Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Pengkhianatan Ganda.
Rania membeku di ambang pintu kamar, menyaksikan pemandangan yang membuat jiwanya terkoyak, batinnya terguncang, pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Rangga berada di atas ranjang. Rambutnya acak, wajahnya basah karena keringat, tubuhnya bergoyang penuh g*airah, menghentak sesuatu di di bawah sana dengan nikmat. Errangannya terdengar nyata—sangat nyata menghantam jiwa, menghancurkan seluruh dunia Rania.
Di sisi Rangga, Vita—sahabatnya sendiri mendessah dengan tidak kalah nikmat. Tubuhnya bermandikan keringat, wajahnya tampak sangat puas, mulutnya terus meracau keenakan, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Aakh... Rangga, sshh... Aah."
Rania merasa dadanya seperti diremas keras, jantungnya terasa ditusuk ribuan jarum secara bersamaan, napasnya terasa sesak seakan tercekat ditenggorokan. Pandangannya mulai kabur, wajahnya pucat tak teraliri darah.
Rangga yang lebih dulu menyadari keberadaan Rania membulatkan mata. "Rania... " suaranya tercekat.
Vita tersentak, menarik selimut dengan wajah pucat. Dia menoleh ke arah pintu di mana Rania sedang berdiri di sana menyaksikan semuanya.
"Ka-kalian..." suara Rania bergetar, tangisnya pecah, tubuhnya terjatuh membentur lantai karena kedua kakinya sudah tidak tahan lagi untuk menopang.
Rangga langsung melompat turun dari ranjang dan menyambar celananya, sementara Vita juga ikut memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai.
"Pengkhianat! Kalian berdua pengkhianat!" teriak Rania sembari memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak. Sungguh, hatinya benar-benar sangat sakit sekali.
Dengan cepat Rangga menghampiri Rania yang menangis tersedu-sedu di atas lantai. "Sayang, aku-"
"Jangan sentuh aku!" teriak Rania sembari menepis tangan Rangga dengan kasar. Kedua matanya menatap tajam, urat-urat lehernya menonjol kepermukaan, amarahnya meledak.
Rangga berusaha untuk memeluk Rania, tetapi lagi-lagi Rania menepis tangannya dan memukul-mukul dada bidangnya dengan keras.
"Bajing*an brengs*ek!" maki Rania dengan napas memburu dan wajah merah padam. "Teganya, teganya kau melakukan ini padaku!" Dia terus memukul tubuh Rangga sampai laki-laki itu terhuyung ke belakang.
"Pantas, pantas selama ini kau menolakku," ucap Rania dengan parau. "Ternyata ada jal*ang luar yang memuaskanmu." Sambungnya dengan tajam.
Deg.
Vita terdiam mendengar ucapan tajam Rania, sementara Rangga mengusap wajahnya penuh frustasi karena tidak menyangka jika Rania akan datang ke tempat ini.
"Tidak, Sayang. Aku mohon dengarkan aku," pinta Rangga. Dia menarik paksa tubuh Rania dan memeluknya dengan erat tanpa peduli penolakan dari wanita itu.
"Lepaskan aku!" teriak Rania kembali. Sekuat tenaga dia melepaskan diri, tetapi Rangga malah semakin memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, aku mohon maafkan aku," ucap Rangga lemah. Dia benar-benar merasa bersalah.
Rania langsung tertawa mendengar permintaan maaf Rangga, dengan kuat dia mendorong tubuh laki-laki itu hingga pelukan mereka terlepas.
"Sayang-"
Plak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rangga membuat laki-laki itu tersentak, sementara Vita menutup mulutnya dengan tidak percaya dengan apa yang Rania lakukan.
"Maaf? Maaf kau bilang?" cecar Rania dengan sinis. Dia mengusap wajahnya yang basah karna air mata, kemudian menatap Rangga dengan tajam. "Kau teruskan aja pekerjaanmu yang menjijikkan itu, kau tidak berhak mendapat maaf dariku!" sambungnya dengan penuh penekanan.
Rangga menggelengkan kepala. "Tidak, Rania." Dia kembali mendekati Rania, tetapi wanita itu langsung menjauh darinya.
"Rania," ucap Vita dengan pelan membuat Rania beralih melihat ke arahnya. "Rania, aku-"
Rania mengangkat tangan membuat ucapan Vita terhenti. "Aku tidak sudi bicara dengan seorang jal*ang sepertimu!"
Jleb.
Tajam dan menusuk tepat ke hati Vita membuat wanita itu menunduk dengan tangan terkepal, tidak bisa lagi melakukan pembelaan.
"Kalian benar-benar cocok, seorang pengkhianat dan seorang penggoda benar-"
"Mama."
Deg.
Suasana yang semula panas dan mencekam, tiba-tiba langsung senyap saat mendengar suara panggilan Dafa. Dengan cepat mereka semua melihat ke arah pintu di mana bocah laki-laki itu berada.
"Dafa... " ucap Rangga dengan kaku saat melihat keberadaan putranya, sementara Rania langsung berlari menghampiri Dafa dan memeluknya dengan erat.
"Dafa, anakku," gumam Rania, dia memeluk tubuh Dafa dengan erat seolah menumpahkan seluruh rasa sakit yang sedang dirasakan.
"Mama napa?" tanya Dafa dengan bingung. Dia melihat sekilas ke arah depan, lalu tersenyum saat melihat sang ayah. "Papa."
Deg.
Rania tersentak saat mendengar panggilan Dafa, dengan cepat dia menggendong putranya itu dan membawanya pergi dari sana.
"Tunggu, Rania!" teriak Rangga saat melihat Rania berlalu pergi. Dengan cepat dia mengejar wanita itu tanpa memikirkan penampilannya yang hanya memakai celana saja.
Rania berlari keluar tanpa menghiraukan teriakan Rangga, dia harus segera membawa putranya pergi dari tempat terkutuk itu.
"Mama?" Dafa menatap mamanya dengan bingung, apalagi saat mendengar teriakan ayahnya. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Maafkan mama, Sayang," ucap Rania dengan terisak, merasa bersalah karena sudah mengajak Dafa ke tempat ini.
Rania segera masuk ke dalam lift dan langsung menekan tombol 1 dengan napas tersengal-sengal, tetapi ternyata Rangga berhasil mengejarnya dan menghalangi pintu lift yang akan tertutup.
"Tunggu aku, Rania!" ucap Rangga sembari menahan pintu. Namun, dengan cepat Rania mendorong tubuh Rangga hingga laki-laki itu terjungkal ke belakang.
Bruk.
Tubuh Rangga menghantam dinding karena di dorong dengan sangat kuat oleh Rania, dia terduduk di lantai sembari meringis menahan sakit dan pedih yang menjalar di punggungnya.
"Rania... " desis Rangga sambil melihat ke arah lift yang sudah tertutup. "Si*alan!" umpatnya kesal. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian perlahan beranjak dari sana untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal di unit apartemen Vita.
Sementara itu, Rania yang berada di dalam lift berjongkok dan menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Napasnya terasa akan putus karena berlari sembari menggendong Dafa, tetapi dia merasa lega karena berhasil lepas dari kejaran Rangga.
"Mama!" Dafa menghamburkan diri memeluk Rania dengan terisak. Tubuhnya gemetaran karena merasa takut.
"Maafkan mama, Sayang," ucap Rania sembari memeluk dan memangku Dafa. Dia berusaha menenangkan putranya yang pasti terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. "Gak papa, Sayang. jangan nangis lagi yah, maafin mama." Dia mengusap punggung Dafa dengan lembut, sampai akhirnya Dafa merasa tenang dan berhenti menangis.
Rania memejamkan mata, merasakan pelukan erat Dafa yang terasa menenangkannya. Dia merasa bersalah karena telah membawa putranya dalam kekacauan, tetapi dia juga merasa lega karena kehadiran Dafa membuatnya bisa mengendalikan diri dan segera pergi dari tempat itu. Andai tidak ada Dafa, entah apa yang akan dia lakukan pada mereka.
"Kenapa semua ini terjadi padaku, Tuhan?" Air mata Rania kembali menetes, meratapi nasib diri yang teramat malang. Hari ini, dia kehilangan dua hal sekaligus. Suami yang sangat dia cintai, dan sahabat yang dia percayai.
"Ambillah sapu tangan ini, Nyonya."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda