Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
darah yang berbeda dan luka masa lalu
Lalu
Setelah Alaric meninggalkan sel secara sembunyi-sembunyi untuk menjalankan rencana mereka, Jian Feng berdiri terpaku di kegelapan lorong penjara. Nama "Alaric" terus berputar di kepalanya. Meskipun Alaric mengaku dari Kerajaan Barat, Jian Feng merasa ada sesuatu yang lebih dalam. Ketahanan Alaric dalam menyembunyikan identitas aslinya belum sepenuhnya sempurna di mata seorang kaisar yang jeli.
Wajah itu... Jian Feng merasa tidak asing. Ia menutup matanya, menggali memori masa remaja saat ayahnya, Kaisar terdahulu, masih bertahta. Ia ingat sebuah pertemuan rahasia para petinggi antar-kerajaan. Di sana, di balik pilar aula besar, Jian Feng remaja sempat melihat seorang pemuda sebaya dengan tatapan mata yang tajam dan tenang—tatapan yang sama dengan pria yang baru saja ia ajak bekerja sama.
Jian Feng juga teringat akan kematian ayahnya yang mendadak dan misterius tak lama setelah pertemuan itu. Spekulasi tentang racun atau sihir sempat beredar, namun Jian Feng memilih tidak memikirkannya lebih jauh. Baginya, maut bisa datang kapan saja, dan tugasnya sekarang adalah menjaga takhta yang ditinggalkan. Namun, melihat Alaric di sini, ia mulai menyadari bahwa benang takdir antara mereka sudah terikat jauh sebelum Mei Lin ada di antara mereka.
Beberapa hari kemudian, keheningan penjara pecah oleh suara tawa yang melengking dan langkah kaki yang angkuh. Ibu Suri Aurora datang, dan ia tidak sendirian. Lin Hua berjalan di belakangnya, mengenakan pakaian yang terlalu mewah untuk statusnya, wajahnya dihiasi senyum kemenangan yang memuakkan.
"Lihatlah dirimu sekarang, Mei Lin," ucap Lin Hua, berdiri di depan jeruji sambil melipat tangan di dada. "Di mana kecantikan yang kau banggakan itu? Di mana tatapan suci yang selalu kau tunjukkan pada ibu? Kau hanyalah sampah yang menunggu dibuang."
Mei Lin mengangkat wajahnya yang pucat. "Kenapa, Lin Hua? Kenapa kau begitu membenciku? Aku memberikan segalanya untukmu, untuk Xiao Mei, untuk ibu..."
"Segalanya?!" Lin Hua memotong dengan teriakan nyaring. "Kau hanya memberi kami sisa! Kau selalu menjadi pusat perhatian karena kecantikanmu yang 'murni' itu! Aku muak melihatmu bersikap seolah kau adalah pahlawan keluarga!"
Ibu Suri Aurora tersenyum dingin, menikmati pertengkaran itu. "Memang benar pepatah mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Darah pria lemah yang mati dengan cepat itu memang menurun padamu, Mei Lin."
Mei Lin tersentak. Hatinya seperti disayat sembilu. Rahasia yang selama ini ia simpan di sudut terdalam hatinya kini diangkat dengan cara yang sangat keji. Mei Lin tahu bahwa ia dan kedua adiknya sebenarnya berbeda ayah. Ayah kandung Mei Lin adalah seorang pria jujur yang meninggal dunia saat Mei Lin baru berusia dua tahun. Setahun kemudian, ibunya yang terdesak keadaan menikah lagi dengan seorang pria yang kemudian menjadi ayah bagi Lin Hua dan Xiao Mei.
Lin Hua lahir saat pernikahan itu baru seumur jagung, dan tak lama kemudian ibunya hamil lagi anak si bungsu, Xiao Mei. Namun, ayah tiri mereka juga meninggal tak lama kemudian, meninggalkan Mei Lin sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga.
"Ayahku adalah pria terhormat!" sahut Mei Lin dengan suara gemetar. "Dan aku tidak pernah membedakanmu dengan Xiao Mei! Aku menyayangi kalian seolah kita lahir dari rahim dan darah yang sama!"
"Tapi kenyataannya tidak!" desis Lin Hua, matanya berkilat penuh kebencian. "Kau selalu merasa lebih baik karena kau adalah anak dari 'pria pertama' itu. Kau pikir kau lebih mulia? Sekarang lihatlah, 'anak mulia' itu sedang membusuk di penjara karena sihir hitam. Aku sangat senang melihatmu menderita seperti ini. Ini adalah bayaran atas semua tahun di mana aku harus hidup di bawah bayang-bayangmu."
Ibu Suri Aurora mengangguk puas. "Cukup, Lin Hua. Jangan buang energimu untuk bicara dengan mayat hidup ini.
Mei Lin jatuh terduduk saat mereka pergi. Kehancuran hatinya kali ini bukan karena Jian Feng atau Ibu Suri, melainkan karena kenyataan bahwa cinta tulus yang ia berikan pada adiknya selama bertahun-tahun ternyata hanya dibalas dengan racun kecemburuan. Ia mengira mereka adalah keluarga, namun bagi Lin Hua, Mei Lin hanyalah sebuah penghalang yang harus disingkirkan dari dunia ini. Di tengah kesendiriannya, Mei Lin hanya bisa berharap pada satu hal: apakah aliansi antara Jian Feng dan Alaric benar-benar bisa menyelamatkannya, atau justru ia akan berakhir sebagai korban dari pengkhianatan darahnya sendiri?
bersambung