Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuh tanpa suara
Di pojok remang bar yang riuh, seseorang menemukan kesunyian yang paling bising. Gelas itu adalah satu-satunya saksi bisu betapa pahitnya kabar yang baru saja ia telan.
Cahaya amber dari wiski di tangannya memantulkan bayangan masa lalu yang kini resmi terkunci. Ada nama yang dulu ia sebut dengan cinta, kini dirayakan orang lain dengan janji suci. Ia tidak sedang mabuk oleh alkohol, melainkan oleh kenyataan bahwa "selamanya" ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa.
Setiap denting es batu yang beradu dengan kaca terdengar seperti detak jam yang memaksanya melangkah maju, sementara hatinya masih betah bertamu di kenangan lama. Di antara kepulan asap dan tawa orang asing, ia merayakan sebuah perpisahan yang akhirnya benar-benar tuntas. Bukan dengan amarah, hanya dengan sebuah helaan napas panjang yang ia biarkan larut dalam tegukan terakhir.
Malam ini, ia tidak sedang meratapi kehilangan, ia hanya sedang membiasakan diri menjadi orang asing di dalam cerita yang pernah ia tulis sendiri.
Dunia di luar sana mungkin sedang merayakan cinta yang baru, namun di sudut remang ini, ia sedang menyaksikan dunianya sendiri runtuh tanpa suara. Ia tidak mencari mabuk untuk lupa, ia hanya butuh tempat untuk hancur tanpa perlu merasa malu, membiarkan dadanya sesak oleh kenyataan dan cinta yang kini tak lagi memiliki alamat untuk pulang.
Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah mengejek detak jantungnya yang patah. Di sini, di antara bau apek kayu dan aroma alkohol yang tajam, ia membiarkan dirinya menjadi reruntuhan yang paling sunyi.
Ia menatap kosong pada cairan pekat dalam gelasnya, membayangkan di belahan kota yang lain, gaun putih sedang disampirkan dan tawa sedang dibagikan. Ada perih yang tak bisa dijelaskan saat menyadari bahwa sosok yang dulu adalah separuh jiwanya, kini telah menjadi "milik" yang sah bagi orang asing. Ruangan ini penuh orang, namun ia merasa seperti satu-satunya jiwa yang tertinggal di sebuah stasiun yang sudah lama ditinggalkan kereta.
Setiap helaan napasnya terasa berat, seolah udara di bar itu perlahan berubah menjadi semen yang membeku di dadanya. Ia tidak butuh simpati, ia hanya butuh malam ini tidak pernah berakhir, karena esok pagi, matahari akan terbit di dunia, di mana ia benar-benar tak lagi punya tempat untuk sekadar mengenang.
Ia meletakkan gelasnya yang kini kosong, meninggalkan noda lingkaran basah yang perlahan mengering di atas meja—seperti jejak keberadaannya yang juga akan segera memudar. Dengan langkah yang dipaksakan tegak, ia mendorong pintu kaca yang berat, menukar sesak ruangan remang itu dengan dinginnya angin malam yang menusuk tulang.
Di bawah lampu jalan yang temaram, ia berdiri sejenak, menatap bayangannya sendiri yang memanjang di trotoar yang sepi. Bar itu tertutup di belakangnya, mengunci rapat sisa-sisa kesedihan yang baru saja ia tumpahkan, namun beban di dadanya tidak ikut tertinggal. Ia berjalan menjauh, membiarkan bunyi langkah kakinya menjadi satu-satunya melodi pengantar bagi sebuah babak yang telah benar-benar tamat.
Kota ini masih sama, namun baginya, setiap sudut jalan kini terasa seperti peta yang kehilangan arah. Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan malam, bukan untuk menuju rumah, melainkan untuk belajar bernapas di dunia yang kini terasa asing dan jauh lebih luas dari sebelumnya.
Dia adalah, Al Deric Zeviro
"Kamu mabuk." Kanaga terkejut saat membuka pintu rumahnya ketika bel tidak berhenti berbunyi.
Deric melangkah masuk tanpa menjawab. Tujuannya kamar tamu rumah milik sepupunya itu. Dua tahun lalu Kanaga menikahi teman kantor Sebria. Yaitu Vaila Sahira. Kini Kanaga bergelar seorang ayah dari dua putra kembar nya.
"Terlalu jauh pulang ke rumah."
...----------------...
Di ruang tengah yang beraroma kayu dan teh melati, tawa terdengar sebagai melodi utama. Sebria duduk bersandar di bahu Jehan yang kini menjadi pelabuhan barunya—seorang suami yang menatapnya dengan binar yang dulu pernah ia miliki. Di hadapan mereka, Byan sedang asyik bermain di atas karpet bulu, sesekali mendongak untuk memamerkan hasil karyanya, disambut dengan usapan lembut di kepala yang penuh kasih.
Tak ada jejak badai di rumah itu. Meja makan tertata rapi, dikelilingi oleh bingkai foto-foto baru yang menangkap momen kebersamaan yang utuh. Setiap sudut ruangan seolah berbisik tentang penyembuhan dan awal yang baru, tentang bagaimana sebuah hati yang pernah patah bisa kembali menemukan rumah yang nyaman. Di sana, kebahagiaan bukan lagi sebuah konsep acak, melainkan pemandangan nyata dari sebuah keluarga kecil yang saling melengkapi dalam harmoni yang sempurna.
"Bagaimana harimu, Je?" tanya Sebria lembut. Sang suami hanya tersenyum, lalu meraih jemarinya dan mengecup punggung tangannya lama.
"Jauh lebih baik sekarang, karena ada di sini," jawab Jehan lirih, sebuah pengakuan sederhana yang membuat rona merah di pipi istrinya kembali mekar.
Byan mendongak, menyodorkan sebuah gambar krayon yang penuh warna. "Lihat, ini kita bertiga di taman!" serunya dengan antusiasme yang murni.
Jehan tertawa renyah, mengangkat bocah itu ke pangkuannya sambil menunjuk gambar tersebut. "Wah, Papa kelihatan gagah sekali di sini. Besok kita buat kenyataan, ya? Ke taman yang ada kincir anginnya?"
Sebria mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami sambil menyaksikan interaksi itu dengan mata yang berkaca-kaca karena syukur. "Terima kasih sudah melengkapi aku," bisiknya hampir tak terdengar.
Jehan hanya mempererat pelukannya, seolah jawaban terbaik adalah kehangatan yang takkan membiarkan satu pun kedinginan masa lalu masuk kembali melewati pintu mereka.
...----------------...
Pagi menyapa dengan jemari cahaya yang lembut, menyelinap di antara celah gorden untuk membangunkan rumah yang masih hangat oleh sisa mimpi semalam. Aroma kopi yang baru diseduh mulai menari di udara, bercampur dengan wangi roti panggang yang menjadi harmoni pembuka hari.
Jehan berdiri di depan cermin, merapikan simpul dasinya dengan saksama. Melalui pantulan kaca, ia melihat istrinya mendekat, membantu merapikan kerah kemejanya dengan sentuhan yang selalu terasa seperti doa. Senyum mereka mengembang sempurna mengekspresikan cinta dalam tatapan.
"Hati-hati di jalan," bisik Sebria, dibalas dengan kecupan singkat namun dalam di kening, sebuah janji tanpa kata bahwa ia akan selalu pulang ke pelukan ini.
Tak lama, riuh langkah kecil sang anak memecah suasana. Tas sekolahnya yang berwarna hitam sudah tersampir di bahu, siap menjemput dunia. Mereka melangkah keluar bersama, membelah kabut tipis yang mulai memudar.
Byan merasa senang karena hari ini setelah mengambil izin tidak hadir ke sekolah beberapa waktu. Di mulai dengan di antar oleh Sebria. Meski begitu peran Bi Merry tetap ada setelah Byan nanti pulang ke rumah.
Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰