Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sunyi
Jari-jari pucat itu mencengkeram pinggiran besi Laci 13 dengan kekuatan yang tidak wajar, seolah ada keputusasaan yang tertahan di balik dinginnya baja tahan karat. Kuku-kukunya membiru, kontras dengan kulit yang mulai mengelupas, menciptakan pemandangan yang membekukan darah Elara hingga ke sumsum tulang belakangnya.
Napas Elara tercekat di tenggorokan, mengubah paru-parunya menjadi ruang hampa yang menyakitkan. Logika medis yang selama ini ia pelajari di akademi keperawatan seakan runtuh seketika di hadapan fenomena yang menolak hukum biologi tersebut.
"Ini tidak mungkin... mayat itu baru masuk dua jam lalu," batinnya menjerit, mencoba mencari rasionalisasi di tengah kepanikan yang melanda. Namun, gerakan tangan itu nyata, bahkan kini disertai suara desitan logam yang ngilu saat laci itu terdorong perlahan dari dalam.
Elara mundur selangkah, sepatu karetnya berdecit pelan di atas lantai keramik RSU Cakra Buana yang dingin dan lembap. Suara itu, sekecil apa pun, sepertinya memicu respons dari sosok di dalam laci, karena gerakan tangan itu tiba-tiba menjadi lebih agresif, seakan mencoba meraih sesuatu di udara kosong.
Ingatan Elara melesat kembali pada buku panduan operasional tidak resmi yang diselipkan Pak Darto di meja kerjanya sore tadi. "Poin nomor empat: Jika melihat aktivitas motorik pada jenazah di luar fase rigor mortis, segera tinggalkan ruangan dan kunci pintu dari luar. Jangan berinteraksi."
Tanpa menunggu sedetik pun lagi, Elara memutar tubuhnya dan berlari menuju pintu ganda yang menjadi satu-satunya akses keluar dari kamar jenazah. Jantungnya berdegup kencang, memukul rongga dadanya seirama dengan langkah kakinya yang terburu-buru membelah kesunyian malam.
Lorong Basement Level 4 terasa jauh lebih panjang dari biasanya, dengan lampu neon yang berkedip-kedip suram memberikan efek stroboskopik yang memusingkan. Dinding-dinding lorong yang catnya mulai mengelupas karena rembesan air tanah seolah menyempit, menciptakan lorong klaustrofobia yang memerangkapnya dalam teror.
Ia bisa mendengar suara lain di belakangnya, bukan langkah kaki, melainkan suara seretan basah yang berat. Elara tidak berani menoleh, ia terus memacu kakinya melewati ruang penyimpanan alat bekas dan gudang linen kotor hingga akhirnya mencapai Ruang Jaga Administrasi.
Dengan tangan gemetar, Elara membanting pintu ruang jaga dan segera memutar kunci slotnya. Ia bersandar pada daun pintu, merosot ke lantai dengan napas yang memburu, seolah baru saja lolos dari cengkeraman maut itu sendiri.
"Sudah kubilang, jangan terlalu rajin kalau dinas malam di sini, Neng Elara," sebuah suara berat dan serak menyapa dari sudut ruangan, memecah kepanikan Elara.
Pak Darto duduk santai di kursi rotan tuanya, asap tipis mengepul dari rokok kretek yang terselip di jemarinya, meski ada tanda dilarang merokok besar di dinding. Pria paruh baya itu tampak tidak terkejut sama sekali melihat Elara yang pucat pasi dengan keringat dingin membasahi pelipis.
Elara mencoba mengatur napasnya sebelum menjawab, matanya menatap nanar ke arah seniornya itu. "Pak... Laci 13. Ada tangan... tangan itu keluar menahan laci. Itu bukan refleks pasca-kematian biasa, Pak. Itu... itu bergerak sadar."
Pak Darto menghela napas panjang, lalu mematikan rokoknya di asbak yang sudah penuh dengan puntung. Wajahnya yang keriput diterpa cahaya lampu meja yang temaram, memberikan kesan misterius yang lebih dalam dari sekadar penjaga kamar jenazah biasa.
"Laci 13 memang 'istimewa'," ucap Pak Darto pelan, suaranya tenang namun sarat makna. "Rumah sakit ini dibangun di atas tanah yang punya sejarah panjang sebelum Belanda datang. Ada hal-hal yang sains modern sebut sebagai anomali, tapi orang tua sepertiku menyebutnya sebagai 'penunggu'."
"Tapi Pak, kita harus lapor Dokter Jaga! Bagaimana kalau jenazahnya jatuh?" Elara mulai berdiri, insting medisnya perlahan kembali mengambil alih meski ketakutan masih membayang. "Prosedur mengatakan kita harus memastikan keamanan jenazah."
"Duduklah, Elara," perintah Pak Darto, kali ini dengan nada yang lebih tegas, membuat Elara urung melangkah ke arah telepon interkom. "Dokter Arisandi tidak akan suka diganggu untuk urusan yang dia anggap takhayul. Lagipula, apa yang mau kamu laporkan? Bahwa mayat Pak Sastro mencoba kabur?"
Belum sempat Elara membantah, pintu ruang jaga diketuk tiga kali dengan tempo yang rapi dan tegas. Elara tersentak, mundur menjauhi pintu, sementara Pak Darto hanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 00.15 dini hari.
"Buka pintunya, Elara. Itu manusia," ujar Pak Darto santai sambil menuangkan kopi hitam ke dalam gelas belimbing.
Dengan ragu, Elara membuka kunci pintu. Di sana berdiri Dr. Arisandi, mengenakan jas putih yang masih rapi tanpa noda sedikit pun, wajahnya kaku dan dingin seperti manekin etalase. Pria itu memegang sebuah papan jalan berbahan aluminium.
"Saya butuh laporan autopsi sementara untuk jenazah di Laci 13," kata Dr. Arisandi tanpa basa-basi, matanya menatap tajam ke arah Elara. "Keluarganya mendesak di lobi atas. Mereka membawa pengacara. Saya butuh berkasnya sekarang."
Elara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Dok... berkasnya ada di meja periksa di dalam. Tapi... di dalam sedang tidak aman. Ada aktivitas aneh dari laci tersebut."
Dr. Arisandi mengerutkan kening, ekspresi ketidaksukaannya terlihat jelas. "Aktivitas aneh? Maksudmu gas pembusukan yang mendorong laci? Atau kontraksi otot? Jangan konyol, Suster Elara. Kita ini tenaga medis, bukan dukun."
"Bukan, Dok. Tangannya keluar. Dia mencengkeram besi," Elara mencoba menjelaskan, namun tatapan merendahkan dari dokter spesialis forensik itu membuatnya merasa kecil.
"Halusinasi akibat kelelahan dan paparan uap formalin," potong Dr. Arisandi dingin. Ia melangkah masuk melewati Elara, menatap Pak Darto sekilas dengan pandangan tidak suka. "Pak Darto, temani dia masuk. Ambil berkas itu. Saya tunggu di sini lima menit. Jika tidak ada, saya akan laporkan ketidakprofesionalan ini ke manajemen."
Pak Darto akhirnya bangkit dari kursinya, wajahnya tampak enggan namun ia tahu tidak bisa membantah hierarki rumah sakit. Ia mengambil senter besar dari laci mejanya dan menatap Elara. "Ayo, Neng. Jangan jauh-jauh dari saya."
Mereka berdua berjalan kembali ke lorong yang gelap itu. Udara terasa semakin berat, dan suhu turun drastis dibandingkan beberapa menit yang lalu. Bau anyir darah bercampur kapur barus menyeruak lebih tajam, menusuk indra penciuman Elara.
Saat mereka baru saja mencapai ambang pintu kamar jenazah yang tadi ditinggalkan Elara, suara dering telepon memecah kesunyian lorong bawah tanah itu. Suaranya nyaring, bergema memantul di dinding-dinding beton yang lembap.
Elara dan Pak Darto membeku di tempat. Sumber suara itu bukan dari saku mereka, bukan pula dari ruang jaga di belakang mereka.
"Pak..." suara Elara bergetar hebat, kakinya terasa lemas seperti jeli. "Itu suara telepon ekstensi 404..."
Pak Darto menatap pintu kamar jenazah yang tertutup rapat di depan mereka dengan wajah tegang. "Ya, saya tahu."
Telepon itu terus berdering, menuntut untuk diangkat. Masalahnya, pesawat telepon ekstensi 404 terletak di meja periksa, tepat di sebelah Laci 13. Di dalam ruangan yang seharusnya kosong dan hanya berisi mayat.
"Siapa yang menelepon dari dalam?" bisik Elara, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.
Pak Darto tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pegangannya pada senter, sementara dering telepon itu terus berbunyi, seolah memanggil mereka untuk masuk kembali ke dalam kegelapan yang menunggu.