NovelToon NovelToon
Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Luka Yang Ku Peluk Sendiri

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Mertua Kejam / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ...

Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.

☘️☘️☘️☘️☘️

Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.

Penasaran ikutin terus ya kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Kedatangan Umi Zaki di kosan.

Beberapa hari setelah akad Anisa ikut Zaki pulang ke Jakarta. Perjalanan kali ini terasa berbeda, jika dulu Anisa ke Jakarta untuk bekerja pada orang, tapi sekarang dia datang kembali bukan sebagai pembantu melainkan sebagai seorang istri.

 Di dalam kost ukuran kecil itu, hidup mereka adem ayem, saling cinta dan mengasihi, Zaki sebagai suami ia melakukan tugasnya dengan baik, begitu juga dengan Anisa, seperti pagi ini.

 Anisa bangun pagi-pagi, masak nasi dan telur dadar dengan sambal, masakan sederhana itu jauh terasa lebih nikmat, dibanding dengan makanan di restoran mewah.

  "Gimana enak gak?" tanya Zaki sambil menyuapi Anisa, semenjak menikah, Anisa tidak pernah makan dengan tangannya sendiri.

  "Enak dong, kan yang masak istrimu," sahut Anisa dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

 Zaki terkekeh kecil, jawaban Anisa seolah menggemaskan di dengar. "Iya deh, kan istri aku memang pintar memasak, pokoknya kamu terbaik di bumi ini," puji Zaki.

  "Kamu juga makan," tandas Anisa, "kan habis ini mau kerja," lanjut Anisa.

 "Bentar setelah kamu kenyang pasti aku makan," pungkas Zaki akhirnya.

 Kalimat itu jatuh begitu saja, Anisa menatap wajah Zaki cukup lama, selama hidup, ia tidak pernah merasa diperlakukan seistimewa ini oleh siapapun, Zaki bukan hanya baik dan romantis, namun sikapnya itu seolah memberikan seluruh hidupnya pada Anisa.

   Tanpa terasa makanan yang ada di piring sudah habis Zaki segera mengambil nasi kembali di bekas piring tadi, dan lagi-lagi Anisa dibuat terharu, pria itu tidak ada jijik sama sekali, bahkan Zaki terlihat makan dengan lahap.

  Pukul 7 pagi Zaki mulai bersiap berangkat kerja, seperti biasa pria itu selalu memastikan keadaan Anisa baik-baik saja.

  "Sayang, Mas. Berangkat kerja dulu, kamu di sini jaga diri baik-baik ya," pamit Zaki dan tak lupa mencium kening Anisa.

  "Kamu juga hati-hati di sana, ingat gak boleh telat makan," pesan Anisa.

 Zaki tersenyum simpul. "Gak mungkin aku telat makan, kan vitamin nafsu makan ku ada di kamu, semangat hidupku ada di kamu juga," tegasnya sekali lagi seolah Anisa segala-galanya.

  "Ih, so sweet banget sih kamu," ungkap Anisa lalu tangannya langsung memeluk tubuh Zaki.

  Zaki langsung menerima pelukan itu dengan hangat, tidak lama dan tidak terburu-buru, tapi cukup membuat Anisa merasa aman.

  ☘️☘️☘️☘️☘️

Di tempat kerjanya, Zaki kembali disibukkan dengan tumpukan piring kotor, pria itu terlihat lebih semangat, lebih cekatan dan lebih teliti dari sebelumnya, bahkan teman yang melihatnya sampai menggelengkan kepala.

"Bro, setelah menikah, kamu terlihat jadi tambah semangat," celetuk salah satu temannya.

"Iya dong, kan sekarang ada Ayang yang buat aku semangat kerja," sahut Zaki dengan senyuman.

"Cielah Ayang," ungkap temannya itu. "Biasa pasangan baru memang gitu, masih semangat-semangatnya, tapi lihat saja kalau udah lama, ada masalah dikit, pasti istrinya lansung dibentak," timpal teman yang lainnya lagi.

Seketika tangan Zaki menghentikan aktifitasnya, entah kenapa ia seperti tidak terima mendengar ucapan itu, baginya istri merupakan amanah yang harus di jaga dengan baik dan penuh kasih sayang.

"Janganlah Bang," sahut Zaki. "Kan istri itu amanah, kita sebagai suami harus menepis ego, agar tidak menyakiti hati istri," lanjutnya.

Kedua teman Zaki tersenyum dengan ejekan, mungkin itu hal yang lumrah di berbagai kalangan, tapi bagi Zaki ia punya prinsip dan dirinya sudah berjanji tidak akan memperlakukan istrinya semena-mena.

"Terserah Abang deh, kalau memang menganggap ucapan saya tadi sebagai lelucon, yang jelas sebagai seorang suami, saya pribadi tidak mau melakukan hal yang Abang sebut tadi," pungkasnya lalu ia memilih melanjutkan kembali pekerjaannya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore sudah tiba, tumpukan piring kotor, sedikit berkurang, tapi Zaki segera menyudahi tugasnya, karena sudah bukan masuk jam kerjanya lagi, ia segera mengambil mengambil tas selempangnya lalu pulang.

Di dalam perjalanan pulang, entah kenapa, perkataan dua rekan kerjanya tadi masih terngiang di kepalanya, seolah tidak terima jika ada seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti itu.

Selama hidup ia tidak pernah melihat Abinya membentak uminya, meskipun mereka sangat menentang hubungannya dengan Anisa karena perbedaan kasta, tapi Zaki hidup dilingkungan keluarga yang hangat.

"Andai saja Abi dan Umi tidak memandang kasta, aku akui jika selama ini aku hidup dilingkungan yang hangat, makanya aku bisa memperlakukan Anisa sebaik mungkin, tapi sayang keluarga ku terlalu mementingkan kasta," gumam Zaki.

Ia tidak menyangkal jika kedua orang tuanya sudah mendidiknya dengan baik, tapi ia juga tidak bisa menutup kemungkinan jika keluarganya merupakan keluarga pemilih.

Tidak terasa langkah kakinya sudah sejauh itu menyusuri trotoar, dan seperti biasa ia selalu menyempatkan diri untuk berhenti di toko bunga, dan satu tangkai mawar merah yang selalu menjadi pilihannya sebagai simbol tanda sayangnya.

"Semoga bunga ini menjadi saksi, jika aku benar-benar tulus Nis," ungkapnya sendiri

Zaki segera membayar di kasir, setelah itu ia memutuskan untuk pulang. langkahnya kembali menyusuri jalanan sore, lampu-lampu temaram mulai menyala, seolah ikut menemani hatinya yang menghangat.

Saat sampai di pintu kosnya, langkah kaki Zaki berhenti sejenak, setangkai bunga mawar masih ada di genggaman, dan dibalik pintu itu Anisa sudah menantinya dengan sepenuh hati.

"Tok ... tok ...tok ....," pintu diketuk tiga kali.

"Assalamualaikum Sayang, bukain dong," suara Zaki terdengar begitu lembut.

Anisa yang masih mengenakan mukena langsung berdiri dan membuka pintu itu.

"Walaikum salam," sahut Anisa sambil membukakan pintu untuk suaminya.

"Mas Zaki," kata Anisa matanya langsung tertuju pada tangkai bunga mawar itu.

"Ini untukmu," kata Zaki sambil mengulurkan bunga mawar itu dihadapan Anisa.

Lagi-lagi Anisa dibuat tersenyum sendiri, bunga mawar kesukaannya ia terima dengan segenap hati, lalu tubuhnya mulai kembali menempel di dada suaminya.

"Makasih udah bawain bunga mawar terus setiap hari," ujar Anisa.

Zaki mendekap tubuh istrinya itu semakin erat, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan, ini bukan tentang tanggung jawab semata, melainkan tentang cinta dan keputusan yang sudah dia ambil.

Pelukan itu cukup lama, dan tanpa mereka berdua sadari tiba-tiba saja suara sapaan terdengar dari arah depan.

"Assalamualaikum," ucapnya dengan ramah.

Zaki segera melepaskan pelukannya dengan sang istri suara itu seperti tidak asing.

"Umi," ucap Zaki saat menoleh ke arah suara itu.

Keduanya sama-sama terkejut, Zaki dan Anisa tidak pernah menyangka jika orang yang selama ini menentang hubungannya datang di kost mereka yang sempit.

"Walaikum salam," sahut keduanya.

"Mi," sapa Zaki kembali.

"Iya Umi datang, kalian tidak menyuruh Umi masuk," nadanya terdengar biasa saja.

"Oh iya, silahkan masuk Mi," ucap Zaki.

Sementara Anisa masih terdiam, tapi tidak memasang wajah jutek, ia hanya mengikuti tindakan suaminya, Zaki bersalaman ia pun ikut meskipun tanpa di suruh.

"Ayo Mi masuk," ajak Zaki.

Ghina mengangguk ia pun menatap kost anaknya yang terlihat sempit, ada sedikit rasa iba tapi jika melihat keputusan sang anak yang menentang keluarga ia pun berusaha untuk tidak terlalu peduli.

Ghina akhirnya duduk dihadapan Zaki dan Anisa, tatapannya biasa, bahkan bisa dibilang terlalu biasa.

"Oh ya, kedatangan Umi kali ini mau mengajak kalian untuk hadir di acara halal bihalal keluarga," kata Ghina.

Zaki terkejut bukan main. "Maksud Umi?"

Ghina berdehem sebentar. "Keluarga besar menyuruhmu datang, jadi besok kamu harus datang," kata Ghina.

"Dengan istriku juga kan Mi," jelas Zaki mempertegas.

"Iya silahkan," kata Ghina sambil melirik ke arah Anisa.

Sementara Anisa hanya menunduk, ia tidak ingin memaksakan kehendak misal hanya Zaki yang datang saja dirinya tidak keberatan, tapi hal itu berbeda dengan Zaki yang selalu tidak mau lepas dari istrinya.

"Baiklah besok sore Zaki akan datang," sahut anaknya itu.

Ghina mengangguk dengan tatapan yang susah untuk ditangkap, setelah menyampaikan pesan itu ia pun memutuskan untuk pulang.

Saat Ghina melangkah keluar dari pintu kos, entah mengapa ada rasa yang mengganjal di hati Anisa. Bukan cemburu, bukan pula curiga hanya perasaan tak nyaman yang sulit ia jelaskan.

Namun Anisa memilih diam. Ia tidak ingin mengusik ketenangan suaminya, apalagi menjelang pertemuan esok hari. Baginya, tidak semua kegelisahan harus diucapkan. Kadang cukup disimpan rapat, sambil berharap perasaan itu hanyalah bayangan sesaat.

"Ya Allah semoga besok tidak terjadi apa-apa," gumam Anisa pelan.

Bersambung ....

1
Soraya
mampir thor
Ina Jumi
kok sy bingung y ringkasan creta sama jln ceritanya kok g nyambung
Naufal hanifah
/Heart//Heart//Heart/
Seroja_layu
ya allah nyesek baca ini😓
Nar Sih
blm end bnr an kan kak ,besok masih lanjut kan kak anisa dan zaki nya🙏
Asyatun 1
lanjut
Nar Sih
terharuu kakk😭😭
Amalia Putri
Tambah semangat Zaki,lanjut thor💪💪💪💪
Seroja_layu
beruntung anisa... di cintai secara ugal ugalan
Nar Sih
selamat ya nisa dan zaki ,semoga sehat calon byi nya juga ibu nya
Nar Sih
ya alloh pedes bnr ucapan abi mu ya zaki ,padahal orang beragama tpi kok gk bisa jga omgan ,sabarr nisa dan zaki ,pergi jauh aja pulang kampung biar jauh dri keluarga mu
Nar Sih: kak mau tanya kok penasaran ,sampai sekarang anisa ngk tau makam nya zaki ya ,trus ank nya gimana kak
total 2 replies
Anisa-tri
Astagfirullah Tuan Khalid pernyataan anda seperti orang yang tak punya pendidikan. gak kebayang gimana Anisa menghadapi itu. jika memang yang dikatakan itu nyata
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Anisa-tri
Sabar ya untuk kalian berdua
Nar Sih
sabarr zaki dan anisa💪
Nar Sih
zaki suami yg baik dan bnr,,syg banget sama anisa ,moga ngk ada rencana jht ibu mertua mu ke kmu ya nisa
Seroja_layu
romantis...
Seroja_layu
aaaaaaa..... sedih banget ya allah.
Anisa-tri
Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Anisa
Sugiharti Rusli
pasti secara ekonomi mereka b-2 masih harus struggling kan,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!