderang menyembur dari lampu tersebut, menerangi seluruh gang yang gelap gulita. Para tetangga yang tadinya sedang mengeluh karena kepanasan, keluar dari rumah dengan wajah takjub.

"Listrik! Ada listrik di rumah Bagas!" teriak seorang warga.

Bagas dan Bapak berpelukan di tengah deru halus mesin tersebut. Mereka berhasil. Teknologi yang selama ini disembunyikan Bapak karena ketakutan, kini lahir kembali melalui keberanian Bagas. Namun, kegembiraan itu hanya sesaat. Sebuah helikopter hitam mulai berputar-putar di atas rumah mereka, dan beberapa mobil SUV gelap merapat ke depan gang. Nexus Group tidak akan membiarkan penemuan ini keluar ke publik secara gratis. Mereka datang untuk mengambil paksa purwarupa tersebut atau menghancurkannya sama sekali.

Bagas menatap Bapak dan Ibu. "Ibu, Bapak, masuk ke dalam bunker yang sudah Bagas siapkan. Bagas nggak akan biarkan mereka menyentuh mesin ini." Bagas mengambil ponselnya, mengaktifkan fitur live streaming di seluruh platform media sosialnya yang memiliki jutaan pengikut. Ia mengarahkan kamera ke mesin itu.

"Selamat malam dunia. Nama saya Bagas Pratama. Di belakang saya adalah solusi untuk krisis energi global. Saya menyiarkan ini secara langsung agar jika terjadi sesuatu pada saya malam ini, dunia tahu siapa yang mencoba mencuri cahaya kalian," ujar Bagas dengan suara yang lantang. Jutaan orang di seluruh dunia menonton secara real-time. Agen-agen Nexus Group yang tadinya ingin melakukan tindakan kekerasan terhenti di tempat. Mereka tidak bisa bergerak karena seluruh mata dunia kini tertuju pada gang sempit di Jakarta tersebut.

Inilah kemenangan strategi Bagas. Ia menggunakan kekuatan transparansi digital untuk melindungi penemuan mekanis Bapaknya. Kegelapan fisik di Jakarta mungkin belum sepenuhnya hilang, tapi cahaya harapan yang diciptakan Bagas baru saja menyulut api revolusi di seluruh dunia.

Pemerintah Indonesia akhirnya turun tangan untuk melindungi Bagas, namun sebuah plot pengkhianatan muncul dari dalam kabinet. Bagas harus menentukan siapa yang bisa dipercaya untuk memproduksi massal mesin ini tanpa jatuh ke lubang korupsi yang sama.

Bagas akan menghadapi "ular" yang lebih besar daripada Darwin yaitu pengkhianatan dari dalam lingkaran kekuasaan yang seharusnya melindunginya.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!