Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Bahtera Yang Retak
Setahun telah berlalu sejak pesta meriah itu usai. Rumah besar yang dulunya hangat dengan tawa Ayah dan Bunda, kini seringkali terasa sunyi dan dingin, seolah hanya menjadi tempat persinggahan bagi dua orang yang sedang mengejar ambisi masing-masing.
Reno kini bukan lagi sekadar kakak yang protektif; ia telah menjelma menjadi seorang pemimpin yang ambisius. Di bawah tangannya, perusahaan cabang Ayahnya melesat dua kali lipat, namun harga yang harus dibayar adalah kehadirannya di rumah. Ia sering pulang saat fajar hampir menyingsing, dengan aroma kopi dan stres yang melekat kuat di jas mahalnya.
Di sisi lain, Sarah tetap menjadi dokter yang berdedikasi. Namun, jam kerja rumah sakit yang padat dan kelelahan fisik mulai mengikis ketenangannya.
Suatu malam, jam dinding menunjukkan pukul 23.50. Sarah duduk di meja makan dengan sepiring makanan yang sudah mendingin. Suara pintu depan terbuka pelan, disusul langkah kaki Reno yang berat.
"Baru pulang?" tanya Sarah lirih.
Reno tersentak, tidak menyangka Sarah masih bangun. "Ada meeting mendadak dengan investor Jerman, sayang. Kamu tahu 'kan proyek integrasi ini lagi krusial?" jawab Reno tanpa menoleh, sambil meletakkan tas kerjanya dan melonggarkan dasi.
"Aku tahu. Tapi ini sudah malam ketiga belas kamu pulang lewat jam sebelas, Ren. Kita bahkan nggak punya waktu sepuluh menit untuk bicara tanpa kamu pegang ponsel," suara Sarah mulai bergetar.
Reno menghela napas kasar, tanda ia mulai kehilangan kesabaran. "Sarah, aku kerja buat siapa? Buat kita, buat masa depan keluarga ini. Aku nggak mau ngecewain Ayah."
Sarah berdiri, tangannya meremas selembar kertas hasil laboratorium yang sejak tadi ia pegang. "Masa depan keluarga? Keluarga yang mana, Ren? Keluarga yang isinya cuma dua orang asing yang tinggal satu atap?"
Sarah berjalan mendekat dan meletakkan kertas itu di atas meja, tepat di depan Reno. "Aku hamil, Ren. Sudah tujuh minggu."
Reno tertegun sejenak. Matanya menatap kertas itu, lalu beralih ke perut Sarah. Ada kilatan emosi di matanya—mungkin haru, mungkin kaget—namun hanya bertahan satu detik sebelum ponselnya bergetar hebat di atas meja. Sebuah panggilan dari manajer operasional.
Reno melirik ponselnya, lalu menatap Sarah kembali dengan wajah yang kembali mengeras, sebuah kecupan singkat mendarat di keningnya. "Oke... itu kabar bagus, sayang. Aku senang. Tapi tolong, jangan sekarang. Aku harus angkat telepon ini, ini soal server di kantor cabang yang down."
"Reno! Aku baru bilang kalau aku hamil!" Sarah berteriak, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah. "Apa perusahaan itu lebih penting daripada anak kamu sendiri? Apa kamu tidak senang dengan kabar ini?"
"Aku bilang aku senang. Jangan dramatis, Sarah!" bentak Reno, suaranya menggelegar di ruang makan yang sepi. "Anak itu butuh biaya, butuh masa depan yang terjamin! Dan itu tugasku untuk cari uangnya. Kamu kan dokter, kamu bisa jaga diri kamu sendiri dulu kan? Aku lagi sibuk!"
"Ya, kamu benar. Aku bisa urus diri aku sendiri!"
Reno menyambar ponselnya dan berjalan keluar menuju ruang kerjanya, membanting pintu dengan keras.
Sarah terduduk di kursi makan, menatap piring yang masih penuh. Omelan Bunda di bandara dulu kembali terngiang di telinganya: "Jangan menyerah pada Reno dalam keadaan apa pun." Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Sarah merasa lelah.
Reno di dalam ruang kerjanya sebenarnya tidak benar-benar fokus pada teleponnya. Ia bersandar di pintu, menatap layar ponsel yang menampilkan foto pernikahannya dengan Sarah. Jantungnya berdegup kencang karena kabar kehamilan itu, namun ketakutannya akan kegagalan bisnis—warisan Ayahnya—membuatnya memilih untuk memakai topeng kaku. Ia takut jika ia melunak sedikit saja, ia akan kehilangan kendali atas segalanya.
Reno berubah menjadi sosok Singa Tua yang jauh lebih dingin daripada Ayahnya dulu, tanpa menyadari bahwa perisai yang ia bangun justru melukai orang yang paling ia cintai.
Beberapa malam terlah berlalu sejak perdebatan Sarah dan Reno saat itu, suasana rumah yang biasanya menjadi pelabuhan paling aman bagi Abel, mendadak terasa seperti medan perang yang menyesakkan. Abel berdiri di depan pintu ruang kerja Reno, menatap kakaknya yang masih sibuk di depan tiga layar monitor, mengabaikan Sarah yang sedang mual hebat di kamar mandi lantai atas.
"Kak, cukup," suara Abel gemetar namun tegas. "Kak Sarah lagi butuh Kakak di atas. Dia muntah-muntah, wajahnya pucat. Tolong matikan laptopnya sebentar saja."
Reno tidak menoleh. Jemarinya masih menari di atas keyboard. "Gue lagi deploy sistem baru, Bel. Jangan ganggu. Suruh asisten rumah tangga atau siapa pun buat kasih dia teh hangat."
"Ini bukan soal teh hangat, Kak! Ini soal kehadiran Kakak!" terah Abel, suaranya meninggi. "Ayah nggak pernah ngajarin Kakak jadi mesin seperti ini!"
Mendengar nama Ayah disebut, Reno mendadak berhenti. Ia berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi derit yang memilukan. Ia berbalik, dan untuk pertama kalinya, Abel melihat mata kakaknya merah padam, bukan karena haru, tapi karena kelelahan yang berubah menjadi kebencian pada keadaan.
"LO BISA DIAM, ABEL!" bentak Reno. Suaranya menggelegar, memantul di dinding ruangan.
Abel tersentak, langkahnya mundur seketika. Ini bukan bentakan Reno yang biasanya—bentakan yang berisi omelan protektif atau keusilan. Ini adalah bentakan penuh amarah yang asing.
"Lo tahu apa soal tanggung jawab? Lo cuma anak manja yang gue lindungi selama ini! Lo pikir perusahaan ini jalan pakai perasaan? Lo pikir biaya persalinan dan masa depan anak itu nanti turun dari langit?!" Reno menunjuk wajah Abel dengan telunjuk yang gemetar. "Keluar dari ruangan gue! Urus urusan lo sendiri dan jangan pernah sok tahu soal hidup gue!"
Abel mematung. Dadanya sesak, air mata jatuh tanpa bisa dibendung. Sakit hati itu terasa nyata, seolah ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari menuju kamar Sarah.
Di kamar, Abel menemukan Sarah sedang terduduk lemas di tepi tempat tidur, memegang perutnya yang masih rata. Sarah rupanya mendengar bentakan itu. Ia hanya bisa tersenyum pahit saat melihat Abel masuk dengan wajah sembab.
"Kak Sarah..." Abel langsung memeluk iparnya itu, menangis di bahunya. "Maafin Kak Reno... dia sudah berubah. Mulai sekarang, biar Abel yang jagain Kakak. Abel nggak akan biarin Kakak sendirian. Abel bakal temenin Kakak cek ke dokter, Abel yang bakal urus semua keperluan bayi nanti."
Sarah mengusap rambut Abel dengan lembut, mencoba menenangkan gadis yang kini telah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
"Terima kasih, Abel. Kamu baik sekali," bisik Sarah. Ia melepaskan pelukannya dan menatap mata Abel dengan keteguhan seorang ibu. "Tapi kamu punya hidupmu sendiri. Kamu baru mulai bekerja, karirmu masih panjang."
"Tapi Kak..."
"Sshhh," Sarah meletakkan jari di bibirnya. "Jangan khawatirkan Kakak. Wanita itu jauh lebih kuat dari yang pria-pria di rumah ini bayangkan. Kakak seorang dokter, Bel. Kakak tahu apa yang harus dilakukan untuk janin ini. Kakak yakin... Kakak bisa mengurus anak ini dengan baik, meski harus berdiri di atas kaki sendiri."
Malam itu, di balik pintu kamar yang tertutup, dua wanita itu saling menguatkan. Sementara di ruang kerja bawah, Reno duduk terdiam di kegelapan, menatap tangannya yang tadi digunakan untuk membentak adik kesayangannya. Penyesalan mulai merayap, namun egonya yang setinggi langit tetap menahan dirinya untuk naik ke atas dan meminta maaf.