"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Investor Berlutut
Di ruang sunyi, takhta tersusun dari luka.
Mawar ini tak pernah minta dipetik—
Ia tumbuh di antara pecahan kaca,
menyusun duri jadi mahkota.
Biarlah dunia terus terlena,
sementara di balik senyum,
aku sedang menghitung langkah.
Karena mereka lupa:
yang diam bukan berarti mati.
Yang rebah bukan berarti tumbang.
Dan wanita yang mereka remehkan,
sedang menyusun takdir.
---
Ruang rapat itu dingin. Bukan karena AC—tapi karena keheningan yang mengendap di setiap sudutnya. Dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan gemerlap kota malam, tapi Alana tak menoleh. Matanya tertuju pada tiga pria di seberang meja mahoni.
Tiga nama yang cukup disebut untuk membuat ruang rapor manapun gemetar.
Handoko Wiryawan. Taipan properti dengan kekayaan yang bisa membeli setengah ibu kota. Usianya enam puluh, tapi matanya masih setajam silet.
Michelle Lim. Wanita berusia lima puluh yang menguasai jaringan retail Asia Tenggara. Katanya, ia tak pernah salah pilih mitra bisnis. Katanya, ia bisa membaca orang hanya dari cara mereka menuang teh.
Surya Wardhana. Investor teknologi yang disebut-sebut sebagai "paus" di dunia startup. Pria ini tak pernah muncul di publik, tapi setiap langkahnya menggetarkan pasar.
Dan mereka bertiga duduk di hadapan Alana, menatapnya dengan intensitas yang bisa membuat siapa pun merosot di kursi.
Alana justru duduk lebih tegak.
"Nona Wijaya," Handoko membuka suara, suaranya berat seperti guruh jauh. "Kami sudah mengamati Anda selama enam bulan."
Alana tak menjawab. Ia hanya menautkan jari di atas meja, dagu sedikit terangkat. Di dalam tas Chanel usangnya, ponsel bergetar—mungkin Richard, mungkin Viola, mungkin dunia yang masih menganggapnya boneka. Ia biarkan.
"Enam bulan," Michelle menyambung, nada suaranya lebih halus tapi tak kalah tajam. "Sejak malam di klub itu. Anda datang dengan gaun yang... bagaimana mengatakannya..."
"Ketinggalan zaman," Surya menyelesaikan dengan senyum tipis. "Tapi Anda tidak peduli. Anda justru duduk di pojok, mengamati. Dan kami melihatnya."
Alana tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum yang hanya mengembang di bibir, tak sampai mata.
"Maaf, Tuan, Nyonya. Saya tidak paham. Maksudnya?"
Suaranya lembut. Rendah. Seperti wanita yang masih berduka, seperti istri yang patuh, seperti korban yang tak berdaya.
Handoko meletakkan map tebal di atas meja. Jari-jarinya yang kasar mengetuk sampulnya.
"Di dalam ini ada laporan lengkap. Perusahaan suami Anda, Richard Hartanto, sedang sekarat. Proyek-proyeknya gagal. Utang menumpuk. Tapi..." Ia membuka map, membalik beberapa halaman. "Di saat yang sama, ada aliran dana yang bergerak diam-diam. Melalui rekening-reening bayangan. Melalui perusahaan cangkang. Dan semuanya..."
Ia mendorong map ke arah Alana.
"... mengarah ke seseorang yang tak pernah terduga."
Alana tak menyentuh map itu. Matanya justru beralih ke Michelle, lalu Surya.
"Dan kalian datang ke sini, malam-malam, di ruangan tanpa kamera, tanpa saksi, hanya untuk menunjukkan bahwa kalian tahu siapa saya?"
Suaranya masih lembut. Tapi ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang membuat Michelle mengangkat alis, membuat Surya duduk lebih tegak.
Handoko tertawa kecil.
"Bukan. Kami datang untuk menawarkan kerja sama."
Hening.
Alana menatap mereka satu per satu. Handoko dengan ketajaman bisnisnya. Michelle dengan instingnya yang legendaris. Surya dengan koneksi teknologi yang tak terbatas.
Tiga monster industri. Dan mereka datang padanya.
"Kami tahu Anda sedang membangun kembali Wijaya Group," Michelle berkata pelan. "Kami tahu Anda sudah menguasai 34% saham perusahaan itu melalui pihak ketiga. Kami tahu Anda memiliki bukti penggelapan Richard yang cukup untuk memenjarakannya seumur hidup. Dan kami tahu..."
Ia berhenti, menatap Alana dengan sesuatu yang mirip kekaguman.
"... bahwa Anda belum bergerak. Anda menunggu. Menunggu saat yang tepat."
Alana akhirnya mengambil map itu. Membuka halaman pertama. Kedua. Ketiga.
Tangannya tak gemetar. Wajahnya tak berubah.
Di dalam map itu, hidupnya terpampang. Semua yang ia sembunyikan. Semua yang ia bangun diam-diam. Semua yang tak boleh diketahui siapa pun—termasuk Nathan.
Dan di halaman terakhir, ada angka.
700 miliar.
Tawaran modal. Tanpa agunan. Tanpa bunga. Tanpa batas waktu.
"Kami tidak meminta imbalan," Surya berkata, suaranya rendah. "Kami hanya ingin menjadi bagian dari sejarah. Kami ingin melihat bagaimana mawar ini akhirnya mekar—dan siapa yang akan terluka oleh durinya."
Alana menutup map perlahan.
Di luar, lampu kota berkilauan. Di dalam, jantungnya berdetak lambat, terukur, dingin.
Ia ingat malam-malam ia menangis di kamar mandi, menutup mulut dengan handuk agar tak terdengar.
Ia ingat pagi-pagi ia membuat kopi untuk Richard dan Viola, melihat mereka bercumbu di dapur tanpa rasa bersalah.
Ia ingat ayahnya di ranjang kematian, berbisik dengan napas terputus: "Nak... kau lebih kuat dari yang kau tahu. Tapi jangan tunjukkan, sampai waktunya tiba."
Dan kini, waktu itu tiba.
"Ada syaratnya?" tanyanya.
Handoko tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar hangat.
"Hanya satu."
"Apa?"
"Kami ingin Anda tetap menjadi Anda. Wanita yang diremehkan. Istri yang bodoh. Korban yang tak berdaya. Sampai Anda siap menunjukkan wajah asli."
Alana menunduk. Jemarinya menyentuh map itu, merasakan tekstur kertas yang akan mengubah segalanya.
Lalu ia berdiri.
Ketiganya ikut berdiri.
"Tuan Handoko, Nyonya Michelle, Tuan Surya," Alana berkata, suaranya bergetar—tapi bukan karena takut. Karena sesuatu yang lain. Karena api yang akhirnya menemukan bahan bakar. "Kalian tahu, selama tiga tahun terakhir, satu-satunya yang membuatku bertahan adalah keyakinan bahwa suatu hari, aku akan duduk di ruangan seperti ini, dengan orang-orang seperti kalian, dan aku akan berkata..."
Ia menjabat tangan mereka satu per satu.
"... terima kasih sudah percaya. Tapi saya tak butuh uang kalian. Saya butuh koneksi kalian. Saya butuh jaringan kalian. Saya butuh pintu-pintu yang hanya bisa kalian buka."
Hening lagi. Tapi kali berbeda.
Handoko menatap Michelle. Michelle menatap Surya. Surya mengangguk pelan.
"Dan sebagai gantinya?" tanya Michelle.
Alana tersenyum. Kini senyum itu sampai ke mata. Tapi mata itu dingin. Tajam. Seperti pecahan kaca yang siap melukai.
"Kalian akan mendapatkan segalanya. Ketika aku sudah duduk di puncak, kalian yang akan berdiri di sampingku. Bukan sebagai investor. Sebagai..." Ia berhenti, memilih kata. "... keluarga."
Michelle tersentak. Handoko tertegun. Surya—pria yang tak pernah menunjukkan emosi—menghela napas panjang.
"Keluarga," ulangnya lirih.
Alana mengangguk.
"Aku tak punya siapa-siapa. Ayahku mati. Ibuku sudah lebih dulu. Suamiku pengkhianat. Sahabatku ular berbisa. Tapi kalian..." Ia menatap mereka bergantian. "Kalian datang padaku, bukan pada Richard, bukan pada Viola, bukan pada boneka-boneka mereka. Kalian datang padaku. Pada wanita yang mereka sebut 'bodoh'. Pada istri yang mereka selingkuhi. Pada putri yang mereka bangkrutkan."
Suaranya pecah. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya pecah.
Tapi itu bukan kelemahan.
Itu adalah senjata.
Handoko mengulurkan tangan. Alana menyambutnya. Michelle memeluknya. Surya hanya menepuk pundaknya pelan.
Tiga investor paling disegani di negeri ini.
Dan Alana Wijaya, wanita yang mereka anggap boneka porselen, baru saja menjadikan mereka sekaligus keluarganya.
Satu jam kemudian, Alana keluar dari gedung.
Di luar, hujan turun rintik. Sopirnya—sopir Richard—menunggu dengan payung.
"Nyonya, pulang?"
Alana mengangguk. Masuk ke mobil. Menatap gedung pencakar langit yang mulai menjulang di depan matanya—salah satunya akan segera menjadi miliknya.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Nathan: "Rapatmu selesai? Aku khawatir."
Alana membalas singkat: "Aku baik-baik saja. Hanya... sedang memetik mahkota."
Pesan dari Lucas: "Ada perkembangan? Mereka curiga?"
Alana membalas: "Mereka tahu semuanya. Dan mereka memilih berpihak padaku."
Pesan dari nomor tak dikenal: "Selamat, Nona Wijaya. Permainan baru saja dimulai. — HW"
Handoko.
Alana menyimpan ponsel, menoleh ke jendela. Hujan semakin deras. Tetes-tetes air mengalir di kaca, seperti air mata yang tak lagi ia tangisi.
Di rumah, Richard dan Viola menunggu. Mungkin sedang bercinta di kamarnya. Mungkin sedang merencanakan pengkhianatan berikutnya.
Mereka tak tahu.
Mereka tak tahu bahwa di dalam tas usangnya, ada map tebal berisi 700 miliar.
Mereka tak tahu bahwa di ruang rapat tadi, tiga investor kelas kakap berlutut—bukan secara harfiah, tapi secara simbolis—di hadapannya.
Mereka tak tahu bahwa Alana Wijaya, istri bodoh itu, baru saja menyusun langkah terakhirnya.
Mobil melaju di tengah hujan.
Di dalam hati Alana, sebuah puisi lama ayahnya terngiang:
"Anakku, mawar tak pernah meminta dunia untuk menjaganya.
Ia hanya tumbuh, dengan duri-duri yang siap melukai siapa pun yang mencoba memetiknya.
Dan ketika waktunya tiba, ia akan mekar—
tak untuk dipuja, tapi untuk diingat.
Bahwa dari tanah yang paling tandus sekalipun,
keindahan bisa lahir.
Dan dari hati yang paling hancur sekalipun,
kuasa bisa bangkit."
Alana tersenyum.
Di luar, hujan reda.
Dan di timur, fajar mulai merekah.
---
Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄