kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Alendra duduk di atas karung pupuk sambil memperhatikan barisan jemuran asrama putri dari kejauhan. Ia melihat Patricia tadi sore berjalan dengan langkah sangat pelan, sesekali memegangi punggungnya yang pegal. Hati Alendra mencelos.
"Gila ya, Alen. Dulu kamu punya sepuluh asisten rumah tangga yang tinggal jentikkan jari semua beres. Sekarang, lihat kamu... mengintai jemuran istri sendiri seperti agen rahasia kelas teri," gumamnya pada diri sendiri sambil membetulkan letak kacamata besarnya yang melorot.
Ia menunggu sampai lampu asrama meredup satu per satu. Saat suasana benar-benar sunyi, ia mulai beraksi.
Dengan gerakan yang ia kira sangat keren, padahal sebenarnya mirip kepiting yang sedang panik, Alendra merayap di antara bayang-bayang pohon jati. Ia mengenakan handuk di leher dan sarung yang diikatkan ke pinggang kuat-kuat agar tidak melorot saat ia harus melakukan gerakan akrobatik mendadak.
Krek!...
Ia menginjak ranting kering. Alendra langsung mematung dengan satu kaki terangkat, pose yang sangat konyol selama hampir dua menit hanya karena takut ketahuan santri penjaga.
"Aman... aman..." bisiknya saat melihat kucing lewat. "Kucing, diam ya. Jangan lapor Gus Azmi kalau majikanmu ini lagi mau jadi tukang cuci."
Begitu sampai di barisan jemuran, Alendra sempat bingung. Ada banyak kain yang tergeletak di masing-masing keranjang santri dan semuanya hampir terlihat sama di kegelapan. Namun, penciumannya tidak bisa dibohongi. Ia mendekatkan hidungnya ke selembar gamis berwarna abu-abu yang Patricia kenakan siang tadi berada paling atas tumpukan baju di keranjang khusus pakaian kotor. Alendra mengambil gamis itu.
"Aroma ini... vanila dan sedikit melati. Ini pasti punya Cia," batinnya dengan senyum lebar yang membuat kumis palsunya gatal.
Ia mengambil satu per satu pakaian Patricia dengan sangat hormat, seolah sedang mengambil artefak berharga dari museum. Ia menumpuknya di tangan dengan rapi. Namun, saat ia melihat sepotong daster bunga-bunga yang sedikit robek di bagian bawahnya, air matanya hampir jatuh.
"Kamu sampai pakai baju yang sudah lama begini, Sayang? Maafkan aku... aku yang bajunya ribuan di lemari, malah membiarkanmu hidup sesulit ini," gumamnya lirih.
Alendra memeluk tumpukan baju kotor itu sejenak, menghirup sisa-sisa aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. Rasa rindu itu mendesak dadanya, membuatnya ingin sekali lari ke kamar Patricia dan membongkar identitasnya saat itu juga.
Tapi ia teringat wajah Patricia yang tenang saat mengaji. Ia tidak ingin merusak kedamaian itu dengan ego besarnya lagi.
"Oke, Alen. Malam ini, tugasmu adalah memastikan baju-baju ini bersih dan wangi besok pagi. Kamu adalah CEO Clean & Fresh malam ini!"
Dengan semangat yang berkobar, ia membawa ember plastiknya menuju sumur tua di sudut pesantren,
___
Malam itu, bulan hanya muncul sepotong, menyinari area sumur tua yang letaknya agak tersembunyi. Alendra, sang pemimpin yang dulu jangankan mencuci baju, menaruh baju kotor di keranjang saja sering lupa, kini sedang berjongkok di depan sebuah ember plastik.
Ia telah berhasil mencuri cucian kotor Patricia dari jemuran belakang asrama. Ia tahu seharian tadi Patricia tampak kelelahan setelah menghadapi omelan Zulaikha.
"Oke Alen, tenang. Ini cuma kain. Bukan negosiasi saham," bisik Alendra sambil mengucek gamis Patricia dengan penuh perasaan. Ia melakukannya sangat pelan, seolah-olah kain itu terbuat dari sayap malaikat yang bisa robek kapan saja.
Karena tidak terbiasa menggunakan deterjen, busanya malah meluap ke mana-mana. Wajah Alendra yang masih mengenakan kacamata besar kini terkena cipratan busa.
"Aduh, perih! Mata Kang Asep perih!" gumamnya sambil mencoba mengusap mata dengan tangan yang penuh sabun, yang justru malah memperparah keadaan.
Di tengah perjuangannya dengan busa, tiba-tiba suasana menjadi sangat dingin. Srek... srek... srek... Suara langkah kaki halus terdengar mendekat dari balik pohon beringin.
Alendra menoleh perlahan. Dari kegelapan, muncul sesosok bayangan putih tinggi yang melayang perlahan ke arahnya. Karena kacamatanya berembun dan matanya perih terkena sabun, penglihatan Alendra menjadi sangat kabur.
"A-Astagfirullah... Itu apa?" Alendra mematung. "Mbak Kunti? Eh, Mbak... saya cuma kuli kebun, daging saya keras, nggak enak kalau mau dimakan!"
Bayangan putih itu terus mendekat tanpa suara. Alendra yang panik refleks mengambil gayung penuh air sabun dan bersiap melemparnya.
"JANGAN MENDEKAT! SAYA PUNYA CANGKUL SAKTI!" teriak Alendra dengan suara cempreng yang pecah karena ketakutan.
Ternyata, itu bukan hantu. Itu adalah salah satu santriwati bernama Siti yang sedang berjalan menuju kamar mandi dengan mukena putih yang ia sampirkan di kepala karena udara dingin. Siti yang sedang mengantuk tidak melihat Alendra.
BYURRR!
Alendra tanpa sengaja menyiramkan air sabun itu tepat ke arah Siti. Siti yang kaget luar biasa langsung berteriak histeris, "TOLOOOONG! ADA SETAN SUMUR!"
"EH! SAYA BUKAN SETAN! SAYA ASEP!" balas Alendra ikut teriak, ia tidak sengaja terpeleset genangan sabunnya sendiri.
Brakkkkk!...
Alendra jatuh terduduk tepat di dalam ember cucian yang penuh air.
Keributan itu membuat beberapa lampu asrama menyala. Patricia, yang sebenarnya belum tidur dan sengaja memantau Alendra dari balik jendela, segera keluar membawa senter.
Ia melihat pemandangan yang sangat ajaib, Suaminya, seorang miliarder, sedang duduk di dalam ember plastik dengan baju basah kuyup, sementara di kepalanya tersangkut sebuah daster miliknya yang sedang dicuci. Di seberangnya, Siti sedang menangis sesenggukan karena basah kuyup air sabun.
"Astagfirullah, Kang Asep... sedang apa?" tanya Patricia. Ia harus mati-matian menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa terbahak-bahak melihat daster bunga-bunganya menjadi topi di kepala Alendra.
Alendra melihat Patricia. Ia langsung panik, mencoba berdiri tapi embernya ikut menempel di pantatnya. "Ini Mbak... tadi ada... ada simulasi keselamatan sumur! Iya, Siti tadi mau jatuh, jadi saya siram pakai air sabun supaya... supaya licin jadi dia meluncur dengan aman!"
Siti hanya bisa melongo mendengar alasan yang tidak masuk akal itu. "Kang Asep bohong! Dia lagi nyuci baju Mbak Cia!"
Patricia mendekat, ia mengambil daster yang ada di kepala Alendra dengan lembut. Mata mereka bertemu di bawah sinar lampu senter yang remang. Patricia bisa melihat mata Alendra yang merah, bukan hanya karena sabun, tapi karena kurang tidur demi menjaganya.
"Kang... terima kasih sudah dicucikan," bisik Patricia lembut. "Tapi lain kali jangan malam-malam. Nanti Akang masuk angin."
Alendra tertegun. Nada bicara Patricia sangat manis, persis seperti dulu. Ia merasa semua rasa malunya karena jatuh ke ember hilang seketika.
"Nggak apa-apa, Mbak. Kang Asep ini badannya terbuat dari beton, nggak bisa masuk angin, paling cuma masuk hati... eh, masuk ke dalam rumah kalau dipanggil," jawab Alendra sambil tersenyum lebar, meski wajahnya penuh busa.
Patricia berbalik untuk kembali ke kamar, tapi ia sempat berbisik pelan yang hanya bisa didengar oleh Alendra, "Hati-hati, Mas... sabunnya pedih di mata."
Alendra membeku. Dia panggil aku 'Mas'? Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap punggung Patricia yang menjauh dengan perasaan haru yang luar biasa. Meskipun mereka masih bersandiwara, ia tahu... pintu hati istrinya perlahan mulai terbuka kembali
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
kasian juga ya...
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/