NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Hadiah Salah Alamat

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 09.00 AM]

[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Distrik Bao'an, Shenzhen]

Pagi itu, Shenzhen diselimuti langit yang sedikit mendung, seolah mencerminkan suasana hati Lin Xia yang masih belum pulih sepenuhnya dari kejadian semalam di kantor Gu Corp. Namun, di cafe miliknya, kesibukan sudah dimulai. Xiao Li sedang sibuk menata etalase roti ketika seorang kurir berseragam rapi masuk membawa sebuah kotak besar berwarna navy dengan pita satin perak yang sangat elegan.

"Pengiriman untuk Nona Lin Xia," ucap kurir tersebut.

Xiao Li menerima kotak itu dengan dahi berkerut. "Hadiah? Pagi-pagi begini?"

Di sudut cafe, Lin Feng yang baru saja sampai untuk "menyetor muka" (dan diam-diam memantau situasi untuk Jingshen) langsung menegakkan duduknya. Matanya yang tajam melihat ada sebuah kartu kecil terselip di balik pita.

"Apa itu, Xiao Li? Biar kubantu lihat," ujar Lin Feng dengan nada santai, meski hatinya sangat penasaran.

Xiao Li memberikan kartu itu. Lin Feng membacanya dalam hati. Kartu itu tidak memiliki nama pengirim, hanya tertulis satu baris kalimat dengan tulisan tangan yang sangat rapi, tegas, dan berwibawa—tulisan yang sangat dikenal Lin Feng sebagai tulisan Gu Jingshen.

"Terima kasih untuk buburnya. Maaf untuk kata-kata yang tidak seharusnya keluar. Tetaplah menjadi cahaya dalam naskahmu."

Lin Feng tersenyum kecil di balik kartu itu. Sialan, Jingshen. Kau benar-benar payah dalam hal romantis, tapi setidaknya kau mencoba, batinnya. Namun, sesuai perannya sebagai mata-mata dan sahabat yang menjaga rahasia, Lin Feng hanya diam dan meletakkan kembali kartu itu ke atas kotak.

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 09.30 AM]

[Lokasi: Gedung Gu Corp, Ruang Rapat Lantai 15, Shenzhen]

Di saat yang sama, suasana di kantor pusat Gu Corp kembali tegang. Rapat integrasi sistem yang sempat tertunda kemarin kembali dilanjutkan. Namun, ada yang berbeda kali ini. Kursi pimpinan Yan Technology tidak diisi oleh Gu Yanran.

"Tuan Muda Yanran sedang berada di laboratorium riset pusat untuk pengujian perangkat keras, jadi hari ini hanya kami dari tim teknis yang hadir," lapor ketua tim Yan Technology kepada Gu Jingshen.

Jingshen duduk di ujung meja dengan wajah datar yang tak terbaca. "Tidak masalah. Selama kalian bisa menyelesaikan protokol keamanan server yang kuminta kemarin, kehadiran Yanran tidak mutlak diperlukan. Mulailah presentasinya."

Meskipun matanya menatap layar proyektor, pikiran Jingshen sebenarnya sedang melayang ke Distrik Bao'an. Ia terus melirik jam tangannya, menghitung waktu kapan paket yang ia pesan dengan harga fantastis itu sampai ke tangan Lin Xia. Ia merasa gelisah—sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang pria yang biasanya mampu mengendalikan jutaan dolar hanya dengan satu jentikan jari.

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 10.00 AM]

[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Shenzhen]

Pintu cafe berdenting. Lin Xia masuk dengan wajah sedikit pucat dan mata yang agak sembab. Ia langsung menuju bar untuk mengambil celemeknya.

"Xia! Kau sudah datang? Lihat ini, ada paket besar untukmu!" seru Xiao Li sambil menunjuk kotak mewah di atas meja bar.

Lin Xia tertegun. "Paket? Dari siapa?"

"Kurirnya tidak bilang. Hanya bilang untukmu. Coba baca suratnya," jawab Xiao Li sambil memberikan kartu kecil tadi.

Lin Xia mengambil kartu itu dan membacanya perlahan. Matanya menyipit saat melihat kata-kata "maaf" dan "naskah". Ia teringat kejadian kemarin siang ketika Gu Yanran sangat memaksa ingin mengantarnya pulang dan tampak begitu bersikeras ingin membantu urusan naskahnya.

Ditambah lagi, gaya kotak mewah dan pita perak itu sangat identik dengan gaya flamboyan Yanran yang suka kemewahan yang mencolok. Berbeda dengan Jingshen yang menurut pikirannya saat ini adalah pria dingin yang bahkan tidak mau melihat wajahnya semalam.

"Maaf untuk kata-kata yang tidak seharusnya keluar?" gumam Lin Xia sinis. "Pasti ini dari Gu Yanran. Dia merasa bersalah karena sudah mengacak-acak naskahku kemarin dan bersikap sok tahu di depan orang tuaku."

Lin Xia menghela napas panjang dan meletakkan kartu itu dengan kasar. "Dasar Gu Yanran. Dia pikir dengan barang mewah begini aku akan langsung memaafkan campur tangannya dalam naskahku?"

Lin Feng, yang sedang berpura-pura asyik dengan ponselnya di dekat mereka, hampir tersedak kopinya saat mendengar nama "Gu Yanran" disebut.

"Tunggu, Xia. Kau yakin itu dari Yanran?" pancing Lin Feng dengan hati-hati.

"Siapa lagi kalau bukan dia, Lin Feng?" balas Lin Xia ketus. "Tuan Gu yang satu lagi (Jingshen) bahkan tidak sudi membalas pesanku dan mengusirku dari kantornya semalam. Tidak mungkin dia yang mengirim ini. Yanran-lah yang selalu merasa dia adalah pahlawan dalam cerita ini."

Lin Feng segera menundukkan kepalanya. Jarinya bergerak sangat cepat di bawah meja, mengetik pesan darurat kepada Gu Jingshen.

Mata-Mata Terpercaya (Lin Feng): "Gawat, Kawan! Operasi hadiahmu gagal total! Lin Xia sudah menerima paketnya, TAPI... dia mengira itu kiriman dari adikmu, Yanran! Dia sekarang sedang marah-marah menganggap Yanran mencoba menyogoknya. Kau harus bertindak sebelum nama Yanran yang justru jadi harum (atau makin hancur) di matanya!"

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 10.15 AM]

[Lokasi: Ruang Rapat Gu Corp, Shenzhen]

Di tengah penjelasan teknis yang membosankan tentang Cloud Server, ponsel Jingshen yang berada di atas meja bergetar pelan. Ia melirik layar. Begitu membaca pesan dari Lin Feng, rahang Jingshen mengeras seketika.

Hawa di ruang rapat mendadak turun beberapa derajat. Tim Yan Technology yang sedang presentasi mendadak berhenti bicara, merasa ketakutan melihat urat di pelipis sang CEO yang mulai menonjol.

"Ada masalah, Tuan Gu?" tanya ketua tim dengan suara gemetar.

Jingshen tidak menjawab. Ia segera mengetik balasan singkat untuk Lin Feng: "Jangan biarkan dia membuka isinya dulu. Aku akan ke sana setelah rapat ini selesai. Pastikan dia tidak menelepon Yanran untuk berterima kasih!"

Jingshen mematikan ponselnya dengan gerakan kasar. Ia menatap tim teknis di depannya. "Lanjutkan. Dan pastikan kalian selesai dalam sepuluh menit. Aku punya urusan yang jauh lebih penting daripada mendengarkan masalah bandwidth kalian."

[Waktu: Rabu, 29 April, Pukul 10.30 AM]

[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Shenzhen]

Di cafe, Lin Xia akhirnya membuka kotak tersebut. Isinya adalah sebuah pena fountain pen berlapis emas edisi terbatas dan sebuah buku catatan kulit buatan Italia yang sangat cantik.

"Wah, ini benar-benar selera Gu Yanran yang berlebihan," gumam Lin Xia. Ia mengambil pena itu dan melihatnya dengan tatapan tidak senang. "Dia benar-benar meremehkan seorang penulis. Dia pikir alat tulis mahal bisa menggantikan ide-ide yang dia rusak?"

Xiao Li hanya bisa terdiam melihat kemarahan sahabatnya. "Tapi Xia, ini barang yang sangat bagus..."

"Tidak peduli seberapa bagus barangnya, Li. Caranya memberikan ini secara anonim itu sangat pengecut," tukas Lin Xia. Ia mengambil ponselnya, hendak mencari nomor Gu Yanran.

Lin Feng langsung berdiri dari kursinya. "Eh, Xia! Tunggu! Jangan telepon dulu!"

Lin Xia menoleh bingung. "Kenapa? Aku harus memberitahunya agar tidak melakukan hal konyol seperti ini lagi."

"Begini... mungkin... mungkin saja bukan Yanran?" Lin Feng mencoba memutar otak. "Maksudku, tulisan tangan itu... tidakkah terlihat sedikit lebih... kaku?"

"Kaku atau tidak, hanya Yanran yang punya motivasi untuk minta maaf padaku soal naskah hari ini," jawab Lin Xia keras kepala.

Tepat saat jari Lin Xia hendak menekan tombol panggil untuk Yanran, pintu cafe terbuka dengan dentuman kecil. Sosok tinggi tegap dengan jas hitam yang sangat rapi melangkah masuk dengan aura yang mendominasi seluruh ruangan.

Gu Jingshen telah sampai. Napasnya sedikit tidak beraturan, menunjukkan bahwa ia mungkin berlari dari parkiran. Matanya langsung tertuju pada kotak biru di bar dan ponsel di tangan Lin Xia.

"Jangan telepon dia," ucap Jingshen dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Lin Xia tertegun melihat Jingshen tiba-tiba muncul di hadapannya. "Tuan Gu? Apa yang Anda lakukan di sini? Bukannya jam segini Anda harus di Kantor?"

Jingshen berjalan mendekat, mengabaikan Lin Feng yang memberi isyarat "selamat berjuang" dari kejauhan. Jingshen berdiri tepat di depan Lin Xia, menatap pena emas yang masih dipegang wanita itu.

"Hadiah itu bukan dari Yanran," ujar Jingshen tegas.

Lin Xia menaikkan alisnya, bingung. "Lalu dari siapa? Siapa lagi yang merasa perlu meminta maaf padaku?"

Jingshen berdeham, wajahnya tampak sedikit canggung—pemandangan yang sangat langka. "Dari pria yang semalam memakan buburmu dan bertingkah seperti orang bodoh karena tidak tahu cara berterima kasih."

Suasana cafe mendadak hening. Xiao Li menahan napas, sementara Lin Xia mengerjapkan matanya, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!