Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Tidak Akan Gugur
Malam setelah pertemuan itu terasa berbeda.
Kevin memang pulang dengan langkah tenang.
Tapi pikirannya? Tidak.
Pria itu sudah kembali.
Dan kali ini, ia tidak bermain setengah-setengah.
Di kamar, Siska duduk menyisir rambutnya di depan cermin.
“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan tanpa menoleh.
Kevin berdiri di belakangnya, menatap pantulan wajah mereka di cermin.
“Aku cuma nggak suka orang yang merasa bisa mengatur hidup orang lain.”
Siska tersenyum tipis.
“Dulu kamu juga begitu.”
Kevin terdiam.
Kalimat itu bukan sindiran.
Itu kenyataan.
Ia dulu terlalu sibuk mengatur segalanya—termasuk hati istrinya sendiri.
Keesokan harinya, serangan itu benar-benar datang.
Bukan lewat transaksi ilegal.
Bukan lewat direksi.
Tapi lewat pasar saham.
Nilai perusahaan Kevin tiba-tiba turun drastis.
Investor panik.
Media kembali ramai.
“Diduga konflik internal!”
“Kepercayaan investor menurun!”
Semua headline seolah menuding satu arah.
Kevin.
Di ruang rapat, suasana panas.
“Kita harus jual sebagian aset untuk menyelamatkan likuiditas!” kata salah satu komisaris.
“Kalau kita mundur sekarang, mereka menang,” jawab Kevin dingin.
“Kalau kita bertahan dan gagal, perusahaan bisa runtuh!”
Semua suara saling bertabrakan.
Kevin memejamkan mata sejenak.
Dulu, ia akan langsung mengambil keputusan sendiri.
Sekarang?
Ia belajar satu hal.
Keputusan besar tidak boleh diambil dengan ego.
Malamnya, Kevin pulang lebih awal.
Siska sedang membantu Cantika mengerjakan PR.
Melihat itu, dada Kevin terasa sesak.
Ia hampir saja kehilangan momen-momen seperti ini dulu.
Siska menoleh.
“Rapatnya gimana?”
Kevin duduk di kursi makan.
“Mereka panik.”
“Kamu?”
Kevin menatap Cantika yang sedang serius menulis.
“Aku nggak mau ambil keputusan karena takut.”
Siska tersenyum kecil.
“Itu berarti kamu udah berubah.”
Kevin menghela napas pelan.
“Aku kepikiran… kalau semuanya benar-benar runtuh?”
Siska menatapnya lurus.
“Kita mulai lagi.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi mantap.
“Kamu nggak takut hidup susah lagi?” tanya Kevin.
Siska tersenyum lembut.
“Aku takut kehilangan kamu. Bukan kehilangan uang.”
Kalimat itu membuat Kevin terdiam lama.
Keesokan paginya, Kevin mengambil langkah yang tidak terduga.
Ia mengadakan konferensi pers terbuka.
Bukan untuk membela diri.
Bukan untuk menyerang balik.
Tapi untuk transparansi.
“Saya tidak akan lari dari situasi ini,” ucapnya tegas di depan kamera.
“Jika ada yang ingin menjatuhkan saya dengan permainan kotor, saya tidak akan membalas dengan cara yang sama.”
Kalimat itu menyebar cepat.
Investor yang awalnya ragu mulai mempertimbangkan ulang.
Pasar perlahan stabil.
Bukan karena kekuatan uang.
Tapi karena kepercayaan.
Pria yang menjadi dalang itu menonton siaran tersebut dengan wajah datar.
“Dia berubah…” gumamnya pelan.
Ia mengira Kevin masih pria ambisius yang mudah terpancing ego.
Ternyata tidak lagi.
Permainan ini tidak semudah dulu.
Malam itu, Kevin duduk di balkon lagi.
Siska membawa dua cangkir teh hangat.
“Kamu menang?” tanyanya pelan.
Kevin menggeleng kecil.
“Belum. Tapi aku juga nggak kalah.”
Siska duduk di sampingnya.
“Kadang menang itu bukan soal menjatuhkan orang lain,” katanya pelan.
“Tapi soal tetap berdiri tanpa kehilangan diri sendiri.”
Kevin menatap istrinya lama.
Dulu, ia hampir kehilangan wanita ini karena terlalu fokus mengejar dunia.
Sekarang, justru wanita ini yang mengingatkannya cara menghadapi dunia.
Kevin menggenggam tangan Siska.
“Kalau suatu hari nanti semuanya benar-benar jatuh…”
Siska menyela pelan.
“Kita jatuh bareng. Terus bangun bareng.”
Angin malam berhembus pelan.
Di dalam kamar, terdengar suara Cantika tertawa dalam tidurnya.
Kevin tersenyum kecil.
Dunia luar mungkin penuh intrik.
Ambisi.
Pengkhianatan.
Tapi rumah ini—
Adalah bentengnya.
Dan untuk pertama kalinya, Kevin sadar satu hal.
Ia tidak lagi bertarung sendirian.
Ia tidak lagi bertarung demi harga diri.
Ia bertarung demi janji.
Janji untuk selalu pulang.
Janji untuk tidak mengulang kesalahan lama.
Janji untuk tetap memilih keluarganya… apa pun yang terjadi.
Badai belum selesai.
Tapi hati Kevin sudah jauh lebih kuat.
Karena kali ini—
Cintanya tidak rapuh.
Dan janjinya tidak akan gugur.