NovelToon NovelToon
Black

Black

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.

Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.

Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"

Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?

----------

Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakek Zayn Dan Kevin

Kevin melangkah membelah lobi dengan aura yang kontras. Ekspresinya datar, sedingin es, seolah keramaian di sekitarnya hanyalah angin lalu yang tak menarik perhatiannya sedikit pun. Dengan kedua tangan terbenam santai di dalam saku celana kainnya yang berpotongan sempurna, ia berjalan dengan langkah tegap yang penuh wibawa.

Parasnya yang terlampau tampan—dengan garis rahang tegas dan tatapan mata yang tajam—sontak mengundang perhatian. Beberapa tamu wanita yang tak sengaja berpapasan tak mampu menahan diri-- mereka memekik tertahan, saling berbisik gemas sambil mengikuti ke mana arah pria itu melangkah, terpesona oleh pesona dingin yang justru membuatnya tampak semakin tak terjangkau.

Di mata keluarga, ia adalah anomali—sosok yang jauh lebih acuh dan menutup diri dibandingkan saudara dan sepupu-sepupunya yang lain.

Kehampaan itu bukanlah tanpa alasan, melainkan sebuah luka menganga yang bermula tepat enam bulan lalu, saat saudara kembarnya tewas secara tragis dalam sebuah insiden pembunuhan yang menghantui setiap tidurnya.

Rasa bersalah terus menggerogoti batinnya karena Kevin-lah yang memaksa sang adik untuk menemaninya malam itu, hingga mereka tanpa sengaja menjadi saksi mata sebuah kejahatan keji yang tak seharusnya dilihat oleh mata manusia.

Meski ia telah berusaha sekuat tenaga untuk melawan dan melindungi, takdir justru menuliskan naskah yang berbeda, meninggalkan Kevin sendirian dengan bayang-bayang masa lalu yang tajam dan tak termaafkan.

" Mereka semua membicarakan tentang kematian misterius itu.. tapi mereka tidak tau, seseorang akhirnya memutuskan untuk menagih hutang yang sudah terlalu lama menumpuk."

" Kevin," sebuah suara lembut namun sarat akan kecemasan menghentikan langkahnya.

Khadijah berdiri di depannya. Wanita berkepala empat itu masih tampak anggun, namun gurat kesedihan di matanya tak bisa disembunyikan saat menatap putra satu-satunya yang tersisa.

" Bunda mencarimu sejak tadi. Kamu mau ke mana lagi, Nak?" tanya Khadijah, jemarinya menyentuh lengan Kevin yang kaku.

Kevin terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah pintu keluar lobi. "Hanya mencari udara segar, Bun."

"Sampai kapan, Kevin?" bisik Khadijah, suaranya bergetar. "Sampai kapan kamu akan mengurung dirimu dalam rasa bersalah ini? Kepergian adikmu... itu bukan kesalahanmu sepenuhnya."

Kevin melepaskan tangan ibunya perlahan, tatapannya menajam. "Bukan sepenuhnya, tapi karena aku dia ada di sana, Bun. Aku tidak akan berhenti sebelum pelakunya menerima balasan yang setimpal."

Khadijah terpaku, menyadari bahwa putra yang berdiri di depannya bukan lagi Kevin yang ia kenal, melainkan seseorang yang sedang meniti jalan gelap demi sebuah pembalasan.

Khadijah menggeleng, menyentuh lengan Kevin, berusaha mencari sorot mata putranya. "Balas dendam tidak akan pernah mengembalikan saudaramu. Itu hanya akan membunuhmu berkali-kali sebelum ajalmu tiba. Ingatlah apa yang dikatakan dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syura ayat 40: 'Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah.' Nak, Allah tidak tidur."

Kevin tersenyum getir, beralih menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap keras. "Memaafkan adalah bagian Bunda karena Bunda memiliki hati malaikat. Tapi membiarkan pembunuh itu berkeliaran sementara kembaranku membusuk di tanah? Itu bukan keadilan, itu pengkhianatan. Aku sudah cukup merasa bersalah karena membawanya ke sana, Bun. Biarkan aku menyelesaikan apa yang sudah dimulai."

Khadijah menggeleng pelan dengan air mata yang mulai luruh. "Keadilan bukan milik tanganmu yang penuh amarah. Kamu hanya akan menjadi cermin dari orang yang kamu benci jika terus begini. Jangan biarkan setan memenangkan jiwamu hanya karena rasa bersalahmu sendiri."

Kevin hanya mendengus, sorot matanya tajam menangkap sosok Kakek Zayn yang mulai beranjak menuju mobil di depan pintu lobi. Tanpa kata, Kevin meninggalkan ibunya yang terpaku sedih, lalu menyelinap masuk ke kursi samping kemudi tepat saat kakeknya menutup pintu mobil.

"Kakek mau bertemu mereka, kan? Aku juga!" seru Kevin tanpa izin.

Kakek Zayn menghela napas panjang, menggeleng perlahan. "Kau memiliki tugas lain yang harus kau selesaikan, Kevin." Suasana di dalam mobil mendadak berat. Kakek Zayn menoleh, matanya yang tua namun tajam menatap Kevin dalam-dalam. "Katakan padaku... apa kau sudah menemukan cetak biru mesin itu? Mesin yang mereka bilang mampu mengubah dua garis waktu sekaligus?"

Kevin menyandarkan punggungnya, matanya menatap langit-langit mobil. Tugas itu—menyempurnakan mesin prototipe yang ia simpan di lab rahasianya. Mesin yang mereka yakini mampu melompati garis waktu dan mengubah takdir buruk.

" Mesin itu?" Kevin menyeringai sinis. "Aku masih mencari cara menyempurnakan sirkuitnya agar bisa mengubah kehancuran menjadi sesuatu yang berguna. Tapi saat ini, aku lebih butuh jawaban daripada sekadar teknologi."

Kakek Zayn menggeleng pelan, menyalakan mesin mobil yang menderu halus. "Selesaikan tugasmu, baru kita bicara tentang pembalasan."

Mobil menyala-- berjalan meninggalkan halaman Hotel. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan sorot tajam.

Azam...

" Daddy selalu pergi diam - diam.. sementara Kevin--- dia selalu menyendiri.. kenapa aku merasa ada rahasia yang hanya mereka berdua yang tau? Apa mereka mengetahui sesuatu mengenai musuh yang saat ini di hadapi Sky?"

Matahari mulai merangkak naik menuju puncaknya, membiaskan cahaya terik yang memantul di atas kap mobil yang melaju membelah aspal jalanan yang mulai memanas.

Di dalam kabin yang sejuk oleh hembusan pendingin udara, suasana mendadak berubah tegang meski hanya deru mesin halus yang terdengar memecah keheningan di antara mereka. 

Kevin menyandarkan punggungnya pada jok kulit, menatap lurus ke depan dengan wajah datar yang sulit dibaca, sementara jemarinya sesekali mengetuk pelan pada lututnya.

Di balik kemudi, Kakek Zayn tetap tampak gagah dan berwibawa--- gurat usia di wajahnya sama sekali tidak mengurangi ketajaman sorot matanya yang sesekali melirik ke arah spion tengah dengan penuh perhitungan.

Ia menyadari sepenuhnya keberadaan sebuah mobil hitam yang sejak tadi terus menjaga jarak konstan di belakang mereka—sebuah siluet kendaraan yang sangat ia kenali sebagai milik Azam, putranya sendiri.

Dengan ketenangan seorang ahli yang telah ribuan kali melintasi medan berbahaya, Kakek Zayn memutar setir dengan gerakan yang presisi dan mantap, menunjukkan keahlian mengemudi yang masih prima meski rambutnya telah memutih sepenuhnya.

Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun, justru senyum tipis yang sarat akan makna tersungging di sudut bibirnya saat ia kembali melirik ke arah cucunya. Suasana di dalam mobil itu seolah terhimpit oleh rahasia yang mulai terendus, menciptakan ketegangan yang merambat pelan di antara deru kecepatan.

Akhirnya, dengan suara berat namun tenang yang memecah kesunyian, Kakek Zayn berucap tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan, "Sepertinya Ayahmu mulai curiga, Kevin."

Kevin tidak menoleh. Ia hanya menghela napas panjang, suaranya terdengar letih. "Dia tidak pernah tahu kapan harus berhenti, Kek. Dia pikir dia bisa mengawasi semua orang seperti bidak catur."

"Dia bukan sedang mengawasi, Vin. Dia sedang cemas," Kakek Zayn memutar kemudi dengan satu tangan saat melewati tikungan tajam tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun. "Azam selalu takut pada hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Dan saat ini, kau dan Kakek adalah variabel yang tidak bisa ia tebak."

"Lalu kita mau apa? Biarkan dia membuntuti kita sampai ke lokasi tujuan?" tanya Kevin, kini menatap kakeknya dengan sorot mata yang tajam.

Kakek Zayn terkekeh pelan, matanya berkilat penuh rahasia. "Keahlian mengemudi bukan hanya soal kecepatan, tapi soal bagaimana kau menghilang di depan mata orang yang mencarimu. Pegangan yang erat, Kevin. Mari kita lihat apakah putraku itu masih ingat pelajaran yang kuberikan bertahun-tahun lalu."

Dengan satu hentakan halus pada pedal gas dan operan gigi yang sempurna, mobil itu melesat membelah siang, meninggalkan bayangan SUV hitam yang mulai panik mengejar di belakang.

Kakek Zayn menyelip di antara truk besar, lalu melakukan u-turn mendadak di sebuah persimpangan sempit yang hampir tak terlihat oleh mata awam.

Sementara itu, beberapa kilometer di belakang, Azam memukul kemudinya dengan keras.

Azam terengah, menatap jalanan yang kosong di depannya. "Sial! Bagaimana bisa... tadi mereka masih ada di sana! Daddy... kau benar-benar masih menyimpan trik itu?"

Azam terdiam di pinggir jalan, kehilangan jejak sepenuhnya. Di depannya hanya ada hamparan aspal panas yang kosong, sementara Kakek Zayn dan Kevin telah menghilang di balik gang-gang kecil yang hanya diketahui oleh sang pengemudi ahli.

BERSAMBUNG

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Ntar kalo Elvira pny anak jgn dikasih nama Elvis y thor, makin puyeng
gaby
Namanya agak bikin bingung, beberapa mirip, Elmira, elvira, Eveleyn. Ga ada nama lain apa, bikin puyeng
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Mantap crazyup nya thor. Smangat👍👍
gaby
Bukannya anak Rodrigo dah mati di bunuh Elvira di toilet mall. Tp ko Vania msh hdp?? Kan vania anak Rodrigo
ROGUES POINEX: Yang di bunuh Elvira anak dan Istri dari Menteri Pertahanan
total 2 replies
gaby
Msh misteri, kebahagiaan siapa yg akan mreka hancurkan?? Karena yg kliatan lg bahagia cm Sky & Evelyn. Apa mreka mau menghancurkan kebahagiaan ortu mreka sendiri??
gaby
Kayanya critanya lbh seru dr kisah Angel & Langit di Judul sebelumnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!