Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Gemuruh dari Masa Lalu
Bulan-bulan awal kehamilan Lia menjadi masa yang paling kontradiktif dalam hidup Devan. Di satu sisi, ada kebahagiaan murni yang menyelimuti setiap pagi saat ia terbangun dan melihat Lia masih tertidur dengan tangan mendekap perutnya yang mulai membuncit. Namun di sisi lain, ada tekanan ekonomi dan fisik yang mulai menggerogoti ketenangan Devan.
Pekerjaan sebagai montir desa ternyata jauh lebih melelahkan daripada memimpin sebuah geng motor. Devan menghabiskan waktu dari fajar hingga petang dengan bergelut di bawah traktor bajak yang penuh lumpur atau memperbaiki mesin penggiling padi yang sudah usang di desa-desa tetangga.
Tangannya yang dulu memegang kemudi Harley yang gagah, kini sering kali lecet dan menghitam karena karat mesin pertanian. Namun, setiap kali ia pulang dan mencium perut Lia, semua rasa lelah itu menguap begitu saja.
Lia, sementara itu, mulai merasakan beban fisik dari kehamilannya yang memasuki bulan kelima.
Wajahnya yang dulu tirus kini tampak lebih segar dan berisi, meskipun ia sering kali merasa cepat lelah. Ia mengisi hari-harinya dengan mengajar anak-anak desa membaca di teras rumah mereka—sebuah perpustakaan kecil yang ia bangun dengan bantuan Devan.
Suatu sore yang berkabut, saat Devan sedang asyik mengasah bilah besi di bengkel kecilnya di samping rumah, suara raungan mesin motor yang sangat dikenal memecah keheningan desa. Itu bukan suara motor bebek warga desa yang bersuara cempreng. Itu adalah suara mesin v-twin berkapasitas besar yang gahar.
Devan membeku. Tangannya berhenti mengasah. Ia mengenal suara itu. Ia sangat mengenalnya hingga ke sumsum tulangnya.
Sebuah motor besar hitam muncul dari balik tikungan bukit, diikuti oleh dua motor lainnya. Pengendaranya mengenakan jaket kulit yang sudah memudar warnanya, namun emblem mawar hitam di punggungnya masih terlihat jelas. Pria itu melepas helmnya, memperlihatkan wajah Baron yang tampak jauh lebih tua dan lelah dalam hitungan bulan.
Lia keluar dari rumah dengan wajah pucat, tangannya secara otomatis melindungi perutnya. Devan segera berdiri di depan Lia, sebuah insting pelindung yang tidak pernah hilang meski ia sudah mencoba menjadi orang biasa.
"Bos..." sapa Baron, suaranya parau. Ia tidak lagi memanggil Devan dengan nama biasa. Baginya, Devan tetaplah pemimpin tertingginya.
"Baron. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Devan, nadanya dingin dan tidak ramah. "Aku sudah bilang jangan pernah mencariku."
Baron turun dari motornya dan membungkuk hormat, tindakan yang diikuti oleh dua anggota lainnya. "Maafkan saya, Bos. Saya tidak punya pilihan lain. Black Roses sedang di ambang kehancuran."
Devan mengepalkan tangannya. "Itu bukan urusanku lagi, Baron. Aku sudah menyerahkannya padamu. Aku punya kehidupan di sini. Aku punya istri yang sedang hamil. Pergilah."
"Ini bukan soal wilayah lagi, Bos," Baron melangkah maju, matanya tampak berkaca-kaca. "Pemerintah sedang melakukan pembersihan besar-besaran. Marco, adik Reno, ternyata bekerja sama dengan oknum aparat untuk menjebak kita semua. Mereka menanam narkoba di bengkel pusat. Separuh dari anak-anak kita masuk penjara. Sisanya... mereka sedang diburu seperti binatang."
Lia merasa kakinya lemas. Dunianya yang tenang seolah-olah ditarik kembali ke dalam lubang hitam yang pekat.
"Kami tidak butuh kamu untuk bertarung, Bos," lanjut Baron dengan nada memohon. "Kami butuh pengaruhmu. Kamu punya bukti-bukti lama tentang keterlibatan oknum itu dengan The Vipers, kan? Dokumen yang kamu simpan di brankas rahasia dulu. Hanya itu yang bisa menyelamatkan anak-anak dari hukuman yang tidak adil."
Devan terdiam. Ia teringat wajah-wajah anggota mudanya, anak-anak yatim piatu yang ia pungut dari jalanan dan ia berikan rumah di Black Roses. Jika ia menolak, mereka akan membusuk di penjara karena kejahatan yang tidak mereka lakukan. Tapi jika ia membantu, ia harus kembali berhubungan dengan dunia yang sudah ia bakar habis abunya.
"Devan, jangan..." bisik Lia, jemarinya meremas kaus Devan.
Devan menoleh ke arah Lia, lalu kembali ke Baron. "Di mana dokumen itu sekarang?"
"Seseorang menggeledah markas tak lama setelah kamu pergi, Bos. Brankasnya sudah dipindahkan ke lokasi yang tidak kami ketahui, tapi kami yakin Clara tahu di mana tempatnya. Dia kembali bermain, Bos. Dia yang mengatur skenario ini bersama Marco."
Mendengar nama Clara, aura Devan berubah seketika. Kemarahan yang selama ini ia kubur dalam-dalam di bawah tanah perkebunan teh kini merayap naik ke permukaan.
Clara tidak hanya menghancurkan hidupnya dulu, tapi sekarang dia mencoba menghancurkan keluarga besarnya dan secara tidak langsung mengancam ketenangan keluarganya yang baru.
"Aku tidak bisa pergi ke Jakarta, Baron," ucap Devan akhirnya. "Lia membutuhkanku di sini."
"Kami akan menjaganya dengan nyawa kami, Bos! Saya akan meninggalkan lima orang terbaik untuk berjaga di sekitar bukit ini 24 jam. Tidak akan ada yang bisa menyentuh Nona Lia," janji Baron.
Malam itu, perdebatan hebat terjadi di dalam rumah kayu mereka. Lia menangis, memohon agar Devan tidak pergi. Ia takut ini adalah taktik Clara untuk memancing Devan keluar dan membunuhnya.
"Lia, dengarkan aku," Devan memegang kedua pipi Lia, menatapnya dengan intensitas yang luar biasa. "Jika aku tidak membereskan ini sekarang, Clara dan Marco akan terus memburu kita. Mereka tahu kita di sini.
Baron bisa menemukan kita, maka cepat atau lambat mereka pun bisa. Aku harus memutus rantai ini agar anak kita bisa lahir di dunia yang benar-benar bersih."
Lia memeluk Devan sangat erat. "Berjanjilah padaku... berjanjilah kamu akan pulang. Jangan biarkan anak ini lahir tanpa melihat ayahnya."
"Aku janji, Lia. Aku akan pulang sebelum mawar di depan rumah ini mekar sempurna," bisik Devan.
Keesokan paginya, Devan tidak mengenakan jaket kulitnya. Ia tetap memakai kemeja flanelnya yang sederhana, namun ia menyelipkan sebuah pisau lipat dan memori kecil di sakunya. Ia naik ke motor hitam besar yang dibawa Baron, meninggalkan bengkel traktornya dan kehidupan tenangnya sejenak.
Lia berdiri di teras, air mata membasahi pipinya saat melihat rombongan motor itu menghilang ditelan kabut pegunungan. Ia merasa seperti kembali ke bab pertama dalam hidupnya bersama Devan, namun kali ini taruhannya jauh lebih besar.
Di perjalanan menuju Jakarta, Devan merasakan angin kencang menerpa wajahnya. Perasaan itu kembali—perasaan menjadi sang Serigala yang sedang berburu. Namun kali ini, tujuannya bukan untuk berkuasa, melainkan untuk mengakhiri segala kekacauan agar ia bisa kembali menjadi seorang ayah.
"Tunggu aku, Clara," gumam Devan di balik helmnya. "Kamu melakukan kesalahan besar dengan menyentuh keluargaku lagi."