NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Tujuh Belas

Felicia masih tertegun ditempatnya. Pak Han mengatakan hal itu dengan sangat mudah. Seolah ia sedang menawari Felicia sebuah permen, bukan pernikahan.

"Bagaimana, Fel? Kok malah bengong kamu." tanya Pak Han saat melihat Felicia diam saja.

"Pak, ini nikah loh. Bukan jalan jalan sore."

Pak Han terkekeh, "siapa juga yang bilang kalo ini jalan-jalan sore?"

"Tapi barusan bapak ngomongnya gampang banget. Itu bukan kaya ngajak sih nikah pak." protes Felicia.

"Kebetulan, saya tidak ada gangguan stimulus berbicara. Jadi saya bisa berbicara dengan lancar."

Felicia mendesah pelan, begini lah resiko berbicara dengan bos yang pengalaman kisah asmaranya nol persen.

"Kamu gak suka ya sama saya?" tanya Pak Han membuat Felicia seketika tersedak minumannya.

"Maksud bapak?"

"Saya ganteng, mapan, saya manajer, manajer loh Fel. Bahkan kalau nanti setelah menikah, saya akan jadi direktur. Saya juga royal sama kamu, masa kamu gak mau sih sama saya?"

Felicia kehilangan kata-kata, pria di depannya ini, terlalu percaya diri. Meski semua yang dikatakan Pak Han memang sebuah fakta, tetap saja Felicia tidak menyangka jika Pak Han akan berkata demikian.

"Saya kira kamu bakal langsung mau loh pas saya ajak nikah. Ternyata kamu jual mahal juga ya."

"Bukan gitu, Pak."

Ada jeda sejenak sebelum Felicia kembali membuka suaranya.

"Maksud saya... Justru karena bapak itu manajer, stabil secara finansial, dan udah matang. Kenapa bapak nggak nyari calon yang sebaya bapak aja?" tanya Felicia berusaha menyampaikan maksudnya.

"Kamu ngatain saya tua? Gitu maksudnya?"

Felicia melotot, tangannya bergerak didepan dada. Gawat, wajah Pak Han sudah memerah sekarang. "nggak, Pak. Bukan gitu juga."

"Bukan, bukan, melulu. Jelasin maksud kamu dengan benar!"

Felicia menghela napas dalam, berusaha menyortir kalimat-kalimat yang tidak akan menyinggung ego Pak Han yang ternyata setinggi langit.

"Maksud saya gini, Pak. Bapak kan nyari istri karena bapak mau jadi direktur, saya rasa bapak bisa mendapatkan wanita lain yang jauh lebih baik dari pada saya. Yang setara dari segi karir, status sosial dan juga... Usia."

Felicia membasahi bibir bawahnya, "saya ini cuman pekerja biasa aja, Pak. Pendidikan saya juga standar, apalagi latar belakang keluarga. Pokoknya, dari segala sisi, saya nggak pantas buat bapak."

Bahu Pak Han yang tadinya tegang mulai turun, wajahnya juga tidak seseram tadi. "Jadi cuman gara-gara itu? Fel, saya ini cari calon istri, bukan kandidat wakil direktur."

"Memangnya, bapak gak malu punya istri kaya saya?"

Pak Han mengerutkan dahinya, "memangnya kamu kenapa? Saya nggak ngeliat ada yang salah sama kamu."

Felicia memutar otak, berusaha mencari seribu satu alasan untuk membuat bosnya ini sadar bahwa banyak hal yang terlalu berbeda diantara mereka. Usia, status sosial, background keluarga. Felicia sangat tidak percaya diri dalam segi manapun jika ia harus menjadi istri Pak Han.

"Tapi, bapak kan nggak cinta sama saya." akhirnya senjata pamungkas itu keluar dari mulutnya.

"Kamu ini terlalu banyak alasan. Cinta itu sesuatu yang bisa ditumbuhkan, Felicia. Nanti juga karena kita sering bertemu, kita bisa jatuh cinta kok." jelas Pak Han dengan mudahnya membantah argumen Felicia.

"Pak, kalau bapak ngajak saya nikah hanya karena bapak ngerasa nyaman sama saya, karena saya bisa ngerti semua maunya bapak, bisa paham sama mood bapak yang naik turun, bapak salah."

"Pernikahan itu, perjalanan seumur hidup pak. Bapak harus menikah dengan seseorang yang benar-benar bapak cinta, yang bapak ingin." Tambah Felicia.

"Saya tahu soal itu Felicia. Saya sudah tua, seperti yang kamu bilang. Jadi gak perlu ajari saya soal itu." jawab Pak Han tak mau kalah.

"Terus, kenapa bapak kekeh mau saya jadi istri bapak padahal banyak perempuan lain yang jauh lebih baik dan layak buat jadi pendamping bapak."

Pak Han mendengus, "karena saya maunya kamu. Gamau yang lain. Gitu aja kamu nggak ngerti, Fel."

Jantung Felicia berdegup lebih cepat saat Pak Han mengatakan itu, bos nya ini benar-benar ingin menikahinya? Atau kepalang malu sih?

"Begini saja. Beri saya waktu dua bulan untuk membuat kamu jatuh cinta sama saya. Kalau saya berhasil, kamu gak boleh menolak untuk jadi istri saya." Pak Han melipat tangannya di dada.

"Dan kalo bapak gagal?"

Pak Han mendengus sebal, "memangnya kamu seyakin itu bisa nolak pesona saya?"

Mata Felicia membulat, entah berapa kali dalam hari ini Pak Han berhasil membuatnya kehilangan kata-kata.

"Ya, inikan cuman worst case nya aja Pak."

"Yaudah, gausah menikah." jawab Pak Han simpel.

"Jadi bapak mau melepas jabatan itu gitu aja? Cuman karena saya nggak mau nikah sama bapak?" tanya Felicia tak percaya.

Pak Han mengangguk, "saya cuma mau menikah, kalo perempuannya kamu. Kalo kamu gak mau, yaudah gak jadi."

"Pak, yang bener aja." Ucap Felicia kehabisan kesabaran. Ia tidak menyangka jika bosnya akan segigih ini.

'Jangan-jangan, yang dikatakan Mbak Maria itu bener ya? Apa Pak Han, ternyata emang suka sama aku? ' Batin Felicia berteriak

"Kamu diam, berarti saya anggap kamu setuju." pungkas Pak Han.

"Pak, bapak nggak bisa ngasih beban sebesar itu ke pundak saya! Masa iya, masa depan bapak ada ditangan saya?" Felicia masih tidak terima.

"Memang begitu adanya. Sudah, kita harus balik ke kantor sekarang. Kesepakatan selesai."

...***...

Seharian, Felicia benar-benar tidak bisa fokus. Ia menyeret Maria ke sudut paling pojok ruang sampel, jauh dari jangkauan telinga karyawan lain.

Wajahnya pucat pasi, tapi pipinya merah padam—sebuah kombinasi yang membuat Maria langsung berhenti mengukur baju.

"Mbak, aku butuh pendapat. Ini serius." bisik Felicia dengan nada panik.

Maria mengernyit, menatap mantan asisten itu dengan penuh selidik. "Kenapa lagi? Pak Han marah soal laporan? Atau dia minta kopi pakai air mata?"

"Bukan!" Felicia menarik napas dalam-dalam. "Dia... dia ngajak aku nikah, Mbak."

"Apa?! Pak Han? Si Manajer galak itu? Ngajak kamu nikah? Kapan?!"

"Kemarin pas dia demam dia sempat ngelantur gitu, aku pikir ya udahlah namanya juga sakit. Terus dia bilang dia butuh istri supaya dia bisa naik jabatan. Tapi dia maunya cuma sama aku. Aku bingung, ini dia serius atau cuma mau jadiin aku alat biar jabatannya aman? Apa ini cuma prank?"

Felicia menutup wajahnya dengan kedua tangan, pundaknya merosot lesu. "Mana mungkin kan, Mbak? Pak Han yang perfeksionis itu suka sama aku? "

Maria meletakkan tangannya di bahu Felicia, ekspresinya berubah dari kaget menjadi senyum penuh kemenangan.

"Nah kan, Fel! Udah aku bilang dari awal!" Maria menepuk bahu Felicia cukup keras. "Dia itu beneran suka sama kamu. Titik. Nggak pakai tapi."

"Tapi Mbak, soal jabatan itu—"

"Itu cuma alibi," potong Maria serius. "Pak Han itu orang paling logis dan serius di kantor ini. Kalau dia cuma butuh 'status' buat jabatan, dia bisa cari model, cari anak kolega bisnisnya, atau cari cewek mana pun yang bisa dia 'sewa' buat jadi istri formalitas. Tapi kenapa dia harus ribet-ribet maksa kamu, yang jelas-jelas nggak mau sama dia."

Maria mendekatkan wajahnya, berbisik penuh arti. "Laki-laki kayak Pak Han nggak akan merendahkan harga dirinya, buat minta seseorang jadi istri kalau dia nggak punya perasaan. Soal jabatan? Itu cuma alasan logis yang dia pakai biar dia punya 'pintu masuk' buat deketin kamu. Dia itu gengsian, Fel!"

Felicia terdiam, mencoba mencerna kalimat Maria. "Jadi... bukan prank?"

"Bukan, Felicia sayang. Itu namanya pernyataan cinta jalur eksekutif," Maria tertawa renyah. "Sekarang tinggal kamunya. Kamu mau jadi alat pelancar jabatan dia, atau mau jadi orang yang bikin si Robot itu beneran jadi manusia?"

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!