"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: KEHANCURAN TOTAL DINASTI LAMA
Selasa, 27 Januari 2026. Di ruang bawah tanah kediaman utama Matsuda yang paling rahasia—sebuah brankas digital yang menyimpan seluruh akses keuangan, aset properti, dan portofolio saham global Matsuda Corp—suasana terasa sangat khidmat. Cahaya biru dari server-server raksasa menyinari wajah tiga orang yang berdiri di sana: Kenzo Matsuda, Hana Sato, dan ayah Kenzo, sang patriark tua, Daichi Matsuda Senior.
Kenzo memegang sebuah kunci enkripsi biometrik terakhir. Dengan tangan yang stabil, ia menyerahkannya kepada Hana.
"Mulai detik ini, Hana," suara Kenzo bergema di ruang kedap suara itu, "seluruh arus kas masuk dan keluar dari Dinasti Matsuda ada di bawah kendalimu. Tidak ada satu yen pun yang bergerak tanpa persetujuanmu. Kau bukan lagi sekadar pendamping; kau adalah bendahara tunggal takhta ini."
Hana menerima kunci itu dengan senyum tipis yang mematikan. Ia segera memasukkannya ke dalam slot kontrol. Di layar hologram raksasa, miliaran dolar aset yang dulu atas nama Shizuka, Miyu, dan Renzo, kini beralih warna menjadi merah—tanda kepemilikan mutlak Hana Sato.
Daichi Matsuda Senior, yang selama ini mengawasi dari balik bayang-bayang, melangkah maju dengan tongkat peraknya. Pria tua itu dikenal sebagai arsitek di balik ambisi Saikou untuk menciptakan manusia sempurna. Ia menatap Hana, lalu beralih ke arah boks bayi otomatis di sudut ruangan tempat Renji sedang tertidur.
"Kenzo... kau melakukan apa yang aku gagal lakukan," suara Daichi berat namun penuh dengan kepuasan yang mengerikan. "Dulu aku mengira keluarga Sato hanyalah subjek eksperimen yang gagal karena kegilaan mereka. Tapi melihat Hana... melihat bagaimana dia menghancurkan Miyu dan Shizuka tanpa mengedipkan mata... aku menyadari satu hal."
Daichi mendekati Hana dan meletakkan tangannya yang keriput di bahu Hana. "Genetik Sato bukan sebuah kegagalan. Ia adalah katalis. Kau menyatukan kecerdasan murni Matsuda dengan insting predator Sato. Renji... cucuku itu... dia adalah prototipe manusia masa depan yang sesungguhnya."
"Aku bangga padamu, Hana," lanjut Ichirou. "Kau telah membersihkan dinasti ini dari 'lemak' yang tidak berguna seperti Shizuka dan putri yang lemah itu. Kau adalah jawaban dari eksperimen panjang keluarga kita."
Hana menatap Daichi dengan rasa hormat yang dingin. "Terima kasih, Ayah Daichi. Tapi jangan salah paham. Aku melakukan ini bukan untuk menyempurnakan eksperimenmu. Aku melakukan ini untuk memastikan tidak ada lagi yang bisa merendahkan darah Sato."
Hana menekan beberapa tombol di panel kendali. "Per hari ini, Shizuka Matsuda dan Renzo secara resmi dinyatakan bangkrut secara hukum. Seluruh dana pensiun mereka telah ditarik ke dalam dana pendidikan Renji. Mereka kini tidak memiliki identitas finansial. Di mata dunia, mereka telah mati."
Kenzo berdiri di samping Hana, menatap layar yang menampilkan angka-angka kekayaan yang kini tak terhingga. "Kau telah membuat Dinasti Lama bertekuk lutut, Hana. Ibuku dan adikku kini hanyalah hantu yang mengemis di jalanan Tokyo, sementara kau adalah pemilik dari setiap gedung yang mereka lewati."
Setelah Daichi meninggalkan ruangan dengan perasaan puas, suasana di brankas bawah tanah itu berubah menjadi lebih intim. Keberhasilan menghancurkan lawan-lawan mereka dan mendapatkan pengakuan dari sang patriark memicu adrenalin yang luar biasa di dalam diri Kenzo.
Ia menarik Hana ke dalam pelukannya, menatap mata wanita yang kini memegang seluruh dunianya. "Hana... kau terlihat sangat berkuasa saat memerintah keuangan keluarga ini. Setiap inci dari dirimu adalah mahakarya."
Kenzo mulai menciumi leher Hana dengan penuh gairah, sementara tangannya menjelajahi lekuk tubuh Hana yang dibalut gaun sutra mahal. Di ruangan yang menyimpan seluruh harta dunia mereka, Kenzo ingin mengklaim kembali wanita yang telah menjadi jantung dari dinasti barunya.
Hana membalas ciuman Kenzo dengan intensitas yang sama. Dominasi finansial yang baru saja ia raih memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Di atas meja kontrol yang menampilkan angka-angka kekayaan Matsuda, mereka bersatu dalam kemesraan yang intim.
"Katakan padaku, Kenzo," bisik Hana di tengah desahan gairah. "Siapa yang sekarang memiliki Dinasti Matsuda?"
"Kau, Hana... hanya kau," jawab Kenzo parau. "Aku, harta ini, dan masa depan ini... semuanya adalah milikmu."
Sementara Hana dan Kenzo merayakan kemenangan mereka, di sebuah lorong gelap di bawah stasiun Shinjuku, Shizuka Matsuda mencoba menukar mantel bulu lamanya yang kotor dengan sepotong roti. Namun, penjual itu mendorongnya hingga jatuh ke genangan air hujan yang dingin.
"Pergi, peminta-minta! Mantel sampah ini tidak laku!" teriak sang penjual.
Shizuka menangis, namun tidak ada air mata yang keluar. Ia teringat saat ia dulu memerintah ribuan pelayan. Sekarang, ia bahkan tidak lebih berharga dari debu. Tidak jauh dari sana, Renzo terlihat sedang mengangkut barang dengan wajah yang lebam, sementara di rumah sakit jiwa, Miyu terus tertawa kecil sambil menggambar simbol Matsuda yang patah di lantai selnya.
Mereka telah dihancurkan secara total. Tidak ada jalan kembali. Dinasti lama telah runtuh hingga ke akar-akarnya, digantikan oleh tatanan baru yang jauh lebih kejam dan efisien.
Kembali ke brankas, Hana berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia berjalan menuju boks Renji dan mengangkat bayi itu. Renji membuka matanya—mata yang tajam, dingin, dan memiliki kilatan kecerdasan yang tidak wajar bagi bayi seusianya.
"Dengarlah, Renji," bisik Hana sambil mencium dahi putranya. "Kakekmu bangga padamu. Ayahmu memujamu. Dan Ibu... Ibu telah memberikan seluruh dunia ini sebagai taman bermainmu. Jangan pernah biarkan siapa pun mengambilnya darimu."
Kenzo mendekat dan merangkul mereka berdua. Di bawah cahaya biru server yang menyimpan triliunan yen, mereka berdiri sebagai unit yang tak terkalahkan. Dinasti Lama telah mati, terkubur di bawah tumpukan penderitaan Miyu dan Shizuka. Dan dari abunya, lahir Dinasti Hitam yang akan memerintah dengan tangan besi.
"Eksperimen ini memang sukses, Ayah," gumam Kenzo pada bayangan Daichi yang sudah pergi. "Tapi hasilnya jauh lebih mengerikan dari yang pernah kau bayangkan."
BERSAMBUNG...