Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26
Berbanding terbalik dengan ketenangan yang baru saja ditemukan Zayna di pelukan Max, suasana di kediaman rahasia Drake justru penuh dengan ketegangan yang kekanak-kanakan.
Drake berdiri mematung, menatap Ezme yang sedang duduk di tepi ranjang dengan melipat tangan di dada. Bibirnya dikerucutkan, matanya menatap ke arah lain dengan binar amarah yang sengaja diperlihatkan—sebuah taktik manipulasi khas gadis muda yang tahu persis letak kelemahannya.
Dengan nada penuh keyakinan, Drake menjelaskan kepada Ezme bahwa ia berani menceraikan Zayna saat itu juga jika memang itu yang diinginkan. Ia berusaha terdengar tegas, seolah keputusan itu bukanlah sesuatu yang sulit baginya.
Namun Ezme yang tengah diliputi amarah justru semakin cemberut. Sikapnya yang masih labil, khas gadis seusianya, membuat emosinya meluap tanpa bisa ia kendalikan. Wajahnya memerah, napasnya memburu. Ia tidak ingin lagi mendengar janji.
Drake kebingungan. Ia tidak menyangka Ezme akan semarah itu. Otaknya berputar mencari cara untuk membujuk, takut jika gadis itu benar-benar pergi meninggalkannya.
Kemudian Ezme mengangkat wajahnya, menatap Drake dengan sorot mata yang tajam dan penuh tuntutan.
“Aku punya syarat,” ucapnya dingin.
Drake terdiam, menunggu.
“Besok pagi kau harus menceraikan Zayna.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk tawar-menawar.
“Aku tidak mau mendengar alasan apa pun lagi, Drake! Aku ingin kau membuktikannya, bukan hanya mengucapkan janji-janji kosong!” Suaranya bergetar, antara marah dan kecewa. “Aku menunggumu menunjukkan tindakanmu. Kau harus menceraikan istrimu!”
Keheningan menggantung di antara mereka. Drake terpaku. Untuk pertama kalinya, ia merasa terpojok oleh tuntutan yang dulu dengan mudah ia ucapkan.
Belum sempat Drake menjawab tuntutan Ezme, suara bel apartemen tiba-tiba berbunyi.
Ting.
Ezme menoleh dengan dahi berkerut. Tidak ada yang seharusnya datang malam ini.
Drake ikut menegang. Ia berpikir apakah mungkin Zayna tahu apartmen Ezme. Apakah Zayna mengikutinya sampai ke sini.
Ezme melangkah cepat menuju pintu dan membuka layar interkom. Wajah yang muncul di sana membuat tubuhnya seketika kaku.
“Ayah…”
Beberapa menit kemudian, pintu apartemen terbuka.
Ayahnya masuk di susul, Darwin di belakangnya.
“Kakak…” Sapa Ezme terkejut.
Kedatangan Cedric dan Darwin benar-benar menghentikan pertikaian Drake dan Ezme. Suasana yang semula dipenuhi emosi pribadi berubah menjadi ruang rapat dadakan yang kaku dan penuh perhitungan.
Cedric melihat ke arah Max sejenak, dia tidak terkejut, karena ia tahu Drake sudah sering menginap di apartmen putrinya, pria tua gendut itu pun duduk dengan tenang di sofa utama, sementara Darwin membuka berkas-berkas digital di tabletnya.
“Kenapa kau memilih Apartmen seperti ini dan tidak mau tinggal bersama ayah di Mansion?”
“Aku suka hidup sendiri. Ayah sudah mengijinkan jangan mulai lagi…!” Kesal Emze.
“Baiklah… Baiklah… Yang penting kau tidak sakit, ayah sudah tenang.” Kata Cedric.
“Max bersedia menanamkan dana dalam jumlah besar,” ujar Darwin serius, “tetapi dengan satu syarat—semua pengelolaan awal harus ditangani langsung oleh orang yang ia tunjuk.”
“Dan orang itu adalah Drake,” sambung Cedric tanpa ekspresi.
Darwin menatap Drake lekat-lekat. “Kami harus memastikan kau tidak akan membuat masalah. Tidak ada skandal, tidak ada kesalahan administrasi, dan tidak ada drama yang mengganggu stabilitas investasi. Sejujurnya sangat aneh mengapa Max menunjuk orang secara random.”
Drake yang tadinya emosional kini terlihat jauh lebih tenang. “Berikan berkasnya.”
Darwin sempat mengernyit. Namun ia tetap menyerahkan tablet berisi laporan proyeksi, arus kas, estimasi risiko, dan struktur pembagian saham.
Beberapa menit pertama, ruangan sunyi.
Drake membaca cepat. Matanya bergerak sistematis. Sesekali ia memperbesar grafik, lalu menurunkannya kembali. Jarinya mengetuk pelan layar, menghitung secara mental.
Lalu ia berbicara.
“Proyeksi kuartal ketiga terlalu optimistis. Jika kurs bergerak tiga persen saja, margin bersih turun hampir dua belas persen. Dan biaya operasional di cabang timur belum dimasukkan sepenuhnya.”
Darwin terdiam.
Drake melanjutkan, “Selain itu, skema pajak ini kurang efisien. Jika dialihkan ke model distribusi bertahap, Darwin IT bisa menghemat hampir dua miliar dalam setahun.”
Ia bahkan menunjuk satu kesalahan kecil pada perhitungan akumulasi bunga yang luput dari perhatian tim akuntan.
Ruangan mendadak hening.
Cedric menyandarkan tubuhnya perlahan. Tatapannya berubah.
Darwin mengambil kembali tablet itu, memeriksa angka yang disebut Drake. Beberapa detik kemudian ia menghela napas pelan.
“Itu benar.”
Ezme memandang Drake dengan ekspresi campur aduk—terkejut, kagum, dan sedikit tidak percaya.
Meski hanya lulusan SMA, Drake ternyata bukan pria biasa. Ia tidak kesulitan membaca laporan penuh angka dan istilah teknis. Bahkan ia jauh lebih cermat dibanding beberapa akuntan profesional yang selama ini bekerja untuk Darwin IT.
Cedric akhirnya angkat bicara. “Menarik. Sepertinya firasatku benar. Kau keberuntungan yang di berikan pada keluarga Genevra.”
Darwin yang awalnya menyimpan kecurigaan pada Max—mengapa tiba-tiba bersikeras Drake yang menangani investasi—mulai memahami sesuatu.
Max bukan tipe orang yang bertindak tanpa perhitungan.
Jika Max memilih Drake, berarti ia sudah menilai kemampuan pria itu jauh sebelumnya.
Darwin menatap Drake dengan cara berbeda sekarang. Bukan lagi sekadar pria beristri yang terlibat drama dengan adiknya.
Melainkan aset.
“Sepertinya,” ucap Darwin perlahan, “Max memang tahu apa yang ia lakukan.”
Ezme menegang mendengar nama itu lagi.
Di sudut ruangan, Drake terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak merasa terpojok.
Namun justru muncul pertanyaan baru—
Sejak kapan Max memperhatikannya sedetail itu?
Darwin menegaskan kepada Drake agar besok pagi menghadiri rapat, sebab sekretaris Max telah menghubungi dan menjadwalkan rapat resmi. Dalam pertemuan itu, Drake akan resmi menjabat sebagai Manajer Khusus Investasi.
“Besok ada rapat resmi, kau langsung datang ke Perusahaanku, meja dan kantormu sudah di siapkan.”
“Rapat resmi?” Drake mengernyit. “Secepat itu?”
Darwin menatapnya datar. “Ini bukan keputusan mendadak. Max pasti sudah mempertimbangkannya cukup lama.”
Drake terdiam sesaat. “Manager Khusus Investasi… Kedengarannya seperti posisi yang nyaman.”
“Nyaman?” Darwin terkekeh pelan. “Posisi itu berada tepat di bawah pengawasan langsung Max. Satu kesalahan kecil saja, kau tahu akibatnya.”
Drake menatap lurus ke depan. “Aku tidak akan pernah membuat kesalahan. Ini adalah kesempatanku membuktikannya dan menunjukkannya pada mereka yang telah meremehkanku.”
Darwin mendekat setapak. “Semua orang pernah. Bedanya, tidak semua diberi kesempatan kedua.”
Keheningan menggantung di antara mereka.
“Apa ini cara Max mengikatku,” gumam Drake, “atau cara untuk menjatuhkanku?”
Darwin membenarkan letak jasnya. “Datanglah besok pagi. Kau akan mendapatkan jawabannya langsung darinya.”
Drake mengangguk pelan. “Baik. Sampaikan pada Max, aku tidak akan terlambat.”
Darwin berbalik pergi. “Pastikan memang begitu, Drake. Karena di ruangan rapat itu, bukan hanya jabatan yang dipertaruhkan. Jangan ada skandal apapun.”
Drake menatap punggung Darwin yang menjauh, senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
“Aku akan mempertaruhkan semuanya. Bahkan Zayna.”
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk