Di puncak kesendirian yang tak tertandingi, Kaelen, sang Monarch Primordial, telah menguasai semua hukum alam di alam semestanya. Namun, kemenangan terasa hampa. Justru pada detik ia menyentuh puncak, sebuah segel kuno terpecah dalam jiwanya, mengungkap ingatan yang terpendam: ia bukanlah manusia biasa, melainkan "Fragmen Jiwa Primordial" yang tercecer dari sebuah ledakan kosmik yang mengawali segala penciptaan.
Dicetak ulang melalui ribuan reinkarnasi di dunia yang tak terhitung jumlahnya, setiap kehidupan adalah sebuah ujian, sebuah pelajaran. Tujuannya bukan lagi sekadar menjadi yang terkuat di satu dunia, tetapi untuk menyatukan semua fragmen jiwanya yang tersebar di seantero Rimba Tak Berhingga — sebuah multiverse yang terdiri dari lapisan-lapisan realitas, mulai dari dunia rendah beraura tipis, dunia immortal yang megah, hingga dimensi ilahi yang penuh dengan hukum alam purba.
Namun, Kaelen bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Fragmen, entitas dari zaman sebelum waktu,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Guraaa~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Selamat Datang di Arborea
Kaelen berdiri di tanah yang lembut, lututnya masih terasa goyah dari perjalanan antar-dimensi yang mengerikan. Dia mengangkat pandangannya ke langit hijau pucat yang dihiasi dua bulan keperaan. Udara terasa lebih padat, penuh dengan aroma bunga dan tanah basah yang asing. Energi yang mengelilinginya berbeda—liar, berwarna-warni, dan sarat dengan getaran kehidupan yang bergelora.
"Selamat datang, Pejalan Antar-Dunia. Kami telah menunggumu."
Suara itu lembut namun jelas, seperti gemerisik daun di angin. Kaelen memusatkan pandangannya pada makhluk di depannya. Sekelompok humanoid, sekitar delapan orang, mengelilinginya. Mereka memiliki kulit seperti kulit kayu yang halus, berwarna coklat kehijauan, dengan pola seperti lingkaran tahunan di lengan dan wajah mereka. Rambut mereka adalah sulur dan daun hidup yang bergerak perlahan seolah merasakan udara. Mata mereka besar, berwarna emas tanpa pupil, memancarkan kecerdasan dan keingintahuan yang tenang. Mereka mengenakan pakaian sederhana dari anyaman tanaman dan memegang tongkat atau tombak yang terbuat dari kristal bening yang memancarkan energi lembut.
Yang tampak sebagai pemimpin, lebih tinggi dengan sulur yang lebih panjang dan dihiasi bunga kecil berwarna biru, melangkah maju. "Aku adalah Sulur Utama, kepala penjaga desa Suku Arbori. Ramalan Tua menyebutkan kedatangan seorang Pejalan dari Celah Langit saat bulan kembar sejajar. Dan hari ini, ramalan itu terpenuhi."
Kaelen berusaha berdiri tegak, masih merasakan sisa mual dari perjalanan portal. "Di mana saya? Dan siapa kalian?"
"Kau berada di Arborea, lapisan pertama dari Rantai Tujuh Dunia. Kami adalah Arbori, penjaga Hutan Bernyawa." Sulur Utama mengamati Kaelen dengan cermat, mata emasnya seolah menembus. "Energimu... kau membawa Cahaya yang Terpecah. Apakah kau mencari potongan dirimu yang hilang?"
Kaelen merasa jantungnya berdebar. Makhluk ini sangat peka. Dia memutuskan untuk jujur, setidaknya sebagian. "Ya. Saya mencari bagian dari diri saya yang tersebar."
"Yang Ketiga," bisik Sulur Utama, dan anggota suku lainnya saling memandang, daun-daun di kepala mereka bergemerisik. "Yang Ketiga berada di Istana Awan, di kerajaan langit para Sylph. Tapi jalan ke sana berbahaya, melewati Lembah Bayangan dan Dataran Kristal. Dan kau bukan satu-satunya yang mencari. Para Pemburu Kegelapan juga telah muncul di dunia kami."
Ordo Penghapusan. Mereka sudah ada di sini. Kaelen merasakan pil pahit di tenggorokannya. Mereka pasti memiliki cara untuk melacak portal atau energi fragmen. Dia harus bergerak lebih cepat dari yang direncanakan.
"Apakah Anda akan membantu saya atau menghalangi saya?" tanya Kaelen langsung, matanya waspada.
Sulur Utama tampak berpikir sejenak, daun-daun di kepalanya bergoyang lembut. "Kami akan mengujimu terlebih dahulu. Ramalan mengatakan Pejalan akan membuktikan nilainya dengan menyembuhkan Hutan yang Terluka. Ikuti kami."
Kaelen mengangguk. Dia tidak punya pilihan lain. Kelompok Arbori bergerak dengan anggun melintasi hutan, langkah mereka hampir tanpa suara di atas karpet lumut. Kaelen mengikuti, matanya menyerap keajaiban dunia baru ini. Pohon-pohon raksasa dengan batang berdiameter puluhan meter menjulang tinggi, kanopinya memancarkan cahaya lembut yang berasal dari buah-buahan bercahaya. Bunga-bunga aneh bernyanyi dengan nada lembut saat angin melewatinya, dan jamur besar memancarkan cahaya biru dan hijau, menerangi jalan setapak.
Hewan-hewan aneh melintas: burung dengan bulu seperti kristal yang berkilau, mamalia kecil berbulu daun yang berguling-guling di tanah, dan serangga sebesar kepalan tangan dengan sayap seperti kaca patri.
Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka tiba di sebuah tempat yang kontras menyedihkan. Area seluas beberapa hektar dipenuhi dengan pohon-pohon yang layu dan sekarat. Daunnya menghitam dan rontok, batangnya retak mengeluarkan getah hitam pekat. Tanahnya gersang dan berwarna abu-abu, dan udara berbau busuk seperti daging yang membusuk. Suara nyanyian hutan sama sekali tidak ada di sini, digantikan oleh kesunyian yang menyeramkan.
"Ini adalah Hutan yang Terluka," kata Sulur Utama, suaranya penuh duka. "Sebuah korupsi menyebar, memakan kehidupan dari dalam. Jika kau dapat menyembuhkan bahkan sebagian kecil, kami akan mempercayaimu dan membantumu mencapai Istana Awan."
Kaelen mendekati area yang sakit. Dia merasakan energi jahat yang familiar—sama seperti parasit yang menyerang Batu Langit, tetapi lebih kuat dan menyebar. Ini pasti karya Ordo, atau sesuatu yang serupa. Dia berlutut, meletakkan telapak tangannya di tanah yang sekarat. Dengan kesadarannya, dia merasakan jaringan kehidupan yang sekarat, dirusak oleh energi gelap yang menggerogoti akar dan inti setiap tanaman.
Dia mengingat proses pemurnian fragmen pertama. Di sini skalanya jauh lebih besar, tetapi prinsipnya mungkin sama. Dia harus menemukan sumber korupsi. Dia memusatkan persepsinya, merasakan aliran energi gelap yang mengalir seperti sungai bawah tanah menuju sebuah titik di tengah area—sebuah kristal hitam kecil tertanam di tanah.
Dia berjalan ke sana, diikuti oleh para Arbori dengan harapan tertahan. Di tengah area yang mati, dia melihatnya: sebuah kristal sebesar kepalan tangan, berwarna hitam pekat dengan semburat ungu, berdenyut dengan energi buruk. Kristal itu dikelilingi oleh akar-akar hitam yang menyebar ke segala arah.
Kaelen mengambil napas dalam-dalam. Dia tidak bisa mengambil risiko menyerap energi ini; terlalu terkontaminasi. Sebaliknya, dia harus memurnikannya di tempat. Dia duduk bersila di depan kristal, menutup matanya, dan mengerahkan pemahamannya tentang Hukum Pemurnian dan Kehidupan. Dari fragmen kedua, dia mendapat wawasan tentang stabilitas dan struktur. Dia menciptakan medan energi resonansi di sekitar kristal, secara bertahap memecah ikatan energinya yang korosif.
Prosesnya lambat dan melelahkan. Keringat mengucur deras di pelipisnya, dan tangannya gemetar. Energinya terkuras dengan cepat. Para Arbori mengamati dengan diam, mata emas mereka melebar.
Setelah hampir dua jam, kristal itu akhirnya retak dengan suara seperti kaca pecah. Cahaya hitam keluar darinya, tetapi segera dihancurkan oleh medan energi Kaelen. Kristal itu hancur menjadi debu hitam yang kemudian menghilang.
Begitu kristal hancur, korupsi berhenti menyebar. Tanah di sekitarnya perlahan mendapatkan kembali warna cokelatnya. Pohon-pohon yang sekarat tidak langsung sembuh, tetapi warna hitam di daun-daunnya memudar, dan beberapa tunas hijau kecil muncul di cabang-cabangnya. Suara kehidupan—kicauan serangga, desahan angin—perlahan kembali ke area tersebut.
Para Arbori berbisik takjub. Sulur Utama mendekat, wajah kayunya terlihat lega. "Kau memang Pejalan yang dinubuatkan. Kau memiliki kekuatan untuk melawan Korupsi. Kami akan membantumu. Tapi pertama, kau harus beristirahat dan mempelajari dunia kami. Malam ini, kau akan tinggal di desa kami."
Mereka membawanya ke desa mereka—sebuah permukiman menakjubkan yang dibangun di pepohonan raksasa. Rumah-rumah anyaman yang indah tergantung di cabang-cabang besar, dihubungkan oleh jembatan tali dan platform kayu hidup. Penduduk desa, Arbori lainnya, keluar untuk melihat orang asing itu. Mereka ramah tetapi penuh kehati-hatian, menyentuh Kaelen dengan jari-jari seperti akar yang halus seolah ingin merasakan energinya.
Kaelen diberi kamar kecil di sebuah rumah pohon, dengan tempat tidur dari daun lembut dan selimut dari serat tanaman. Malam itu, dia dijamu dengan makanan—buah-buahan beraroma manis dan asam, kacang-kacangan renyah, dan minuman seperti nektar yang membuatnya merasa segar dan berenergi.
Saat makan, Sulur Utama duduk bersamanya dan menjelaskan lebih banyak tentang dunia mereka. "Arborea adalah dunia pertama dalam Rantai Tujuh Dunia yang terhubung oleh Celah Langit. Di atas kita, melampaui Lapisan Awan, ada Kerajaan Sylph. Di atasnya lagi ada Lapisan Gunung Api, dan seterusnya. Setiap dunia memiliki Penjaga dan ujiannya sendiri. Yang Ketiga yang kau cari dipegang oleh Ratu Sylph di Istana Awan. Tapi dia tidak akan memberikannya begitu saja. Kau harus membuktikan diri layak, mungkin melalui serangkaian ujian."
"Bagaimana dengan Pemburu Kegelapan?" tanya Kaelen.
"Mereka muncul beberapa bulan yang lalu, menyebarkan korupsi dan mencari sesuatu. Kami yakin mereka juga mengincar Yang Ketiga. Mereka kuat, dan menggunakan senjata gelap yang merusak alam. Kami telah kehilangan beberapa pejuang dalam pertempuran melawan mereka."
Kaelen memutuskan untuk berbagi informasi. "Mereka disebut Ordo Penghapusan. Mereka memburu orang seperti saya, yang memiliki Jiwa Terpecah. Mereka percaya kita adalah ancaman bagi keseimbangan alam semesta."
Sulur Utama mengangguk, daun-daunnya bergoyang pelan. "Kami menduga demikian. Mereka seperti penyakit bagi semua dunia. Kau harus berhati-hati. Besok, kami akan memberimu pemandu untuk membawamu ke perbatasan Dataran Kristal, tempat jalan menuju Istana Awan dimulai. Dari sana, kau harus melanjutkan sendiri."
Malam itu, Kaelen bermeditasi, mencoba menyesuaikan diri dengan energi dunia baru ini. Dia merasakan fragmen ketiga memanggil dari kejauhan, dari arah langit. Namun, ada juga kehadiran samar yang mengganggu—mungkin Pemburu yang selamat, atau sesuatu yang lain.
Sebelum fajar, dia dibangunkan oleh suara gemerisik yang tidak wajar. Dari jendela kecil rumah pohon, dia melihat sosok gelap merayap di desa. Bukan Arbori. Seorang Penyusup dengan jubah hitam! Kaelen langsung waspada. Dia meninggalkan kamar dengan diam-diam dan mengikuti sosok itu.
Sosok gelap itu bergerak cepat menuju pusat desa, di mana sebuah altar batu dengan kristal hijau besar berdiri—mungkin jantung spiritual desa. Penyusup itu mengeluarkan alat logam aneh, bermaksud mencuri atau merusak kristal.
Pemburu! Kaelen tidak bisa membiarkannya. Dia meluncur ke depan, menggunakan Langkah Angin Lembut yang disesuaikan dengan lingkungan hutan.
Pertarungan singkat namun sengat terjadi. Pemburu itu terkejut, tetapi cepat pulih. Dia menggunakan pedang energi gelap yang memancarkan aura korosif. Kaelen, tanpa senjata, bertarung dengan tangan kosong, mengandalkan kecepatan dan pemahaman gerakan. Dengan peningkatan kekuatannya dari dua fragmen, dia setara dengan Lapis Keempat Qi Gathering. Dia menghindari serangan gelap dan menyerang titik tekanan di tubuh musuh.
Pemburu itu terhuyung, tetapi kemudian melemparkan segel gelap yang membentuk jaring energi. Kaelen menghancurkan jaring itu dengan ledakan energi pemurnian dari tangannya, mengejutkan pemburu. Dalam pembukaan itu, Kaelen melumpuhkan musuh dan menahannya.
"Siapa kamu? Berapa banyak lagi yang ada di sini?" tanya Kaelen dengan suara rendah.
Pemburu itu menyeringai, mata merahnya bersinar di balik tudung. "Ordo akan menemukanmu, Fragmen. Kami ada di setiap dunia. Kau tidak bisa bersembunyi selamanya." Lalu, dia menggigit sesuatu di mulutnya, dan tubuhnya kejang sebelum menjadi kaku, mati. Racun bunuh diri.
Kebisingan membangunkan desa. Para Arbori datang dengan senjata mereka. Sulur Utama melihat mayat itu dengan wajah muram. "Ini Pemburu Kegelapan. Mereka berani menyerang desa kami langsung. Kau harus pergi sekarang, sebelum lebih banyak datang. Aku akan mengirim pemandu bersamamu."
Fajar belum menyingsing ketika Kaelen, ditemani oleh seorang pemandu muda Arbori bernama Daun Cepat, meninggalkan desa dengan diam-diam. Mereka menuju ke timur, ke Dataran Kristal. Perjalanan baru saja dimulai, dan bahaya semakin dekat dengan setiap langkah.