Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam belas
Lunar tak menjawab pertanyaan Jackson. Pria itu terdiam, semakin merasa bersalah karena sudah membuat luka di kepala Lunar. Lunar bangun lalu mengusap wajahnya kasar. Gadis itu menganggap dirinya seorang diri di ruangan yang berdebu.
Lunar tak nyaman berada di ruangan ini. Selain berantakan tak terurus, melihatnya saja Lunar paham berada di mana dirinya sekarang. Namun gadis itu tak mengeluh setelah menelusuri villa ini meski semua akses elektronik mati total.
Jackson memperhatikan Lunar yang tengah merapikan penjuru Villa. Gadis itu terbatuk-batuk karena sangat berdebu. Jackson mengesampingkan egonya untuk menghentikan kegiatan Lunar.
Saat melihat ke luar, Lunar bisa tahu hari menjelang sore. Jackson frustasi mencoba mencari cara untuk pergi. Pria itu semakin mengutuk adiknya yang menyebalkan, bisa-bisanya Naomi meninggalkan mereka tanpa kendaraan, tanpa uang. Hanya bahan-bahan makanan dan sisanya sayuran yang ditanam belakang villa.
"Oh, astaga. Jika aku sudah ke luar dari sini, akan aku singkirkan dia dari pewarisku!" dumel Jackson.
Sebenarnya, Jackson tak terlalu memperdulikan keadaan villa hanya saja dia takut Lunar tak nyaman. Padahal, Lunar sudah terbiasa ketika di Silvanwood.
Ketika malam, Jackson menyalakan lilin yang sudah dipersiapkan Naomi. Ketika pria itu mengobrak-abrik isi kotak, Jackson sampai mengumpat karena Naomi memberikan obat kuat.
"Adik edan!" Jackson tersipu malu ketika Lunar melihat benda yang dipegang Jackson.
Lunar tahan betul tak bicara pada Jackson bahkan sampai malam. Selesai memasak seadanya, gadis itu menatanya di meja klasik tanpa mengajak Jackson.
Setelah makan malam, gadis itu hanya duduk meringkuk di depan jendela yang terbuka. Lunar menatap langit malam dengan tatapan entah.
Jackson yang menyadari, mencoba mendekati Lunar kembali. Pria itu meletakkan lilin di dekat Lunar lalu membawa dua gelas teh hangat di depan Lunar.
Jackson berdehem tapi Lunar tak menggubris. Pria itu pun duduk di samping Lunar seraya menatap apa yang sedang ditatap gadis itu.
"Sorry," Jackson berkata parau.
"Hmm"
"Jangan hmm. Marahi aku dan pukuli saja aku!" Jackson menarik tangan Lunar lalu menampar wajahnya.
Lunar menarik tangannya. Sikap Jackson terlalu berlebihan. Gadis itu baru sadar masih memakai cincin berlian dari Aaron. Hal itu membuat Jackson mulai terpancing emosinya.
"Kau tahu, Lunar? Katanya, takdir manusia sudah tertulis di atas sana. Aku pernah baca buku kalo bintang-bintang jadi penunjuk jalan," Jackson berusaha mencairkan suasana.
"Kau lihat, tiga bintang berjejer itu! Namanya rasi waluku, kalo menghadap ke timur tandanya musim penghujan dan sebaliknya," lanjut Jackson.
Lunar masih irit bicara tapi Jackson tak menyerah. Jackson terus berceloteh dengan mengatakan bahwa Lunar seperti sirius.
"Tidak, tuan. Aku seperti rembulan, redup dan selalu sendirian. Bintang-bintang punya cahaya sendiri, sementara bulan dapat cahaya dari matahari. Apalagi pada saat fase bulan, matahari tak memberi cahaya langsung semakin reduplah jika tertutup awan. Begitulah diriku." Lunar berkata menatap Jackson.
Pria itu diam seketika. Jackson paham, Lunar menyamakan Jackson seperti matahari. Pria itu membuang wajah lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Jackson sadari sudah membuat Lunar terluka.
"Sorry," Jackson menggenggam tangan gadis itu.
Lunar tak merespon. Jackson membawa tubuh mungil Lunar ke dalam pelukannya sembari tak henti mengatakan maaf.
"Apa dayaku, Lunar. Kau bersama Aaron," Jackson tak melanjutkan ucapannya.
"Tuan cemburu?"
Deg
Lunar mencari kebenaran di mata Jackson. Pria itu menundukkan wajah dan bergumam tak jelas. Lunar hanya ingin Jackson jujur pada perasaannya. Mustahil Jackson tak tahu, bahwa Lunar jatuh cinta padanya apalagi Lunar berterus terang.
Jackson tak bisa berkata apapun. Dia tak menyangka, Lunar mencintainya dengan tulus sejak pandangan pertama. Jackson semakin erat memeluk Lunar, rasanya dia ingin menumpahkan seluruh perasaannya selama ini.
Jackson menarik Lunar ke dalam karena tiba-tiba angin berembus kencang. Ruangan menjadi gelap karena lilin padam.
Jackson menutup jendela lalu mencoba menyalakan kembali lilin. Jackson berpikir Lunar akan takut dengan kegelapan.
"Tuan," Lunar merengkuh pria itu.
Hanya satu lilin yang menyala. Jackson merebahkan diri di bangku panjang begitupun Lunar berbantal lengan kekar Jackson.
"Kenapa, kau masih saja memakai cincin dari Aaron? Apa kau menyukainya?" Jackson tak senang bahkan dia melepaskan cincin itu dari jari Lunar.
Gadis itu menahan Jackson agar tidak melemparnya sembarangan.
"Dengar, apa kalian berciuman?" tanya Jackson hati-hati.
"Tuan cemburu?" Lunar semakin mendekatkan wajahnya.
Jackson jadi serba salah lalu menggeleng cepat. Perut Lunar terasa digelitik, benar apa kata adiknya seorang Jackson Adiwangsa gengsian akut.
"Aku hanya memastikan saja, Lunar. Syukurlah jika kalian tidak berciuman, aku sangat lega mengetahuinya langsung darimu. Jika itu benar, kasihan sekali kau akan dirujak netizen nanti!" Jackson menakuti-nakuti Lunar.
......................
Lunar tidak tahu Naomi membawanya bersama Jackson ke mana. Analisa Lunar, Jackson tidak keder dengan suasana di tempat ini.
Tapi anehnya, orang-orang tidak mengenali Jackson dan dirinya sebagai publik figur. Padahal mereka berada di tempat yang masih bisa diakses sinyal dan teknologi, bukan seperti Silvanwood. Tapi, suasananya seperti pemukiman rakyat menengah ke bawah.
Dari villa, Jackson bilang di bagian Utara terdapat pasar tradisional sementara untuk ke kota jaraknya lebih jauh lagi.
"Lihat, apa yang kubawa untukmu!" seru Jackson memamerkan satu ekor ikan besar.
Dengan antusias, pria itu memancing sendirian di kali seberang sana. Lunar sampai terharu melihat Jackson misuh-misuh hendak memasak ikan. Pria itu takut Lunar kelaparan karena menunggu terlalu lama.
Hati Lunar menghangat. Beginilah kehidupan yang dia inginkan, meski jauh dari kesan mewah tapi tercukupi. Tenteram dan saling menyayangi bersama orang terkasih. Jackson memberikan ikan itu pada Lunar.
"Makanlah, aku akan makan sisamu"
"Kenapa harus sisa, tuan? Mari makan bersamaku," gemetar tangan Lunar memasukkan nasi ke dalam mulut.
Jackson mencari cara untuk bisa kembali ke rumahnya. Apalagi, Lunar tak henti merengek. Jackson memaklumi, anggapannya Lunar tak betah karena jika berlama-lama di villa mereka harus mengerjakannya secara manual.
Tapi bukan itu yang Lunar kuatirkan. Gadis itu tak bisa berlama-lama menggunakan lensa hitam sementara dia tidak membawa gantinya.
Mata Lunar terasa pegal. Dia tak bisa memperlihatkan wujud sebenarnya di hadapan Jackson.
Jackson seakan teringat sesuatu. Villa terpencil itu dibeli Jackson untuk kebutuhan syuting dan pria itu mengoberak-abrik penjuru villa.
Jackson antusias seraya mengeluarkan sepeda motor tua. Tak lama, pria itu kembali mendengus kesal karena sepeda motornya mogok. Jackson mengotak-atik untuk memperbaikinya.
"Aku tahu jalan pulang. Lunar duduklah di atas motor, aku akan mendorongnya!" perintah Jackson.
Gadis itu awalnya tak menurut tapi Jackson semakin melotot ke arahnya. Padahal Lunar bisa berjalan tapi Jackson mengingatkannya untuk tidak turun.
"Tuaaan! Lihat di sana!" tunjuk Lunar ke arah pohon bambu.
Jackson mengikuti arah telunjuk Lunar, dengan cepat gadis itu mengusap wajah Jackson. Seketika, sang ceo AHP tak sadarkan diri.