Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kantor?
POV Erick.
Kecurigaanku benar, inilah cowok yang Jeny sukai selama ini.
"Aku butuh diperjuangkan bukan digantungkan sama keadaan yang ga jelas."
Deg deg... kata kata itu seakan berbicara kepadaku juga, sudah cukup jantan kah aku memperjuangkan Jeny selama ini?.
Aku mengikutinya dan melihatnya berjongkok di belakang mobil kami, menenggelamkan wajahnya diantara lututnya dengan tangannya yang menutup seluruh wajahnya. Aku ingin memeluknya mengatakan 'aku ada disini untukmu Jen', tapi aku tau aku harus memberinya waktu. Jadi aku hanya berdiri disana menemaninya dari dekat, tanpa mengeluarkan suara.
POV Jeny.
"Kak... ", aku melihat kak Erick saat mendongakkan kepalaku.
Ia membantuku berdiri, mengusap sisa air mata di wajahku.
"Ayo kita pergi dari sini Jen".
Aku mengangguk dan masuk mobil.
Untungnya selama perjalanan kak Erick tidak bertanya tentang keadaanku, jadi aku bisa berdiam diri, menata kembali emosiku.
"Kita mau ke mana kak, ini bukan arah pulang kan?."
"Ke tempat dimana aku suka merenung kalau lagi banyak pikiran Jen."
Aku mengangguk pelan dan melihat lalu lalang jalanan ibu kota di malam hari melalui jendela mobil, sampai mobil masuk area parkiran basement.
"Kantor kak? Kita ke kantor?."
"Aku lagi butuh penghiburan bukan dibawa ke kenyataan yang aku hindari selama ini.", ucapku sambil tersenyum, berusaha bercanda diatas kegetiranku.
"Kamu belum pernah ke taman kantor kita kan Jen? Tempatnya lumayan ok, cukup bisa menenangkan pikiran loh."
Aku memutar bola mataku, menandakan aku tidak percaya dengan ucapannya.
"Selamat malam pak Erick.", ucap satpam penjaga.
"Malam pak."
Aku berjalan pelan mengekorinya di belakang, namun saat satpam itu menyapanya, kak Erick menggenggam tanganku. Satpam itu hanya tersenyum dan tidak bertanya lebih lanjut, mungkin ia berpikir aku pacarnya kak Erick.
"Kita naik lift kak? Apa ga serem malam malam gini ke kantor?."
Kita cuma ke lantai 2 Jen, dibawah ada satpam, dilantai 3 juga kantor kontrol utama yang ngatur semua cctv area ini.
Ucapan kak Erick benar juga, tamannya kecil tapi cukup indah, desainnya, pilihan bunga dan tamannya, aku bisa membayangkan saat jam istirahat disini. Ada area kantin juga beberapa mesin minuman dan makanan.
"Mau popmie Jen?.".
Aku menggelengkan kepalaku.
Kemudian ia mengeluarkan ponselnya, scan barcode dan mengambilkan minuman untukku.
"Makasih kak".
"Lumayan berangin ya Jen", ia memakaikan blazernya padaku.
Lagi-lagi aku mengucapkan terima kasih, dan kemudian kami saling berdiam diri larut dengan pikiran masing masing.
"Konyol ya Jen, aku malah bawa ke kantor, tapi ditempat inilah aku sering mempertanyakan langkahku, apa keputusanku sudah benar, seperti sekarang, aku butuh tempat ini untuk memberanikan diri dihadapan kamu sekarang."
Aku menatapnya bingung, menunggu penjelasan darinya.
"Maaf, aku mendengarkan pembicaraanmu tadi Jen. Aku bisa lihat kamu sungguh menyukainya, tapi akan sangat bodoh jika aku tidak memanfaatkan situasi yang diakibatkan kebodohan cowok itu."
"Aku menyukaimu Jen, tunggu... itu salah... aku mencintaimu Jen. Ingat waktu di meja makan aku pernah bilang ke orangtuaku kalau aku sudah siap menikahi seseorang hanya butuh kata iya darinya, orang itu kamu Jeny. Aku tau kamu cuma menganggapku kakak, aku hanya ingin bilang aku mencintaimu dan bersedia menunggu sampai kamu berpaling padaku Jen."
Selama aku mendengarkan pengakuan itu, selama itu pula sepertinya aku ikut gugup dan menahan nafasku. Aku menelan salivaku berusaha mengembalikan kesadaran pikiranku.
"Kak mungkin karena kita tinggal bareng jadi kakak salah mengartikan perasaan kakak, atau mungkin karena kakak sering diminta menikah sama tante jadi kakak kepikiran sama aku."
"Sudah kuduga kamu akan bilang begitu Jen, ingat aku pernah memintamu memilih perhiasan dan kamu memilih gelang, sebenarnya itu untuk kamu Jen, cuma karena gugup perhiasan itu masih ada di dashboard mobil sekarang, aku ga pernah menurunkannya dari mobil semenjak hari itu, jadi sewaktu-waktu aku bisa memberikannya padamu, tidak kusangka harinya adalah malam ini."
"Kak... aku..."
"Sebenarnya aku mau membeli cincin Jen, aku sungguh berniat menikahimu. Kita udah lama juga kan tinggal bareng aku sudah cukup mengenalmu dan yakin hanya kamulah satu-satunya untukku."
"Aku ga tau musti bagaimana, aku masih ga percaya kakak... eh bukan ga percaya cuma aku..."
"Jen, seorang kakak ga akan punya pikiran mesum sama adiknya, saat ini saja jika diijinkan aku ingin menciummu. Aku marah saat cowok itu memegang lenganmu tadi, hanya aku yang boleh menyentuhmu, kamu pikir apa alasan lainnya aku ingin menikahimu dan melewati proses berpacaran, itu karena aku ingin memilikimu seutuhnya Jen, jiwa dan ragamu."
Aku bergerak mundur saat mendengarnya, sambil menutup mulut dengan tanganku.
"Aku bukan pencuri Jen, aku pasti akan meminta ijin jika mau menciummu atau berbuat lebih dari itu. Aku tau diri dengan posisiku saat ini."
"Aku hanya ingin mengatakan, Jeny aku sungguh mencintaimu dan berniat menikahimu, jadi aku akan mengejarmu sampai kamu berpaling dan datang kepadaku. Tidak perlu mencari alasan untuk menolakku, aku tau saat ini aku hanyalah kakaknya Belva atau kakak Erick anak dari sahabat keluargamu. Aku akan selalu disisimu dan menunggumu Jen."
Aku tidak bisa menatapnya lagi aku mengalihkan pandanganku ke arah salah satu bunga di depanku, merasa ia masih memperhatikanku dari dekat, aku menunduk benar-benar menghindari pandangannya. Untuk beberapa saat hanya suara klakson mobil atau deru kendaraan yang mengisi kekosongan disekitar kami.
"Apa kamu mau pulang sekarang Jen?".
Aku mengangguk sambil masih menunduk.
Ia mengambil tanganku ingin menggegamnya lagi seperti saat kami berjalan ke arah taman ini, tapi kali ini aku tidak bisa menerimanya, aku melepaskan tanganku, sepertinya kak Erick mengerti.
Saat di mobil ia membuka dashboard dan memberikan kotak perhiasan yang ia maksud.
"Untukmu Jen, jangan segera kembalikan padaku, setidaknya beri kesempatan untuk mengisi salah satu lemarimu, 3 bulan tunggu apa itu terlalu lama..., 1 bulan beri benda ini kesempatan selama 1 bulan baru kamu boleh memikirkan untuk mengembalikannya padaku. Tapi aku beli itu dengan ketulusanku, jika boleh aku ingin suatu saat kamu memakainya Jen".