NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Masa Lalu

Fakta baru kembali terungkap: alam bawah sadar adalah tempat tinggal Sistem selama ini. Meski begitu, suaranya selalu terdengar di kepala Gerard—sebuah konsep yang masih melampaui pemahaman logisnya. Tapi begitulah Sistem: penuh misteri yang belum sepenuhnya terkuak.

Gerard duduk di lantai gelap yang terasa dingin, sementara layar biru itu tetap mengambang mengikuti arah pandangnya. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya ia mengajukan pertanyaan yang selama ini mengganjal:

“Kenapa kamu nggak pernah muncul kalau aku panggil?”

Itulah yang selalu ia pertanyakan—dalam beberapa momen kritis, Sistem akan muncul dengan sendirinya untuk membantu. Tapi di sisi lain, ia sering diam membisu. Bahkan saat Gerard nyaris mati, Sistem tak kunjung muncul, hingga akhirnya ia terluka parah dan koma di sini.

Sistem terdiam sesaat, lalu kata-kata baru muncul di layar transparan itu:

[Karena saya belum mampu.]

[Untuk bisa muncul dan berkomunikasi secara bebas dengan Anda, satu syarat harus dipenuhi: selesaikan lima misi.]

Penjelasan itu membuat Gerard mengangguk pelan. Ia pikir selama ini mustahil, tapi ternyata ada persyaratan yang harus ia penuhi—meski tetap saja menyebalkan bagaimana Sistem begitu hemat memberi informasi.

“Termasuk fitur toko yang masih terbatas?” tanya Gerard lagi, merasa semua mulai terhubung.

[Benar.]

Sistem menjawab cepat, lalu menambahkan:

[Fitur baru akan terbuka seiring naiknya level Sistem. Saat ini, level masih 1. Anda hanya perlu menyelesaikan satu misi lagi untuk memenuhi syarat.]

Level…

Selama ini Gerard tak pernah benar-benar menggali lebih dalam tentang Sistem. Ia terlalu sibuk dengan misi yang datang silih berganti, fokusnya terpecah, dan ia membenci perasaan itu. Tapi dengan penjelasan ini, kini ia paham—masih ada level-level berikutnya dengan persyaratan yang mungkin semakin kompleks.

Namun, ia tak ingin memikirkannya sekarang. Masih terlalu banyak yang ia pertanyakan, dan ia butuh fokus pada satu hal dulu.

Setelah beberapa saat hening, alis Gerard tiba-tiba berkerut. Ia teringat sesuatu. “Aku belum menyelesaikan misi Test Drive, kan? Terus, misi apa lagi yang sudah aku selesaikan? Harusnya masih ada dua misi tersisa…”

[Menyelamatkan seseorang dari penculikan termasuk misi rahasia. Meski tidak ada notifikasi, Sistem telah mencatat keberhasilannya.]

Menurut Sistem—dan pengalamannya—notifikasi biasanya muncul setelah situasi mereda, saat ia sedang beristirahat. Tapi karena tadi ia sibuk melapor ke polisi, mengemudi, dan menolong korban, notifikasi tak sempat muncul.

Di alam bawah sadar ini, notifikasi itu tetap tak kunjung terlihat. Gerard hanya bisa menghela, lalu membaringkan diri di lantai dingin, menatap kosong ke panel biru yang tetap mengambang.

Masih banyak yang pengen kutanyain… Tapi, aku butuh istirahat… batinnya lemah.

Tidak ada suara Sistem, tiupan angin, atau kebisingan dunia luar. Hanya keheningan yang menenangkan—sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan. Dan inilah momen yang tepat untuk menikmatinya.

...*•*•*...

Kegelapan total menyelimutinya, tapi tak berlangsung lama. Perlahan, cahaya hangat mulai merembes masuk ke dalam kesadarannya. Tidak menyilaukan, namun cukup untuk membuat matanya bergetar—bukan karena cahaya, tapi karena sesuatu yang lain.

Saat ia mencoba membuka mata yang terasa berat, sayup-sayup terdengar suara-suara yang saling bersahutan. Ramai, akrab, dan hangat—sesuatu yang sangat ia kenal. Tanpa keraguan, Gerard membuka mata sepenuhnya.

Pemandangan yang ia lihat membuat napasnya tersendat.

Ia berada di sebuah ruangan yang cukup luas, dengan meja kayu panjang di tengah, dikelilingi lemari dan rak-rak kecil. Di sana, sebuah keluarga kecil sedang berkumpul. Seorang anak laki-laki yang tak bisa diam berlarian dengan tawa lepas di sekeliling meja—itu adalah dirinya sendiri, kecil, dengan senyum lebar dan bahagia yang tulus. Sikap polosnya itu membuat seluruh keluarga tertawa, tanpa cela atau amarah.

“Erad, kita mau makan. Duduk yang benar, sayang,” tegur seorang wanita dengan senyum lembut, suaranya lebih seperti ajakan daripada larangan.

“Kamu selalu penuh semangat, ya?” tanya pria di sampingnya—ayahnya—dengan ekspresi hangat yang sama.

Namun, anak laki-laki lain di meja itu menyambut dengan sikap berbeda. Ia tertawa, agak mengejek layaknya kakak yang gemar menggoda. “Iya dong, Yah! Kalau dikasih ayam goreng, dia langsung lari-lari gak jelas!”

Ucapan itu disambut tawa ringan yang membuat suasana semakin hangat dan hidup.

Setelah “Gerard kecil” duduk patuh dengan kaki yang tetap bergoyang-goyang di bawah meja, mereka pun mulai makan siang bersama. Di tengah momen itu, “Gerard besar”—dirinya yang sekarang—berdiri di ujung ruangan, bahunya bergetar pelan.

“Ma… Yah…” suaranya serak, bibir bawahnya ia gigit hingga nyaris berdarah. Lalu pandangannya beralih ke anak lelaki yang menggoda tadi. “Kakak…”

Tanpa sadar, air mata mengalir deras di pipinya, membasahi pelipis dan jatuh ke lantai kayu yang ia kenal terlalu baik.

Ini adalah momen yang tak mungkin ia lupakan. Saat itu, alasan Gerard kecil begitu bahagia bukan karena ayam goreng—melainkan karena ia tak sabar menunggu kehadiran anggota keluarga baru: seorang adik yang masih di dalam kandungan.

Kevin…

Nama adiknya yang tak sempat hidup lebih lama dari seekor kupu-kupu.

Gerard merasakan kakinya melangkah sendiri, mendekati wanita yang duduk di samping ayahnya—ibunya—yang perutnya sudah membesar. Ayahnya dengan lembut mengusap punggung ibu, matanya penuh perhatian.

Saat jaraknya semakin dekat, Gerard tiba-tiba berlutut. Tangannya terangkat, lalu dengan pelan ia menempelkannya di atas perut bundar ibunya.

Sensasi hangat dan lembut langsung menjalar ke sekujur tubuhnya—sebuah gelombang kebahagiaan yang sudah lama ia pendam, sekaligus luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, menempelkan telinga tepat di atas pusar ibunya. Ia bisa merasakan tendangan halus dari dalam—sebuah dorongan kecil yang penuh kehidupan. Tanpa sadar, senyum tipis mengembang di bibirnya, sementara air mata terus mengalir deras.

Kemudian, dengan suara berbisik yang penuh kasih, ia berucap, “Kevin… Ini kakak, Erad.” Suaranya lembut, penuh kerinduan yang selama ini terpendam. Momen itu terasa begitu hangat dan sempurna—sebelum tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut di atas kepalanya.

Gerard mengangkat wajah. Di sana, ibu dan ayahnya tersenyum hangat—bukan pada kandungan—tapi langsung padanya. Pandangan mereka seolah bisa melihatnya, mengenalinya. Gerard terkejut, namun sebelum ia sempat bereaksi, suara lain sudah menyela.

“Kamu udah gede ya, Erad?” suara itu masih terdengar kekanakan, penuh keceriaan. Itu berasal dari kakaknya yang menyandarkan badan ke meja, tangan menopang dagu.

Di sampingnya, “Gerard kecil” tersenyum tipis, lalu mengacungkan jempol mungilnya. “Kamu ganteng!” serunya polos, memperlihatkan gigi susu yang rapi.

“Iya,” ayahnya akhirnya bersuara, terdengar bangga. Ia menatap Gerard, tangannya terangkat dan mengusap rambutnya dengan lembut. “Anak Ayah udah jadi pria, keren, dan tampan. Ayah jadi iri, nih…” candanya ringan, membuat suasana semakin hangat.

Ibu Gerard terkekeh, tangannya beralih dari rambut ke cubitan kecil di hidungnya. “Bener. Erad kita udah bukan bocah nakal yang suka main lumpur lagi. Mama penasaran… berapa banyak yang udah jatuh cinta sama kamu, ya?”

Pertanyaan itu disambut tawa lembut dari sekeliling meja. Masing-masing memberikan jawaban spontan, sementara Gerard masih terduduk berlutut dengan ekspresi campur aduk: bingung, terharu, dan bahagia yang tak terkatakan.

“Kalian…” suaranya tersendat, hampir tak terdengar.

Seketika, mereka semua serempak turun dari kursi. Mereka mendekat, memeluk Gerard, membentuk lingkaran hangat yang mengelilinginya. Ibunya yang memeluk paling erat, berbisik pelan di telinganya:

“Jadilah anak yang kuat, ya…?”

Lalu yang lain menyambung:

“Jadilah pria yang hebat dan penuh kasih.”

“Tetaplah jadi adik yang konyol—karena itulah kamu!”

Terakhir, “Gerard kecil” mengangkat wajah polosnya, memaksanya untuk bertatapan langsung. “Jangan pernah nyerah. Ingat, kami selalu ada di sampingmu. Kamu berharga.”

Gerard terdiam sejenak, lalu ekspresinya melebur menjadi senyuman yang tulus dan dalam. Tangisnya pecah, tapi kali ini—air mata bahagia. Tangannya yang kini dewasa berusaha memeluk mereka semua sekaligus, seakan tak ingin melepas.

“Iya! Aku akan jadi orang yang hebat, keren, dan tetep konyol! Aku akan selalu jadi Erad yang sama—Erad kalian!”

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!