Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presisi
Plak! Plak! Plak!
"Ayo, Anak-anak! Berkumpul!"
Suara tepukan tangan yang nyaring itu memecah suasana pagi yang tenang. Profesor Charlotte muncul dari ujung koridor, melangkah memasuki lapangan. Jubah birunya berkibar tertiup angin, senada dengan rambut pirang panjangnya yang berkilau.
Kehadirannya yang karismatik seketika menyedot perhatian seluruh siswa, memaksa mereka untuk segera bangkit dari zona nyaman masing-masing.
Ursha'el dan kawan-kawan segera berdiri, merapikan diri sebelum melangkah menuju Profesor Charlotte. Namun, saat Luce yang masih berjalan gontai berada di belakang teman temannya, tiba-tiba sebuah tubuh gempal menabraknya dengan keras dari samping.
Bugh!
Luce terhuyung, nyaris tersungkur ke tanah jika saja ia tidak segera menyeimbangkan diri.
"Ups... maaf. Sengaja," bisik Gideon dengan suara rendah yang penuh nada provokasi.
Tepat di belakangnya, terdengar suara tawa menjengkelkan dari Sylos yang seolah menikmati pemandangan Luce yang tampak mengantuk karena kurang tidur.
Vivi dan lainnya segera berbalik, menatap Gideon dengan pandangan menusuk. "Apa-apaan kau, Gideon!" desis Vivi tajam.
"Ah, tidak... aku hanya ingin memastikan dia tidak tertidur di tengah lapangan," jawab Gideon santai dengan seringai sombong.
"Benar, nanti kalau tiba-tiba dia pingsan saat latihan bagaimana? Kan merepotkan!" timpal Sylos, memperkeruh suasana.
"Kurang ajar..." Kenny mengeram. Tangannya sudah mengepal, siap untuk melayangkan pukulan jika saja Ursha’el tidak segera menahan lengannya dengan kuat.
"Hah... tak perlu galak-galak begitu dong, Gadis Elf-ku yang cantik," ujar Gideon sembari menatap Vivi dengan nada menggoda yang merendahkan. "Setelah ini, kau pasti akan terpukau melihat penampilanku. Ngomong-ngomong, hal bodoh apa lagi ya yang akan dilakukan si 'Badut' itu hari ini?" lanjutnya sambil menunjuk Luce dengan dagunya.
"Entahlah, Bos! Mungkin dia akan tersungkur dan merengek lagi seperti kemarin! Hahaha!" sahut Sylos.
Keduanya berjalan menjauh sambil tertawa terbahak-bahak, meninggalkan kelompok Luce untuk mengambil barisan paling depan di hadapan Profesor Charlotte.
Ursha’el tetap mencengkeram lengan Kenny sampai emosi pemuda itu mereda. Setelah Gideon cukup jauh, ia menepuk-nepuk bahu Kenny pelan. "Sudah, jangan terpancing. Ayo, kita masuk barisan saja," ujar Ursha’el menenangkan.
Vivi mendekati Luce dengan tatapan penuh simpati dan khawatir, lalu mengangguk setuju. "Iya, ayo. Jangan biarkan mereka merusak konsentrasi kita."
Dengan sisa-sisa kekesalan, mereka berempat akhirnya berjalan menuju barisan murid lainnya, bersiap menghadapi pelajaran Profesor Charlotte.
Profesor Charlotte berdiri tegak di hadapan barisan murid yang kini telah tertata rapi. Pandangannya yang tegas namun lembut menyapu setiap wajah di depannya.
"Sudah berkumpul semua? Siap dimulai?" tanya Profesor Charlotte dengan suara jernih yang memancarkan wibawa.
"Siap, Profesor!" jawab para siswa serempak.
"Baik, mari langsung kita mulai saja latihan mantra hari ini. Materi kalian kali ini adalah Presisi Tembakan Energi," ujar Charlotte memulai sesi pelajarannya. Seketika, suasana lapangan menjadi hening, para siswa menyimak dengan saksama.
"Perhatikan ini..." Profesor Charlotte berjalan perlahan di hadapan barisan. "Di sana, kalian lihat? Ada boneka sihir yang bergerak mondar-mandir."
Ia menunjuk ke ujung lapangan. Para murid spontan menyipitkan mata, baru menyadari keberadaan boneka seukuran manusia yang bergerak secara acak sekitar 50 meter dari posisi mereka.
Tanpa ancang-ancang yang lama, Profesor Charlotte mengangkat jari telunjuknya.
Dzing! Dzing! Dzing!
Tiga padatan energi berwarna putih khas elemen dasar angin milik Professor Charlotte melesat secepat kilat. Semuanya menghantam tepat pada titik sasaran boneka yang sedang bergerak tersebut. Aksi yang begitu tenang namun memukau itu membuat beberapa murid melongo takjub.
"Tugas kalian adalah menembak boneka itu dengan padatan energi dari elemen dasar kalian masing-masing. Presisi adalah kuncinya. Paham?" tanya Charlotte sembari menatap murid-muridnya satu per satu dengan senyum lebar.
"Paham, Profesor!" sahut para siswa, meski ada nada gugup di suara beberapa dari mereka.
"Kalian memiliki tiga kali kesempatan menembak. Satu kali tepat sasaran saja sudah cukup untuk mendapatkan nilai sempurna," jelas Profesor Charlotte. "Namun, jika tembakan kedua atau ketiga juga mengenai sasaran, kalian akan mendapatkan nilai tambahan. Dan ingat, semakin cepat kalian mengeksekusi mantra, semakin besar poin bonus yang kalian raih. Baik, kita mulai sesuai urutan barisan!"
Gideon, yang kebetulan berdiri di barisan terdepan, segera melangkah maju dengan penuh percaya diri. Ia menyapu pandangan ke arah teman-temannya dengan tatapan jemawa. Beberapa siswa tampak menatapnya kagum, terpesona oleh aura keberaniannya. Tatapan Gideon sempat tertahan sedetik lebih lama pada Vivi, memberikan seringai sinis yang provokatif.
Vivi membalas tatapan itu dengan raut wajah gusar, sementara tangannya mengepal di sisi tubuh. Gideon kini telah berdiri tegap di posisi menembak, memunggungi teman-temannya dan fokus pada target.
"Mulai!" seru Profesor Charlotte memberi instruksi.
Dzing! Dzing! Dzing!
Tiga kilatan energi berwarna merah membara melesat beruntun. Hanya dalam hitungan detik, ketiganya menghantam telak tubuh boneka sihir yang sedang bergerak itu. Suara decak kagum terdengar dari barisan siswa lainnya.
"Bagus sekali, Gideon! Enam detik, tiga tembakan tepat sasaran. Sempurna!" puji Profesor Charlotte dengan senyum lebar sembari mencatat nilai di papan tugasnya.
Charlotte kemudian mengisyaratkan Gideon untuk menepi. Dengan senyum sombong yang makin lebar, Gideon berjalan perlahan menuju tempat teduh di bawah pohon, seolah baru saja menaklukkan seluruh akademi dengan satu jentikan jari.
"Lanjut!" instruksi Profesor Charlotte singkat.
Satu per satu murid maju ke titik tembak. Suasana lapangan riuh oleh desing letupan energi yang silih berganti, diikuti decak kagum atau lenguhan kecewa, serta pengumuman nilai yang menggema di udara.
"Sylos, tiga tembakan, sembilan detik!"
Sylos melangkah pergi dengan wajah tirusnya yang menjengkelkan, lalu duduk dengan pongah di samping Gideon.
"Rota, dua tembakan, delapan detik!"
Rota, pemuda ras Leonin dengan telinga kucing dan rambut putih yang mencolok, mendesah kesal sebelum akhirnya menyerah dan duduk.
"Vanessa... luar biasa! Tiga tembakan, lima detik!" seru Profesor Charlotte.
Beberapa siswa berdecak kagum melihat kecepatan gadis itu. Vivi menggigit bibir bawahnya, merasa kecemasan mulai merayap naik. Vanessa, dengan rambut hitam panjang sepunggung yang tertiup angin, menyusul Rota dan duduk dengan tenang.
Satu per satu siswa menyelesaikan giliran mereka. Vivi menuntaskan tugasnya dengan sempurna dalam waktu lima detik, menyamai rekor Vanessa, mengundang decak kagum. Ursha'el menyusul dengan hasil sempurna dalam waktu sepuluh detik, sementara Kenny berhasil mendaratkan dua tembakan dalam waktu sembilan detik.
Mereka bertiga duduk bersandar dibawah rimbunnya pepohonan, menonton siswa siswa lain yang mengambil gilirannya.
Hingga akhirnya, suasana mendadak sunyi saat nama terakhir dipanggil. Seperti biasa, Luce selalu berbaris di bagian paling belakang.
"Luce... silakan maju."