"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA RUANG KOSONG
Mbak Yane menghentikan kunyahannya, lalu meletakkan sumpitnya perlahan. Ia menatap Nana dengan tatapan yang sulit diartikan—antara gemas, kasihan, dan ingin menjitak dahi asistennya yang super tidak peka ini.
"Padahal kalau itu kan karena enggak enak ya Mbak Yane, bukan karena suka," lanjut Nana lagi dengan suara yang sedikit bergetar. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, seolah dengan mengatakan itu, debaran jantungnya yang menggila setiap dekat Ghava bisa langsung tenang.
Mbak Yane menghela napas panjang, lalu bersandar pada kursi. "Na, dengerin gue ya. Gue udah kerja sama Ghava dari zaman dia masih jadi music arranger amatir sampai dia jadi 'singa' kayak sekarang. Gue tahu persis mana Ghava yang 'nggak enak hati' dan mana Ghava yang 'mati-matian jaga seseorang'."
Nana terdiam, telinganya memanas.
"Ghava itu orang paling efisien yang pernah gue temuin," lanjut Mbak Yane lagi. "Kalau dia cuma merasa 'nggak enak', dia bakal suruh gue atau Reka buat urusin lo. Dia bakal bayar biaya rumah sakit lo dua kali lipat dan minta lo istirahat sebulan biar nggak ganggu kerjaan dia. Dia nggak akan buang-buang waktu duduk diam dua jam cuma buat jadi bantal tidur lo, Na."
Reka yang sedari tadi menyimak sambil ngumpet di balik paha ayamnya, tiba-tiba nyeletuk pelan. "Iya, Mbak. Apalagi soal 'calon suami'. Mas Ghava itu paling benci drama publik gara-gara trauma masa lalunya. Kalau dia sampai ngomong gitu di depan mantan lo, itu bukan karena nggak enak hati lagi, itu namanya deklarasi perang buat ngelindungin wilayah kekuasaan."
Nana menunduk, memainkan butiran nasi di piringnya. "Tapi... dia nggak pernah bilang apa-apa, Mbak."
"Na, orang yang pernah hancur di depan banyak orang kayak Ghava nggak akan pakai kata-kata buat bilang suka," Mbak Yane memegang tangan Nana dengan lembut. "Dia pakai tindakan. Dan barusan, lo baru aja nendang usaha dia buat 'sembuh' tepat di mukanya dengan bilang dia cuma terjebak masa lalu."
Nana merasa ada gumpalan batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Ia merasa sangat bersalah. Ia teringat tatapan Ghava yang terlihat sangat lelah sebelum meninggalkan meja tadi. Ghava bukan marah karena rahasianya terbongkar, tapi karena ketulusannya dianggap hanya sebagai sisa-sisa trauma.
"Sana samperin," suruh Mbak Yane sambil memberikan kode ke arah pintu ruang kontrol yang tertutup rapat. "Bawa kopi kesukaan dia. Jangan bahas masa lalu lagi, bahas aja soal gimana caranya supaya dia nggak jadi kulkas lagi di depan lo."
Nana menarik napas panjang, berdiri dengan ragu, lalu berjalan menuju dapur untuk membuat kopi.
Langkah kaki Nana terasa berat saat memasuki ruang kontrol. Di sana, Ghava duduk membelakanginya, menatap layar monitor yang menampilkan grafik audio yang diam. Tidak ada musik, tidak ada suara, hanya keheningan yang menyesakkan.
Nana meletakkan cangkir kopi panas itu di atas meja samping mixer dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia tidak berani menatap punggung tegap itu terlalu lama.
"Maaf kalau omonganku bikin Mas Ghava sakit hati," ucap Nana lirih, suaranya hampir pecah. "Sejujurnya... hatiku juga masih kosong karena belum siap nerima orang baru."
Nana tidak menunggu jawaban. Ia tidak sanggup mendengar penolakan atau pun pembelaan diri dari Ghava. Setelah kalimat itu meluncur, ia segera berbalik dan keluar, menutup pintu studio dengan rapat, meninggalkan Ghava dalam kesendirian yang dingin.
Kembali ke ruang tengah, Nana duduk di sebelah Mbak Yane dengan bahu yang merosot. Reka dan Mbak Yane hanya bisa saling lirik, melihat wajah Nana yang sekarang lebih pucat daripada saat dia sakit lambung kemarin.
"Udah dikasih kopinya?" tanya Mbak Yane pelan.
Nana mengangguk lemah. "Udah. Tapi aku juga udah bilang kalau hatiku masih kosong. Aku nggak mau kasih harapan palsu ke dia, sementara aku sendiri masih takut buat melangkah."
Reka menghela napas, ia meletakkan sisa makanannya. "Na, kosong itu bukan berarti nggak bisa diisi. Kosong itu artinya ada ruang. Masalahnya, lo mau nggak kasih kuncinya ke orang yang lagi nunggu di depan pintu itu?"
Belum sempat Nana menjawab, tiba-tiba dari dalam ruang kontrol terdengar sebuah melodi. Bukan melodi piano yang biasanya, melainkan suara petikan gitar akustik yang terdengar sangat melankolis dan mentah, disusul oleh suara rendah Ghava yang sedang mencoba menyenandungkan sebuah lirik.
Itu adalah pertama kalinya mereka mendengar Ghava bernyanyi sendiri untuk draft lagunya.
"Tuh kan..." bisik Mbak Yane sambil menunjuk ke arah pintu studio. "Dia nggak marah, Na. Dia lagi nulis rasa sakitnya jadi nada. Dan lagu itu... jelas-jelas buat lo."
Nana terpaku. Melodi itu terdengar seperti sebuah permintaan tolong, sekaligus sebuah janji bahwa ia bersedia menunggu sampai "ruang kosong" di hati Nana siap untuk dihuni kembali.
Mbak Yane langsung memberikan lirikan tajam yang membuat Reka nyaris tersedak sisa air mineralnya. Suasana yang tadinya sedikit melankolis karena nyanyian sayup-sayup dari ruang kontrol, mendadak berubah menjadi tegang dengan aura rahasia yang berat.
"Na, Ghava itu lebih parah dari apa yang ada di artikel. Gue nggak akan cerita sampai dia sendiri yang cerita ke lo," ucap Mbak Yane dengan nada yang sangat serius, matanya menatap pintu ruang kontrol dengan tatapan sedih yang mendalam.
Reka, dengan jiwa lambe turah-nya yang tidak bisa dikontrol, malah mendekat. "Padahal spill dikit kali Mbak, gue juga penasaran tingkat nasional nih!"
"Reka!" Mbak Yane memukul lengan Reka dengan gulungan tisu. "Ini bukan gosip artis yang bisa lo bahas sambil makan gorengan. Ini soal hidup seseorang yang hampir hancur berkeping-keping. Lo nggak tahu rasanya dikhianati saat lo lagi ada di puncak, lalu dijatuhkan ke lubang paling dalam oleh orang yang paling lo percaya."
Nana hanya terdiam, jemarinya meremas pinggiran kemejanya. Kata-kata Mbak Yane barusan seperti sebuah peringatan bahwa luka yang ia miliki mungkin hanya seujung kuku dibandingkan apa yang dipikul Ghava sendirian selama tiga tahun ini.
"Di artikel cuma dibilang Selya selingkuh dan bawa lari lagu-lagunya, kan?" Mbak Yane menatap Nana dalam-dalam. "Itu cuma permukaan, Na. Kenyataannya lebih gelap. Ghava sempat kehilangan segalanya—bukan cuma pacar, tapi hak cipta karyanya, reputasinya, bahkan hampir kehilangan kewarasannya. Dia butuh waktu satu tahun cuma buat bisa megang alat musik lagi tanpa gemeteran."
Nana menelan ludah. Ia membayangkan Ghava yang perfeksionis dan selalu tampak terkontrol itu, pernah berada di titik di mana tangannya gemetar hanya untuk menyentuh tuts piano.
"Makanya," Mbak Yane menghela napas, "Waktu dia bilang 'calon suami' di depan lo kemarin, itu bukan cuma buat ngusir mantan lo. Itu adalah cara dia melawan traumanya sendiri. Dia mencoba 'hadir' lagi untuk seseorang, meski dia tahu risikonya adalah hancur untuk kedua kalinya."
Tepat saat itu, suara nyanyian dari ruang kontrol berhenti. Pintu terbuka sedikit, dan Ghava berdiri di sana. Wajahnya tampak lebih tenang, meski matanya masih terlihat lelah. Ia tidak menatap Mbak Yane atau Reka, melainkan langsung tertuju pada Nana.
"Nadin, masuk. Ada part vokal latar yang harus kamu coba isi sekarang," ucap Ghava, kembali ke mode profesionalnya.
Nana berdiri dengan kaku. Ia menatap Mbak Yane sejenak, yang hanya memberikan anggukan kecil sebagai dukungan.
"Dan Reka," tambah Ghava tanpa menoleh, "Kalau saya dengar kamu minta spill lagi, saya pastikan gaji kamu bulan depan cuma cukup buat beli kerupuk."
Reka langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan.
Nana melangkah masuk ke ruang kontrol dengan perasaan campur aduk. Aroma kopi yang baru ia seduh tadi masih menguar, bercampur dengan aroma parfum woody milik Ghava yang memenuhi ruangan kedap suara itu. Ghava sudah duduk di kursi kebesarannya, mengenakan headphone besar, dan jemarinya menari di atas tuts piano digital.
"Pasang headphone-nya, Na," ucap Ghava tanpa menoleh. Suaranya datar, namun tidak ada lagi nada ketajaman yang mengiris seperti saat di meja makan tadi.
Nana menurut. Ia berdiri di depan mikrofon yang sudah diatur tingginya. Melodi piano yang baru saja ia dengar dari luar kembali mengalun melalui headphone. Kali ini lebih jernih, lebih dalam, dan terasa jauh lebih menyayat.
"Mas... bagian mana yang harus aku isi?" tanya Nana pelan, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Ghava menghentikan musiknya. Ia memutar kursi, menatap Nana lurus-lurus. "Bukan soal part mana yang harus kamu isi, tapi soal perasaan apa yang mau kamu sampaikan."
Ia kemudian menyodorkan selembar kertas coretan lirik yang baru saja ia tulis. Tulisannya sedikit berantakan, khas seseorang yang menulis dengan terburu-buru mengikuti emosi.
Kita adalah dua ruang kosong, Yang takut diisi karena pernah dikhianati. Tapi bukankah ruang kosong ada untuk dihuni? Bukan untuk dibiarkan sunyi hingga mati.
Membaca lirik itu, pertahanan Nana runtuh. Ia menyadari bahwa Ghava tidak sedang memaksanya untuk "siap". Ghava justru sedang mengatakan bahwa ia bersedia menjadi ruang kosong yang sama, agar mereka tidak perlu merasa sendirian dalam kesepian mereka.
"Aku nggak minta kamu buat siap sekarang, Nadin," ucap Ghava, seolah bisa membaca pikiran Nana. "Tapi jangan pernah bilang kalau apa yang saya lakukan itu cuma karena 'nggak enak hati'. Itu menghina cara saya menghargai kamu."
Nana menunduk, air matanya jatuh tepat di atas kertas lirik itu. "Maaf, Mas... aku cuma takut. Aku takut kalau aku percaya lagi, dan ternyata akhirnya sama saja... aku nggak tahu apa aku bisa bangun lagi kayak Mas Ghava."
Ghava berdiri, ia berjalan mendekati bilik rekaman tempat Nana berdiri. Ia tidak masuk, hanya berdiri di balik kaca transparan yang memisahkan mereka. Ia menempelkan telapak tangannya di kaca itu.
"Kalau kamu jatuh lagi, saya nggak akan cuma bantu kamu berdiri," bisik Ghava melalui mikrofon komunikasi. "Saya akan pastikan nggak ada orang yang bisa bikin kamu jatuh dari awal. Sekarang, nyanyikan lirik ini. Keluarkan semua ketakutan kamu di sini."
Nana menarik napas dalam, memejamkan mata, dan mulai mengeluarkan suaranya. Saat nada pertama keluar, suara Nana bergetar hebat. Itu bukan vokal yang sempurna secara teknik, tapi itu adalah vokal yang paling jujur yang pernah Ghava dengar seumur hidupnya.
Di luar ruangan, Mbak Yane dan Reka yang mengintip lewat celah pintu hanya bisa terdiam. Mereka tahu, di dalam sana, sebuah mahakarya sedang tercipta—bukan hanya lagu, tapi sebuah pengakuan antara dua jiwa yang terluka.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰