NovelToon NovelToon
CINTA BEDA KASTA

CINTA BEDA KASTA

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu Pengganti
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Five Vee

Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.

Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.

Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.

Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁

Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Kamu Mendengarnya?

Setelah kepergian Celine, Arthur kembali duduk di atas sofa. Ia menatap seonggok daging panggang yang sudah alot karena telah dingin.

“Apa yang di katakan Dona benar? Apa Rea mendengar sesuatu?”

Arthur berusaha mengingat pembicaraannya dengan Celine. Ia merasa tak ada pembicaraan yang berarti. Hingga pria itu teringat sesuatu.

‘Aku hanya menganggapnya sebagai pengasuh Audrey, Cel. Lagi pula, kamu menolak ku, jika tidak, mungkin kamu yang aku jadikan ibu untuk Audrey.’

“Si-al.” Umpat Arthur kemudian.

“Apa dia mendengar omonganku yang itu?” Ia kembali bergumam.

Terlalu larut dalam obrolan dengan Celine membuatnya berbicara tanpa berpikir dulu. Padahal niatnya hanya bergurau pada wanita satu anak itu. Tetapi justru menimbulkan kesalahpahaman dengan gadis lain.

Tangan pria itu pun terulur meraih alat makan, kemudian menusuk sepotong wortel rebus, lalu di celupkan ke dalam kubangan saos barbeque buatan Andrea.

Ia tertegun, rasa saos itu bahkan sama dengan rasa saos di restoran favoritnya. Arthur kemudian memotong sedikit daging panggang itu, meski tak lagi lembut, namun Arthur dapat merasakan kelezatannya.

Pria itu membuang nafas kasar, sebagai seorang pemilik hotel berbintang lima, yang juga di lengkapi dengan restoran, Arthur tentu tau jika untuk menyiapkan makanan seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Tidak, ini hanya makan siang, aku juga tidak meminta.” Arthur mencoba menepis rasa bersalah yang menyelinap di hatinya.

Ponsel Arthur berdenting, menandakan sebuah pesan telah di terima. Ia pun membukanya.

“Apa kamu sudah mencicipi masakan buatan Rea? Lihatlah, dia begitu telaten membuatnya.”

Sebuah pesan bergambar dikirim oleh mama Daisy. Foto Andrea sedang berkutat di balik meja dapur.

“Dia benar membuatnya sendiri?” Gumam pria itu. Ia kembali mencicipi saos dengan potongan kentang goreng.

“Mama, kenapa kamu membuat aku semakin merasa bersalah kepada gadis itu.” Ia pun mengacak rambutnya sendiri.

Arthur kembali teringat dengan pembicaraan Thomas dan Andrea tempo hari. Gadis itu berjanji akan menjadi koki kepada mendiang ayah dan ibunya.

Pria itu lantas menghubungi seseorang dengan ponselnya.

“Aku ingin kamu memanggil kembali pelamar atas nama Andrea Cecilia.” Ucapnya saat panggilan telah terhubung.

“Pelamar di departemen apa ya, pak?” Tanya orang diseberang panggilan.

Arthur membuang nafasnya kasar. Ia kemudian melihat nama kontak yang sedang dihubunginya.

Jelas saja orang di seberang panggilan bertanya di departemen mana, Arthur menghubungi General Manager, The Royal Dinata Hotel.

“Departemen F & B Production.” Jawabnya kemudian.

“Tetapi pak, posisi koki pembantu telah terisi. Dan sekarang lowongan sudah di tutup.” Jelas General Manager itu.

“Aku tidak mau tau. Aku mau kamu memberikan pekerjaan pada pelamar atas nama Andrea Cecilia di sana. Atau kamu akan aku mutasi menjadi Office Boy.”

Terdengar helaan nafas panjang dari seberang panggilan. General Manager yang seorang pria berusia empat puluh tahun itu sepertinya sedang berpikir dan mencari jalan keluar.

“Pak, aku tidak bisa menjanjikan posisi di dapur hotel, tetapi mungkin bisa menempatkan di dapur restoran.”

“Aku tidak perduli. Yang jelas, dia harus menjadi bagian dari Royal Dinata.”

Tanpa menunggu jawaban, Arthur pun memutus panggilan.

🍃🍃🍃

Menjelang malam, Arthur pulang kantor lebih awal dari biasanya. Jika sebelumnya ia akan pulang menjelang tengah malam, hari ini pria itu pulang sebelum jam makan malam.

Tujuannya supaya lebih cepat bertemu dengan Andrea. Entah kenapa, rasa bersalah enggan pergi dari hatinya. Padahal sudah berulang kali coba di ia tepis.

“Tumben jam segini sudah pulang?” Tanya mama Daisy terheran melihat sang putra yang sudah berada di ruang tamu rumah mereka.

“Apa aku tidak boleh pulang lebih cepat?” Tanya pria itu sembari meraih tangan sang mama kemudian mengecupnya.

“Tentu saja. Bahkan harus kamu biasakan pulang tepat waktu. Ingat Arth, segalanya memang memerlukan uang, tetapi satu hal yang tidak bisa di beli, yaitu waktu.”

“Aku mengerti, ma. Karena itu, mulai hari ini aku akan membiasakan diri pulang lebih cepat.”

Pria itu memindai sekitarnya. Tak terlihat bayangan orang yang ia cari.

“Mencari siapa?” Tanya mama Daisy dengan mata memicing.

“Apa Rea sedang memasak?” Tanya Arthur kemudian.

Mama Daisy tak dapat menyembunyikan senyumnya. Ia sangat senang, mendengar sang putra menanyakan Andrea.

“Apa kamu begitu ingin menikmati masakannya?” Selidik wanita paruh baya itu.

“Bukan, ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya.”

“Oh, ya? Rea ada di atas. Dia tidak pernah memasak makan malam. Kan sus Rini sudah pulang. Jadi, gadis itu—

Belum selesai sang mama berbicara, Arthur begitu saja meninggalkan wanita paruh baya itu.

“Ya, Tuhan. Tidak sopan sekali dia. Aku belum selesai bicara. Anak siapa dia itu? Apa tidak pernah belajar sopan santun?” Gerutu wanita berdarah Inggris itu.

Dengan langkah lebarnya, Arthur berjalan menuju kamar Audrey kecil. Karena sudah pasti, Andrea berada disana.

Biasanya, Arthur akan membersihkan diri terlebih dulu, baru pergi ke kamar bayi itu. Namun, kali ini berbeda. Kamar Audrey menjadi tujuan pertamanya.

Tanpa mengetuk, pria itu masuk begitu saja. Membuat Andrea yang sedang menimang Audrey tersentak.

Arthur pun berjalan mendekat ke arah gadis itu.

“Maaf.” Ucap pria itu saat berada di dekat Andrea.

Dahi Andrea berkerut halus. Ia tak mengerti akan maksud ucapan pria itu.

“Ada apa, tuan?” Tanyanya kemudian.

Kepala Arthur menggeleng. Ia bingung sendiri harus memulai darimana.

“Terimakasih, karena kamu sudah membawakan makan siang untukku.” Ucapnya kemudian.

Kedua alis Andrea bertaut. Kenapa Arthur mengatakan hal itu? Bukannya Thomas mengatakan jika makan siang itu untuk dirinya?

“Makan siang apa?” Andrea pura-pura tidak tau.

“Aku tau kamu datang ke kantor. Kenapa tidak masuk ke ruangan ku? Dan memberikan langsung padaku?”

Andrea menghela nafas pelan. Ia kemudian meletakkan tubuh mungil Audrey di atas tempat tidur.

“Rea.” Arthur kembali bersuara. Andrea pun mendekat pada pria itu, agar tak menganggu tidur Audrey.

“Ya?”

“Katakan padaku, kenapa kamu tidak masuk kedalam ruanganku tadi siang?” Tanya Arthur dengan menatap lekat wajah gadis berusia dua puluh dua tahun itu. Wajah polos tanpa polesan make-up itu terlihat begitu manis.

“Aku tidak ingin menganggu obrolan orang.” Jawab Andrea yang menatap sebentar ke arah pria di hadapannya, kemudian memalingkan wajah. Karena tak baik baginya untuk menatap wajah tampan itu terlalu lama.

“Katakan padaku, apa yang kamu dengar?” Tanya Arthur sembari memegang kedua bahu Andrea, membuat gadis itu menatapnya.

“Aku tidak mendengar apapun.” Bohong Andrea.

“Jangan berbohong, Rea.” Ucap Arthur sembari meremat bahu gadis itu.

“Untuk apa aku berbohong. Apapun yang tuan dan kekasih tuan bicarakan, itu bukan urusanku. Aku hanya pengasuh Audrey.” Dengan berani Andrea menatap tepat ke arah manik mata pria itu. Ia tak perduli rasa sakit akibat cengkeraman tangan besar Arthur pada lengannya.

“Jadi kamu mendengarnya?”

“Tidak.” Tukas Andrea dengan cepat.

Arthur tersenyum miring. Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.

“Tidak semua yang kamu dengar itu benar, Rea. Bisa saja, itu hanya sebagian.” Ucapnya tepat di depan wajah gadis itu.

“Aku tidak perduli, dan itu bukan urusanku.” Ucap Andrea lirih.

“Tetapi itu menjadi urusanku.”

Mata Andrea membulat sempurna. Tubuh gadis itu seketika kaku. Arthur tanpa permisi mengecup bibirnya.

.

.

.

Bersambung.

1
Denny Srivina Barus
Luar biasa
Rina Arie
bagus, thanks thor
Ervina T
Luar biasa
Alini Maudia
.
Nining Chili
Luar biasa
Nining Chili
Lumayan
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
uughhh top mommy mertua 👍👍
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
mantap lawan teroos pelakor
Meri Meri
Luar biasa
Ayachi
kok selalu bisa pas gitu yah, mama Daisy KLO grebekin org😭🤣
Ayachi
keren jga yah namanya thorr, jarang² loh🤣
Ayachi
sok²an ngambek lgi kmu turrr🤣
Ayachi
udah bener honeydew aja, ini malah melon😭 nona melon, vulgar bngett njirr😭🤣
Ayachi
sudut dapur?😭 Arthur arthurrr🤦
Ayachi
ini termasuk dosa kedua org tuakah? bukannya jelas Audrey korban pemerkosaan?
@arieyy
Dady,papi,papa,ayah🤣🤣🤣🦭
@arieyy
jenny ...coba bilang sama kaka author nya...daftar dulu 🤣🤣
andrana maula
Luar biasa
Ita Putri
Halah
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an
Ita Putri
apa mungkin yg perkosa Audrey si bryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!