Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Benang Merah
Melani menyandarkan punggungnya di kursi kerja ergonomis seharga puluhan juta. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya fokus pada angka dan strategi bisnis, kini tertuju pada sosok asisten barunya. Melani takjub sejenak. Sebagai wanita yang tumbuh di lingkungan kelas atas, indranya sangat sensitif terhadap detail materi. Ia menyadari bahwa kemeja sutra yang dikenakan Bela bukan sekadar kemeja putih biasa; itu adalah potongan khas Loro Piana. Begitu juga dengan jam tangan Cartier Tank yang melingkar cantik di pergelangan tangan Bela.
Melani heran. Bagaimana mungkin seseorang yang dari ujung rambut hingga ujung kaki mengenakan barang branded mau bekerja menjadi asisten pribadinya? Melani merencanakan gaji sepuluh juta untuk bulan pertama karena status Bela yang masih baru, tapi melihat apa yang melekat di tubuh wanita itu, Melani ragu apakah angka itu cukup untuk biaya hidup Bela?
"Siapa sebenarnya Bela ini? Kenapa selera kami bisa hampir setara?" Batin Melani bergejolak antara rasa penasaran dan gengsi untuk bertanya. Namun, ia yakin waktu akan membuka semua tabir itu.
"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Melani tanpa menoleh, matanya nampak sibuk memperhatikan nail art baru di jemarinya yang lentik.
"Oh, di kosan. Mungkin sekitar lima belas menit dari sini, Bu," ucap Bela sopan.
"Kos-kosan?" Melani akhirnya menoleh penuh. Keningnya mengerut heran, seolah kata 'kosan' adalah istilah asing yang tidak pas disandingkan dengan penampilan berkelas Bela.
"Iya, hehehe," jawab Bela canggung. Ia merasa risi saat mata Melani menyisir tubuhnya dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik.
"Apa outfit gue berlebihan, ya? Ini juga kebanyakan Mama yang beliin," gumam Bela dalam hati sambil turut memperhatikan penampilannya sendiri.
"Selera outfitmu bagus," ucap Melani tanpa malu mengakui, sebuah pujian langka yang keluar dari bibirnya yang dipulas lipstik matte mahal.
'Tok tok!'
Suara pintu menghentikan interogasi singkat itu. Ibu Angel masuk membawa beberapa dokumen penting. "Bela, untuk awal biar saya jelaskan tugasmu. Kamu harus mengatur seluruh jadwal Ibu Melani, memfilter panggilan masuk, hingga berinteraksi dengan kolega-kolega penting beliau," tutur Angel sembari membuka dokumen di hadapan mereka.
"Well, penjelasan di atas kertas saja tidak cukup. Mending langsung turun lapangan sambil belajar. C'mon," ujar Melani seraya menggandeng tas Hermès Birkin kesayangannya.
"Ehm, maaf Ibu Melani," sela Angel dengan nada mengingatkan, "Sekadar mengingatkan, jadwal hari ini adalah pertemuan penting di Pangkalan Udara. Anda dijadwalkan untuk mendampingi suami Anda bertemu dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri di sana."
Mendengar kata suami, Bela sedikit tersentak dalam diam. Ternyata wanita hebat ini sudah menikah. Bela mulai menerka-nerka dalam hatinya, pria seperti apa yang berhasil memenangkan hati Melani? Dengan standar kecantikan, kecerdasan, dan kasta Melani yang begitu tinggi, Bela yakin suaminya pasti pria yang sangat selevel.
Angel segera menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada Bela. "Ini nama-nama pejabat yang akan hadir. Kamu pelajari di jalan," perintah Angel. Bela mengangguk mantap. Ia segera menyambar MacBook Pro dan tasnya, bergegas mengikuti langkah kaki Melani yang cepat.
Melihat cara Melani berjalan di depan, memerintah dengan satu jentikan jari, dan betapa sibuknya orang-orang di sekelilingnya, ingatan Bela mendadak terlempar ke masa lalu. Melihat Melani, entah mengapa Bela merasa seperti melihat sosok Ayahnya.
Dulu, ia sering melihat pemandangan serupa. Ayah Bela adalah pria yang selalu berusaha tampil sempurna di depan kamera dan publik. Ayahnya adalah pakar dalam memoles citra sebagai pria terhormat dan sukses, meskipun aslinya adalah seorang bajingan dengan temperamen buruk yang bisa meledak kapan saja di balik pintu rumah. Sudah sangat lama Bela tidak melihat hiruk-pikuk kesibukan antara ayahnya dan sang asisten setia, Pak Gunawan.
Sekarang, posisi itu berbalik. Bela merasa seolah dirinya menjadi pemeran pengganti Pak Gunawan dalam skenario hidup yang baru. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Melani juga sama dengan ayahnya? Apakah kehangatan dan senyuman profesional yang ditunjukkan Melani di depan umum hanyalah topeng? Apakah nantinya, sifat asli Melani yang mungkin saja kasar atau temperamental hanya akan nampak di hadapan Bela sebagai asisten pribadinya? Bela begitu penasaran, sekaligus waspada. Bagaimana sih sebenarnya karakter asli wanita bernama Melani Ayundira ini?
Mobil mewah yang mereka tumpangi membelah jalanan dengan halus. Begitu memasuki kawasan militer pangkalan udara, suasana berubah drastis. Bela menatap keluar jendela dengan takjub. Di sana, di hamparan aspal luas apron bandara, beberapa jet tempur terparkir gagah, memantulkan sinar matahari dari badan bajanya. Bendera merah putih berkibar di mana-mana, dikelilingi oleh barisan prajurit yang berdiri tegak dengan seragam kebanggaan mereka. Kesannya sangat maskulin, dingin, dan penuh disiplin. Lokasi ini benar-benar mencerminkan kekuasaan militer yang kaku namun sangat keren.
Bela menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia merasa terhormat sekaligus tegang bisa berada di lingkungan elit seperti ini di hari pertamanya bekerja.
Mobil mewah itu akhirnya melambat dan berhenti dengan presisi di area parkir khusus VIP. Begitu pintu terbuka, udara Pangkalan Udara yang kering dan beraroma avtur langsung menyambut indra penciuman mereka. Bela turun dengan anggun, merapikan kemeja Loro Piana miliknya yang sedikit kusut karena duduk terlalu lama.
Mata Melani langsung bergerak lincah, memindai area apron yang luas. Tak butuh waktu lama, pandangannya terkunci pada satu sosok. Di dekat salah satu pesawat angkut militer yang sedang terparkir, berdiri seorang pria dengan seragam lengkap. Pria itu tampak tengah serius memperhatikan badan pesawat, entah dia sedang melamun di sana atau memang ada detail teknis yang menyita perhatiannya.
Bela mengikuti arah pandangan Melani. Ia menarik napas pendek. Dugaannya benar. Dari jarak sejauh ini saja, suami Melani tampak begitu gagah. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap sangat serasi dengan seragam militer yang ia kenakan. Bela membatin, pria itu memang terlihat seperti pasangan yang sepadan untuk wanita sekelas Melani.
Begitu mereka berjalan mendekat, langkah kaki mereka yang teredam aspal sepertinya tidak terdengar oleh pria itu. Ia masih saja terpaku menatap pesawat, seolah-olah dunianya hanya ada di sana.
"Raka," panggil Melani dengan suara yang cukup tegas.
Pria itu tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun, padahal posisi Melani sudah berada persis beberapa langkah di belakangnya.
"Raka Aditya!" ucap Melani sedikit lebih keras, kali ini sambil mengulurkan tangan dan menyentuh lengan suaminya.
Sentuhan itu seolah memutus arus listrik yang menahannya. Pria itu tersentak, bahunya sedikit menegang sebelum akhirnya menoleh ke belakang. "Eh, Melani. Lu udah datang," ucap Raka dengan nada suara yang terdengar agak kosong. Ia tampak telat sekali menunjukkan reaksi kaget.
"Lu ngelamun, ya?" Melani mendengus, nada bicaranya sedikit kesal melihat suaminya yang tidak fokus.
"Cuma banyak pikiran aja," jelas Raka singkat sambil mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya, seolah ada beban berat yang sedang bersarang di sana.
Bela yang berdiri tepat di belakang Melani mengamati interaksi itu dengan seksama. Ada satu hal yang langsung menyengat perhatiannya, yakni cara suami istri ini berbicara sangat jauh dari kata romantis. Panggilan 'Gue-Elu', nada bicara yang kaku, dan sebutan nama tanpa panggilan sayang. Bela bertanya-tanya dalam hati, apakah semua hubungan pernikahan yang sudah berlangsung lama akan berubah menjadi sedingin ini? Ataukah memang ini gaya komunikasi kelas atas yang tidak ia mengerti?
"Gue nunggu di mana? Enggak usah lama, ya, gue juga ada urusan," ucap Melani, kembali ke mode bosnya yang tidak suka membuang waktu.
Raka mendongak, matanya awalnya hanya melirik Melani. Namun, saat ia menggeser pandangannya sedikit ke samping, ia menyadari ada sosok lain yang berdiri tepat di belakang istrinya. Tubuh Melani yang tinggi dan jenjang nyaris menyembunyikan keberadaan Bela sepenuhnya, hanya menyisakan bagian atas kepala Bela yang terlihat.
"Siapa?" tanya Raka dengan suara setengah berbisik, matanya menyipit penuh selidik.
"Oh! Asisten baru gue," ucap Melani teringat, ia kemudian sedikit bergeser ke samping, memberikan ruang bagi Bela untuk terlihat sepenuhnya.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar di apron Pangkalan Udara tersebut.
Bela dan Raka kini berhadapan langsung tanpa penghalang. Sorot mata mereka bertemu, mengunci satu sama lain dalam keheningan yang menyesakkan. Bela merasakan sensasi dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke sumsum tulang belakang. Sorot mata pria itu... tatapan tajam yang dingin itu... ia merasa pernah bertemu dengannya. Wajah itu, meski tertutup wibawa seragam militer, terasa begitu lekat dan tidak asing di ingatannya.
Begitu juga dengan Raka. Ekspresinya yang tadi tampak lelah mendadak berubah menjadi tegang yang tersembunyi. Ada kilatan pengenalan yang melintas di matanya, sebuah memori yang terkubur namun kini mendadak muncul ke permukaan. Mereka berdua berdiri membeku, saling menatap di bawah terik matahari, sementara Melani berdiri di tengah-tengah mereka tanpa tahu masing-masing perasaan mereka.