"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan di Kafe Seberang Jalan
Udara sore di Paris terasa sejuk saat Aleena membereskan buku-bukunya di Perpustakaan Sainte-Geneviève. Kebiasaannya memeriksa ponsel sebelum pulang membawanya pada kejutan pertama: Reinhard Abner Feng baru saja mengunggah foto.
Foto itu menampilkan sebuah Lamborghini Revuelto berwarna hitam pekat dengan aksen emas yang terparkir di depan Menara Eiffel. Aleena mengenali mobil itu dari unggahan lama Rein saat masih di Shanghai. "Jadi mobil balap kesayangannya sudah sampai di Paris," gumam Aleena. Rein menuliskan caption singkat: "New streets, same beast."
Namun, kejutan sebenarnya menanti saat Aleena melangkah keluar dari gedung perpustakaan.
Di sebuah kafe klasik bergaya Haussmann yang tepat berada di depan perpustakaan, Aleena melihat sesosok pemuda yang sangat ia kenali. Rein duduk di sana, namun tidak dengan ketiga kekasihnya yang membosankan.
Rein duduk berhadapan dengan seorang wanita tua yang luar biasa anggun. Wanita itu mengenakan setelan tweed Chanel berwarna biru navy, rambut putihnya tertata sempurna dalam sanggul klasik, dan jemarinya yang mengenakan cincin berlian besar sedang memegang cangkir porselen.
Aleena mematung di balik pilar perpustakaan. Ia melihat Rein tertawa, senyum tulus yang sama dengan yang ia lihat di foto studio tato semalam. Rein bahkan terlihat sangat perhatian, membenarkan letak syal sutra wanita tua itu dengan gerakan yang sangat lembut.
"Oh my God..." bisik Aleena, jantungnya mencelos. "Apa dia... berondong nenek-nenek? Apa itu cara dia membiayai gaya hidup mewahnya?"
Pikiran Aleena berkecamuk. Ia merasa jijik sekaligus kecewa. "Pantas saja dia menyebut dirinya murahan. Jadi ini rahasianya? Dia menjadi simpanan sosialita tua Paris?"
Aleena yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya (dan rasa kesalnya), berjalan mendekat ke arah kafe tersebut. Saat ia berada cukup dekat, ia tidak sengaja menabrak pelayan, membuat suara gaduh yang menarik perhatian Rein.
Rein menoleh, matanya berkilat saat melihat Aleena. "Rebecca? Sedang melakukan riset tentang kafe Paris?" godanya.
Wanita tua itu ikut menoleh. Ia menatap Aleena dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tajam yang sangat berwibawa. "Nicholas tidak pernah bilang teman sekelasmu secantik ini, Rein," ujar wanita tua itu dengan aksen Prancis yang sangat kental dan aristokrat.
Aleena tersentak. Nicholas?
Rein bangkit berdiri, tangannya dengan santai merangkul bahu wanita tua itu. "Aleena Rebecca, perkenalkan. Ini adalah Madam Rousseau, nenekku. Pemilik setengah dari gedung-gedung yang kau lihat di jalan ini."
Wajah Aleena mendadak pucat pasi. Rasa malu menjalar dari leher hingga ke ujung telinganya. "Nenek?" cicitnya.
"Kenapa? Kau mengira aku sedang bersama kekasih baruku?" Rein tertawa puas, seolah bisa membaca pikiran kotor Aleena. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aleena, memamerkan tato kupu-kupu di balik telinganya. "Maaf mengecewakanmu, Princess. Selera wanitaku memang tinggi, tapi aku tidak seputus asa itu."
Madam Rousseau tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh rahasia. "Masuklah, Nona Rebecca. Bergabunglah dengan kami. Aku ingin tahu apa yang membuat cucuku yang berandalan ini mendadak betah tinggal di Paris."
Aleena duduk dengan kaku di kursi beludru kafe tersebut, merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Di hadapannya, Madam Rousseau menyesap tehnya dengan anggun, sementara Rein bersandar santai di kursinya, menatap Aleena dengan tatapan yang sulit diartikan, tajam, namun penuh selidik.
"Jadi, Nona Rebecca," suara Madam Rousseau memecah kesunyian, "apa yang membuatmu terlihat seolah baru saja melihat hantu saat menatapku tadi?"
Aleena berdehem, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya. "Maaf, Madam. Saya hanya... terkejut melihat Rein berada di perpustakaan umum. Saya pikir dia lebih suka menghabiskan sore di sirkuit balap dengan mobil barunya."
Rein terkekeh pelan, namun matanya tidak beralih dari wajah Aleena. "Aku punya banyak sisi, Rebecca. Perpustakaan hanyalah salah satu tempat di mana aku bisa menghilang dari gadis-gadis yang tidak berhenti mengejarku."
Madam Rousseau kemudian pamit sebentar untuk menyapa seorang kenalannya di dalam kafe, meninggalkan Rein dan Aleena dalam keheningan yang menyesakkan.
Suasana mendadak berubah. Senyum menggoda di wajah Rein lenyap, digantikan oleh ekspresi yang sangat serius. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat tangannya di atas meja.
"Kenapa kau terus mengikutiku, Aleena?" tanya Rein. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang berbahaya.
"Aku tidak mengikutimu! Aku belajar di perpustakaan itu setiap sore," bantah Aleena, meski ia tahu suaranya sedikit bergetar.
"Jangan bohong," potong Rein tegas. "Kau melihat unggahanku, kau mencari tahu tentang mobilku, dan sekarang kau berdiri di sini menatap nenekku seolah dia adalah simpananku. Apa kau begitu terobsesi ingin menemukan celah dariku agar kau bisa merasa lebih 'suci' dariku?"
Aleena terdiam. Tatapan Rein saat ini bukan tatapan playboy murahan. Ada kejujuran yang menyakitkan di sana.
"Aku hanya... aku hanya ingin tahu siapa kau sebenarnya, Rein," bisik Aleena akhirnya. "Satu saat kau terlihat seperti sampah masyarakat yang tidak punya masa depan, tapi di saat lain, kau punya koordinat cinta orang tuamu di kakimu dan kau memperlakukan nenekmu seperti ratu."
Rein menatap Aleena dalam-dalam. "Aku adalah apa pun yang kau ingin lihat, Aleena. Jika kau ingin melihatku sebagai pria murahan, aku akan menjadi itu. Tapi jika kau berani melihat lebih dalam..." ia menjeda, tangannya tanpa sadar menyentuh tato kupu-kupu di balik telinganya, "...kau mungkin akan menemukan sesuatu yang tidak sanggup kau hadapi."
Rein bangkit berdiri tepat saat Madam Rousseau kembali. Ia mengambil kunci Lamborghini-nya dari meja.
"Ayo, Nenek. Aku harus mengantarmu pulang sebelum udara semakin dingin," ujar Rein. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah Aleena sekali lagi.
"Satu hal lagi, Rebecca," kata Rein dengan tatapan yang sangat intens. "Berhenti melihat foto-fotoku sebelum tidur. Itu tidak sehat bagi seseorang yang katanya sangat membenciku."
Rein mengedipkan sebelah matanya, meninggalkan Aleena yang terpaku di kursinya, bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa tahu tentang rutinitas rahasianya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍